
Akhirnya setelah perdebatan panjang mereka.keluar juga dari dalam toko dengan membawa dua kado besar untuk di kembar.
"Mas, bisa bawa nggak? Biar Asna pangku aja ya!"
"Yang satu biar di depan aja dek, kamu nanti capek kalau semuanya di pangku!"
"Baiklah!"
Setelah meletakkan salah satunya di depan, Raka pun segera memakaikan helm untuk istrinya.
"Sudah!"
Raka pun segera naik motor dan di susul Asna,
"Sebenarnya kalau kayak gini enak pakek mobil mas, kenapa mas Raka jarang naik mobil sih mas?"
"Nggak pa pa, maaf ya belum siap naik mobil!"
"Kan sudah pernah mas, masak masih belum siap sih?"
"Ada sesuatu hal yang membuat mas takut!"
"Apa?"
"Di bahas nanti saja ya, kita sudah sangat terlambat!"
Asna hanya bisa menganggukkan kepalanya walaupun dia belum puas dengan jawaban sang suami.
Sesampai di rumah Nisa dan Leon, mereka segera masuk dan menyalami beberapa tamu yang mereka lewati. Dan benar ternyata, acara sudah setengah jalan, terpaksa Asna dan Raka tidak langsung menyalami pemilik rumah, mereka ikut duduk bersama tamu yang lain di bawah tenda besar di halaman rumah dan mendengarkan tausiyah dari Gus Fahmi.
Selang setengah jam akhirnya acara benar-benar selesai barulah setelah tamu satu per satu meninggalkan rumah Leon, Raka dan Asna segera mencari keberadaan Nisa dan Leon.
"Ya Allah, aku kira kalian tidak datang! Kemana saja?" Asna yang di tanyai Nisa segera menoleh kepada suaminya.
"Itu tadi, kami ada sedikit masalah di jalan!" Raka tidak mengatakan sebenarnya kepada Nisa maupun Leon.
"Ya Allah, tapi kalian tidak pa pa kan?"
"Tidak, bukan kami yang bermasalah tapi orang lain!" Raka kembali menambahi.
"Ya udah kalau masuk dulu, pokonya nggak boleh langsung pulang!"
Leon menggandeng saudara kembarnya itu untuk masuk dan bergabung dengan Alex dan Aisyah beserta anak-anaknya.
"Assalamualaikum, pak Alex! bagaimana kabarnya?"
"Waalaikum salam! Baik, bagaimana kalian?"
"Insyaallah kami juga baik!"
"Syukurlah!"
Asna langsung berbincang dengan Aisyah yang duduk sedikit terpisah dari suaminya. Sedangkan Raka memilih menghampiri kedua anak Alex yang duduk di depan Alex.
"Hai Kia, Arsy!" sapa Raka pada kedua anak Alex dan Aisyah.
"Ya Allah om Raka! om semakin tampan saja sekarang!" Kia masih sama setiap kali bertemu dengan Raka, menurutnya Raka adalah cinta pertamanya setelah sang papa.
"Terimakasih, Kia juga tambah cantik sekarang!"
"Kak Kia tambah gemuk tuh!" celetup Arsy dan langsung mendapat pelototan dari kakaknya.
"Kia patah hati kau nggak sih om, gara-gara om Raka nikah!" adunya pada Raka.
__ADS_1
"Nanti biar om Carikan yang seperti om deh kalau Kia sudah besar!"
"Janji?"
"Insyaallah!"
"Kia, Arsy! sudah sana bermain sama teman-teman nya, anak anaknya Tante Bianka kan?"
"Baik pa!"
Akhirnya Kia dan Arsy pun meninggalkan mereka, kini tinggal Raka dan Alex di sana. Leon masih belum bisa ikut berbincang dengan mereka karena masih harus memperhatikan tamu yang lain.
Raka pun ikut duduk di sofa yang berbeda dengan yang di duduki oleh Alex.
"Bagaimana? Percetakannya lancar!"
"Alhamdulillah, dalam dua Minggu kami sudah bisa mengembalikan modal termasuk membayar karyawan dan sisanya keuntungannya!"
"Baguslah, aku rasa jika kalian terus bekerja sama akan semakin maju nantinya, karena peluangnya sekarang begitu besar. Banyak pemilik karya yang ingin menerbitkan bukunya, dan beberapa penerbit tidak memiliki fasilitas percetakan, jika kalian bisa menggaet beberapa penerbit di Surabaya ini saja, kalian akan dengan mudah membangun perusahan percetakan yang besar!"
"Insyaallah, doakan ya pak!"
"Pasti! Bagaimana dengan istri kamu?" Alex terlihat memperhatikan Asna yang sedang mengobrol dengan istrinya sejenak lalu menatap Raka kembali, "Sepertinya sudah lebih baik?"
"Alhamdulillah, ternyata Allah begitu sayang sama saya! Insyaallah berdasarkan pemeriksaan depresi yang di alami Asna sudah benar-benar sembuh, traumanya sudah tidak pernah muncul lagi meskipun dia berada di tempat yang ramai!"
"Syukurlah!"
...****...
Kini Asna dan Raka sudah sampai kembali di rumah setelah seharian di rumah Leon dan Nisa. Memang acaranya hanya sampai setengah hati tapi Nisa menatap Asna untuk tidak cepat pulang hingga sore hari.
"Mas, aku dulu ya yang mandi!" Asna sudah melepas jilbabnya dan bersiap ke kamar mandi.
"Jangan mas, biar Asna aja!"
"Nggak pa pa, kan tinggal memanasi saja!" tadi di jalan mereka memasang sudah membeli lauk untuk mereka makan malam. Biasanya memang mbak Rumi hanya memasak nasi saja untuk makan malam mereka jika mereka tidak di rumah seharian.
"Baiklah!"
Asna benar-benar masuk ke kamar mandi, sedangkan Raka memilih memanasi manjakan di dapur.
Setelah Asna selesai mandi, kini gantian Raka yang mandi. Asna yang sudah siap makan segera ke dapur untuk menunggu suaminya.
Hukks
Tiba-tiba perutnya terasa mual saat mencium aroma yang menurutnya tidak sedap,
"Ya Allah bau apa sih ini, bau sekali!" Asna tidak jadi ke dapur ia memilih menunggu suaminya di ruang tv sambil menikmati acara tv.
Raka yang sudah selesai segera menghampiri sang istri,
"Dek, kenapa di sini? Katanya mau makan?"
"Mas di dapur ada bau yang nggak enak deh, coba di cek dulu ya! Soalnya aku kerasa mual!"
"Masak sih, perasaan mas tadi di dapur nggak ada bau apa-apa!"
"Ada mas, aku mau muntah pas di dapur!"
"Baiklah, biar mas cek deh!" Raka pun segera menuju ke dapur dan memastikan ada bau tidak sedap apa.
Raka menajamkan hidungnya tapi tetap saja ia tidak mencium aroma apapun kecuali aroma ayam bakar yang baru saja dia panaskan di atas pemanggang.
__ADS_1
"Nggak ada bau apa-apa!" gumamnya.
Raka pun segera memanggil sang istri agar ke dapur.
"Sudah nggak ada dek baunya!"
"Beneran?"
"Iya, nih mas nggak pa pa!"
Asna pun mematikan tv nya dan menyusul sang suami, tapi baru saja berada di ambang pintu dapur rasa mual nya kembali muncul.
Ugkkkk
Asna pun segera menutup kembali hidungnya,
"Masih ada mas, baunya menyengat sekali!"
"Bau apa?" Raka jadi bingung sendiri.
"Ini deh kayaknya mas, baunya nggak enak! Nggak seperti biasanya!" Asna segera menjauhkan piring yang berisi ayam panggang itu.
"Masak sih, ini yang biasanya loh!"
"Kayaknya aku deh mas yang bermasalah! Kayaknya aku masuk angin deh mas!"
"Ya udah gini aja, ini biar mas simpan saja di lemari!" Raka pun segera menyimpan ayam panggangnya.
"Sekarang, ayo mas kasih minyak punggungnya!" Raka kembali meminta Asna untuk duduk di ruang tv sedangkan dia mencari minyak angin.
"Mas buka ya bajunya?" Asna pun mengangukkan kepalanya, beruntung. Asna memakai baju setelan, Raka menaikkan baju Asna bagian belakang dan mengusapkan minyak angin di punggung Asna.
"Bagaimana sekarang? Apa lebih enakan?"
"Masih sama mas!"
"Mungkin mintanya begini!" Raka segera memeluk Asna dari belakang, "Sekarang lebih hangat kan?"
"Mas, tapi punggung Asna bau minyak angin loh!"
"Bagi mas, tubuh Asna tetap harum!"
"Ihhh mas modus deh!"
"Enggak mas serius!" kini tangan Raka sudah mulai beraksi, bibirnya juga tidak bisa di kondisikan lagi. Bibirnya terus mengucupi punggung Asna yang terbuka hingga membuat tangan Asna mencengkerang sofa yang ia duduki, ia menggigit bibir bawahnya karena tidak tahan dengan sensasi sentuhan yang di berikan oleh sang suami.
"Mas...!" suara Asna yang di sertai dengan ******* itu membuat Raka semakin senang, hingga kini Raka membalik tubuh Asna dan mengakunya berhadapan dengannya, bibirnya langsung melu*at bibir Asna dengan begitu rakus. Hingga Asna bisa merasakan sesuatu yang keras di bawah pangkal pahanya karena saat ini ia sedang menduduki benda keras itu.
"Mas, di kamar ya!"
Raka tanpa melepas pagutan bibirnya segera menggendong Asna ala bridal style menuju ke kamarnya dan melanjutkan permainannya di kamar.
Kini mereka benar-benar menanggalkan bajunya dan melakukan apa yang selalu mereka lakukan setiap hari.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1