Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (55)


__ADS_3

"Perut aku nyeri banget deh!" Raka segera menghampiri sang istri dan melihat wajah istrinya sedikit pucat.


"Dek kamu sakit ya?"


"Nggak tahu, tapi perut aku sakit!" Asna mencengkeram lengan Raka saat merasakan tubuhnya hampir ambruk.


Raka dengan cepat menahan tubuh sang istri, "Tadi baik-baik saja, kenapa sekarang?"


"Nggak tahu!" saat ini keringat dingin Asna sudah mulai memenuhi keningnya karena menahan nyeri.


Raka pun dengan cepat membopong tubuh Asna dan membawanya keluar dari ruangannya.


"Siapapun, tolong antar saya ke rumah sakit bawa mobil!" teriak Raka memanggil karyawannya dan salah satu karyawan yang biasa membawa mobil toko pun segera datang dengan membawa kunci mobil.


"Mari mas! Mbak Asna nya kenapa?"


"Tidak tahu, tiba-tiba perutnya nyeri!" Raka segera berlari mengikuti karyawannya dan masuk ke dalam mobil saat karyawannya membukakan pintu belakang.


"Langsung ke rumah sakit terdekat ya!"


"Iya mas!"


Mobil pun mulai melaju, sesekali tangan Raka mengusap keringat Asan yang berada di keningnya.


"Tahan ya sayang, semua akan baik-baik saja!"


Asna hanya bisa mengangguk dan menggigit bibir bawahnya untuk menahan nyeri di perutnya. Tangannya masih terus mencengkeram lengan sang suami.


Hanya butuh sepuluh menit untuk sampai di rumah sakit terdekat.


Raka yang berlari sambil membopong seorang perempuan langsung di sambut oleh tim medis dan membawanya ke UGD untuk mendapatkan penanganan yang cepat.


"Kamu boleh kembali!"


"Tapi mas?"


"Tolong hubungi orang tua saya dan orang tua istri saya! saya lupa tidak membawa ponsel tadi!"


"Baik mas!"


Beruntung Raka selalu menyelipkan dompet di saku celananya sehingga jarang kemungkinan untuk tertinggal.


Raka mondar-mandir di depan ruang UGD. Tidak berapa lama kedua orang tuanya dan kedua orang tua Asna datang bersamaan.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam, Abi, umi, pa, ma! kalian datang bersamaan?"


"Iya, kami begitu panik saat mendengar Asna masuk rumah sakit! Tadi papa langsung menghubungi Abi kamu!" ucap papa Tedi.


"Bagaimana keadaan Asna?" tanya umi.


"Masih belum tahu umi, dokter sedang menanganinya di dalam!"


Mereka pun memilih duduk di kursi tunggu sambil menunggu dokter keluar.


Raka benar-benar tidak bisa tenang, ia duduk sejenak lalu kembali lagi berdiri dan menghampiri pintu yang masih tertutup.

__ADS_1


Setelah setengah jam akhirnya pintu itu pun terbuka dan semua anggota keluarga segera berdiri dan ikut menghampiri dokter.


"Bagaimana dok istri saya?"


"Beruntung anda membawa istri anda lebih cepat ke sini jadi janinnya masih bisa di selamatkan!"


Raka yang tadinya antusias mendengarkan bagaimana keadaan Asna sekarang malah terdiam, sepertinya Raka sedang gagal fokus.


"Maksudnya gimana dok?" tanya mama Ayu yang segera mengambil alih pertanyaan setelah melihat sang menantu malah terdiam.


"Pasien hampir saja mengalami pendarahan karena keguguran!"


"Maksudnya putri saya hamil dok?"


"Iya, janin perkiraan berusia lima Minggu!"


"Kenapa bisa sampai pendarahan ya dok?"


"Di usia-usia trimester pertama kandungan masih sangat lemah jadi sebisa mungkin suami_!" dokter beralih menatap Raka yang masih terdiam dan memilih mendengarkan penjelasan dokter meskipun masih bingung harus bagaimana mengekspresikan gejolak dalam dadanya. Ada rasa sedih, takut tapi juga bahagia dalam waktu yang bersamaan.


"Saya!?" Raka langsung sadar saat dokter menyebut suami dan menoleh padanya lagi.


"Untuk hati-hati dulu saat berhubungan, atau mengurangi frekuensi berhubungan, jangan terlalu sering hingga tiga bulan ke depan. Dan untuk satu atau dua minggu ini sebaiknya tidak berhubungan karena pasien harus bed rest!"


Sekarang semua yang ada di tempat itu faham apa alasan Asna sampai hampir mengalami pendarahan. Mereka hanya saling tersenyum melihat ekspresi wajah Raka.


"Terimakasih dok atas informasinya!"


"Baiklah kalau begitu saya pergi dulu, pasien akan segera di pindahkan ke ruang perawatan!"


Setelah dokter meninggalkan mereka, kini umi segera menghampiri Raka yang masih terdiam dan tidak berani berbalik menatap orang-orang yang lebih tua di belakangnya.


"Memang berapa kali dalam sehari sampai begini?"


"Umi_, jangan meledek Raka!" Raka semakin malu di buatnya sekaligus merasa bersalah dengan Asna.


Umi hanya tersenyum dan mengusap bahu putra angkatnya itu,


"Selamat ya nak, umi nggak nyangka secepat ini kasih cucu buat umi sama Abi!"


Raka akhirnya memberanikan diri menoleh dan menatap satu persatu dari empat orang yang ada di depannya itu, Abi pun ikut mendekat dan memeluk putra semata wayangnya itu,


"Selamat ya, semoga keluarga kalian selalu dalam lindungan Allah!"


"Aminnn!"


Papa Tedi pun tidak mau kalah, ia kit mendekat dan bergantian dengan ustadz Arif untuk memeluk Raka.


"Terimakasih ya, walaupun sebenarnya juga pengen jitak kepala kamu gara-gara kamu anak saya masuk rumah sakit!"


"Maafkan saya pa, saya kelepasan tadi!"


Tiba-tiba papa Tedi membisikkan sesuatu di telinga Raka, "Berapa kali memangnya?"


Raka segera menjauhkan diri dari papa mertuanya, "Pa_!"


"Aku kan jadi penasaran!?"

__ADS_1


"Nanti papa tanya sendiri sama Asna nya!"


Akhirnya Asna pun di pindahkan ke ruang perawatan.


"Bagaimana sayang, apa yang masih sakit?" tanya mama Ayu sambil mengusap puncak kepala putrinya yang tertutup hijab.


"Sudah nggak begitu sakit ma, tapi dokter melarang Asna banyak bergerak!"


"Syukurlah!"


Umi yang juga berada tidak jauh dari mereka ikut mendekat.


"Sayang, kalau Raka nakal jewer aja ya!"


"Iya umi!"


Walaupun tubuhnya masih terlihat lemah dengan slang infus di tangannya, tapi tetap saja ia tidak bisa menutupi rasa bahagianya. Ia masih bisa terus tersenyum sambil mengusap perutnya yang masih rata.


Setelah larut barulah orang tua Asna dan Raka pun berpamitan pulang, selama mereka di ruangan perawatan Asna, mereka benar-benar tidak memberi kesempatan Raka untuk bicara dengan Asna.


"Ka, awas ya kalau kamu masih kelepasan lagi!" ustadz Arif memperingatkan sang putra.


"Iya Abi!"


"Puasa dulu ka!" papa Tedi ikut menimpali, membuat Raka serasa seperti pencuri yang sedang ketahuan sekarang. Wajahnya memerah karena menahan malu.


"Nggak usah macam-macam nanti kalau papa sama Mama nggak ada!" mama Ayu juga tidak mau kalah.


"Sudah, sudah, kasihan Raka nya!" umi akhirnya berbaik hati membelanya.


"Ya sudah kami pulang dulu, tapi ingat besok pagi kami ke sini lagi!"


"Iya!"


"Assalamualaikum!" salam mereka bersama-sama.


"Waalaikum salam!"


Akhirnya Raka sekarang bisa bernafas lega saat kedua orang tua dan mertuanya meninggalkan rumah sakit.


"Aku benar-benar seperti buronan sekarang!" gumamnya sambil membukan kembali pintu menuju ke kamar Asna.


"Sudah pulang semua mas?" pertanyaan Asna berhasil membuat Raka menoleh saat ia menutup kembali pintunya.


"Sudah!" Raka dengan tidak bersemangat mendekati sang istri.


"Kenapa mukanya di tekuk gitu sih mas?, jelek tahu!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2