
...**Dunia bukan sekedar menerima, tapi bagaimana kita memberi dan apa yang telah kita berikan kepada dunia, kita boleh bahagia, tapi sekedarnya saja seperti seolah-olah esok hari akan ada kesedihan dan kita sudah siap untuk menerimanya...
...🌺Selamat membaca🌺**...
Matahari pagi ini memeng tidak bersinar terlalu cerah, tapi wajah pria yang baru saja turun dari mobil itu melebihi cerahnya matahari pagi, bahkan sedari pagi bibirnya tidak berhenti melengkung.
Dunianya seperti sedang berpihak padanya hingga ia tidak mampu menyembunyikan senyumnya.
Langkahnya lagi-lagi melambat saat matanya menangkap sosok yang sedang asik bermain dengan anak kecil di ayunan, membuat orang-orang yang berjalan mengikuti di belakangnya ikut melambat,
"Kalian duluan saja, saya akan menyusul!"
"Baik pak!"
Ada sekitar 4 orang yang kini berjalan mendahuluinya, dua laki-laki dan dua perempuan dengan pakaian yang sama rapinya dengan pakaian Leon.
Leon tidak berjalan searah dengan mereka, langkah Leon kini menuju ke taman bermain yang ada di samping gedung sekolah, banyak akan terlihat bermain, ada yang bermain perosotan, ayunan, jungkat-jungkit dan aja juga yang hanya sekedar duduk ataupun saling berlarian.
Leon berhenti tepat di belakang gadis itu,
"Assalamualaikum!" sapa Leon, gadis yang berdiri membelakanginya dengan cepat berbalik.
Senyumnya seketika. merekah, melebihi indahnya bunga yang sedang bermekaran, "Waalaikum salam! Mas Leon!"
Mereka berdiri berhadapan hanya berjarak satu meter,
"Bagaimana kabar Nisa?" tanya Leon setelah cukup lama mereka hanya saling tersenyum, rasanya ingin memeluk tapi gadis yang ada di depannya bukan gadis yang bisa di peluk sebelum dirinya membuat ikatan dengannya.
"Nisa baik mas, mas Leon?"
"Seperti yang kamu lihat, semoga akan selalu baik! Sebenarnya aku merindukanmu, tapi maaf aku tidak bisa memelukmu!"
Mendengar ucapan lugas Leon, Nisa lagi-lagi tersenyum. Nisa tahu pria yang ada di depannya ini adalah pria yang punya pendirian. Leon bukan pria yang hanya akan main-main dengan ucapannya hingga Nisa takut untuk di buat baper.
"Halalkan aku dulu, Nisa akan ijinkan mas Leon peluk Nisa!" ucap Nisa yang tidak mau kalah, sebenarnya dia hanya ingin membuat suasana cair saja.
"Unty, ini calon uncle Sam ya?" tanya jagoan kecil yang sedari tadi memperhatikan percakapan mereka.
Nisa dan Leon menoleh pada jagoan kecil yang usianya sekitar delapan tahunan. Nisa tersenyum dan mengusap kelapa Sam, anak itu bernama Sam Ardiansyah putra kakak kedua Nisa.
"Kenalkan Dia Sam!" ucap Nisa pada Leon dan Nisa pun beralih pada Sam, "Sam, dia uncle Leon!"
"Salam kenal uncle Lee!" sapa Sam sambil melambaikan tangannya.
"Salam Sam, nama yang bagus!"
"Ancle Lee juga bagus!"
"Terimakasih panggilannya, aku suka!"
Jagoan kecil itu pun tersenyum dan kembali bermain dengan teman-temannya.
"Mas Leon mau melihat proyek pembangunannya?" tanya Nisa setelah Sam pergi.
"Iya!"
"Mari saya antar untuk melihatnya!"
"Baiklah, kalau tidak keberatan!"
__ADS_1
Nisa tersenyum, "Mari!"
Mereka pun berjalan beriringan menyusuri sekolah yang memang sudah terlihat besar itu. Tapi ada proyek yang memang mengarah pada pembangunan sekolah, ini termasuk proyek sosial yang di lakukan oleh perusahaan Alex yang sudah di rencanakan jauh sebelum Alex masuk ke dalam jeruji besi, tapi karena Alex di dalam jeruji besi jadi proyek ini yang menjalankan Leon. Proyek ini terdapat beberapa titik di provinsi Jawa timur, di berikan pada sekolah-sekolah yang berpotensi.
"Kalau kamu di sini, bagaimana tugasmu di rumah sakit?" tanya Leon setelah cukup lama mereka hanya saling diam.
"Masih tetap, saya di sini cuma pas libur di rumah sakit mas!"
"Bukankah lebih menjanjikan jadi perawat, kenapa masih tertarik untuk bekerja di sekolah?"
"Saya tidak bekerja mas, saya hanya sedang menikmati waktu liburku!"
"Dengan bekerja juga?"
"Hmm!" Nisa menganggukkan kepalanya, "Bekerja yang sesuai dengan fashion nya!"
"Memang perawat bukan fashion kamu?"
Nisa menggelengkan kepalanya, "Tidak sepenuhnya benar!"
Leon menghentikan langkahnya dan menoleh pada wanita yang berdiri di sampingnya itu, "Maksudnya?"
"Awalnya hanya karena saya merasa jika mungkin papa sama Mama akan sangat bangga pada putrinya yang juga menjadi dokter atau setidaknya perawat, tapi seiring berjalannya waktu ternyata saya menyukai pekerjaan saya!"
"Saya suka pemikiran kamu!"
Nisa tersenyum, "Saya juga suka pemikiran mas Leon!"
Lagi-lagi Leon harus mengerutkan keningnya saat mendengar penuturan dari wanita itu, kadang ada beberapa perkataan wanita itu yang tidak bisa ia mengerti,
"Pemikiran yang mana?"
"Ada banyak mas, saya tidak mungkin mengungkapnya satu per satu, tapi ada satu yang sedang sangat saya kagumi dari mas Leon!"
"Prinsip mas Leon!"
"Jika ternyata aku tidak sesuai dengan yang kamu pikirkan, bagaimana?" tanya Leon. Ia ingin tahu bagaimana jawaban wanita di sampingnya itu.
Nisa kembali berjalan, begitu juga dengan Leon. Di depan mereka sudah melihat bangunan yang masih selesai tujuh puluh lima persen pengerjaannya.
"Jika Allah sudah menjodohkan saya dengan mas Leon, insyaallah saya akan menerima semua tentang mas Leon, semua kekurangan mas Leon insyaallah akan Nisa tutup dengan kelebihan Nisa dan sebaliknya!"
"Yakin sekali!" gumam Leon dengan begitu tidak percaya dengan pemikiran Nisa yang terkadang begitu meyakinkan.
"Allah suka yang pasti mas! Semoga janji mas Leon juga pasti untuk Nisa!"
Mendengar ucapan Nisa, Leon seperti terpatri. Ia terdiam dan menatap punggung Nisa yang sudah berjalan menjauh dari dirinya dan bergabung dengan yang lainnya.
Leon tidak pernah menyangka pertemuan tidak sengajanya dengan seorang wanita yang menolongnya berlanjut menjadi sesuatu yang serius. Walaupun terbesit dalam hatinya untuk mendekat dan berusaha menghalalkannya, tapi dunia sedang tidak berpihak padanya.
...🌺🌺🌺...
Hari berlalu begitu cepat dan dia mendapat berita jika seseorang sedang mengajukan lamaran pada wanita yang sudah mengisi hidupnya dua tahun ini.
Gadis itu mengirimi pesan untuk bertemu dengannya.
Mereka sudah duduk di salah satu bangku kafe yang menjadi tempat pertemuan mereka waktu itu.
gadis itu tetap diam, Leon sudah tahu apa yang sebenarnya ingin di katakan oleh gadis itu, tapi tetap saja ia ingin mendengar langsung dari bibirnya. Jika pun dia harus merelakan, dia akan siap jika Nisa sendiri yang akan mengatakannya.
__ADS_1
"Mas, dua tahun bukan waktu yang singkat! Mas Leon tahu sekarang usia Nisa sudah dua puluh empat tahun dan orang tua Nisa masih sama seperti orang tua anak-anak gadis lain, mereka ingin putrinya segera menikah di usia matang! Jika mas Leon tidak keberatan, bisakah mas Leon melamar Nisa satu bulan lagi, insyaallah Nisa masih bisa menunggu hingga mas Leon siap melamar Nisa!"
"Jika tidak?"
Hehhh ...
Nisa menghela nafasnya begitu dalam, ia sepetinya juga begitu berat untuk mengungkapkan apa yang ingin ia ungkapkan,
"Jika tidak, ikhlaskan saya menjadi jodoh orang lain!"
Leon terdiam, ingin rasanya untuk mencegah agar jangan melakukan hal itu, tapi ia juga tidak punya hak untuk orang lain mendapatkan jodohnya.
"Jika memang itu yang terbaik, insyaallah saya ikhlas, semoga kamu bisa mendapatkan jodoh yang terbaik, jodoh yang jauh lebih baik dari saya!"
Gadis itu terdiam, matanya menerawang jauh ke luar seperti sedang mencari jawaban atas kegundahan hatinya di sela sibuknya jalanan yang berada jauh di sana. Dunianya sekarang seperti sedang berada di ujung batas yang akan memisahkan dua hati yang bahkan belum di mulai kisahnya.
"Mas Leon masih bisa datang sebelum satu bulan mas, dan Nisa harap mas Leon masih mau datang!"
"Semoga harapan Nisa jadi kenyataan! Nisa tahu apa yang sedang saya perjuangkan sekarang!" ucap Leon.
"Nisa akan selalu berdoa semoga Allah mempermudah langkah mas Leon!"
"Amin!"
"Nisa harus pergi sekarang!" Nisa pun berdiri dadi duduknya dan mengambil kunci mobilnya, "Semoga setelah ini kita masih bisa bertemu lagi mas, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Leon tidak bisa berjanji dan mungkin memang harapannya sekarang sudah benar-benar putus untuk mendapatkan cinta seorang Nisa, gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta itu.
Matanya hanya bisa terus menatap punggung gadis itu, mungkin memang hanya seperti ini, gadis itu pergi dan Leon hanya masih tetap diam di tempatnya.
Brettttt bretttt bretttttt
Suara. getaran dari ponselnya yang berada di atas meja menyadarkannya jika gadis yang sedari tadi ia tatap sudah menghilangkan di balik mobilnya.
Leon pun segera menunduk, mengecek siapa yang sedang melakukan panggilnya. Keningnya berkerut saat melihat telpon dari rumah binaan pemasyarakatan.
Leon dengan cepat menggeser tombol telpon ke warna hijau dan menempelkan benda pipih itu di atas daun telinganya.
"Hallo!"
"Hallo, dengan pak Leon?"
"Iya benar!"
Leon mendengarkan penjelasan panjang lebar dari pak polisi dan memastikan tidak sampai tertinggal satu pun ucapannya yang tidak di dengar. Bibirnya seketika melengkung ke atas setelah menerima berita gembira itu.
Leon mematikan sambungan telponnya setelah percakapan mereka berakhir,
"Allah sudah mengabulkan doa kamu, Nisa!" gumam Leon yang masih tidak bisa menutupi rasa bahagianya.
Bersambung
...Allah tidak mungkin menguji hamba-Nya melebihi kemampuan hamba-Nya, setiap cobaan pasti akan ada penyelesaiannya tergantung bagaimana cara kita menyikapi masalah yang Allah turunkan pada kita...
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...