
Tiba-tiba Leon bangkit dari duduknya membuat semua yang ada di ruangan itu pun menatap padanya dengan tatapan penasaran, apa gerangan yang akan di lakukan oleh suami Nisa itu.
"Pa, ma, dokter, mbak, titip Nisa sebentar, ada yang harus saya lakukan, sebentar saja!"
Belum sampai satu pun orang yang ada di sana menjawab ucapannya, pria itu menyambar benda kecil yang berada di tangan dokter Reza dan berlari keluar.
Bibirnya tidak berhenti tersenyum, sudut matanya juga mengembun. Ia sekarang berlari tapi berlari yang ini berbeda dengan saat ia berlari tadi sebelum masuk ke ruangan itu.
Sesekali terlihat ia melompat kegirangan, mungkin Pumpung tidak ada mertuanya, ia bebas melakukan itu.
Hal yang ingin ia lakukan sekarang adalah mencari mushola, beberapa kali ia bertanya pada perawat yang kebetulan lewat.
Sesampai di mushola, ia segera melepas sepatunya dan masuk dengan langkah yang masih panjang, melakukan sujud syukur di sana sambil menatap hasil USG Nisa.
"Ya Allah, entah apa yang bisa aku perbuat hari ini untuk membalas semua kebaikanmu, aku tahu walaupun apa yang aku punya aku berikan pada Mu, tetap aku tidak akan bisa, tapi ijinkan aku hari ini bermanfaat bagi orang lain yang aku temui, walaupun itu hanya secuwil dari nikmat yang Engkau berikan padaku!" ucapnya dalam sujud.
Setelah puas mengadu, Leon pun kembali keluar, ada yang ingin dia lakukan. Ia menuju ke sebuah warung tenda yang ada di depan rumah sakit menyerahkan sejumlah uang,
"Mas hari ini satenya mas saya borong, tapi nanti bagikan sama orang-orang yang lewat ya mas!" Leon berucap sambil menyerahkan uangnya seratus ribuan sebanyak sepuluh lembar.
"Yang benar ini mas?"
"Anggap saja saya sedang shodaqah!"
Leon pun kembali pergi, ia harus memberi sesuatu untuk sang istri.
Setalah menemukan apa yang ia cari, ia pun segera kembali ke kamar Nisa. Dan di sana masih utuh orang-orang yang tadi, tapi sekarang sudah duduk di sofa, hanya mama Nisa yang duduk di samping Nisa sedang menemani Nisa.
Nafas Leon masih sama seperti tadi saat tahu Nisa masuk rumah sakit, tapi saat ini senyumnya terus tersungging.
Leon dengan satu ikat bunga besar dan satu buah boneka berada di tangannya,
"Maaf, aku hanya bisa memberi kamu ini, sebenarnya aku bingung! Aku tidak tahu apa yang kamu suka, lain kali kamu bisa memberitahuku apapun yang kamu suka!"
"Cie ....!" hal itu langsung mendapat ledekan dari dokter Reza.
Nisa tersenyum melihat apa yang di lakukan oleh sang suami, ia tidak menyangka jika suaminya itu bisa berusaha untuk romantis.
"Mas, nggak perlu seperti ini, mas seneng aja Nisa juga ikut seneng! Allah baik banget sama Nisa sudah memberi suami sebaik mas Leon!"
Papa Nisa yang sempat meragukan menantunya itu akhirnya meneteskan air mata haru, walaupun belum sampai dia segera menghapusnya sebelum sempat jatuh. Mama Nisa yang tahu jika suaminya sedang terharu segera memeluknya.
"Ya sudah, karena Leon sudah datang, sebaiknya kita pergi saja!" ucap papa Nisa kemudian, sebenarnya hanya ingin memberi kesempatan pasangan yang sedang bucin itu untuk berdua saja.
Walaupun sebenarnya keberatan, tapi akhirnya mereka pergi juga.
Kini hanya ada Leon dan Nisa di kamar itu, tangan Leon tidak pernah beralih dari memegang tangan sang istri, ia sedang membayangkan bagaimana rasanya nanti saat ada anak-anak di antara mereka.
__ADS_1
Ia juga membayangkan bagaimana jika nanti perut rata Nisa menjadi besar,
"Kamu pasti lucu!" gumamnya setelah hanya saling diam.
"Apanya mas?"
"Kamu pasti lucu pas perutnya besar."
"Maksudnya nggak cantik lagi?" Nisa pura-pura ngambek dengan mengerucutkan bibirnya.
"Imut, pengen cepet lihat perut kamu besar." Leon mengusap perut datar Nisa sambil tersenyum.
"Kebayang kalau kita punya anak kembar ya mas?" ucap Nisa sambil membayangkan betapa imutnya jika anak mereka nanti kembar.
"Memang kamu punya keluarga yang anaknya kembar?" Leon menatap sang istri dan sang istri menggelengkan kepalanya.
"Tapi itu tadi hasil USG nya kemungkinan kembar mas!" ucapan Nisa berhasil membuat Leon tercengang, bingung sekaligus bahagia, kebahagiaannya yang tadi tiba-tiba berlipat ganda.
Ternyata Allah benar-benar melipat gandakan nikmat seseorang dengan hanya membagikan sedikit saja nikmat itu pada orang lain.
"Ya Allah, mudah sekali Engkau menambahkan nikmat ini, Alhamdulillah!" Leon bertubi-tubi menciumi wajah sang istri, rasanya dadanya seperti ingin meledak karena terlalu bahagia.
"Sayang, terimakasih ya!" ucapan Leon berhasil membuat Nisa tercengang di buatnya, ini untuk pertama kalinya sang suami memanggilnya sayang.
"Mas_, sayang?"
"Iya, apa kamu keberatan? Jika keberatan aku akan menggantinya, kamu mau di panggil apa?"
"Enggak, Nisa seneng banget, tapi sepertinya nanti kalau anak kita lahir panggil aja aku bunda, kayaknya lebih keren mas!"
"Baiklah, kalau begitu panggil aku ayah, biar serasih!"
"Ayah bunda, Nisa nggak sabar anak kita lahir mas, pengen lihat senyum mereka yang menawan seperti mas Leon!"
"Mas juga, pengen melihat senyum cantik sepeti Nisa!"
Mereka kembali menghentikan pembicaraan mereka saat seorang perawat datang untuk memeriksa keadaan Nisa dan mengingatkan untuk minum obat,
"Jangan lupa dua jam lagi minum obatnya ya mbak Nisa, nanti perawat bagian pantry akan mengantarkan susu hamil untuk mbak Nisa!"
"Terimakasih sus!" ucap Leon yang masih enggan meninggalkan sang istri.
"Selamat ya mas, mbak Nisa kayaknya hamil kembar!" ucapan dokter kembali mengingatkan Nisa akan kandungannya yang kembar, di keluarganya bahkan dari nenek dan kakeknya dari papa maupun mamanya tidak ada yang mempunyai keturunan kembar.
"Terimakasih!"
Setelah menyelesaikan tugasnya, perawat itu pun kembali keluar.
__ADS_1
"Mas!"
Leon yang berencana memberitahukan keberadaan sang istri pada Alex segera ia urungkan, ia kembali meletakkan ponselnya.
"Iya? Apa kamu butuh sesuatu?"
"Apa mungkin mas Leon yang punya gen kembar ya?" tanya Nisa dengan menatap serius pada sang istri.
Leon terdiam, ia bahkan tidak tahu bagaimana rupa keluarganya. Lalu bagaimana dia bisa menjawab pertanyaan sang istri.
"Mungkin!" ucap Leon asal.
***
Seorang pria segera berdiri saat dirinya masuk ke dalam ruangan yang lumayan luas dengan interior yang yang indah.
"Assalamualaikum!" sapa Gus Raka pada pria yang berperawakan Arrogant tapi dia tersenyum.
"Waalaikum salam, silahkan duduk!" perintah pria pemilik perusahaan itu.
"Terimakasih!" ucap pria dengan wajah bersahaja, wajahnya memperlihatkan sikapnya yang tenang.
Gus Raka pun duduk di kursi berwarna hitam yang berada tepat di depan meja yang di atasnya ada beberapa berkas yang baru saja di tutup oleh pemilik meja, meja itu yang akan memisahkan mereka saat duduk.
"Anda dari toko Nurul Jannah?" tanya Alex berbasa-basi.
"Iya pak Alex, tapi inti kedatangan saya ke sini sebenarnya tidak berhubungan dengan toko saya, maaf karena tadi saya menggunakan nama toko saya untuk bisa menemui pak Alex."
Alex mengerutkan keningnya,
Gus Raka pun kembali melanjutkan ucapannya, "Sebenarnya ini masalah bersifat pribadi, maaf sekali lagi karena saya sudah lancang bertanya yang sifatnya pribadi dengan anda!"
"Saya kurang mengerti, bisa langsung ke intinya saja, untuk masalah saya marah, saya tidak marah karena mungkin saya bisa membantu anda!"
"Alhamdulillah, terimakasih atas kebaikan pak Alex, sungguh saya akan sangat berterimakasih jika mas Alex mengijinkannya!" Gus Raka benar-benar merasa senang dengan apa yang di katakan oleh Leon.
...Allah pasti akan memberi kemudian pada hambaNya yang mau berusaha. Semoga kita termasuk orang-orang yang mau berusaha....
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1