Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (PoV Nisa 3)


__ADS_3

Mas Leon memaksaku mengantarkan ke rumah, sebenarnya tidak enak sekali dia sudah bilang kalau hari ini begitu sibuk tapi masih saja menyempatkan untuk mengantarku, mungkin aku nanti akan membawa sedikit baju ke rumah mas Leon biar tidak merepotkan mas Leon.


Tidak lupa aku juga membawa satu kantong penuh oleh-oleh, rencananya akan aku bagikan untuk teman-teman tempatku bekerja, tapi sepertinya tadi aku lupa, aku tidak membawakannya juga untuk mas Leon. Mas Leon pasti juga punya rekan kerja, mungkin nanti jika terlalu sibuk aku bisa mengantarnya ke sana.


Kedatanganku ke rumah langsung di sambut histeris mama, mama memnag suka gitu kalau lama nggak ketemu aku, maklum aku anak bungsu sudah pasti mama paling memanjakan aku.


"Bagaimana di sana, Leon baik kan? Dia nggak kasar kan mainnya? Nggak sakit kan? Biasanya pengalaman pertama sakit, tapi kamu nggak pa pa kan? Biar mama buatkan obat mujarab buat kamu!"


Ahhh, mama selalu saja heboh. Lagian sakit apanya sih, aku kan belum melakukan apa-apa sama mas Leon, aku kerja di kedokteran pastilah aku tahu bagaimana kronologinya nanti, bukan hal tabu membahas masalah itu di pendidikanku, seperti sudah jadi makanan sehari-hari. Tapi aku malah tidak punya pengalaman.


"Mama tanyanya gitu banget sih, lagi pula juga Nisa kan masih haid!"


"Jadi belum terjadi apa apa?" terlihat sekali wajah mama kecewa.


"Sudah ah ma, Nisa harus segera berangkat, Nisa udah telat!" aku terburu-buru memasukkan beberapa barang ke dalam tasku, barang pribadi yang selalu aku bawa saat kerja. "Nanti Nisa ke sini lagi buat ambil baju!"


"Jadi Nisa mau tinggal di sana terus?"


"Enggak ma, Nisa cuma nggak enak kalau buat mas Leon bolak balik ke sini ke rumah, dia pasti capek banget, mungkin nanti bakal satu Minggu di sini dan satu Minggu di sana! Oh iya, ini oleh-oleh buat mama, semoga mama suka!"


Aku menyerahkan sebuah tas kecil, mama orangnya suka bawa tas tangan kecil.


"Mama suka banget, makasih sayang!"


Mama langsung memelukku, beliau membagi tidak pernah memandang harga hadiah yang diberikan,


"Sama-sama ma, pak Rokim di rumah nggak ma?, Nisa nggak mungkin nyetir sendiri nih!"


"Ada, papa tadi bawa mobil sendiri!"


"Mama nggak mau ke mana-mana kan ma, pak Rokim suruh ngantar Nisa bentar!"


"Iya nggak kok sayang, mama lagi pengen rebahan saja hari ini!"


Setelah berpamitan sama mama, aku pun segera berlalu menghampiri mobil. Ternyata pak Rokim sudah siap di sana, sepertinya mama sudah memberitahu lebih dulu, memang mama the best pokoknya.


"Nisa, ya Allah! Aku kangen banget sama kamu!" temanku begitu heboh memelukku saat aku sudah masuk ke ruangan ku.


"Serius! Padahal aku nggak kangen!" sengaja wajahku aku buat datar untuk menggodanya.


"Jahat banget sih!"


"Becanda!"


"Tau!"


"Jangan marah dong!" Zahwa temanku yang ini sedikit manja, aku harus merayunya agar dia tidak ngambek.


Setelah dia tersenyum, barulah aku yakin kalau dia tidak marah,


"Panik ya?"


"Enggak, biasa aja! Minta tolong dong!"


"Apa?"


"Bagikan oleh-oleh ini buat temen-temen lainnya ya!"


"Siap bos!"


Setelah urusan oleh-oleh selesai, aku harus melanjutkan merekap beberapa data pasien. Satu Minggu cuti cukup menunda pekerjaan, memang ada yang menggantikan ku selama satu Minggu, tapi tetap saja yang seharusnya menjadi tugasku harus aku kerjakan sendiri.


Jam makan siang selesai, tiba-tiba salah satu perawat junior menghampiri.

__ADS_1


"Mbak Nisa ya?" karena anak baru jadi dia pasti belum mengenalku.


"Iya, ada apa?"


Gadis itu terlihat masih sangat imut, sepetinya usianya bahkan belum genap dua puluh tahun.


"Ada yang nungguin mbak Nisa di ruang tunggu depan!"


"Siapa?"


"Nggak tahu mbak!"


"Ya udah, makasih ya!"


Aku jadi penasaran siapa yang sebenarnya mencariku, awalnya aku berniat untuk menyelesaikan pekerjaanku, lagi pula aku juga belum lapar tapi karena ada yang mencari aku pun terpaksa menyudahi pekerjaanku.


Ku lepas jas putihku dan ku ganti dengan out fit rajut untuk menutupi gamisku. Aku berjalan sedikit lebih cepat agar tidak membuang banyak waktuku, menurutku dari pada lembut sore mending memanfaatkan jam istirahat siang untuk segera menyelesaikannya. Lagi pula aku juga belum selesai haid jadi tidak perlu ke mushola rumah sakit.


Langkahku terhenti mana kali netra ini menemukan sosok yang mampu membuat jantungku berdetak lebih kembali. Bibir ini tidak mampu menahan untuk tidak tersenyum. Mas Leon tidak menyadari kehadiranku karena ia berdiri membelakangi ku.


"Assalamualaikum, mas!"


Dia berbalik dan aku langsung bisa melihat senyumnya yang menawan.


"Waalaikum salam!"


Aku kembali berjalan mendekat hingga hanya ada jarak sedikit dia antara kami, segera ku raih tangannya dia ku kecupi bagian punggung dan telapak tangannya,


"Ada apa mas?" tanyaku setelah selesai dengan ritual rutinku ketika bertemu dengannya.


"Aku bawakan ini untukmu!" mas Leon mengangkat sebuah kantong plastik yang tadi tidak ku sadari keberadaannya.


"Ini_!" aku segera menerimanya, kantong yang bertuliskan sebuah nama restauran ternama di kota Surabaya.


Mas Leon mengusap kepalaku yang tertutup hijab, aku tahu itu ritual saat dia ingin berlalu dariku. Aku cukup terkejut karena dia datang ke sini hanya untuk membawakan makan siang untukku padahal aku tahu jarak kantornya dan rumah sakit cukup jauh.


"Jadi mas Leon ke sini cuma buat bawakan aku makan siang?"


"Bawakan makan siang buat kamu bukan cuma, tapi ini penting! Aku sekarang suami kamu, memastikan kesehatanmu adalah tugasku!"


"Tapi mas_!"


"Sudah nggak usah protes, aku harus segera kembali ke kantor, jangan lupa WhatsApp aku saat sudah akan pulang!"


"Hmm!"


Setelah mengucap salam, mas Leon segera meninggalkanku. Setelah suamiku tidak terlihat lagi aku pun segera memandangi kantong plastik yang berisi kotak makan lengkap dengan minumannya. Bibir ini lagi-lagi tidak mampu menyembunyikan senyum. Beruntung sekali aku mendapatkan pria seperti mas Leon yang menjadikan wanitanya ratu di hati dan hidupnya.


Segera ku bawa kotak makan itu kembali ke ruang tempatku bekerja, gagal nih untuk tidak makan siang. Memang siapa yang mampu mengelak dari makanan yang pesona pengantarnya seperti menari-nari di atas makanan. Bahkan sambil mengunyah makanan, bibir ini tidak mampu di kendalikan, dia terus ingin tersenyum. Hatiku sedang berbunga-bunga sekarang.


Aku pun mengambil ponselku dan mengabadikannya dengan kamera ponsel, meletakkannya di story WhatsApp, Instagram dan bahkan Facebook dengan caption,


...Aku bagai ratu untuk orang yang mencintaiku, semoga cintaku sebanding dengan yang di berikan 💖💖💖💖💖💖💖💖...


Gambar hati banyak juga menghiasi caption itu, semoga seseorang yang aku tuju membaca captionku.


Sore ini, aku terus saja memutar pelan ponsel yang ada di tanganku. Antara ragu dan tidak enak, aku mau terlalu merepotkan suamiku. Mas Leon pasti sudah sangat capek seharian bekerja, aku tidak mungkin menambah bebannya untuk menjemputmu.


Aku pun memutuskan untuk menghubungi pak Rokim untuk menjeputku. Tapi jawabannya benar-benar di luar dugaanku.


"Maaf mbak Nisa, tapi tadi mas Leon bilangnya aku nggak usah jemput, mau di jemput mas Leon sendiri!"


"Yang benar saja, memang mas Leon hubungi pak Rokim sendiri?" aku masih dengan sifat ngototku.

__ADS_1


"Iya mbak!"


Dia tahu dari mana nomor mas Leon, seharusnya tidak perlu terlalu misterius seperti ini


Aku benar-benar di buat terkejut, akhirnya aku pun memilih mengakhiri panggilan telpon. Aku bingun sekarang mau pulang bareng dengan siapa, kak Reza sama.kak Ardan sedang sibuk sekarang, tadi aku dengar ada pasien yang begitu serius dan memerlukan penanganan serius, kedua kakakku pasti sekarang sedang berduel menangani pasien.


Baru saja aku memutuskan untuk naik taksi saja dan bersiap untuk mengemasi barang-barang milikku, tiba-tiba ponselku berdering kembali.


Aku melihat ada nomor mas Leon terpampang di sana, bingar bahagia tiba-tiba kembali menyelimuti hatiku,


"Sudah pulang belum, aku di depan rumah sakit!"


Lagi-lagi mas Leon membuat kejutan seolah-olah dia bukan orang sibuk saja yang selalu siap meluangkan waktunya untukku.


"Sudah mas, bentar ya!"


Aku pun segara mempercepat kegiatanku mengemas barang-barang pribadiku, aku tidak mau membuat mas Leon menunggu terlalu lama. Langkahku mungkin sekarang sudah seperti orang yang berlari, aku menyusuri lorong rumah sakit.


Hingga akhirnya aku sampai juga di depan rumah sakit dan di sana aku sudah bisa melihat mas Leon sedang. berdiri dengan bersandar pada mobil. Dia terlihat begitu tampan bahkan di lihat dari kejauhan tetap saja dia begitu tampan.


Melihatku sudah aku keluar dari gedung, mas Leon menahanku agar tidak melanjutkan berjalan, dia pun segera menghampiriku.


"Sudah selesai ya kerjanya?" selalu mas Leon dulu yang bertanya.


"Sudah mas, mas Leon sudah lama di sini?"


"Sekitar tiga puluh lima menit empat puluh sembilan detik!"


"Maaf ya membuat mas Leon menunggu lama!"


"Ya, tapi kamu harus menggantinya dengan sesuatu!"


Aku langsung menoleh padanya, memang harus mendongakkan kepala tapi aku kesal dengan jawabannya, dia perhitungan sekali.


"Maksudnya?"


"Satu kali ciuman sepertinya cukup!" ucapnya dengan nada menggoda, aku terpaku di buatnya. Sejak kapan mas Leon bisa menggodaku seperti itu? Atau gara-gara kejadian semalam sudah berhasil menumbuhkan keberanian mas Leon. Mengingat kejadian semalam sudah berhasil membuat pipiku memerah, panas.


Untung mas Leon segera menarik tanganku dan membawaku menuju ke mobil yang sedang terparkir, mas Leon lebih dulu membukakan pintu untukku. Setalah memastikan aku masuk ke dalam mobil barulah mas Leon masuk ke dalam mobil.


Mobil sudah kembali berjalan, tapi tetap saja tidak ada obrolan di antara kami, rasa canggung menyelimuti. Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya.


Memang dari sudut manapun, dia enak di pandang. Rasanya pengen terus berlama-lama melihat wajahnya seperti ini. Serius tapi tetap terlihat manisnya.


"Untung memandang seseorang itu tidak ada dendanya!" ucap mas Leon, tentu sangat mengagetkan ku. Ternyata sedari tadi mas Leon memperhatikan aku.


"Aku juga siap bayar dendanya kalau melihat wajah mas Leon dapat denda!" aku bicara dengan nada ku buat semanja mungkin.


Kali ini mas Leon menoleh sejenak ke arahku dan tersenyum,


"Aku pasti menagih dendanya!"


"Siapa takut!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2