
Hingga tengah malam pun Nisa belum juga tidur, ada rasa yang masih sangat mengganjal dalam dirinya.
Bahkan untuk menulis sesuatu pun dia tidak bisa, pikirannya sedang tidak baik-baik saja.
"Haus sekali!" tenggorokannya terasa kering, ia memegangi lehernya yang terbuka. Segera ia sambar jilbab instan yang ia letakkan begitu saja di samping bantalnya.
Ia juga mengambil gelas kosong yang ada di dalam atas nakas. Memakai sendal yang ada di bawah tempat tidurnya, lampu yang awalnya sudah ia matikan kini ia hidupkan lagi.
Nisa pun memilih untuk keluar dari kamarnya.
"Astaghfirullah hal azim!" Nisa begitu terkejut saat keluar dari kamar karena mendapati Gus Raka yang tertidur di di depan kamarnya.
Nisa sampai memegangi dadanya dan kembali memundurkan tubuhnya.
Gus Raka pun tidak kalah terkejutnya ia sampai terbangun dari tidurnya.
"Nisa maafkan aku!" Gus Raka segera bangun dan berdiri dengan mata memerah karena baru saja tertidur dan harus kembali terbangun.
Nisa pun bertanya kenapa Gus Raka ada di depan kamarnya.
"Mas Raka kenapa di depan kamar Nisa?"
Gus Raka pun tampak bingung saat ingin menjawabnya tapi kemudian Gus Raka pun memilih merapikan tikar yang ada di depan kamar Nisa.
"Maaf Nisa Sebenarnya saya terlalu khawatir, maaf jika hal ini mengganggumu! Aku akan pergi nanti jika kamu sudah tertidur kembali dan kunci kamarnya dari dalam! Aku akan tidur kembali disini!"
Nisa terdiam ia tidak tahu harus menjawab apa saat ini, ia merasakan tenggorokan nya semakin kering saja.
"Aku haus, aku minum dulu mas!" ucapnya kemudian Nisa tersenyum lalu berjalan meninggalkan Gus Raka yang masih berdiri di tempatnya.
Nisa mengisi gelas kosongnya dengan air putih dan duduk di kursi yang ada di ruang makan.
"Mas, Nisa mau bicara!"
Mendengar ucapan Nisa, Gus Raka pun meletakkan kembali tikarnya di samping meja kecil yang ada di samping pintu kamar Nisa.
Gus Raka pun mulai mendekatinya dan duduk di kursi yang ada di depan Nisa, mereka hanya bersekat sebuah meja makan yang ukurannya tidak terlalu besar.
"Maafkan aku!" lagi-lagi Gus Raka meminta maaf, ia memang merasa begitu salah karena tidur di depan kamar nisa tanpa meminta ijin lebih dulu.
"Mas, sebenarnya tidak perlu seperti ini! Mas Raka akan sakit jika tidur di sini tanpa alas seperti itu, Nisa sungguh tidak ingin merepotkan kan mas Raka!"
Gus Raka menundukkan kepalanya, lalu kembali ia angkat kepalanya setelah menghela nafas beratnya,
__ADS_1
" Aku tidak merasa direpotkan oleh hal ini, ini sudah menjadi tanggung jawabku!"
Nisa terdiam lalu berpikir sejenak mulai mengambil gelas yang sudah terisi air yang berada di atas meja dan meneguknya hingga tinggal setengahnya.
Setelah meletakkan kembali gelasnya, ia kembali menatap Gus Raka.
"Nisa bukan tanggung jawab mas Raka! Nisa bukan istri mas Raka, Nisa ini istri mas Leon, seharusnya Mas Raka mengerti hal itu!"
Seperti sebuah pukulan yang besar mengenai tubuh Gus Raka, matanya yang tadi memerah karena mengantuk sekarang memerah karena mengantuk tapi sekarang memerah karena menahan air matanya agar tidak sampai mengembeng.
"Maafkan aku jika aku terlalu ikut campur urusanmu! Nisa sungguh aku tidak mempunyai maksud apa-apa!" Gus Raka pun berdiri dari duduknya dan berlalu meninggalkan Nisa.
Nisa masih tercengang dan menatap punggungku serakah dalam hatinya dia juga merasa sakit karena mengatakan hal itu, sungguh dia merasa nyaman dengan perhatian yang diberikan oleh Gus Raka.
Tapi rasa nyaman itu malah membuatnya semakin sakit entah perasaan yang bagaimana yang sedang ia alami saat ini.
Anak-anak yang ada di perutnya pun jika dekat dengan Gus Raka juga tenang.
Nisa mengusap perutnya yang terasa beberapa kali menendang,
"Maafkan Ibu, ibu sungguh tidak tahu bagaimana dengan hidup Ibu selanjutnya! Semoga Allah memberikan jalan yang terbaik untuk ibu! Doakan ibu ya!" tangannya terus mengusap perutnya yang terus bergerak seperti enggan untuk diam.
Matanya masih menatap arah Gus Raka yang sudah tidak terlihat lagi. Nisa pun memilih kembali ke kamar dan mengunci pintunya dari dalam seperti apa yang dikatakan oleh Gus Raka.
Matanya masih enggan untuk terpejam, terbiasa tidur dengan memeluk suaminya membuatnya kesulitan tidur semenjak suaminya pergi.
Karena ia merasa sulit untuk tidur ia pun memilih mengambil benda pipih yang ada di atas nakas di samping tempat tidurnya, membuka galeri dan melihat foto-foto kenangan bersama dengan sang suami.
Pipinya kini mulai basah dengan air mata, sekuat apapun dia menahannya tetap kalau sendiri senyum palsu yang selalu dia tunjukkan pada teman-temannya sirna dan berganti dengan air mata.
Ada rasa bersalah dalam dirinya suaminya belum genap seratus hari meninggalkannya tapi hatinya terasa berbeda saat saat mendekat dengan Gus Raka.
Rasanya seperti sebuah penghianatan, dia merasa sudah menghianati cinta suaminya, rasa bersalah itu selalu tumbuh saat ia dekat dengan Gus Raka.
" Mas maafkan Aku, kamu pasti sangat kecewa denganku, sungguh ini bukan mauku!"
"Maafkan Aku!"
Selalu kata maaf yang terucap dalam bibirnya.
Setelah puas melihat-lihat foto kenangan bersama sang suami nisa pun beranjak dari tempat tidur mengambil sebuah baju yang biasa dipakai oleh sang suami. Ia tahu suaminya hanya memiliki beberapa baju saja.
Tidak sulit untuk menemukan baju kesayangan sang suami.
__ADS_1
Kali ini Nisa tidur sambil memeluk baju sang suami merasakan aroma tubuh sang suami yang masih melekat di dalam baju itu, mencium aroma parfum yang biasa di pakai oleh sang suami.
Hingga aroma parfum itu kembali mengingatkannya pada seseorang.
Deg
Detak jantungnya kembali seperti terhantam saat menghirup aroma itu itu orang yang dipikirkan dalam orang yang ada dalam pikirannya adalah Gus Raka.
"Kenapa dia?"
***
Pagi ini Nisa terlihat lesu, ia sudah duduk di meja kerjanya dan menelungkupkan kepalanya di atas meja.
"Sakit ya Nis?" Asna yang baru datang segera menghampiri Nisa dan menggeser kursi plastik yang ada di samping Nisa. Nisa sudah mengangkat kepalanya dan mengambil air mineral dalam botol yang sengaja ia bawa dari rumah dan meneguknya untuk mengurangi rasa kantuknya.
"Semalam aku nggak bisa tidur!" ucap Nisa setelah menutup kembali botolnya.
"Mas Raka masih tinggal di rumah kamu?" Nisa memang terbiasa cerita semuanya pada Asna, selain pada Asna biasanya Nisa juga bercerita pada kakaknya, dokter Reza.
Nisa menganggukkan kepalanya. "Mas Raka hari ini juga mau ke sini, hari ini jadwal aku periksa kehamilan! Padahal aku sudah melarangnya tapi mas Raka tetap memaksa!"
"Mas Raka perhatian sekali ya! Dia benar-benar idaman hatiku!" Asna memejamkan mata sambil menyilang kan tangannya di depan dada seperti sedang memeluk Gus Raka.
Nisa mengerutkan keningnya, ia kembali teringat dengan ucapan Gus Raka saat berada di masjid kemarin.
"Na, kamu pernah ngobrol nggak sama mas Raka?"
"Ya pernah lah, kemarin juga ngobrol!"
"Bukan itu maksudku! Maksudku itu kamu ngobrol berdua dengan mas Raka, ngobrol dari hati ke hati!"
"Pengeeeen! Tapi kapan ya!?"
Jadi bukan Asna orangnya, lalu siapa?
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...