
Suara alunan musik pop sedang memenuhi ruang kerja seorang pria dua anak itu, lagu lawas milik Peterpan yang sudah berganti nama menjadi Noah itu menjadi temannya saat kepalanya sedang penuh. Entah sudah berapa lagi yang ia putar hingga kini masih mengalun lagu buka dulu topengmu.
Kudapat melintas bumi
Kudapat merajai hari
Kudapat melukis langit
Kudapat buatmu berseri
Tapi kudapat melangkah pergi
Bila kau tipu aku disini
Kudapat melangkah pergi
Ku dapat hal itu
Tapi buka dulu topengmu
Buka dulu topengmu
Biar ku lihat warnamu
Kan kulihat warnamu
Sepertinya lagu itu sekarang sedang menggambarkan betapa bingungnya dirinya saat ini. Sesekali tangannya memainkan bolpoin yang bahkan sedari tadi tidak ia gunakan untuk apapun.
"Papa_!" suara lembut anak kecil menyadarkan dari lamunannya, ia segera menurunkan kakinya yang sedari tadi berada di atas meja, mengecilkan boks musik yang terhubung bluetooth dengan ponselnya.
Bibirnya segera ia tarik ke atas, membentuk sebuah senyum tipis kala anak kecil itu mendekat padanya.
"Sini sayang!" tangannya melambai hingga anak itu berlari mendekat dan tangan kekarnya langsung meraih tubuh mungil itu, menaikkannya ke atas pangkuan.
"Kia belum tidur? Kenapa?" jari telunjuknya menowel hidung mancung milik putrinya.
"Kia masih belum bisa tidur, pa!"
"Ini sudah malam loh, Kia kan besok sekolah!"
Gadis kecil itu malah mendongakkan kepalanya, menatap wajah pria yang telah menghadirkannya ke dunia itu.
"Pa!"
"Hemmm?"
"Kia nggak suka di jaga-jaga kayak gini, Kia suka seperti dulu, hidup bebas, bisa jalan-jalan!" protes putrinya itu.
__ADS_1
Memang benar, beberapa Minggu ini Alex sudah melakukan pengawasan ketat pada keluarganya, ia merasa apa yang di katakan Gus Raka saat itu adalah sebuah peringatan.
Sepertinya Gus Raka atau ia merasa jika pria kembaran Leon itu memang Leon sedang merencanakan sesuatu.
Dan selama semuanya belum pasti, ia hanya bisa melakukan sebisanya, terutama menjaga keluarganya, sepertinya setelah Leon target selanjutnya adalah keluarga kecilnya, orang-orang yang berada di dekatnya.
Tujuannya adalah membuat seorang Alex hancur, jika di hancurkan dari depan akan sangat sulit tapi jika di jatuhkan dari dalam, maka Alex akan jatuh perlahan.
Kepergian Leon sudah menjadi bukti yang cukup untuk melemahkan seorang yang bernama Alex, dalam beberapa Minggu ini saja, Alex sudah kehilangan beberapa proyek. Alex belum siap tanpa Leon karena dia sudah terlalu terbiasa dengan pria itu.
"Papa usahakan ya sayang, tapi Kia sementara ini sabar dulu ya, sampai semuanya aman!"
"Apa om Leon akan kembali?"
Papa ingin om Leon kembali, tapi jika papa meminta itu sama Allah, bukankah papa bukan makhluknya yang baik?
Seandainya saja jika di masih kecil dan bisa protes, ingin protes tanpa dosa.
"Kita doakan yang terbaik untuk om Leon ya, semoga Allah memberikan tempat yang paling baik dan jika Allah ingin om Leon kembali, Allah pasti akan mengembalikannya walaupun mungkin dalam bentuk lain om Leon dalam versinya Allah!"
"Papa jangan sedih ya, Kia bisa sedih kalau papa sedih!"
"Papa nggak sedih sayang!"
Sepertinya putri kecilnya itu menyadari apa yang di rasakan oleh sang papa.
"Pa!"
Alex kembali menatap putri kecilnya yang masih duduk di pangkuannya itu.
"Hmm?"
"Kia juga nggak suka kalau di Katai anak orang jahat, kan papa bukan orang jahat, mama bilang papa dulu hanya menebus kesalahan papa, kenapa teman-teman Kia, orang tua teman-teman Kia, semuanya mengatakan kalau Kia anak orang jahat?"
Bagaimana sebuah luka yang sudah terbuka dan sekarang harus di siram kembali dengan air garam, rasanya begitu perih hingga mungkin jika hidup pun rasanya sia-sia.
Apa yang di alami putrinya, sudah pernah ia bahas dengan sang istri sebelumnya. Ingin membawa keluarga kecilnya segera pergi dari tempat kelahirannya, menetap di suatu tempat yang tidak ada satu orang pun yang mengenalnya agar suatu saat tidak ada yang mengatakan hal jahat pada anak-anak nya.
"Maafkan papa sayang, papa akan berusaha untuk jadi papa yang baik buat Kia dan Arsy, sabar sampai semuanya selesai, kita pergi dari sini dan tinggal di tempat yang hanya ada papa, mama, Kia dan Arsy ya!"
Kiandra menganggukkan kepalanya, Alex kembali mengusap kepala putrinya yang berada di dada bidangnya. Tidak berapa lama terdengar nafas teratur dari sang putri.
Setelah memastikan putrinya tertidur, ia segera mengusap air matanya, air mata yang tadi ia tahan agar putri kecilnya itu tidak sampai melihatnya.
Setelah puas menumpahkan air matanya, ia segera bangun dan membawa putri kecilnya itu ke kamar yang bernuansa pink dan biru,
"Mas, Kia ketiduran sama kamu ya?" ternyata istrinya sedang merapikan mainan putranya yang juga baru tertidur.
__ADS_1
Alex menidurkan putrinya di atas tempat tidur bernuansa merah jambu khas anak perempuan sedang di sebelahnya tempat tidur bernuansa biru khas anak laki-laki dan di atasnya Sudah tidur nyenyak anak laki-laki mereka.
Setelah menyelimuti tubuh kiandra dan meninggalkan kecupan di kening sang putri, Alex pun beralih pada putranya dan melakukan hal yang sama.
Kali ini dia tidak berdiri, ia memilih duduk di tempat tidur putranya yang berukuran single itu. Ia menatap istrinya yang sudah menggeser keranjang mainan ke tepi kamar.
Aisyah yang melihat suaminya terdiam dan tidak menjawab pertanyaannya segera mendekat dan duduk di sampinya.
"Ada apa mas? Apa ada masalah?" Aisyah mengusap tangan sang suami.
"Maafkan aku, aku pasti sudah banyak sekali membuat kalian menderita!"
"Mas!" Aisyah melihat mata suami berkaca-kaca, sepertinya cairan bening itu sudah memenuhi pelupuk matanya. "Apa Kia mengatakan sesuatu mas?"
Aisyah memang kerap mendapat keluhan dari putrinya itu tentang perlakuan. beberapa temannya dan terakhir Kia juga mengatakan jika beberapa orang tua temannya juga mengatakan hal yang sama. Aisyah pikir tidak perlu mengatakan pada suaminya, ia juga sudah mengatakan pada putrinya agar tidak mengatakan hal itu pada sang papa, tapi bagaimanapun Kia adalah anak-anak, sepertinya bercerita pada sang papa akan sedikit mengurangi beban perasaan sedihnya.
Aisyah tahu jika suaminya saat ini sedang sangat berduka dengan kepergian Leon, dengan mengatakan masalah itu pada suaminya pasti akan menambah beban suaminya.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal?"
"Maafkan Aisyah mas, Aisyah yang paling bersalah di sini!" alih-alih ingin menghibur suaminya, sekarang malah dirinya yang menangis.
Alex segera menarik tubuh sang istri dalam pelukannya,
"Sabar ya sayang, tunggu sampai masalah ini selesai, setelah itu baru kita pergi ke tempat di mana tidak ada orang yang mengenal kita!"
Aisyah hanya bisa pasrah dan menganggukkan kepalanya, mau kemanapun suaminya pergi dia akan ikut.
"Aku akan meminta Raka untuk datang ke kantor besok!" kali ini Aisyah mendongakkan kepalanya. Ia menghapus air matanya dan menatap suaminya,
"Mas masih curiga sama Gus Raka?"
"Iya, Ais! Aku sepeti melihat Leon di diri pria itu!"
"Mereka memang kembar mas!"
"Aku tahu!"
"Aisyah hanya tidak mau mas Alex berharap terlalu banyak dan ujungnya pasti kecewa mas, jangan ya!" Aisyah tampak memohon, ia hanya takut jika suaminya terlalu terobsesi jika pria bernama Raka itu bisa menjadi Leon seperti Leon nya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...