
Pria itu kembali menyakukan ponselnya, meninggalkan jaring daun yang sedari tadi ia bawa kemana-mana.
Ia segera ke kamarnya yang ada di rumah belakang, mengambil jaket yang menggantung di balik pintu, sebuah dompet dan kunci motor tidak lupa ia selipkan di saku celananya, helm berwarna hitam yang ada dio bawah meja kecil segera ia kenakan.
Dengan langkah cepat, ia melewati jalan belakang menuju tempat parkir kendaraan yang ada di belakang karena garasi di depan hanya untuk kendaraan pemilik rumah.
Hanya sekali slah, motor itu sudah menyala, tapi sebelum keluar dia harus melewati pos satpam terlebih dulu untuk meminta tolong membukakan pintu gerbang belakang.
"Mas, minta tolong bukakan sebentar pintunya!"
"Kamu mau ke mana Tok?" tanya pak satpam yang sepertinya sudah mengenal nama pria itu.
"Saya harus ke rumah orang tua saja sebentar mas, soalnya bapak saya sakit!" ucapnya tanpa berniat untuk turun dari motornya.
Pak satpam pun segera keluar dari pos nya dan membukakan gerbang kecil yang terkunci itu.
"Pulangnya kapan?"
"Besok pagi-pagi sekali, aku sudah kembali mas!"
"Benar loh ya, jangan sampai kamu juga ikutan menghilang seperti Erna!"
"Iya mas, saya akan hati-hati!"
Saat gerbang sudah terbuka, motornya kembali melaju melewati gerbang.
Hujan gerimis tidak menjadi maslah baginya ia hanya menutup kaca helmnya untuk melindungi matanya dari gerimis, walaupun tidak begitu basah tapi tetap saja rasa dingin menyusup ke tubuhnya.
Setelah melakukan perjalana selama setengah jam akhirnya ia sampai juga di lapangan sebuah lahan parkir yang luas milik salah satu rumah sakit negri di Surabaya.
Ia sudah tahu kamar mana yang akan ia tuju, setelah memarkirkan motornya dengan langkah pasti menuju ke sebuah ruang rawat paru.
Saat ia membuka pintu, ia mendapati orang lain yang di rawat di sana.
"Tidak ada, apa Erna memindahkan bapaknya juga?" gumam pria itu.
Hingga suara seorang perawat menyadarkannya,
"Mau cari siapa mas?"
Pria itu segera menoleh ke sumber suara, seorang perawat sambil membawa nampan yang berisi suntikan dan beberapa obat berdiri di belakangnya.
"Ini sus, saya mau cari pasien atas nama pak Dirman, apa pasien sudah pulang ya sus, soalnya kamarnya di sini!"
"Ohhh pak Dirman, kalau tidak salah dua hari lalu keluarganya memindahkan pasien ke rumah sakit lain!"
"Rumah sakit lain? Apa suster tahu rumah sakit apa itu?"
"Maaf, pasien tidak meninggalkan datanya, dan itu juga jadi rahasia rumah sakit mas, tidak bisa sembarangan orang bisa mengakses data rumah sakit!"
"Terimakasih sus atas keterangannya kalau begitu saya permisi!"
Pria itu pun berlalu tanpa mendapatkan informasi apapun, ia kembali menuju ke lahan parkir.
Hujan juga sudah reda, ia memilih untuk duduk sejenak di atas motor sebelum kembali melanjutkan perjalanannya.
"Aku harus ke mana sekarang?" lagi dan lagi, ia hanya bisa bertanya dengan dirinya sendiri berharap bisa menemukan jawabannya.
"Atau ke rumah oang tua Erna, kalau jam segini pasti mereka sudah tidur!" pria itu melihat jam yang melingkar di tangannya, sudah jam sembilan malam. Butuh wakt satu jam untuk sampai di temat tinggal orang tua Erna.
"Baiklah, yang penting ke sana dulu deh, urusan lainnya belakangan!"
__ADS_1
Pria itu pun kembali memakai helmnya dan memundurkan motornya agar tidak bersinggungan dengan motor lainnya. Setelah berada di tempat yang cukup luas barulah ia mengeslah motornya.
Saat mesin motor sudah menyala, ia segera melajukan motornya meninggalkan area rumah sakit.
Mungkin karena baru saja hujan jadi jalanan cukup lengang, tidak terlalu banyak kendaraan yang lalu lalang. Pria itu bisa lebih memperepat laju motornya dan sesekali berhenti di lampu lalu lintas.
Hingga motor itu mulai memasuki wilayah perkampungan, udara semakin terasa dingin karena jalanan yang ia lewati samping kiri dan kanannya di penuhi persawahan, tidak ada penerangan kecuali dari lampu motornya, semakin masuk jalanan semakin sepi hingga sampailah di sebuah kampung yang terpisah dengan kampung lainnya.
Ini kedua kalinya ia ke tempat ini, yang pertama saat ia mengantar Erna pulang karena mendapat kabar jika ayahnya sakit dan harus di larikan ke rumah sakit.
Hingga akhirnya perjalanannya sampai juga di depan sebuah rumah sedehana, rumah yang tampak masih beralaskan plester biasa dan banyak lobang di depannya.
Ia memarkirkan motornya di bawah pohon belimbing dan melepas helmnya juga, udara dingin membuatnya ingin segera masuk dan beristirahat sejenak.
"Kenapa rumahnya terlihat sepi?" walaupun lampunya menyala, tapi terlihat sekali kalau rumah itu sep.
Ia mengetuk pintu beberapa kali, tspi tidak ada sahutan dari dalam. saat melihat jam tangannya kembali, ternyata sudah jam sebelas malam, dari pada kembali malam-malam ia pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di situ, ia melihat sebuah lincak yang ada di teras yang terbuat dari bambu, ia pun memilih merebahkan tubuhnya di sana, dan berencana akan pergi pagi-pagi sekali untuk melanjutkan pencarian.
Udara dingin dan rasa capek berhasil membuat matanya semakin berat, hingga lama kelamaan matanya terlelap.
***
Di tempat lain, Leon yang mengetahui pria itu pergi hanya meminta seseorang untuk mengikutinya.
"Awasi saja dia, nanti sekiranya dia berbahaya langsung lumpuhkan saja dan bawa ke markas!" perintahnya pada seseorang yang sedang bicara di balik sambungan telpon.
"Baik bos, sejauh ini masih aman!"
Setelah mengakhiri sambungan telpon, ia memastikan jika rumah sudah gelap. Itu tandanya semua orang sudah kembali beristirahat di kamarnya masing-masing. Dan orang yang sedang ia curigai sebagai mata-mata juga berada di tangannya.
Seperti maling, ia berjalan mengendap-endap menuju ke kamar sang istri.
Bibirnya tersenyum saat tangannya dengan mudah membuka pintu itu. Dengan cepat ia menyusup ke dalam kamar yang sudah gelap itu dan kembali menutup pintunya.
Saat ia berbalik, terlihat wanita dengan perut besar itu sedang duduk di atas tempat tidur sambil menatap layar datarnya,
"Nisa, kamu belum tidur?" tanyanya sambill berjalan mendekati sang istri, ia duduk di samping sang istri tidak lupa membuka topengnya dan meletakkannya di atas nakas.
Nisa tidak menjawab pertanyaan Leon, sepertinya istrinya itu sedang begitu tertarik dengan gambar yang ada di layar datarnya itu.
"Lihatin apa sih?" leon pun tertarik untuk ikut melihatnya ternyata Nisa sedang melihat orang yang sedang memakan buah kedondong.
"Ohhhh, liat orang makan kedondong ya, tidur yukkk!"
Bukannya menjawab ajakan Leon, tiba-tiba Nisa menangis dan memeluk tubuh Leon.
"Nisa, kamu kenapa? Apa aku salah bicara tadi?"
"Mas, aku ingin makan buah itu, tapi tidak bisa!" Nisa semakin tersedu-sedu di dalam pelukan sang suami.
Leon baru sadar sekarang jika istrinya itu sekarang sedang ngidam.
"Bisa, kamu bisa makan, sudah jangan nangis, biar aku minta seseorang buat menyarikannya untukmu! Sudah jangan nangis ya!"
Bukannya berhenti menangis, Nisa malah semakin tergugu.
"Aku salah ngomong lagi ya? Kenapa sayang? Aku harus apa?"
"Aku maunya makan di tempat, di samping pohonnya, kayak wanita ini!"
"Pohon kedondong ya?" Sekarang Leon tampak bingung, kalau di pasar pasti ada penjual kedondong tapi kalau sama pohon-pohonnya juga Leon jelas tidak terlalu tahu.
__ADS_1
"Baiklah begini saja! kita keluar sekarang, tapi aku tetap harus jadi Raka, kamu tidak pa pa kan?" Nisa menganggukkan kepalanya dengan mantap. " Pakai jaket yang tebal dan kaos kaki ya aku ambil jaket dulu!"
Leon sudah akan beranjak, tapi Nisa menahannya lagi,
"Ada apa?"
"Terimakasih ya mas!" leon tersenyum dan mengusap rambut Nisa, lalu kembali menunduk dan mengecup kening Nisa, terakhir ia mengusap perut Nisa lalu benar-benar pergi, Tidak lupa memakai kembali topengnya saat keluar kamar.
Seperti yang di janjikan, Leon pun menunggu Nisa di depan. Ia sudah meminta seseorang untuk memanasi mobilnya sebelum di pakai,
"Mau ke mana mas, malam-malam?" tanya sopir yang membantunya memanasi mobilnya.
"Itu, Nisa lagi ngidam pengen makan buah kedondong, ada yang tahu nggak yang punya pohon kedondong yang ada buahnya?"
"Bentar saya tanya yang lain!" sopir itu pun segera menghampiri teman-temannya, dan tidak lama kembali lagi,
"Itu katanya di rumah nyonya besar, dulu ada pohon kedondongnya, nggak tahu sekarang masih ada apa engga, ini alamatnya, nanti bilang aja mas kalau mas Raka kembarannya mas Leon pasti di bukain gerbangnya!"
"Terimakasih ya!" walaupun dia sudah tahu di mana alamat nyonya besar yaitu oma Widya, tetap saja Leon menerima alamat itu agar tidak ada yang curiga kalau sebenarnya dirinya adalah Leon. Memang ada beberapa pengawal yang suka roling jaga dari rumah oma Widya ke rumah Alex ataupun ke rumah Leon jadi meeka tahu persis seluk beluk rumah-rumah itu.
Hingga tidak berapa lama Nisa pun keluar, persis seperti apa yang Leon minta, ia memakai jaket tebal dan juga kaos kali wwalaupun di dalamnya ia memakai baju tidur yang di tutup dengan jilbab instannya.
"Sudah siap?" Nisa menganggukkan kepalanya saat leon bertanya dan leon pun segera membuka pintu mobil memastikan Nisa masuk dengan aman.
"Tolong jaga rumah ya!" pesan Leon pada pria yang memberikan alamat padanya tadi.
"Siap mas!"
Leon pun segera berlari mengelilingi mobil dan masuk melalui pintu lainnya. saat mobil melaju, satpam sudah siap untuk membukakan pintu gerbang.
"Tadi ngobrol apa mas sama mereka?" tanya Nisa saat mobil sudah keluar dari kompleks perumahan mereka.
"Inih ...!" leon menunjukkan kertas sobekan bekas bungkus roti bakar yang berisi sebuah alamat.
"Alamat siapa mas?"
"Alamat oma!" Nisa ikut tersenyum mendengar jawaban Leon, ia sudah bisa membaca situasinya sekarang.
"Keadaan kita aneh ya mas?"
"Aneh kenapa?"
"Kita suami istri, tapi pura-pura menjadi orang lain di depan orang lain!"
"Sabar ya, sampai semuanya terungkap. Tinggal selangkah lagi!"
"Nisa sabar kok mas, tapi ingat ya mas, mas Leon sudah janji loh sama Nisa buat cerita semuanya, tentang mas leon dan mas Raka. Jika ini mas Leon lalu mas raka di mana? Aku ingin tahu semuanya!"
"Pasti, nanti aku akan cerita!"
Sepanjang perjalanan, tangan Leon sebelah kiri terus menggenggam tangan sang istri.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1