Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part ( Di jurang)


__ADS_3

Sebuah akar pohon besar mampu menahan tubuh mereka agar tidak melesat jatuh terlalu dalam, tetesan air hujan membuat darah mereka semakin banyak,


"Bertahanlah, semua akan baik-baik saja!" Leon terus menguatkan saudaranya yang memiliki luka serius di perutnya saat ini. Gus Raka mengalami tusukan di bagian perut dan lengannya.


"Tidak pa pa, sungguh aku tidak pa pa!" walaupun terlihat sekali kalau sedang menahan sakit, Gus Raka tidak mau membuat Leon khawatir.


"Sebentar lagi bantuan pasti datang!"


Lamat-lamat mereka mendengar seseorang memangil nama mereka, Leon khawatir jika itu adalah anak buah Adi, Leon dan Raka tidak punya keberanian untuk menampakan diri.


Cukup lama mereka bersembunyi dan suara orang-orang itu tidak terdengar lagi.


Di atas tebing itu seseorang telah memberi komando pada anak buahnya,


"Untuk malam ini kita bermalam di sini, besok pagi-pagi buta kita lakukan lagi pencarian!"


"Baik!"


"Saya bagaimana?" tanya pemuda yang menjadi sopir Leon dan Gus Raka tadi.


"Kamu boleh pulang, bawa serta mobilnya, pindahkan barang-barang Leon dan Raka di mobil saya, dan ini sebagai ganti kerusakan!"


"Terimakasih Bu!"


Merry pun segera masuk ke dalam mobil karena hujan semakin lebat, ia dan anak buahnya sengaja tidak pergi dari tempat itu agar pagi-pagi sekali bisa menemukan mereka.


***


Di sisi tebing itu, Leon dan Gus Raka pun tertidur dengan saling berpelukan, darah yang keluar dari perut Gus Raka semakin banyak, Leon pun melepaskan bajunya dan mengikatkannya di perut Gus Raka agar darah tidak terus mengalir.


"Naiklah ke punggungku, kita turun saja ke tanah!" perintah Leon, Gus Raka pun segera naik ke punggung Leon dan perlahan Leon menuruni tebing itu dengan bergelantungan di akar yang memenuhi tebing, sepertinya akar pohon yang sudah lumayan tua.


Dengan susah payah akhirnya mereka sampai juga di tanah, Leon segera mendudukkan Gus Raka dengan bersandar pada pohon besar, daunnya yang lebat mampu menahan air hujan agar tidak mengenai mereka.


Leon segera mengambil daun yang lebar dan mencontohnya, menjadikannya tempat tetesan air hujan agar terisi, setelah cukup terisi, Leon kembali menghampiri saudaranya,


"Minumlah!" Leon dengan telaten meminumkan air itu pada Gus Raka.


Huks huks huks


Gus Raka beberapa kali terbatuk, matanya sudah hampir terpejam.


"Jangan tidur sampai besok pagi, mengerti!" ucap Leon memperingatkan saudaranya itu.


"Kenapa? Kamu takut aku tinggal?" Gus Raka malah menjawabnya dengan becanda.


"Ini bukan waktunya untuk becanda, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau sampai kamu mati, mengerti!"


"Hidup, jodoh, mati, itu semua rahasia Allah! Kamu tahu aku akan jadi kakak yang paling bahagia jika mati karena telah menyelamatkan adiknya!"


"Aku akan membencimu jika kamu mati sekarang!"

__ADS_1


Gus Raka hanya tersenyum sambil menahan sakit, walaupun sudah di ikat dengan baju Leon, tetap saja dara itu masih merembes hingga mengenai tangannya.


Leon bahkan tidak sadar kapan para penjahat itu menusuk perut Gus Raka.


Leon terdiam dan mengingat sesuatu, sepertinya ia melupakan sesuatu. Ia teringat kapan Gus Raka tertusuk. Saat leon hendak mengambil pisau, Gus Raka sepertinya sengaja menghadang orang itu dengan tubuhnya bukan kakinya, orang itu terjadi di depan Leon tapi pisaunya sudah berlumuran darah. Jadi semenjak itu?


"Seharusnya kamu tidak melakukan hal itu untukku, nyawamu lebih berharga dari nyawaku!" suara Leon melemah, ia menekuk kakinya, menjadikan lututnya untuk menyembunyikan kepalanya.


"Biarkan ini aku lakukan untuk menebus kesalahanku di masa lalu!" ucap Gus Raka dengan suara yang tercekat karena menahan sakit.


Leon mengangkat kepalanya, ia menoleh pada saudaranya yang kesakitan itu, badannya juga sakit, tapi lukanya hanya di bagian dada hanya luka sobekan dan lengannya saja,


"Apa?"


"Kamu ingat di kecelakaan bus itu, seandainya saja aku tidak mendorongmu hingga jatuh dan terpisah dari aku dan kakek mungkin selama ini kita masih bersama dan tinggal di keluarga yang sama!"


Leon mengingat kembali serpihan masa lalunya, ia teringat di mana mereka bertiga menaiki bus. Duduk di kursi yang sama, kakek yang duduk di samping jendela dan dua anak kecil yang duduk berjejer.


Dua buah gantungan kunci mereka pegang, ada sebuah perdebatan di sana dan satu anak kecil di dorong hingga terjatuh di lorong antara tempat duduk, dua gantungan itu terbawa pada anak yang terjatuh itu.


Sang kakek yang sudah bersiap untuk menolong, tiba-tiba bus mengalami guncangan hingga menyebabkan bus oleh dan kehilangan kendali.


Anak yang terjatuh tadi terpental hingga sampai di bagian belakang bus dan tabrakan membuat tubuhnya terpental jauh.


"Iku bukan unsur kesengajaan!" Leon tidak mau mengingat kejadian masalalu itu.


"Kalaupun harus mati sekarang, insyaallah saya iklas karena sudah bertemu denganmu dan minta maaf!"


"Jangan bicara sembarang, kamu dan aku akan selamat, tunggu sampai terang dan kita pasti akan mendapatkan bantuan!" walaupun tidak yakin tapi itu yang bisa ia katakan.


...***...


Adi dan anak buahnya kembali ke markas, dia langsung di sambut oleh bos besar.


"Bagaimana?" tanya pria dengan kumis tebal yang duduk dengan kaki yang di lipat di atas meja, jari tangannya mengapit sepuntung rokok yang sudah menyala.


"Mereka menjatuhkan diri ke jurang, tuan!"


"Mati?"


Adi ragu harus menjawab, sudah pasti dia akan terkena amukan oleh bos besarnya.


"Belum tahu bos!"


Brakkkkk


Pria itu langsung berdiri dan menggebrak meja dengan keras,


"G*blok, bisa kerja apa tidak sih kalian?"


"Tapi Leon sudah terluka parah bos, perutnya di tusuk dalam!"

__ADS_1


"Yakin itu Leon?"


"Yakin bos!"


"Baguslah, lakukan pencarian lagi besok pagi!"


"Baik bos!"


Pria itu mengibaskan tangannya, Adi dan anak buahnya segera meninggalkan ruangan itu.


"Setelah ini kamu sendiri Alex, apa yang bisa kamu lakukan tanpa Leon, Extensio akan menang!" pria itu tertawa dengan penuh kemenangan dan mengambil satu gelas minuman wine yang sudah tersaji di atas meja bersama beberapa gadis berpakaian seksi.


"Ini baru permulaan, lihat saja apa yang bisa saya lakukan setelah ini Kevin Alexander, setelah adik kesayanganmu, mungkin istrimu atau anak-anak mu yang masih itu!"


Pria itu kembali duduk dan menikmati minumannya.


***


Merry yang sudah masuk ke dalam mobil, ia segera mengecek ponselnya, ada banyak panggilan dari Alex. Ia tidak tahu harus mengatakan apa sekarang, jika dia jujur sekarang pastilah akan sulit untuk menemukan Leon dan Raka tanpa sepengetahuan orang-orang yang menyerang mereka.


Tapi jika tidak, Alex juga akan terus menginterogasinya, pasti Alex Sudja tahu kalau dirinya juga sedang berada di Bali saat ini.


Dengan penuh pertimbangan, akhirnya Merry pun menghubungi ulang Alex.


"Hallo, tuan!"


"Di mana Leon?"


"Ada kabar kurang baik tuan!"


"Katakan?"


"Leon dan Raka di serang!"


"Lalu?"


"Mereka jatuh ke jurang, saya dan anak-anak sedang mencari mereka!"


"Saya akan segera menyusul ke sana!"


"Kalau boleh usul, jangan dulu tuan! Kita pastikan keadaannya dulu, jangan sampai membuat keluarga yang lain panik, biarkan acara besok berjalan dengan lancar dan kami akan mencarinya di sini!"


Terdengar helaan nafas berat di sana, "Baiklah, aku percaya padamu!"


"Terimakasih tuan!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2