Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (30)


__ADS_3

"Dek, hari ini mas akan sangat sibuk, kamu nggak pa pa aku jemput agak malam ya?" sebenarnya Gus Raka tidak terlalu nyaman terus menitipkan istrinya di rumah mertua, tapi untuk saat ini ia masih tidak bisa mengajak istrinya bekerja. Ia masih harus pergi ke sana sini.


"Kalau aku di rumah saja, bagaimana?"


"Dek, mas malah nggak tenang kalau kamu di rumah sendiri! Apalagi aku pulangnya kan bisa Sampek malam!"


Asna sebenarnya malas untuk pulang ke rumah orang tuanya, ia teringat dengan perkataan suaminya kemarin tentang lomba yang akan di ikuti adiknya, ia belum siap untuk menjawab iya, tapi ia juga tidak bisa menolaknya sekarang.


"Aku nggak pa pa, nanti aku kan mau belanja!"


"Kamu berani belanja sendiri?"


"Aku akan pakek masker seperti kemarin!"


"Baiklah, kalau ada apa-apa telpon aku ya, jangan minta bantuan siapapun."


"Iya!"


Ada keraguan dalam diri Gus Raka, tapi ia juga tidak bisa membatalkan janji hari ini dengan salah satu pemilik mesin percetakan.


"Mas pergi dulu ya, nggak usah keluar-keluar, di kunci aja pintunya dari dalam!"


"Hmmm!"


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Akhirnya Gus Raka benar-benar meninggalkan rumah, ia langsung menemui pemilik mesin percetakan tanpa ke toko terlebih dulu.


"Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu dari karyawan dengan pakaian rapi itu lengkap dengan jasnya.


"Saya mau lihat-lihat dulu mesin percetakannya, boleh?" Gus Raka mengedarkan tatapannya dan melihat berbagai jenis mesin terpajang di toko itu, mulai dari yang terkecil hingga yang paling besar.


"Silahkan! Apa anda sudah ada janji sebelumnya dengan atasan kami?"


"Sebenarnya sudah, tapi kami janjinya jam sembilan, saya sengaja datang lebih awal untuk melihat-lihat!"


"Baiklah, mari saya temani!" karyawan itu begitu ramah, ia menjelaskan satu per satu barang yang di lihat oleh Gus Raka, mulai dari harga hingga kualitasnya.


Begitu banyak jenis mesin, hingga untuk menentukan satu mesin saja mereka butuh berbagai pertimbangan, setiap mesin punya kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri, mulai dari harga yang paling murah hingg harga yang paling tinggi.

__ADS_1


"Raka!" tiba-tiba seseorang menyapa ya dari belakang. Beberapa kali bertemu membuatnya hafal suara siapa yang telah menyapanya itu. Ia pun bergegas membalik badannya.


"Assalamualaikum pak Alex!"


"Waalaikum salam, mau beli mesin cetak juga?"


"Rencananya begitu pak!"


"Mumpung bertemu, bagaimana kalau kita bicara di kafe depan sambil minum kopi?" Alex seperti melihat Raka yang sendang dalam keadaan gundah, walaupun baru beberapa kali bertemu tapi pria di depannya itu cukup banyak memiliki kemiripan dengan Leon.


Gus Raka sebenarnya ingin segera menyelesaikan urusannya di toko itu dan melakukan pekerjaannya selanjutnya, kalau bisa ia datang sebelum Asna pergi berbelanja sendiri. Membayangkan saya sudah cukup membuatnya khawatir.


"Baiklah!" tapi dia juga tidak bisa menolak.


Mereka pun berjalan bersama, Alex sengaja tidak membawa mobilnya, karena jaraknya yang begitu dekat.


Mereka memesan dua cangkir kopi, sengaja duduk di dekat jendela agar lebih nyaman saat mengobrol.


"Maaf ya kemarin tidak bisa datang ke nikahan kalian!"


"Seharusnya saya yang meminta maaf pak, karena saya tidak bisa turut mengundang pak Alex dan keluarga!"


"Saya sengaja ingin menambah armada saja karena untuk beberapa bulan ke depan kami begitu banyak ya ng harus di cetak!"


"Kalau menurut saya, lebih baik kamu membeli yang terakhir kali kamu lihat, memang tinggi harganya, tapi kualitasnya jauh lebih bagus!"


Gus Raka terdiam, memang benar apa yang di katakan oleh Alex, ia pun tahu kalau mesin yang ia butuhkan cukup mahal untuk keuangannya saat ini.


Alex seperti menyadari kegundahan yang di rasakan Gus Raka saat ini hingga ia mengingat sesuatu,


"Ka, sebenarnya saya punya kenalan, dia sepertinya saat ini sedang sibuk mengurus pesantren hingga usaha percetakannya tidak berlanjut! Akan lebih bermanfaat kalau kalian melakukan kerja sama, mereka akan dapat biaya sewa dan kamu dapat mengembangkan usaha kamu!"


"Benarkah?" sekarang mata Gus Raka nampak berbinar, ia sampai lupa menyembunyikan kebahagiaannya. Ternyata benar, bantuan Allah selalu datang di waktu yang paling tepat.


"Iya, biar besok saya minta Leon menemuimu, dia tahu tentangnya!"


"Baiklah, saya mau!"


Mereka pun kembali terdiam, menikmati kembali kopinya dan melihat lalu lalang kendaraan di jalan yang ada di seberang kafe, semakin siang tampak semakin padat saja. Sekarang kota besar rata-rata sama, di mana-mana ada kemacetan.


"Oh iya pak, tadi pak Alex kalau boleh ada keperluan apa ke toko, maksud saya kenapa pak Alex tidak meminta anak buah anda untuk melakukan pekerjaan kecil itu?"

__ADS_1


"Saya sengaja, sebenarnya saya ingin mengirimkan beberapa barang itu untuk di bawa ke daerah Jawa tengah, insyaallah kami sekeluarga akan menetap di sana nantinya!"


"Menetap? Maksudnya pindah?" Gus Raka tampak begitu terkejut, apa yang sudah membuat orang sebesar Alex memutuskan untuk pindah ke tempat lain.


"Iya, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan kami untuk pindah, kebetulan di sana ada sepupu istri saya, jadi ada keluarga juga di sana!"


"Perusahaan?"


"Ada Leon, lagi pula saya juga tidak akan melepaskan begitu saja! kami hanya pindah daerah bukan pindah kewarganegaraan!" Alex menyematkan senyum di akhir. bicaranya.


"Saya hanya bisa berdoa, semoga di tempat yang baru nanti pak Alex dan keluarga mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan!"


"Insyaallah, terimakasih doanya!" Alex tampak melihat jam tangannya, tidak terasa mereka sudah menghabiskan setengah jam untuk mengobrol, "Sudah siang, saya pergi dulu ya! Besok Leon akan menemui di toko!"


Alex berdiri dan di ikuti oleh Gus Raka, "Baik pak, terimakasih atas informasinya!"


"Saya akan kembali ke toko, kalau kamu tidak kembali, saya bisa mengatakan pada pemiliknya, untukmu!"


"Terimakasih banyak!"


Alex tersenyum dan menepuk bahu Gus Raka, walaupun mereka bertemu di akhir tapi tetap saja seperti saudara, sama seperti Alex bersikap pada Leon,


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Pria itu berlalu meninggalkan Raka yang masih setia menatap punggungnya yang semakin menghilang.


Sekarang Gus Raka tidak perlu kembali ke toko itu karena Alex sudah pasti punya alasan yang pas tentang tidak kembalinya Gus Raka.


Gus Raka pun bergegas untuk kembali ke toko, ia akan mengambil beberapa buku yang sudah siap cetak dan meminta karyawannya untuk memulai melakukan percetakan.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2