
...Hal yang paling nikmat adalah ketika dua orang saling merindu, namun tidak berkomunikasi, tetapi keduanya saling mendoakan di dalam sujudnya masing-masing dalam sunyi....
...🌺Selamat membaca🌺...
Asna pun dengan cepat berlari ke arah Nisa yang sedang beradu di tempatnya istirahat, Nisa baru saja menyelesaikan tugasnya.
"Nis!"
"Apaan sih Asna, lari-larian gini?" tanya Nisa saat melihat Asna sedang menata nafasnya.
"Tebak aku bawa berita apa?" tanya Asna setelah berhasil menormalkan nafasnya.
"Apa?"
"Tebak dong?"
"Suami kamu datang?" tanya nisa yang mencoba menebak asal, ia kenal temannya itu selalu saja heboh karena hal-hal kecil.
Asna pun menggelengkan kepalanya dengan bibir yang tiba-tiba cemberut, "Bukan! ahhhh kamu mengingatkanku kalau suamiku sedang dinas di luar kota!"
Nisa jadi merasa bersalah, ia mengusap bahu Asna, "Maaf, aku lupa!"
Wanita bertubuh mungil itu kembali tersenyum, Nisa kadang merasa heran dengan temannya itu, mudah sekali mengubah ekspresi nya. Ingin rasanya bisa seperti Asna tetap terlihat baik-baik saja walaupun hatinya sedang tidak baik-baik saja,
"Iya nggak pa pa, ayo tebak lagi!" ucapnya lagi dan Nisa kembali mencoba menebak.
"Kamu dapat bonus?"
"Bukan, Nisa!" kali ini Asna terlihat gemas karena Nisa tidak bisa menebaknya.
Nisa menggaruk kepalanya yang tertutup hijab,
"Trus apa dong?"
Asna pun memegang kedua bahu Nisa dan tersenyum seolah-olah dia yang mendapatkan kebahagiaan,
"Ada yang sedang cariin kamu!"
Nisa menunjuk dirinya sendiri, "Aku?"
Asna pun menganggukkan kepalanya, dan Nisa pun bertanya,
"Siapa yang sedang mencariku?"
"Ada deh, orangnya lagi menunggu di taman, cepet temui sana!"
Nisa mengerutkan keningnya hingga membuat alis tebal Nisa hampir menyatu, "Siapa? Jangan misterius gini ah!"
"Sudah deh, nggak usah banyak nanya, temui aja napa!?"
"Baiklah!"
Nisa pun melepas jasnya dan meletakkannya di dalam lokernya.
"Aku pergi dulu ya!" ucapnya pada Asna yang sedang sibuk mengeluarkan kotak makannya.
"Iya, sudah sana pergi!"
Nisa pun berjalan menyusuri lorong rumah sakit, sepatu flatnya sama sekali tidak menimbulkan suara saat ia berjalan, bahkan rok plisket warna abu-abu muda yang ia pakai tampak seperti sedang berjalan melayang dengan kemeja putih dan jilbab panjang senada dengan warna roknya.
Setelah melewati beberapa bangsal akhirnya ia sampai juga di ruangan yang berhubungan dengan taman rumah sakit, ia pun berjalan cepat menuju ke taman, ingin segera tahu siapa sebenarnya yang sedang menunggunya.
Awalnya langkah Nisa begitu cepat tapi saat sampai di taman langkah gadis itu melambat saat dia tahu siapa yang sedang menunggu di sana.
"Mas Leon!?"
Ingatannya tentang perkataan papanya kembali muncul seolah menjadi bola api yang sedang bergulir. Rasanya begitu nyeri mengenai ulu hati, berharap ia bisa menunjukkan wajah baik-baik saja di depan pria itu.
__ADS_1
Nisa pun mengatur mimik wajahnya, menarik sudut bibirnya agar terlihat tersenyum.
Dari kejauhan, pria yang selalu memakai jas dalam segala kesempatan itu pun segera berdiri saat melihat kedatangan Nisa.
Nisa pun selangkah demi langkah akhirnya sampai juga di depan Leon dengan bibir yang masih tersenyum.
"Assalamualaikum, Nisa!" kali ini Leon yang lebih dulu menyapanya.
"Waalaikum salam, mas Leon!"
"Maaf, aku datang tanpa memberikan kabar padamu! Dan maaf juga karena aku baru bisa menemui mu sekarang!"
"Tidak pa pa mas, Allah juga suka yang seperti ini!"
"Maksudnya?"
"Allah suka orang yang saling merindukan tapi tidak saling menyapa, hanya doa yang menjadi penyambung mereka! Semoga kita juga seperti itu mas!"
"Aminn! Oh iya, ini aku bawakan makan siang untukmu, semoga suka!" ucap Leon sambil menyerahkan kantong plastik yang ia bawa sedari tadi.
Walaupun ragu, tapi Nisa menerimanya.
"Tidak perlu repot seperti ini mas!"
"Aku ikhlas, ini bukan sogokan agar kamu memilihku!" ada senyum kegetiran yang mengiringi ucapan Leon. Walaupun kenyataannya, ia sangat berharap tapi maksud kedatangannya buka seperti itu.
Nisa tersenyum mendengar perkataan Leon, dia tidak pernah berpikir seperti itu dan kembali menundukkan pandangannya.
"Nisa!" panggil Leon setelah beberapa detik terdiam.
"Hmm?"
Mereka tetap saling berdiri. tidak enak rasanya jika duduk berdua saja tanpa siapapun di antara mereka.
"Jangan menjadikan beban bagimu apapun nanti keputusanmu, saya ikhlas! Gus Raka adalah pria yang baik yang pantas untuk bersanding denganmu, aku tidak akan menghalanginya lagi, tapi aku juga masih akan tetap menunggu hingga kamu menjatuhkan pilihannya! Tapi percayalah setelah itu nanti, aku akan menerimanya dan insyaallah akan baik-baik saja!" ucap Leon meyakinkan Nisa.
Nisa tidak bisa menjawab apa-apa lagi, lagi pula perkataan Leon memang tidak memerlukan jawaban.
"Aku pergi dulu ya, assalamualaikum!" ucap Leon kemudian, lalu berbalik dan meninggalkan Nisa.
Nisa masih berdiri di tempatnya dengan menatap kepergian pria itu, seolah ini adalah pertemuan mereka yang terakhir.
"Nisa tidak akan baik-baik saja mas!" gumamnya Pelang sambil mengusap sudut matanya yang ternyata mulai berair.
...🌺🌺🌺...
Nisa kembali duduk di samping asna yang sudah menghabiskan makan siangnya,
"Cie_, yang dapat kiriman makan siang!" goda Asna dan seperti sebelumnya Nisa hanya tersenyum hambar.
"Nis, kamu baik-baik saja kan?" tanya Asna yang menyadari jika Nisa terlihat sedih.
Asna pun segera memeluk Nisa dan mengusap punggung Nisa yang mulai bergetar kecil. Asna tahu saat ini Nisa sedang menangis,
"Jangan khawatir, aku ada untukmu!" ucap Asna sambil mengusap punggung Nisa, menunggu hingga Nisa berhenti menangis.
Beberapa menit mereka hanya saling berpelukan tanpa sepatah katapun, hingga akhirnya Nisa mengakhiri tangisannya dan mengusap air matanya.
"Ada apa?" tanya Asna lirih, ia berharap temannya itu mau sedikit berbagi kesedihan bersamanya.
"Allah sedang mengujiku dengan mendatangkan dua pria yang sama-sama baik, Na!"
"Dan hati kamu?"
"Aku tidak tahu, yang aku tahu aku sedang menunggu keputusan dari Allah!"
"Sholatlah istikharah, insyaallah ada jawaban atas kegundahanmu!" ucap Asna.
__ADS_1
Asna bukan sosok yang agamis, dia juga baru beberapa tahun ini memakai hijabnya itupun hanya hijab pendek. Tapi ia tinggal di lingkungan agamis membuatnya terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan religi.
"Terimakasih ya, Na!"
"Sama-sama! Makanlah, di jamin itu makanan ter-enak yang pernah kamu makan!"
"Kok gitu?"
"Karena itu dari mas Leon!"
Seketika pipi Nisa memerah mendengar candaan dari Asna.
...🌺🌺🌺...
Hari ke empat setelah hari itu, tinggal tiga hari lagi Nisa akan memberikan keputusannya. Setelah pertemuan ya kemari dengan Nisa, ia sudah sedikit lega. Setidaknya bebannya saat ini mulai berkurang, apapun keputusan Nisa nantinya ia akan belajar untuk ikhlas. Setidaknya dia tahu jika pria yang akan menggantikan posisinya untuk Nisa adalah pria yang sangat baik.
Hari ini Leon akan menemui salah satu klien di tempatnya, mereka akan mengadakan kerja sama dalam pengadaan buku pelajaran bagi beberapa panti asuhan secara gratis.
Leon berencana akan menyuplai buku itu dari sebuah toko yang siap memberikan harga di bawah pasaran dengan kualitas yang sama, malah kualitasnya lebih bagus.
Semenjak mengenal Islam, Alex maupun Leon sering mengadakan gerakan sosial, bahkan setiap kali berhasil mendapatkan tender besar, mereka memanfaatkan sebagian keuntungannya untuk sosial.
Beberapa hal banyak merubah pandangan hidup mereka, dan semua itu karena semakin dekatnya mereka dengan Allah.
Leon pun menghentikan mobilnya di depan sebuah toko buku, cukup besar bertuliskan 'Toko buku Nurul Jannah '.
Dari namanya saja, Leon sudah yakin jika pemilik nya juga seorang muslim.
Leon pun segera turun dan berjalan melewati pintu masuk, ia melepaskan kaca mata hitamnya dan memasukkannya ke dalam saku jas.
Toko tampak begitu rapi dan juga berbagai buku tersedia di sama, karyawannya juga sangat ramah.
Seorang karyawan menghampiri dan menyapanya,
"Selamat pagi, ada yang bisa di bantu?"
Leon pun mengedarkan pandangan sejenak, "Saya ingin bertemu dengan pemilik toko ini!"
"Maaf tuan, atasan kamu sedang melaksanakan sholat Dhuha, kalau anda sudah ada janji mari saya antar ke ruangan beliau!"
Leon pernah membaca tentang sholat itu, sholat Sunnah yang di laksanakan setelah matahari benar-benar terbit sepenuhnya hingga sebelum sholat dhuhur dan Leon belum pernah mencobanya.
Cukup menarik pemiliknya ...., batin Leon.
"Saya menunggu di sana saja!" ucapnya sambil menunjuk salah satu bangku yang berada di antara rak buku.
"Baik tuan, silahkan! Saya panggilkan dulu atasan saya!"
Leon pun memilik untuk duduk di salah satu bangku yang sepertinya di sediakan untuk pengunjung yang ingin membaca.
Mata Leon terus mengabsen setiap buku yang berada di dekatnya, di rumahnya memang ada perpustakaan pribadi, tapi buku-buku yang ada di tempat itu tidak ada di dalam perpustakaan.
"Mungkin aku perlu menambah koleksi bukuku!" gumamnya dan membidik pada beberapa buku yang sudah terencana untuk ia beli hari ini setelah urusannya selesai.
Seperempat jam kemudian, setelah puas mengamati buku-buku itu, seseorang menghampirinya.
Bersambung
...Filosofi Jodoh...
...Jika hati kamu siap tapi menurut Allah kita belum siap, makan belum waktunya kita di pertemukan, sama halnya jika hati kita merasa belum siap, sedangkan menurut Allah ternyata hati kita siap, makan pasti di pertemukan...
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy reading 🥰🥰🥰