Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Kenapa hatiku jadi tenang?


__ADS_3

“Cukup kan mas?”


“hemmm!”


Aisyah pun ikut duduk bersama mereka, dan mengambil makanan secukupnya. Ini untuk


pertama kalinya alex mau memakan masakan yang di buat langsung ol;eh Aisyah.


“Mas Alex, Ay ini pandai banget masak, apa lagi rujak cingurnya! Iya kan Ay?” ucap


Bianka memuji masakan Aisyah.


Aisyah pun hanya tersenyum,  alex pun juga hanya menatap sebentar pada sahabat istrinya itu daan melanjutkan makannya.


Memang enak sih …., lumayan ….


Alex diam-diam memuji masakan Aisyah. mungkin benar kata orang jika ingin membuat


senang suami manjakan dulu lidahnya, menyangkan perutnya. Maka dia akan betah


di rumah.


Aisyah di bantu Bianka mencuci piring saat sudah selesai sarapan. Sedangkan Alex


memilih keluar rumah, ada Leon di luar. Mungkin memang Alex sengaja


mendatangkan Leon untuk membicarakan hal yang penting.


“Bi …!”


“Hemmm?”


jawab Bianka tanpa menoleh ke arah Aisyah, ia sedang sibuk menata piring yang


sudah di cuci oleh aisyah. aisyah yang sudah selesai menghadap pada Bianka yang


membelakanginya.


“Bi …, aku tahu bagaimana ayahmu? Kenapa?” Aisyah tahu jika ayahnya sudah tidak


peduli lagi dengannya, tapi semalam ia mendengar jika sahabatnya itu akan di


jodohkan.


“Aku tidak tahu Ay! Tapi aku tidak mau Ay, dia sangat menyakitiku, dia berusaha melecehkan ku!”


“Lalu?”


“Aku berhasil melawannya, makanya aku terluka!”


Aisyah benar-benar tidak tahu jika sahabatnya itu hampir saja di lecehkan, ia segera


memeluk sahabatnya itu.


“Tapi mereka akan kembali lagi, Ay! Aku takut!”


Aisyah tidak tahu harus membantu bagaimana sahabatnya itu, memang hidup di keluarga broken home tidaklah mudah,


"Bi ....!" Aisyah sepertinya menemukan solusinya.


"Apa?"


“Apa sebaiknya kamu tinggal sama ibu aja ya Bi?”


“Aku nggak enak Ay, sama ibu kamu!”

__ADS_1


“jangan begitu, aku yang akan bicara sama ibu! Aku malah nggak tenang kalau kamu


tinggal sendiri di sini!”


Mungkin itu solusi terbaiknya, selain Bianka aman di sana. Nino jadi ada yang jaga kalau di tinggal-tinggal ibunya.


Lagi pula Bianka juga sudah begitu dekat dengan bu Santi dan Nino, jadi tidak akan menjadi masalah.


***


Setelah memastikan Bianka sudah baik-baik saja akhirnya Aisyah dan alex memilih


berpamitan, entah kenapa Alex tidak juga meninggalkan Aisyah walaupun Aisyah


terus menunda untuk segera pulang.


Aisyah sudah sedikit lega saat Leon datang tadi, ia kira Alex akan pergi bersama Leon


tapi ternyata Leon pergi sendiri.


Kini Aisyah sudah berada dalam satu mobil bersama Alex, Aisyah juga sudah


memberitahu ibunya jika Bianka akan menginap di sana, bu santi begitu senang


mendengarnya. Setidaknya ia tidak akan merasa kesepian lagi karena Bianka ada


di rumah dan membantu menjada Nino.


Mobil mulai meninggalkan perumahan tempat Bianka tinggal, tapi mobil itu malah berjalan berlawanan arah dengan rumah nenek Widya.


“Mas …! Kita mau ke mana?”


“Kita mampir sebentar ke suatu tempat!” ucap Alex lagi-lagi tanpa menatap Aisyah.


Aisyah pun akhirnya memilih diam karena menurutnya percuma saja bertanya karena nggak akan dapat jawabannya. Hingga mobil mereka sampai di depan sebuah klinik atau


“Kita ngapain mas ke sini?” tanya Aisyah saat melihat bor klinik praktek psikiater


dokter Adrian.


“tunggu sebentar di sini, aku ada urusan di dalam! Jangan kemana-mana sampai aku


kembali!”


Alex pun segera keluar dari dalam mobil meninggalkan Aisyah sendiri di sana, ia juga


sengaja mengunci mobilnya dari luar sehingga Aisyah tidak bisa kemana-mana.


“tega banget sih mas Alex nih ...., masak aku di kunciin di dalam sih …!” keluh Aisyah, tapi


sepertinya Alex tidak peduli.


"Mas Alex ngapain kesini? Apa ada suatu hal hingga mas Alex datang ke psikiater? Apa nenek tahu?" Aisyah hanya terus menatap punggung lebar pria yang sudah menjadi suaminya itu, langkahnya begitu pasti dan pantulan sepatunya memenuhi semua ruangan yang di lewatinya.


Alex terus melanjutkan langkahnya hingga masuk ke dalam klinik. Ia menemui seseorang


yang sebenarnya terlihat seumuran dengannya.


“Dokter …, tuan Kevin Alexander sudah datang!” ucap seorang perawat.


“Suruh saja masuk!” perintah pria yang di panggil dokter itu dengan tanpa menatap


perawat itu, Alex pun segera masuk dan duduk di tempat seperti biasanya.


Dokter Adrian pun segera mengangkat kepalanya dan memastikan jika pria itu adalah pria yang sedang sangat di tunggu.

__ADS_1


“Kevin ….! Aku kira kamu nggak akan datang lagi ke sini!” dokter muda itu lebih suka


memanggil alex dengan sebutan Kevin, sepertinya mereka memang sudah kenal lama,


bukan Cuma hubungan antara dokter dengan pasiennya tapi lebih dari itu.


“Aku sibuk!” ucap Alex sambil merebahkan tubuhnya di sofa panjang di ruangan itu,


dengan kali yang di silangkan ke atas.


Dokter Adrian pun berjalan mendekat pada pasiennya itu dan duduk di sofa yang masih


kosong,


“Apa ada perkembangan? Apa masih suka kambuh? Masih tidak bisa tidur malam hari?”


tanya dokter Adrian dengan berbagai pertanyaan.


“Sekarang sudah lebih tenang!” ucap Alex tapi lebih mirip bergumam, dokter Adrian masih


bisa mendengarkannya.


“Apa yang bisa membuatmu lebih tenang?”


“Tidak tahu, tapi aku ngerasa hidupku sedikit lebih beruntung! Ada yang membutuhkan


aku!”


“Ini perkembangan yang baik Vin …!”


“Apa itu berarti aku sudah nggak perlu minum obat lagi?”


“Bisa jadi, tapi untuk jaga-jaga tetap saya kasih resep yang sedikit lebih ringan,


dan PR buat kamu, cari tahu apa yang yang membuatmu merasa lebih tengang dan


dalama atau dekati!”


“Baiklah …, sudah cukup kan?”


Dokter Adrian tersenyum melihat temannya itu sudah tidak meledak-ledak lagi,


“Ngomong-ngomong selamat ya atas pernikahanmu, maaf karena kemarin nggak bisa hadir!”


“Ya!” jawab Alex dengan begitu saja tanpa ekspresi apapun.


"Lain kali kenalkan aku padanya, mungkin dia salah satu alasanmu untuk sembuh!"


Alex tak berniat untuk menanggapi ucapan dokter Adrian, tapi ia juga tidak menampik semenjak menikah dengan Aisyah ia jadi jarang pergi ke tempat-tempat itu walaupun juga tidak tidur berdua.


“Belajarlah menerima yang baru bisa jadi yang baru itu yang bisa menolong dirimu!”


“Okey…, saya pergi dulu!”


Alex tidak mau kembali pusing dengan memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang belum pasti itu, ia kembali meninggalkan ruangan itu dengan berbekal resep dari dokter Adrian.


Apa yang membuatku tenang .....????


Kata-kata dokter Adrian membuat Alex terus terpikir, ia semakin penasaran apa yang sudah membuat seorang Alex merasa lebih tenang akhir-akhir ini.


Kata salam itu? Mungkinkah ....


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar yang banyak ya kasih Vote juga yang banyak ya

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2