
Sejak kemarin rumah yang di tinggali Nisa tampak ramai, beberapa keluarga jauh sudah banyak yang berkumpul di sana.
Pernikahan Nisa kali ini di buat konsep pernikahan adat Jawa. Walaupun tidak keseluruhan di jalani ritualnya.
Tahapan pertama sudah berhasil Leon lalui dengan baik yaitu acara seserahan. Walaupun tidak secara resmi, tapi Leon sudah pernah melakukannya. Leon datang ke rumah Nisa dengan tujuan melamar dan membawa beberapa barang sebagai seserahan.
Dan hari ini akan di adakan acara siraman. Nisa sudah siap dengan gamis panjang dengan rangkaian bunga melati yang berada di bagian bahu dan di atas jilbabnya. Walaupun memakai gamis dan jilbab tidak mengurangi makna dari acara itu.
Nisa terlihat begitu cantik dan segar siap mengikuti ritualnya. Ritual yang satu ini bertujuan untuk membersihkan jiwa pengantin. Diselenggarakan sebelum proses akad nikah, biasanya satu atau dua hari sebelumnya di kediaman calon mempelai perempuan.
Ia sedang menunggu kedatangan Leon. Beberapa waktu lalu ia sudah menghubungi pria itu dan katanya sudah di jalan.
"Sudah di mana nduk calon suami kamu?" tanya dukun manten. Semacam EO pernikahan yang akan mengurus segala urutan pernikahan mereka nantinya.
"Katanya tadi sudah di jalan Bu, insyaallah bentar lagi sampai!" ucap Nisa sambil tersenyum sepeti biasanya.
Dan benar saja, dari kejauhan dia bisa melihat pria itu sudah memasuki pagar rumah Nisa dan langsung di sambut oleh saudara-saudara Nisa.
"Itu Bu!" ucap Nisa sambil menunjuk ke arah Leon.
"Ya sudah, ibu ke sana dulu ya!"
Wanita paruh baya dengan pakaian khas Jawa dan rambut yang di beri sanggul itu berjalan menghampiri Leon dan meminta Leon untuk ganti baju lebih dulu.
Leon pun akhirnya masuk ke dalam, melepas pakaian rapinya dan melilit tubuhnya dengan kain Jarit hingga sebatas dada.
"Sudah siap mas Leon?" tanya seseorang yang memandunya.
Bismillahirrahmanirrahim
"Siap!"
Orang yang memandunya itu membawanya mendekati Nisa yang duduk di kursi kecil.
"Assalamualaikum!"
Nisa tersenyum, "Waalaikum salam, mas!"
"Maaf ya saya terlambat!"
"Tidak pa pa!"
"Kamu tidak ingin tahu saya kemana?"
"Jika mas Leon tidak keberatan untuk mengatakannya, saya akan dengan senang hati mendengarnya!"
"Saya baru saja menemui Gus Raka!"
Nisa mengerutkan keningnya, "Kenapa?"
"Saya hanya mengirimkan surat undangan pernikahan kita, sekalian minta maaf!"
"Lalu?"
"Insyaallah sudah tidak akan ada yang mengganjal lagi setelah ini!"
__ADS_1
Nisa tersenyum, dia suka dengan cara Leon menyelesaikan masalah. Benar yang di katakan kakaknya, dia akan sering mendapatkan kejutan-kejutan kecil seperti ini setelah ini.
Nisa akan selalu menunggu kejutan-kejutan ini lagi mas ....
"Sudah bisa di mulai ya?" tanya wanita bersanggul itu lagi.
"Sudah!" ucap Leon mewakili Nisa.
Tampak di tempat duduk pengantin saat ini sudah duduk kedua orang tua Nisa. dan seorang pemandu acara mulai membuka acaranya.
Urutan tahapannya yaitu calon pengantin memohon doa restu kepada kedua orangtuanya.
Leon dan Nisa pun di giring menuju ke kedua orang tua Nisa mereka duduk bersimpuh di depan keduanya dan meminta doa restu.
"Silahkan mempelai pria meminta restu kepada ayah dan ibu mempelai perempuan!" ucap pemandu acara.
Leon pun mengambil mikrofon yang di berikan oleh pemandu acara.
Bismillahirrahmanirrahim
Tampak sekali wajahnya begitu tegang, Alex dan Aisyah yang baru datang pun segera mengabadikan moment itu melalui kamera ponselnya dan duduk di antara para undangan lainnya.
"Bapak, Ibu pada kesempatan ini saya meminta maaf atas semua kesalahan saya yang mungkin pernah saya sengaja atau tidak. Mungkin saya belum bisa menjadi calon menantu yang baik untuk bapak dan Ibu. terima kasih atas semua yang telah bapak Ibu berikan kepada Nisa hingga Nisa tumbuh menjadi seorang wanita yang luar biasa. Maaf yang sebesar-besarnya ya pak, Ibu jika mungkin Nisa belum bisa membalas semua yang telah kalian berikan kepadanya dan saya dengan beraninya meminta putri kecil bapak dan ibu.
Bapak, Ibu, saya meminta restu menikah dengan gadis yang menjadi pilihan saya, saya meminta restu untuk menikahi putri bapak dan ibu.
Mohon doanya bapak, Ibu untuk rumah tangga baru kami nanti, agar bisa senantiasa damai tenteram dirahmati Allah Subhana wa taala.
Walau bagaimanapun, Nisa tetaplah menjadi anak bapak dan Ibu. Insyaallah pernikahan ini tidak akan mengurangi sedikitpun rasa sayang Nisa terhadap bapak dan ibu.
Saya juga meminta doanya dalam rumah tangga saya nanti bisa mendapatkan putra-putri yang soleh-solehah. Semoga, bapak dan Ibu senatiasa diberi kesehatan serta umur yang panjang. Kami sayang pada bapak dan Ibu. Kalian adalah orang tua dan orang terbaik bagi saya dan Nisa. Terimakasih!"
Seharusnya permintaan restu Leon di tujukan pada orang tuanya, tapi takdir tidak mengijinkannya merasakan kasih sayang ayah ataupun ibu.
Terlihat sekali sesekali ia mengusap titik air di sudut matanya agar tidak jatuh, walaupun begitu tetap saja terdengar getaran dalam setiap ucapannya seperti sedang menahan agar tidak menangis.
Beberapa tamu ikut terharu dan bahkan ada yang sampai meneteskan air matanya.
"Sekarang giliran mempelai wanita!" ucap pemandu acara dan menyerahkan mikrofon pada Nisa.
Terlihat Nisa memejamkan mata sejenak dan mulai mengatur nafasnya, ia baru saja terhanyut dengan permintaan restu dari calon suaminya dan sekarang gilirannya,
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokhatu!" sapa Nisa sebelum memulai ucapannya dan seluruh tamu, papa, mama, Leon semuanya menjawab salam Nisa.
"Papa dan Mama yang Nisa cintai dan hormati. Syukur alhamdulillah Nisa panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala bahwa pada sa’at ini Nisa diberi kesempatan untuk mengungkapkan betapa bersyukurnya karena telah terlahir sebagai putri Papa dan Mama.
Terima kasih atas semua cinta dan semua kasih sayang yang tulus, yang ikhlas dan tanpa pamrih yang telah diberikan kepada Nisa sampai saat ini. Sehingga Nisa dapat merasakan hangatnya kehidupan keluarga. Kehadiran dan sentuhan seorang Mama saat menimang, menggendong, memeluk dan mencium dengan penuh kasih sayang. Kehadiran seorang Papa yang selalu sabar, melindungi, menafkahi dan setia memimpin keluarga dengan penuh tanggungjawab sampai saat ini.
Tak terhitung lagi berapa banyak keringat dan air mata yang telah Mama dan Papa teteskan untuk Nisa, terimakasih.
Ma’afkan perbuatan dan perkataan Nisa yang secara tidak sadar telah menyakiti perasaan Mama dan Papa. Ma’afkan Nisa yang terkadang ingin menang sendiri. Nisa memohon ma’af yang sedalam-dalamnya atas semua kekhilafan dan dosa Nisa.
Kepada kakak-kakak Nisa, terima kasih telah menjadi kakak yang baik bagi Nisa. Yang selalu mengingatkan agar selalu memperbaiki perbuatan yang salah. Terima kasih telah membantu Mama dan Papa untuk menjaga Nisa. Ma’afkan Nisa jika masih belum bisa menjadi adik yang baik. Ma’afkan Nisa yang selalu merepotkan dan menyusahkan. Nisa memohon ma’af yang sebesar besarnya untuk semua kesalahan dan kekhilafan Nisa.
Ma… Pa …disaat yang baik ini, Nisa memohon izin dan restu untuk dinikahkan dengan pria yang insyaallah Nisa cintai. Pria yang insyaallah bisa menjadi imam yang baik, yang bijak, bertanggungjawab dan penuh kasih sayang. Izinkan Nisa menikah dan membina rumah tangga dengan pria pilihan Nisa, Mas Leon.
__ADS_1
Sebagai hamba, Nisa mengabdi kepada Allah Subhanahu wataala. Namun tanpa ridha dan keikhlasan Mama dan Papa maka Allah pun tidak akan ridho kepada Nisa. Begitu mulyanya Mama dan Papa di mata Allah Subhanahu wata’ala.
Insyaallah dengan ridha dan do’a restu Mama dan Papa pernikahan Nisa dan Mas Leon diberikan kelancaran, penuh ketenangan, kedamaian, kebahagiaan serta Sakinah, mawaddah wa rahmah.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!"
Begitulah ungkapan panjang Nisa, bahkan begitu panjang dan lengkap. Leon tersenyum menatap Nisa, ia memang tidak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tua tapi mendengar penuturan gamblang dari Nisa, Leon pun sekarang seperti membayangkan bagaimana orang tuanya dulu mengasuhnya sewaktu kecil. Tapi mungkin Allah lebih sayang dengan orang tuanya hingga memanggilnya lebih cepat.
"Barakaallahu, nyes banget denger penuturan dari mempelai wanita, sekarang giliran kedua orang tua yang menyampaikan restunya, mau bapak atau ibu ini?" tanya pemandu acara.
"Bapak saja!" ucap mama Nisa yang sedari tadi terlihat menyeka matanya dengan tisu yang berada di genggamannya.
"Baiklah , bapak silahkan!" ucap pemandu acara dengan menyerahkan mikrofon nya.
"Bismillahirrahmanirrahim!" ucapnya dengan suara berat.
"Mama dan papa sebagai orang tua hanya dapat memberikan restu dan doa untuk niat baik kalian ini.
Insyaallah papa sama Mama ridho dan senang. Namun, ada beberapa hal yang perlu kalian perhatikan dalam menjalani biduk rumah tangga, yaitu senantiasa berpegang pada ajaran agama, sabar, tawadu, ikhlas.
Nisa, jadilah istri yang istiqomah, menjaga kehormatan suami dan rumah tanggamu. Jadilah istri yang penyayang dan penuh kasih untuk anak-anakmu kelak. Ingatlah bahwa kehidupan ini tidak selamanya berjalan sesuai dengan apa kita harapkan. Tetapi dengan kasih sayang dan saling pengertian, maka biduk rumah tanggamu tidak akan goyah diterpa badai dan gelombang kehidupan.
Hormatilah keluarga suami kamu dan sayangilah mereka sebagaimana Nisa menghormati dan menyayangi mama dan papa,
Dan untuk nak Leon, Nisa anak kami yang paling kecil, dia terbiasa manja, jika ada sesuatu yang salah dengannya, maka nasehati dia seperti saya menasehatinya. Jangan sampai tangan kekarmu sekali-kali melukai kulitnya, jika memang sudah tidak ada cinta, maka katakanlah dan saya siap menerimanya kembali.
Nisa, maafkan mama dan papa atas segala hal yang kurang berkenan di hatimu, baik berupa kata kata maupun perlakukan. Namun ketahuilah bahwa itu semua bagian dari besarnya kasih sayang kami kepadamu. Ya Allah, bahagiakan lah rumah tangga Nisa dan Leon. Karuniakanlah mereka dengan rahmat dan hidayah-Mu. Limpahkanlah rezeki-Mu yang halal. Perindahlah rumah tangga mereka dengan putra-putri sholeh dan sholehah serta sehat wal afiat, wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokhatu!"
Papa Nisa menyerahkan kembali mikrofonnya dan sejenak membuka kaca matanya dan mengusap air matanya yang menggenang di pelupuk mata. Mama Nisa tampak beberapa kali mengusap punggung suaminya itu.
Akhirnya berakhir sudah acara meminta restu. Kemudian acara di lanjut dengan acara siraman.
Kini Nisa dan Leon pun beranjak dari tempatnya dan di giring menuju ke sebuah tikar dan mereka pun duduk di tikar pandan.
Beberapa tokoh agama seperti abi nya Gus Fahmi begitu juga dengan mertua kakak perempuan nisa dan beberapa tokoh masyarakat sudah siap menyiramkan air ke tubuh Nisa dan Leon. Terakhir, Nisa dan Leon pun disiram air kendi oleh papa dan mama Nisa.
Acara pun di lanjut dengan pengajian dan kedua mempelai pun di ijinkan untuk mengganti bajunya di tempat yang berbeda.
Alex sudah membawakan baju ganti untuknya, ia tidak lagi memakai kemeja dan jas. Alex membawakan baju batik motif Parangkusumo begitu pas dan cocok di tubuh Leon. Ia masih harus mengikuti serangkaian acara selanjutnya, bahkan Leon sengaja menyewa sebuah rumah yang letaknya dekat dengan rumah Nisa selama acara pernikahan agar tidak menyita waktu dengan sering bolak balik ke rumahnya sendiri yang jaraknya lumayan jauh.
Beberapa sumber ;
https://www-popbela-com.cdn.ampproject.org/v/s/www.popbela.com/relationship/married/amp/andinarahayu/pernikahan-adat-jawa
https://qobiltu.co/conto-meminta-restu-menikah/
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @ tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1