Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (6)


__ADS_3

Hari ini Gus Raka harus menemani kedua orang tuanya untuk berkunjung ke rumah teman Abi nya,


"Ini acaranya hanya silaturahim saja kan bi?" tanya Raka sangsi dengan kedatangan mereka ke sana.


"Iya, lagi pula urusan jodoh Abi serahkan sama kamu dan Allah!"


"Kata umi temennya Abi punya anak perempuan?"


"Punya, tapi kata temen Abi, anak perempuannya jarang pulang, katanya anak temen Abi juga modern sekali, jadi nggak ada di kamusnya jodoh-jodohan."


Gus Raka bisa bernafas lega sekarang, bukannya apa memang secara fisik dan mental untuk saat ini dia benar-benar merasa belum siap. Tubuhnya baru saja terguncang dengan tragedi yang mengerikan untuknya yang memang tidak pernah berurusan dengan hal yang semacam itu. Mungkin untuk sebagian orang, hal semacam itu memang harus selalu mereka alami tapi di dalam kamus kehidupan Gus Raka yang notabennya seorang ustad dan dosen, dalam kamus hidupnya hanya ada kedamaian dan ilmu yang bisa ia amalkan.


Tapi di sisi kehidupan lainnya yang tidak pernah ia masuki itu ternyata begitu banyak hal memang harus di hadapi dengan cara kekerasan, bahkan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam juga pernah bersabda Jagalah diri kalian dari perbuatan zalim, karena sesungguhnya kezaliman itu akan menjadi kegelapan pada hari kiamat. Hadits Shahih, Riwayat Ahmad.


Biasanya gus Raka tidak pernah mengemudikan mobilnya sendiri tapi karena tidak bisa melihat abinya yang mengemudikan mobil, Gus Raka pun terpaksa kembali memberanikan diri untuk mengemudi.


"Benar kamu tidak pa pa?" umi Gus Raka terlihat khawatir dengan putranya itu.


"Nggak pa pa umi, Raka kan juga nggak mungkin selamanya nggak berani umi!"


"Baiklah, tapi hati-hati ya!"


Sebelum pergi mereka menitipkan pesantren pada salah satu pengasuh karena mereka berencana akan pulang sore.


Sudah lama abinya tidak datang ke rumah temannya itu, hingga ia harus menginta kembali jalan menuju ke rumahnya. Mereka sering bertemu di tempat reoni.


"Ini benar jalannya, Abi?"


"Sepertinya iya, Abi sudah lama sekali nggak ke sini, masih ingat nggak umi?" pria berjenggot panjang itu malah balik bertanya pada sang istri.


"Ya sudah kalau gitu di pertigaan nanti, biar Raka tanya sama orang! Siapa Bi namanya?"


"Namanya Tedi! Pemborong bangunan!"


Raka pun akhirnya memutuskan untuk turun dan bertanya pada orang yang kebetulan berada di pinggir jalan pertigaan.


"Bagaimana ka?" tanya sang Abi saat Raka sudah kembali masuk ke dalam mobil.


"Kata bapak itu, rumahnya ada di gang depan kiri jalan, rumah cat kuning depannya ada pohon ceri!"


Gus Raka pun kembali menjalankan mobilnya menuju ke rumah yang di maksud oleh bapak yang ada di pinggir jalan tadi, dan benar saja sejauh mereka memandang hanya rumah yang depannya ada pohon ceri nya yang bercat kuning.


Saat mereka turun dari mobil, tepat di rumah itu tampak dua anak remaja sedang berjalan hendak masuk ke rumah itu, mereka satunya bercelana abu-abu dan satunya bercelana biru, mungkin mereka kakak beradik.

__ADS_1


"Maaf dek, mau tanya!" Raka segera menghentikan langkah mereka. Dua remaja itu pun tampak menyelidik ke arah Gus Raka.


"Iya, mau tanya apa ya?" salah satu dari mereka tampak yang lebih tua memberanikan diri bertanya balik.


"Apa benar ini rumah pak Tedi?"


Kali ini anak itu beralih menatap Abi dan umi Gus Raka, mungkin tampak dari bajunya mereka sudah bisa menduga siapa yang akan datang bertamu.


"Kalian dari pesantren ya?"


"Iya!"


"Ini rumah papa saya, namanya papa Tedi!"


"Alhamdulillah, papanya ada kan?" Gus Raka tampak lega begitu juga dengan dua orang yang berdiri di belakangnya.


"Kurang tahu sih kak, kami kan baru pulang sekolah!" jawab anak remaja itu dengan polosnya, ya memang benar mereka tidak punya indra ke enam yang bisa melihat tempat lain dari kejauhan.


Tepat saat mereka menoleh ke arah pintu, tampak pria paruh baya tersenyum dan menghampiri mereka,


"Ya Allah, akhirnya Arif kamu datang juga!"


Pria yang di panggil Arif itu tidak kalah senangnya. Ia segera mendekat dan memeluk sahabatnya itu.


"Mari, mari masuk!"


"Istri kamu masih ini?" tanyanya pada wanita dengan jilbab panjang yang berdiri di samping ustad Arif.


"Memang mau ganti siapa lagi, ini saja sudah lebih dari cukup, gimana apa istri kamu sudah bukan Ayu?"


"Masih Ayu, itu tadi cabangnya!"


Gus Raka sesekali tersenyum mendengarkan candaan dua orang sahabat yang sudah lama tidak bertemu itu, ternyata abinya tidak seperti yang ia pikirkan kalau sedang bersama sahabatnya, ternyata abinya juga punya sisi lain. Atau memang abinya orang yang cukup bisa membawa diri.


Beliau adalah orang yang serius, dan sesekali becanda saat berada di rumah tapi saat bersama teman masa kecilnya tampak sekali ustad Arif terus tersenyum dan tertawa.


Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik segera menyambut kedatangan mereka, wanita itu seumuran dengan umi Gus Raka.


"Ya Allah, senengnya akhirnya kalian bisa main ke sini juga!"


"Sama-sama mbak, kami juga seneng!"


Mereka pun di bawa duduk di sebuah ruangan yang sepertinya adalah ruang keluarga lengkap dengan tv besar di salah satu sisi dinding.

__ADS_1


"Kamu sibuk terus, padahal rencana ke sini sudah lima bulan yang lalu, eh baru kesampean sekarang!"


"Iya, akhir tahun banyak sekali proyek, untuk beberapa bulan ke depan memang sengaja tidak ambil proyek banyak-banyak!"


"Baguslah, berarti bisa gantian berkunjung ke gubuk kami!"


"Insyaallah!" kemudian tatapan pak Tedi tertuju pada Gus Raka yang sedari tadi masih diam.


"Dia putra kamu, Rif?"


"Iya!"


"Ganteng banget!"


"Alhamdulillah nurun dari bapaknya!"


Seisi ruangan itu tertawa, Gus Raka pun memperkenalkan dirinya pada keluarga sahabat abinya.


"Pinter banget kamu Rif produk anak, sudah tampan, pintar, Sholeh lagi!"


"Alhamdulillah, trus anak-anak kamu mana? yang tadi berdua? Kayaknya dulu ada tiga!"


"Iya, bentar biar di panggilkan istri saya!"


Wanita yang di maksud istrinya itu pun segera berdiri dan menuju ke dalam.


Tidak berapa lama ia kembali dengan dua putranya yang tadi mereka bertemu dengan mereka di depan.


"Nah ini putra ku yang nomor dua, namanya Arlan!"


Arlan pun bersalaman pada tamu papanya dan memperkenalkan diri.


"Dan yang ini, namanya Abizar, si bungsu! Salam sama mereka!"


Abizar pun segera memberi salam dan memperkenalkan diri. Karena permintaan sang papa, mereka pun ikut duduk bersama mereka.


"Lalu si sulung mana? Nggak di rumah?" tanya umi Gus Raka.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2