
Hari ini Aisyah selesai membantu jualan segera berangkat ke kampus, ia masih ada
tugas yang harus segera di kumpulkan.
“Ya Ampun Sya …., aku kira kamu nggak bakalan datang!” Bianka dengan cepat setelah
melihat kedatangan Aisyah.
“Assalamualaikum, Bi!”
“He …, waalaikum salam Sya! Kamu tahu aku sudah panik banget tadi, takut kalau kamu
nggak dating, tahu sendiri kan gimana killer nya pak Danu!”
"Ya Allah Bi, bukan ya ampun!"
"Ah ...., ribet Sya!" keluh Bianka dan Aisyah hanya tersenyum menatap Bianka.
“Ya iya lah Bi, mana mungkin aku nggak datang! Ya udah ayo masuk!” Aisyah segera
menarik tangan Bianka untuk masuk ke dalam kelas sebelum Bianka terus bicara
dan tidak ada ujungnya. Dan benar saja setelah sampai di dalam kelas, belum
sampai lima menit dosennya masuk kelas.
Setelah selesai pelajaran, Aisyah dan Bianka keluar kelas karena jam kuliah kosong
setelahnya. Sebelum pulang mereka memilih mengobrol dulu di taman kampus,
Aisyah maupun Bianka terbiasa saling curhat satu sama lain.
“Kita duduk di sana Sya!” ucap Bianka sambil menunjuk bangku taman yang masih kosong.
Mereka pun akhirnya duduk sambil menikmati pemandangan siang ini. Walaupun panas tapi
karena ada pohon besar yang melindungi mereka dari sengatan matahari, cukup
membuat mereka nyaman di sana.
“Gimana Sya?”
“Gimana apanya?”
“Belum ada kabar dari gus Fahmi?”
“Dia akan pulang minggu depan!”
“Wah sahabatku ini minggu depan bakal di khitbah deh sama Gus Fahmi!” goda Bianka.
“Apaan sih Bi!”
“Ucapan adalah do’a loh Sya!”
“Iya deh …, amiiin …!”
“Nggak ikhlas banget aminnya!”
“Amiiiin!”
Ha ha ha …., mereka pun tertawa bersama-sama. Hanya Bianka saja yang tahu masalah lamaran yang di lontarkan oleh gus Fahmi pada sahabatnya itu.
Ting
Tiba-tiba ponsel Aisyah berdering, menunjukkan ada notifikasi pesan masuk. Aisyah pun segera merogoh ponselnya yang berada di dalam tasnya.
“Siapa Sya?’ tanya Bianka penasaran.
“Gus Fahmi!”
“cepetan baca dong aku pengen liat!”
Aisyah pun segera membuka pesan yang di kirim oleh Gus fahmi, selama ini Gus Fahmi
__ADS_1
tidak pernah menelponnya. Mungkin jika di telpon, aisyah tidak akan menerimanya, ia terlalu gugup jika bicara dnegan gus fahmi.
//Assalamualaikum, bagaimana kabar
kamu Aisyah?aku baru saj mendengar kabar dari pak Danu karya ilmiah mu terpilih
sebagai perwakilan kampus kita, selamat ya! Aku harap kamu bisa meraih
cita-cita kamu//
Aisyah tersenyum senang membaca pesan yang di kirim oleh Gus fahmi itu. Aisyah pun
segera mengetikan balasannya.
//Waalaikum salam, Alhamdulillah
aisyah baik, gus. Bagaimana kabar gus fahmi? Alhamdulillah gus, karya ilmiah
Aisyah di terima di salah satu perusahaan di Jakarta//
Bianka pun tak mau ketinggalan, ia ikut membaca pesan dari gus fahmi. “Ih padahal aku juga ikut bantu tuh …!”
“Iya deh, nanti aku bilang juga sama Gus fahmi deh …!”
“Ihhh kamu Sya, nggak gitu juga kali …, cukup traktir aku semangkuk bakso atau
lontong balap, gimana ? impas kan!”
“Gampang …, hust …, gus fahmi bales lagi nih!”
// Alhamdulillah, aku juga sehat.
Insyaallah kejutan dariku akan sampai hari ini, kalau kamu di rumah mungkin sebentar lagi sampai, sambut dengan hatimu ya, assalamualaikum//
//waalaikum salam//
“Wish …, dapat kejutan apa nih!”
“Ya udah, aku akan pulang aja. Traktirnya lain waktu aja ya…, assalamualaikum!” ucap
‘Waalaikum salam …!” jawab Bianka dengan tersenyum menatap kepergian Aisyah.
Aisyah segera berdiri di pinggir jalan menunggu angkot yang sedang lewat, sudah ba’dha duhur, biasanya jam segini angkot banyak yang berlalu lalang.
“Nggak biasanya kayak gini!” gerutu Aisyah, ia terus memainkan kakinya di yang ia
luruskan ke depan, sambil duduk di kursi panjang.
Akhirnya setelah menunggu lima belas menit, angkot yang ia tunggu-tunggu datang juga.
Aisyah pun segera masuk ke dalam angkot, ia benar-benar tak sabar ingin segera
sampai di rumah dan melihat kejutan dari gus Fahmi.
Matanya menerawang jauh, membayangkan betapa bahagianya kehidupannya yang akan ia
lalui bersama gus Fahmi nanti, ia membayangkan bagaimana mereka naik motor
berboncengan dengan dua malaikat kecil yang bersama mereka.
‘astagfirullah …, apa sih yang ku bayangkan ini!”
Akhirnya Angkot sudah hampir sampai di depan gang rumahnya. “pak kiri, pak!” ucap Aisyah sambil berdiri dari duduknya.
Akhirnya angkot pun berhenti, Aisyah duduk dan menyerahkan uang lima ribu seperti
biasanya. “Terimakasih pak!”
Aisyah dengan cepat berjalan menuju ke rumahnya. Saat melewati rumah Nadin, ia hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar sudah satu minggu ini mereka kembali ke
Jakarta.
“Kak Nadin sudah bahagia sekarang, semoga aku juga bisa mendapatkan suami sebaik
__ADS_1
suaminya kak Nadin!”
Aisyah kembali melanjutkan langkahnya. Ia segera menemui ibunya yang sedang sibuk di
dapur.
“Assalamualaikum, bu!”
“Waalaikum salam, Sya!”
“Lagi ngapain bu, nggak biasanya ibu di dapur siang-siang gini?”
“tadi Nino tiba-tiba pingsan lagi sya, ibu lagi buatin teh anget buat Nino. Mungkin
benar kata dokter, Nino harus segera mendapatkan donor ginjal!”
“Ibu yang sabar ya, insyaallah, allah kasih jalan buat kita!”
“Iya ..!”
“Nino nya sekarang di mana bu?”
“Dia sedang istirahat di kamarnya!”
“Ya udah Ais liat dulu ya!”
Aisyah pun sampai lupa untuk bertanya pada ibunya, ia segera melihat Nino di kamarnya. Ia membuka perlahan pintu kamar Nino agar tidak menggangu istirahat Nino. Ia segera masuk dan duduk di samping adiknya yang sedang tidur itu.
Kasihan sekali kamu dek …, pasti
sakit banget ya …, kakak nggak tahu harus berbuat apa untuk kamu, seandainya
saja kakak punya banyak uang untuk mencari pendonor ginjal untukmu, seandainya
saja ginjal kakak cocok denganmu …
Akhirnya air mata Aisyah luluh juga, ia selalu tidak bisa menahan air matanya setiap
kali melihat wajah pucat Nino. Usianya yang masih sangat muda harus menahan
sakit yang begitu lama.
Aisyah meninggalkan kecupan di kening adiknya, sebelum mengganggu istirahat Nino, ia pun memilih untuk segera keluar dari kamar Nino. Ia kembali menghampiri ibunya
yang masih di dapur, ia teringat dengan tujuannya yang buru-buru pulang.
“Bu …, apa tadi ada paket atau apa untukku?” tanya Aisyah pada ibunya.
‘tidak …, ada apa?”
“Tidak pa pa. ya sudah bu. Aisyah ke kamar dulu ya!”
Aisyah pun segera kembali ke kamarnya, ia tidak menemukan apapun di rumahnya. Ia
merebahkan tubuhnya yang memang sudah sangat penat. Sebelum matanya sempat
terpejam tiba-tiba ia mendengar suara pintu di ketuk dengan cepat Aisyah kembali bangun.
“Itu pasti paketnya!”
Aisyah segera mengenakan kembali hijabnya dan merapikan sedikit, melihat pantulannya
di cermin, setelah memastikan tidak ada yang ganjil, Aisyah pun segera keluar kamar, bersamaan dengan ibunya yang juga dari dapur.
“Biar Ais aja bu yang buka pintunya, mungkin itu paket Ais!”
Akhirnya bu Santi pun mengurungkan niatnya untuk ke depan, ia memilih kembali ke dapur.
Aisyah segera menuju ke depan untuk membukakan pintu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
__ADS_1
Happy Reading 🥰😘❤️