Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (24)


__ADS_3

Tak berapa lama, Asna pun menghampiri dengan wajah yang lebih segar. Sepertinya dia baru saja mencuci wajahnya. Ia duduk tepat di depan Gus Raka, mereka di pisahkan oleh meja makan kecil.


"Masak apa?" tanyanya tanpa beban karena ras lapar.


"Maaf ya, hanya mie instan!"


"Nggak pa pa aku lapar!" Asna pun segera menarik piring yang sudah berisi mie instan.


"Makannya bismillah dulu!"


Asna memicingkan matanya, "Memang aku anak TK, udah tadi dalam hati!" walaupun ketus tapi setidaknya Asna tetap menjawab ucapan Raka. Akhirnya Gus Raka hanya bisa tersenyum dan ikut makan setelah membaca doa. Walaupun hanya mie instan tapi jika perut benar-benar lapar, mie instan terasa nikmat.


"Bagaimana kalau besok kita belanja bulanan?" setelah sekian lama diam barulah Gus Raka kembali bertanya.


"Malas, kamu aja yang belanja!" Asna tetap dengan gaya juteknya , sebenarnya hal itu ia gunakan untuk membentengi dirinya sendiri agar tidak begitu dekat dengan orang lain.


"Ya udah berarti kalau kamu nggak belanja, berarti aku juga nggak belanja!"


"Terserah!"


"Setelah ini aku akan ke masjid, kamu nggak pa pa kan kalau aku tinggal sendiri di rumah?"


Asna meratap Gus Raka, ia sebenarnya takut tapi ia gengsi untuk bilang jangan. Atau ingin ikut rasanya pasti bertolak belakang dengan sikapnya yang tadi.


"Kenapa sholatnya nggak di rumah saja?" akhirnya Asna mendapatkan pertanyaan yang paling tepat.


"Nggak bisa dong dek, mas kan laki-laki! Kalau laki-laki itu sholatnya di masjid! Kecuali ada hal yang benar-benar urgen dan membuat aku tidak bisa ke masjid!"


Dia nggak peka banget sih ... ini namanya juga urgen, Asna hanya memicingkan matanya, mau melarang pun rasanya tidak begitu berani.


"Baiklah!" Asna menyerah dengan wajah pasrah, wajah sok galaknya tadi hilang sudah.


"Baiklah bagaimana?" Asna memutar bola matanya saat suaminya malah kembali bertanya. Ia butuh banyak keberanian untuk mengatakan itu dan sekarang harus di patahkan lagi, rasa kesalnya kembali muncul.


"Pergi saja!" Asna pun berdiri dan hendak meninggalkan piring kotornya tapi tangannya segera di tahan oleh suaminya.


"Ada apa lagi?"


"Masak habis makan gini?" protes Gus Raka sambil menatap ke arah piring kotor Asna.


"Nggak usah pegang-pegang juga kali!" Asna mengibaskan tangannya tapi ternyata genggaman Raka cukup kuat.

__ADS_1


"Kamu kan istriku, memang apa salahnya aku pegang! trus cuci piringnya kapan?"


"Besok aku cuci, sekarang males!"


"Nggak baik dek ninggalin piring kotor, nanti jadi sarangnya setan loh, mau rumah ini banyak setannya?"


Pakek ngomong gitu lagi nggak tahu apa aku takut, kesal jadinya, tiba-tiba bulu kuduk Asna merinding. Ia yang memang awalnya penakut sekarang semakin takut saja. Dulu dia hanya takut pada setan, tapi sekarang sama orang pun takut.


"Iya, iya, baiklah! Bawel amet!" Asna berlalu sambil membawa piring kotornya ke tempat cuci piring walaupun dengan terus menggerutu membuat Gus Raka menggelengkan kepalanya tidak percaya, ternyata di balik sifat juteknya ia punya sifat lain yang menurutnya menggemaskan.


"Yang ikhlas dek kerjanya, nanti bukan jadi pahala malah jadi dosa loh!" Gus Raka hanya tersenyum dan memperhatikan istrinya dari meja makan, walaupun piringnya sekarang juga sudah kosong tapi ia enggan untuk membawanya menghampiri istrinya, ia suka memperhatikan istrinya saat menggerutu seperti itu, menurutnya saat seperti itu ia bisa melihat Asna yang dulu yang melupakan traumanya.


"Mau tetap di situ atau bawa ke sini piringnya?" cukup terkejut karena ternyata istrinya menawarinya untuk di cucikan sekalian piring kotornya.


Gus Raka tersenyum dan membawa piring kotornya menghampiri sang istri, "Mau adek cuciin ya?"


Bukannya menjawab, Asna tiba-tiba mengambil piring itu dari tangan Gus Raka dan mencucinya.


"Enak ya kalau punya istri, apa-apa ada yang bantuin!"


"Jangan mulai deh!" Asna paling kesal saat suaminya itu mulai mengeluarkan jurus gombal.


"Mau aku siram pakek air atau pergi sekarang!" ancam Asna.


"Baiklah, istriku galak banget ternyata! Tapi tetap sayang!"


Asna pun sudah mengambil air dan siap di siramkan ke arah Gus Raka dan dengan cepat pria itu memundurkan tubuhnya.


"Okey okey, aku duduk di sana!" walaupun begitu Gus Raka masih dengan senyumnya.


Sebentar lagi magrib, Gus Raka sudah siap dengan baju Koko dan sarung begitu juga dengan peci di kepalanya, jarak rumah kerena dengan pesantren tidak terlalu jauh tapi tetap ia memanfaatkan sepeda motor agar lebih cepat sampai di masjid dekat pesantren. Gus Raka sengaja mencari rumah yang tidak terlalu jauh dari pesantren agar memudahkan dia beraktifitas, walaupun tidak selalu mengajar di pesantren tapi sekali waktu ia di minta untuk membantu mengajar, setidaknya satu Minggu dua atau tiga kali di luar jam kerjanya yang lain.


"Dek, mas berangkat dulu ya ke masjid! Kamu beneran berani kan di rumah sendiri?" sebenarnya Raka cukup khawatir meninggalkan istrinya sendiri di rumah.


"Hmmm!" Asna sama sekali tidak tertarik untuk menoleh pada suaminya, ia tetap fokus menonton tv di depannya.


"Dek, kalau kamu takut mas bisa antar kamu dulu ke rumah mama papa atau Abi umi, setidaknya di sana kamu akan lebih aman!"


"Enggak! Aku berani di rumah sendiri, sudah sana pergi!"


"Dek!"

__ADS_1


"Apa lagi sih?" kali ini Asna menoleh kesal dan ternyata tangan Gus Raka sudah terulur, "Apa?"


"Biasakan dek, kalau mas mau pergi atau kamu mau pergi , Salim dulu! Setidaknya pamitan, mas juga gitu!"


Asna yang merasa bersalah pun akhirnya meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangannya.


"Assalamualaikum, dek!"


"Waalaikum salam!"


Walaupun sangat tidak tenang, Gus Raka pun akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Asna, ia berencana akan cepat pulang tanpa menunggu waktu isya' seperti biasanya, ia akan kembali lagi saat waktu isya' setelah memastikan Asna baik-baik saja.


Setelah suara motor Gus Raka berlalu meninggalkan area rumah, Asna mulai merasa ketakutan. Menurutnya rumah itu menjadi begitu sepi tanpa suaminya, ia pun segera meninggalkan ruang tv tanpa mematikannya dan masuk ke dalam kamar, mengunci kamar dari dalam dan segera berlari ke tempat tidur, menutup tubuhnya dengan selimut, menyalakan lampu tapi sepertinya ia lupa menyalakan lampu rumah karena saat Gus Raka pergi masih terang.


Di tempat lain, Gus Raka yang sudah siap untuk kembali pulang setelah sholat magrib tiba-tiba ustadz Arif memanggilnya dan mengajaknya bicara.


"Ada apa bi?"


"Ada hal yang ingin Abi bicarakan! Bagaimana kalau kita bicaranya di rumah saja?"


"Baiklah Bi!"


Akhirnya Gus Raka lupa jika dia akan pulang, ia ikut abinya pulang.


"Ada apa bi?"


"Tadi salah satu teman dosen kamu datang, beliau menanyakan kamu! Jika sekiranya kamu berminat untuk kembali mengajar, katanya kampus masih sangat menerima, tinggal kamu siapnya kapan!"


"Raka masih belum kepikiran untuk mengajar lagi bi, insyaallah kalau Raka siap akan Raka kasih kabar!"


Mereka pun akhirnya membicarakan banyak hal hingga sampai waktu isya'. Gus Raka benar-benar tidak jadi pulang.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2