
"Terimakasih ya sudah di antar!" Asna sudah turun dari mobil Zaki, ia tidka jadi duduk di belakang karena menghormati si pemilik mobil.
"Sama-sama, jadi ini rumah kamu?"
"Iya, ini rumah kami! Maaf ya tidak menawarkan untuk mampir!"
"Iya, aku faham kok! Masuklah!"
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Asna pun segera meninggalkan Zaki, sedangkan Zaki menunggu hingga Asna masuk ke dalam rumah barulah menjalankan mobilnya.
Mbak Rumi ternyata melihat kedatangan Asna dari jendela rumah.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam! Mbak Asna kenapa pulangnya malam?"
"Nggak pa pa mbak, tadi ketemu temen pas mau pulang!"
"Yang ngantar mbak Asna?"
"Iya mbak, dia temen Asna pas masih kerja di rumah sakit! Kami tidak sengaja ketemu tadi di mushola rumah sakit, dia maksa ngantar karena kemalaman!"
"Mandi lah mbak, biar saya panaskan makanannya!"
"Terimakasih ya mbak, Shahia mana mbak?"
"Sudah tidur mbak, tadi nungguin mbak Asna! Tapi rasa kantuknya tidka bisa di tahan ternyata!"
"Ya udah aku mandi dulu ya mbak!" Asna pun segera masuk ke kamar mandi sebelum menemui putrinya. Ia tidak mau menemui putrinya dalam keadaan yang tidak bersih.
Setelah bersih, Asna pun segera menghampiri putrinya yang tertidur pulas. Ia menciumi wajah menggemaskan putrinya, seolah-olah ia sedang menatap sang suami. Benar-benar wajah suaminya dalam bentuk putri kecilnya.
"Maafin mama ya sayang! Mama janji nggak akan pulang telat lagi!"
Setelah puas menatap wajah putrinya, ia merasakan perutnya yang mulai berbunyi karena lapar. Ia jarang makan di luar saat malam karena pasti mbak Rumi sudah memasak untuknya.
Asna segera menuju ke meja makan dengan makanan yang sudah siap tersaji.
"Ayo mbak, sekalian kita makan!" Asna menepuk bangku kosong di sebelahnya.
"Bentar mbak, aku buatin minuman hangat buat mbak Asna dulu!"
"Nggak usah mbak, aku tadi udah minum kopi sama Zaki!"
Mbak Rumi pun segera menghentikan kegiatannya, ia mematikan kompornya yang baru saja di nyalakan dan berjalan menghampiri Asna. Ia duduk di kursi kosong di depan Asna dan memperhatikan Asna yang sedang lahap menyantap makanannya.
"Enak ya mbak?"
"Enak banget mbak, pokoknya masakan mbak Rumi yang paling enak!"
"Mbak Asna bisa aja!"
Mereka kembali terdiam dan membuatkan Asna menyantap makanannya.
"Oh iya mbak!" mbak Rumi berhasil membuat Asna menghentikan makannya sejenak mendengar nada serius yang keluar dari bibir Mbak Rumi.
"Ada apa mbak?"
"Kalau saya hanya bisa ngasih saran mbak, lain kali jangan mau di antar Sampek rumah ya mbak sama cowok!"
__ADS_1
"Kenapa mbak?"
"Saya cuma takut saja kalau ada yang liat trus mereka salah faham, takut jadi fitnah mbak! Apa lagi saat ini mas Raka sedang nggak ada di rumah!"
"Aku tahu mbak, makasih ya udah ngingetin Asna!"
"Maaf ya mbak kalau saya lancang!"
"Nggak pa pa mbak, Asna malah seneng ada yang ngingetin Asna! Apalagi Asna kan juga harus menjaga nama baik pesantren!"
"Syukurlah kalau mbak Asna mengerti!"
...****...
Hari ini Asna begitu sibuk karena jadwal pengiriman buku yang sudah siap, Asna sampai tidak sempat untuk menjenguk suaminya karena pulangnya terlalu malam.
"Capek banget ya mbak?" tanya mbak Rumi saat melihat Asna langsung duduk berselonjor di lantai sesampai di rumah.
"Iya mbak, hari ini sibuk banget!"
"Aku ambilkan minum ya mbak!"
"Boleh deh!"
Mbak Rumi kembali ke dapur untuk mengambilkan minuman dingin buat Asna.
Tidak berapa lama mbak Rumi sudah kembali dengan membawa jus jeruk kesukaan Asna.
"Makasih ya mbak!" Asna segera meneguk minumannya hingga sisa setengahnya saja.
"Shahia sudah tidur ya mbak?"
"Iya, dari siang nanyain mbak terus!"
"Ya sabar mbak, semua pasti ada hikmahnya!"
"Amiiin!"
Asna kembali mengambil gelasnya yang masih berisi separoh itu dan kembali meneguknya.
Saat ia hendak meletakkan kembali gelasnya tiba-tiba ponsel Asna berdering. Ia dengan malas merogoh tasnya dan mengambil benda pipih. Ia berharap itu bukan dari toko, kalau iya itu tandanya hari ini ia harus lembur.
"Mbak, ini dari rumah sakit! Ada apa ya?" Asna begitu deg degan saat melihat tulisan rumah sakit di layar ponselnya. Ia benar-benar tidak siap jika harus mendengar kabar buruk dari rumah sakit. Sudah sekian lama ia tidak mendapat telpon dari rumah sakit.
"Di angkat aja mbak!" pinta mbak Rumi.
"Tapi aku takut mbak!"
"Tidak pa pa, insyaallah apapun yang terjadi mbak Asna kuat, ada Shahia yang harus mbak pikirkan!"
"Mbak Rumi aja ya yang angkat!"
"Baiklah!" Asna pun akhirnya menyerahkan ponselnya pada mbak Rumi.
"Hallo assalamualaikum!"
"Waalaikum salam, bisa bicara dengan ibu Asna?"
"Ya ini mbak Asna nya mendengarkan, ada apa ya dok? Apa terjadi sesuatu dengan mas Raka?"
"Pasien atas nama Raka, hari telah sadarkan diri!"
"Apa ini benar dok?"
__ADS_1
"Benar, kami menunggu kedatangan pihak keluarga!"
"Baik dok, pasti akan datang!"
Sambungan telpon pun terputus, Raka lelah yang tadi mendera tubuh Asna tiba-tiba hilang sudah. Bibirnya terus tertarik ke atas.
"Aku harus ke rumah sakit mbak!"
"Iya mbak!"
"Shahia!"
"Biar saya yang jagain Shahia!"
"Benar tidak pa pa mbak?"
"Tidak pa pa, mbak Asna lebih baik mandi dulu biar mas Raka nanti begitu lihat mbak Asna langsung terpesona!"
"Iya mbak, aku mandi dulu ya mbak!"
Asna dengan cepat bangun dan berlari ke kamarnya, ia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berdandan dengan sedikit polesan bedak dan lipstik tipis.
"Aku pergi dulu ya mbak!"
"Pakek apa?"
"Aku pesan taksi tadi mbak!"
Seperti sebuah mimpi yang jadi kenyataan, Asna begitu bahagia hari ini. Ia tidak ingin sampai datang terlambat,
Pasti mas Raka sedang menungguku sekarang ....
Asna begitu senang sekarang. Ia bahkan tidak sabar untuk segera sampai di rumah sakit dan melihat suaminya, mengajaknya bicara.
"Terimakasih ya pak!" Asna segara berlari memasuki rumah sakit setelah turun dari taksi dan menyerahkan sejumlah uang sesuai dengan tarif taksi.
Sesampai di depan ruangan Raka ternyata di sana sudah ada Leon dan kedua orang tua Raka.
"Abi, umi! Kalian sudah di sini?"
"Maaf ya tadi umi tidak menjemput kami, aku kira biar kamu datang besok pagi saja ternyata dokter hubungi kamu!"
"Asna juga pengen segera ketemu sama mas Raka, umi!"
"Shahia?"
"Sama mbak Rumi!"
"Syukurlah!"
"Bagaimana keadaan mas Raka?"
"Dokter sedang memeriksanya, kamu sabar ya!"
Asna memilih duduk di kursi panjang berbahan besi itu, terlihat sekali saat ini sia sedang was was.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...