
Semua terdiam mendengar ucapan Abizar, Asna dan mama Ayu malah saling bertatapan.
"Aku kira nanti malam!?" gumam Asna tapi masih bisa di dengar oleh sang mama. Mama Ayu kemudian mengerti jika Asna sudah tahu kalau Raka akan datang.
"Suruh masuk nak, biar mama tambah masakan mama, pasti mereka belum sarapan!"
"Iya ma!" Bizar kembali berbalik dan keluar.
"Pa pa pa ....!" Shahia berceloteh seolah ia sudah bisa merasakan kedatangan sang papa.
Asna yang masih belum mengenakan jilbab segera kembali ke kamar dan memakai jilbab instannya.
Ia meletakkan Shahia di atas tempat tidur terlebih dulu,
"Ahhhh, aku kenapa deg-degan begini?" Asna mondar-mandir, ia bingung bagaimana bersikap nanti saat bertemu dengan Raka sang suami. Ingin rasanya bersikap cuek.
"Tapi apa aku bisa?" gumamnya lagi. Ia bahkan tidak yakin dengan dirinya sendiri, ia takut rasa rindunya tidak bisa di kembalikan.
"Tidak, pokoknya aku harus jual mahal!"
"Pa pa pa ...!" Shahia kembali berceloteh, seakan ia juga tidak sabar untuk melihat papanya.
"Iya Shahia, sabar! Mama lagi cari cara nih biar papa kamu nggak seenaknya sama mama!"
Setelah meyakinkan dirinya sendiri, Asna pun kembali menggendong Shahia dan bersiap keluar kamar.
Saat ia kembali dan turun terlihat Raka dan Ridwan sudah duduk di ruang tamu. Jantung Asna tiba-tiba bertalu-talu seakan-akan ia tidak bertemu dengan pria berwajah tampan itu berbulan-bulan.
Jantung, jangan membuatku malu ...., Asna berusaha keras untuk mengendalikan perasaannya.
Hemmmm ....
Sebuah deheman halus ia lakukan untuk menormalkan suaranya agar tidak terdengar gemetar. Raka yang melihat kedatangan asna dan Shahia pun segera berdiri, sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama tapi ia tidak tahu bagaimana cara untuk mengungkapkannya. Walaupun otaknya sedang bermasalah tapi hatinya masih sama, ia tidak bisa memungkiri getaran itu.
"Assalamualaikum mas, Ridwan!" sapa Asna. Mama ayu pun juga ikut berdiri.
"Waalaikum salam!" jawab Raka dan Ridwan bersama-sama.
__ADS_1
"Nah Asna sudah datang, mama ke dalam dulu ya! Mama siapkan sarapannya dulu, kalian pasti juga belum sarapan!"
"Biar Asna bantu mas!"
"Jangan, kamu temani mereka saja ya!"
"Bizar sama Aslan?"
"Mereka kan harus sekolah, baru saja berangkat!"
Mama ayu pun segera meninggalkan mereka, Asna kembali dilanda kebingungan. Ia bingung bagaimana harus bersikap apalagi jantungnya juga tidak bisa di kontrol dengan baik.
Ahhh, aku nggak punya alasan lagi ....
"Pa pa pa ....!" mendengar celoteh Shahia, Raka pun segera dan menghampiri Asna hingga mereka begitu dekat, mata mereka saling bertemu.
Mas Raka mau ngapain? Apa benar mas Raka mau mencium aku? saat ini posisi mereka begitu dekat dan hingga akhirnya bibir merah jambu pria itu mendarat di pipi Shahia.
"Sayang, kangen sama papa ya, sini gendong papa! Papa juga kangen!" tanpa permisi Raka pun segera mengambil alih Shahia dari Asna yang masih terpaku. Setalah Raka dan Shahia menjauh darinya, ia pun segera mengendalikan perasaannya.
Raka sudah asik bermain dengan Shahia saat ini, Asna yang di cuekin segera menghampiri Ridwan dan ikut duduk di sofa yang berbeda.
"Bagaimana kabar toko Wan?"
"Alhamdulillah masih aman mbak, kemarin ada klien baru yang datang! Tapi Alhamdulillah mas Raka dapat menanganinya dengan baik hingga mereka bersedia kerja sama!"
Asna pun kembali melihat Raka dan Shahia yang asik bermain. Mereka benar-benar seperti sepasang papa dan putri yang baru saja melepas rindu, tanpa terasa bibir Asna tersenyum walaupun ia merasakan Kelu di hatinya karena di abaikan oleh suaminya tapi tetap saja ia merasa senang karena meskipun hilang ingatan suaminya tidak melupakan. posisinya sebagai seorang papa dari seorang putri.
"Sepertinya memang semuanya harus kembali ke posisi semula, mas Raka yang akan mengambil alih kembali toko!"
"Mbak Asna benar, mas Raka meskipun kehilangan sebagian ingatannya tapi dia tidak kehilangan kemampuannya bekerja, dia masih mas Raka yang dulu mbak!"
"Iya!"
Setelah cukup lama mengobrol, mama ayu memang mereka dari dalam.
"Ayo semuanya, sarapannya sudah siap!"
__ADS_1
"Iya ma!" Asna pun segera menyahut.
"Ayu Wan kita sarapan dulu, baru setelah ini kita pulang!"
"Iya mbak!"
Asna pun menghampiri Raka dan Shahia.
"Mas, Shahia nya biar sama Asna saja! Mas Raka sama Ridwan sarapan dulu!"
"Kamu?" Raka terlihat lebih lembut sekarang. Ia bahkan sudah berani menatap mata Asna, hal itu sengaja ia lakukan agar bisa kembali mengingat posisi Asna di hatinya.
"Aku nanti saja!"
"Sebaiknya kita sarapan bersama-sama!" Raka tidak bersedia menyerahkan Shahia. Ia menggendong Shahia berjalan menuju ke ruang makan. Sedangkan Ridwan berjalan di belakang mereka.
"Ayo ayo kita sarapan!" Mama Ayu sudah siap di meja makan.
Mereka pun akhirnya sarapan bersama-sama dengan Shahia yang tidak mau lepas dari pangkuan sang papa. Sepertinya Shahia juga sangat merindukan sang papa.
"Papa tadi telpon, katanya Raka tidak boleh pulang dulu, soalnya sore ini papa akan pulang. Kamu nggak pa pa kan nginep di sini semalam saja, kasihan kan kalau Shahia harus pulang malam-malam!"
Raka yang di ajak bicara pun langsung menatap Asna, ia ingin tahu pendapat Asna kalau di menginap di sana karena ia masih merasa asing di tempat itu kecuali shahia dan Asna. Dan Asna yang di mintai pendapat pun hanya mengangkat kedua bahunya tanda ia menyerahkan keputusan pada Raka sendiri.
"Iya Tante, nanti saya menginap!"
Setelah sarapan akhirnya Ridwan pun berpamitan untuk pulang dan akan kembali besok siang menjemput mereka.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @ tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1