
...Berharap pada takdir seperti berharap pada anai-anai yang melayang dan entah kapan dia akan bertepi, biarkan dunia yang memilih pada siapa kita akan tinggal...
...đșSelamat membacađș...
Akhirnya Leon mengakhiri telponnya secara sepihak,
"Terimakasih ya dok!"
ucapnya setelah sambungan telpon itu berakhir.
"Sama-sama!"
Dokter pun menyimpan kembali
ponselnya ke saku jas putih milik pak dokter.
âMaaf dok, ini rumah sakit apa ya?â
tanya Leon sambil menahan sakit, matanya terus mengamati rumah sakit yang sedang ia tinggali saat ini. Rasanya begitu asing, atau memang dia tidak pernah sampai ke daerah ini.
âIni rumah sakit intra Medika, mas!"
"Intra Medika?"
Kalau tidak salah rumah sakit ini adalah rumah sakit yang pernah menjadi tempat Nino melakukan operasi ginjal waktu itu. Dan itu sudah lama sekali.
"Iya, Kalau bisa mas istirahat dulu, jangan banyak bergerak dulu karena luka mas Leon ini cukup dalam di beberapa bagian!â
Sangat parah, itu tandanya dia sudah terlalu lama berdiam diri di tempat itu. Kalau di dengar dari suara bi Merry yang begitu panik mendengar suaranya, mungkin memang benar dia sudah lama.
âMemang saya sudah berapa lama di
sini dok?â
âAnda sudah tidak sadarkan diri selama tiga hari!â
Tiga hari, dan dia sama sekali tidak memberi kabar pada orang rumah.
âTernyata lama sekali, pantas
tenggorokanku sampai keringâ batin Leon.
âTerimakasih dok, dok kalau boleh
saya minta jangan memberitahukan keberadaan saya pada siapapun selama saya di sini!â
âPasti, keselamatan pasien adalah
tanggung jawab kami sebagai pihak rumah sakit!â
âKalau boleh saya minta lagi dok!â
âApa? Asal kami bisa mengabulkan!
Kami akan mengabulkannya!â
***
Nisa setiap hari saat datang atau
pulang ia selalu menyempatkan diri untuk menengok salah satu kamar yang sudah tiga hari ini di huni oleh seorang pasien.
Ya, kamar Leon. Dia masih merasa
penasaran dengan kisah sebenarnya di balik kecelakaan itu. ingin rasanya
bertanya langsung tapi sayangnya bukan di situ tempatnya, dia berada di bangsal lain. Ingin rasanya merawat pria itu, ia ingin berlagak seperti wartawan dan memastikan semua kisahnya seperti yang ia karang dalam bentuk tulisan.
Sudah ada banyak ide yang
mengcover kisah penyerangan ini, berasa sebuah ide yang mengepul di dalam kepala tapi tidak tahu akan di arahkan ke mana, ia hanya ingin satu kata kunci saja yang bisa membuka gembok yang sedang
mengikat idenya.
Hobinya menulis sudah ada sejak ia
duduk di bangku SMP, saat itu Nisa gemar membuat puisi atau beberapa cerpen yang ia kirim ke beberapa majalah bulanan dan juga majalah sekolah. Dari hasilnya menulis, ia kerap mendapatkan buku gratis atau voucher belanja senilai
seratus ribu, cukup besar untuk ukuran anak SMP.
Kali ini masih jam makan siang, tapi
saat mendengar berita jika pasien itu sudah bangun dari koma nya, Nisa tertarik untuk melihatnya sebentar.
Sudah menjadi rahasia umum di rumah sakit Intra Medika jika Nisa si perawat magang itu menjadi super hero bagi seorang pria tampan dari mesin peledak yang ada di dalam mobil.
Nisa memperlambat langkahnya saat
__ADS_1
melihat perawat yang khusus merawat pria itu sedang santai duduk di kursinya sedang memeriksa beberapa berkas.
âMasak sih sadar, mbak Dira aja
tetap santai di situâ batin Nisa ragu untuk melanjutkan langkahnya. Takut dikatakan kalau kepo banget dengan keadaan orang.
Nisa pun meyakinkan dirinya sendiri
biar tidak pesimis, hanya ingin tanya saja dan tidak lebih.
âAssalamualaikum!â sapa Nisa,
membuat perawat itu mendongakkan kepalanya menatap kedatangan Nisa, ia tersenyum.
âWaalaikum salam!â jawabnya dan
menutup sebagian berkasnya dengan tangan sebelah kananya.
âHai Nis, mau nengokin dia ya?â
âIya mbak, sebentar saja boleh?
Katanya dia sudah sadar ya?â
âSudah, tapi di dalam ada dokter
Reza!â
âDokter Reza?â
âWahhh kebetulan banget nih ada
kakak di dalam!â batin Nisa senang.
Dokter Reza adalah adik dari dokter
Ardan yang berarti kakak Nisa. Dokter Reza belum menikah karena kekasihnya
masih harus menyelesaikan pendidikannya yang tinggal satu semester lagi.
âBoleh nggak kak aku masuk?â tanya
Nisa pada perawat itu.
âGimana ya? Tadi aku di minta keluar
âAhhh sayang sekaliâ batin Nisa
kecewa, padahal dia sudah berharap banyak pada kakaknya.
Ceklek
Pintu kamar yang sedari tadi
menjadi pusat perhatian mereka tiba-tiba terbuka menandakan orang yang berada
di dalamnya akan segera keluar.
Nisa tersenyum pada dokter Reza,
ingin segera bertanya tapi ada suster Dira di sana.
âKebetulan sekali suster Nisa ada di
sini!â
âSaya? Ada apa ya?â tanya Nisa
sambil menunjuk dirinya sendiri.
âPasien ingin kamu yang menjadi
perawat pribadinya, dia tidak ingin di rawat oleh suster lain. jadi terpaksa
suster Dira akan di pindahkan sementara dari sini, tidak pa pa kan suster?â
âOhhh gitu ya? Tidak pa pa dok!â
âMaaf ya mbak Dira!â
Nisa merasa tidak enak karena
pemindahan yang secara tiba-tiba ini, apalagi pasiennya meminta khusus pada
atasan rumah sakit.
âNggak pa pa Nis, Santai aja!â ucap
__ADS_1
suster Dira, dia pun mulai mengemasi barang-barangnya.
âBiar suster yang berjaga di
tempatmu yang membawakan barang-barangmu, kamu langsung standby di dalam,
takutnya pasien membutuhkan sesuatu!â ucap dokter Reza.
âBaik dok!â
Seperti mendapatkan kesempatan emas, tapi ini terlalu berlebihan. Ia tidak ingin jadi perawat pribadinya, ia hanya ingin menanyakan beberapa hal saja yang ingin dia ketahui, tapi kali ini dia malah di suguhi pemeran utamanya langsung untuk di olah.
Dokter Reza dan suster Dira sudah
meninggalkan tempat itu, Nisa merapikan penampilannya. Jas putih di atas lutut yang menutupi jilbab panjangnya dan juga baju sarâi miliknya yang berwarna biru
muda, begitu cantik dan pas di tubuh ramping Nisa.
Tok tok tok
Nisa mengetuk pintu itu, walaupun
tidak mengharapkan jawaban, ia hanya ingin pasien yang ada di dalam bisa bersiap-siap jika ada yang akan masuk dan tidak terlalu terganggu dengan kedatanganya.
Ceklek
Saat pintu terbuka, ia bisa melihat
seorang pria yang sedang dalam posisi setengah duduk di tempat tidur pasien dengan tubuh terbuka karena banyak luka yang bertebaran di dada dan perut, dan sebagian lagi di lengannya. Mungkin jika memakai baju akan menyusahkan dokter
untuk mengobati pasien.
Walaupun tubuhnya penuh dengan luka tapi wajahnya sudah tidak berlumuran darah lagi, walaupun ada luka di bagian kening dan kepalanya hingga kain kasa melingkar di kepalanya. Wajahnya putih
bersih, seperti blasteran. Bukan wajah asli Indonesia.
Nisa pun berjalan perlahan
menghampiri pria itu, ia berhenti tepat di samping tempat tidur pasien. Ia
menatap wajah pria itu, ingin melihat dan menemukan wajah jahat dari pria itu tapi ternyata dia gagal. Wajahnya terlalu imut untuk jadi orang jahat.
âKenapa menatapku seperti ini?â
Pertanyaan Leon menyadarkan Nisa, ia pun menggelengkan kepalanya cepat.
âWajahku tidak untuk di nikmati
sebarang orang!â
âAstagfirullah, mulutnya tidak
semanis wajahnya!â gumam Nisa pelan sambil memalingkan wajahnya.
Setelah menghilangkan rasa kesalnya, Nisa pun kembali menatap Leon,
âMaaf tuan Leon, kata dokter Reza anda mencari saya?â
Leon tidak langsung menjawab
pertanyaan Nisa, ia pun memilih memperhatikan wajah dan tubuh Nisa.
âOh, jadi kamu orangnya?â
âAstagfirullah, di tidak mengenaliku
ternyata!â gumam Nisa kesal, âtahu gini aku nggak ngakuâ batinnya lagi.
âSiapa nama kamu?â tanya Leon lagi.
âNisa tuan!â
âNisa, jadi kamu tahu kan tugasnya
apa? Saya tidak mau kamu melayani pasien lain selama saya di rawat di sini!â
Bersambung
...Banyak hal yang tidak kita duga ternyata adalah sebuah pertemuan yang membawa kita pada sebuah kisah baru dalam hidup kita, dan kita akan merasa bersyukur di waktu yang tepat....
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @ tri.ani5249
...Happy reading đ„°đ„°đ„°đ„°...
__ADS_1