Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra Part (Leon 4)


__ADS_3

...Berharap pada takdir seperti berharap pada anai-anai yang melayang dan entah kapan dia akan bertepi, biarkan dunia yang memilih pada siapa kita akan tinggal...


...đŸŒșSelamat membacađŸŒș...


Akhirnya Leon mengakhiri telponnya secara sepihak,


"Terimakasih ya dok!"


ucapnya setelah sambungan telpon itu berakhir.


"Sama-sama!"


Dokter pun menyimpan kembali


ponselnya ke saku jas putih milik pak dokter.


“Maaf dok, ini rumah sakit apa ya?”


tanya Leon sambil menahan sakit, matanya terus mengamati rumah sakit yang sedang ia tinggali saat ini. Rasanya begitu asing, atau memang dia tidak pernah sampai ke daerah ini.


“Ini rumah sakit intra Medika, mas!"


"Intra Medika?"


Kalau tidak salah rumah sakit ini adalah rumah sakit yang pernah menjadi tempat Nino melakukan operasi ginjal waktu itu. Dan itu sudah lama sekali.


"Iya, Kalau bisa mas istirahat dulu, jangan banyak bergerak dulu karena luka mas Leon ini cukup dalam di beberapa bagian!”


Sangat parah, itu tandanya dia sudah terlalu lama berdiam diri di tempat itu. Kalau di dengar dari suara bi Merry yang begitu panik mendengar suaranya, mungkin memang benar dia sudah lama.


“Memang saya sudah berapa lama di


sini dok?”


“Anda sudah tidak sadarkan diri selama tiga hari!”


Tiga hari, dan dia sama sekali tidak memberi kabar pada orang rumah.


‘Ternyata lama sekali, pantas


tenggorokanku sampai kering’ batin Leon.


“Terimakasih dok, dok kalau boleh


saya minta jangan memberitahukan keberadaan saya pada siapapun selama saya di sini!”


“Pasti, keselamatan pasien adalah


tanggung jawab kami sebagai pihak rumah sakit!”


“Kalau boleh saya minta lagi dok!”


“Apa? Asal kami bisa mengabulkan!


Kami akan mengabulkannya!”


***


Nisa setiap hari saat datang atau


pulang ia selalu menyempatkan diri untuk menengok salah satu kamar yang sudah tiga hari ini di huni oleh seorang pasien.


Ya, kamar Leon. Dia masih merasa


penasaran dengan kisah sebenarnya di balik kecelakaan itu. ingin rasanya


bertanya langsung tapi sayangnya bukan di situ tempatnya, dia berada di bangsal lain. Ingin rasanya merawat pria itu, ia ingin berlagak seperti wartawan dan memastikan semua kisahnya seperti yang ia karang dalam bentuk tulisan.


Sudah ada banyak ide yang


mengcover  kisah penyerangan ini, berasa sebuah ide yang mengepul di dalam kepala tapi tidak tahu akan di arahkan ke mana, ia hanya ingin satu kata kunci saja yang bisa membuka gembok yang sedang


mengikat idenya.


Hobinya menulis sudah ada sejak ia


duduk di bangku SMP, saat itu Nisa gemar membuat puisi atau beberapa cerpen yang ia kirim ke beberapa majalah bulanan dan juga majalah sekolah. Dari hasilnya menulis, ia kerap mendapatkan buku gratis atau voucher belanja senilai


seratus ribu, cukup besar untuk ukuran anak SMP.


Kali ini masih jam makan siang, tapi


saat mendengar berita jika pasien itu sudah bangun dari koma nya, Nisa tertarik untuk melihatnya sebentar.


Sudah menjadi rahasia umum di rumah sakit Intra Medika jika Nisa si perawat magang itu menjadi super hero bagi seorang pria tampan dari mesin peledak yang ada di dalam mobil.


Nisa memperlambat langkahnya saat

__ADS_1


melihat perawat yang khusus merawat pria itu sedang santai duduk di kursinya sedang memeriksa beberapa berkas.


‘Masak sih sadar, mbak Dira aja


tetap santai di situ’ batin Nisa ragu untuk melanjutkan langkahnya. Takut dikatakan kalau kepo banget dengan keadaan orang.


Nisa pun meyakinkan dirinya sendiri


biar tidak pesimis, hanya ingin tanya saja dan tidak lebih.


“Assalamualaikum!” sapa Nisa,


membuat perawat itu mendongakkan kepalanya menatap kedatangan Nisa, ia tersenyum.


“Waalaikum salam!” jawabnya dan


menutup sebagian berkasnya dengan tangan sebelah kananya.


“Hai Nis, mau nengokin dia ya?”


“Iya mbak, sebentar saja boleh?


Katanya dia sudah sadar ya?”


“Sudah, tapi di dalam ada dokter


Reza!”


“Dokter Reza?”


‘Wahhh kebetulan banget nih ada


kakak di dalam!’ batin Nisa senang.


Dokter Reza adalah adik dari dokter


Ardan yang berarti kakak Nisa. Dokter Reza belum menikah karena kekasihnya


masih harus menyelesaikan pendidikannya yang tinggal satu semester lagi.


“Boleh nggak kak aku masuk?” tanya


Nisa pada perawat itu.


“Gimana ya? Tadi aku di minta keluar


‘Ahhh sayang sekali’ batin Nisa


kecewa, padahal dia sudah berharap banyak pada kakaknya.


Ceklek


Pintu kamar yang sedari tadi


menjadi pusat perhatian mereka tiba-tiba terbuka menandakan orang yang berada


di dalamnya akan segera keluar.


Nisa tersenyum pada dokter Reza,


ingin segera bertanya tapi ada suster Dira di sana.


“Kebetulan sekali suster Nisa ada di


sini!”


“Saya? Ada apa ya?” tanya Nisa


sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Pasien ingin kamu yang menjadi


perawat pribadinya, dia tidak ingin di rawat oleh suster lain. jadi terpaksa


suster Dira akan di pindahkan sementara dari sini, tidak pa pa kan suster?”


“Ohhh gitu ya? Tidak pa pa dok!”


“Maaf ya mbak Dira!”


Nisa merasa tidak enak karena


pemindahan yang secara tiba-tiba ini, apalagi pasiennya meminta khusus pada


atasan rumah sakit.


“Nggak pa pa Nis, Santai aja!” ucap

__ADS_1


suster Dira, dia pun mulai mengemasi barang-barangnya.


“Biar suster yang berjaga di


tempatmu yang membawakan barang-barangmu, kamu langsung standby di dalam,


takutnya pasien membutuhkan sesuatu!” ucap dokter Reza.


“Baik dok!”


Seperti mendapatkan kesempatan emas, tapi ini terlalu berlebihan. Ia tidak ingin jadi perawat pribadinya, ia hanya ingin menanyakan beberapa hal saja yang ingin dia ketahui, tapi kali ini dia malah di suguhi pemeran utamanya langsung untuk di olah.


Dokter Reza dan suster Dira sudah


meninggalkan tempat itu, Nisa merapikan penampilannya. Jas putih di atas lutut yang menutupi jilbab panjangnya dan juga baju sar’i miliknya yang berwarna biru


muda, begitu cantik dan pas di tubuh ramping Nisa.


Tok tok tok


Nisa mengetuk pintu itu, walaupun


tidak mengharapkan jawaban, ia hanya ingin pasien yang ada di dalam bisa bersiap-siap jika ada yang akan masuk dan tidak terlalu terganggu dengan kedatanganya.


Ceklek


Saat pintu terbuka, ia bisa melihat


seorang pria yang sedang dalam posisi setengah duduk di tempat tidur pasien dengan tubuh terbuka karena banyak luka yang bertebaran di dada dan perut, dan sebagian lagi di lengannya. Mungkin jika memakai baju akan menyusahkan dokter


untuk mengobati pasien.


Walaupun tubuhnya penuh dengan luka tapi wajahnya sudah tidak berlumuran darah lagi, walaupun ada luka di bagian kening dan kepalanya hingga kain kasa melingkar di kepalanya. Wajahnya putih


bersih, seperti blasteran. Bukan wajah asli Indonesia.


Nisa pun berjalan perlahan


menghampiri pria itu, ia berhenti tepat di samping tempat tidur pasien. Ia


menatap wajah pria itu, ingin melihat dan menemukan wajah jahat dari pria itu tapi ternyata dia gagal. Wajahnya terlalu imut untuk jadi orang jahat.


“Kenapa menatapku seperti ini?”


Pertanyaan Leon menyadarkan Nisa, ia pun menggelengkan kepalanya cepat.


“Wajahku tidak untuk di nikmati


sebarang orang!”


“Astagfirullah, mulutnya tidak


semanis wajahnya!” gumam Nisa pelan sambil memalingkan wajahnya.


Setelah menghilangkan rasa kesalnya, Nisa pun kembali menatap Leon,


“Maaf  tuan Leon, kata dokter Reza anda mencari saya?”


Leon tidak langsung menjawab


pertanyaan Nisa, ia pun memilih memperhatikan wajah dan tubuh Nisa.


“Oh, jadi kamu orangnya?”


“Astagfirullah, di tidak mengenaliku


ternyata!” gumam Nisa kesal, ‘tahu gini aku nggak ngaku’ batinnya lagi.


“Siapa nama kamu?” tanya Leon lagi.


“Nisa tuan!”


“Nisa, jadi kamu tahu kan tugasnya


apa? Saya tidak mau kamu melayani pasien lain selama saya di rawat di sini!”


Bersambung


...Banyak hal yang tidak kita duga ternyata adalah sebuah pertemuan yang membawa kita pada sebuah kisah baru dalam hidup kita, dan kita akan merasa bersyukur di waktu yang tepat....


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @ tri.ani5249


...Happy reading đŸ„°đŸ„°đŸ„°đŸ„°...

__ADS_1


__ADS_2