
Langkah mereka terhenti tepat di depan pintu masuk itu.
"Assalamualaikum Ay!" sapa Alex, ia benar-benar membuktikan ucapannya, ia yang akan menyapanya lebih dulu sebelum Aisyah melupakannya.
Aisyah tersenyum, lebih tepatnya sedang berusaha untuk tersenyum. Ia tidak ingin memeluk suaminya karena ia melihat jika suaminya itu barus saja berwudhu.
"Waalaikum salam, mas!"
"Aku masuk dulu ya sayang, doakan aku!" ucap Alex dan Aisyah pun mengangguk membiarkan suaminya itu masuk ke dalam ruangan itu dengan dua polisi yang mengawal Alex
Semua orang sudah masuk ke dalam ruang sidang dan menempati tempatnya masing-masing. Aisyah duduk di kursi paling belakang. Bibirnya terus saja mengumandangkan lafadz Allah, ia berdoa untuk kebebasan suaminya.
Pov Aisyah
Hatiku terus bergetar selama di ruang sidah, aku hanya bisa berharap semua akan baik-baik saja. Aku ataupun mas Alex bisa sabar menghadapi semuanya.
Bagiku hukuman yang akan di terima oleh mas Alex bukanlah sebuah aib, mas Alex seperti idola bagiku.
Bibirku tidak berhenti berdoa, mataku terus menatap punggung bidang yang begitu menonjol di antara yang lainnya, atau memang aku terlalu fokus pada punggung itu, punggung yang telah menjadi tumpuanku hampir dua tahun ini.
Telingaku tidak begitu fokus, aku sengaja menutup dengan mata hatiku. Semua yang di bacakan membuat hatiku sakit dan aku tidak mau mendengarnya.
Beberapa orang di belakangku membicarakan aku, mereka menggunjing ku, atau mungkin mengatai suamiku.
Hingga akhirnya hakim agung benar-benar membacakan keputusannya.
"Demi keadilan berdasarkan ketuhanan yang maha esa, nama Kevin Alexander, Surabaya, 31 tahun, Laki-laki, kebangsaan Indonesia, beragama Islam dan pekerjaan sebagai pengusaha. Dakwaan, sebagaimana terdapat dalam surat dakwaan dan pertimbangan yang disusun secara ringkas mengenai fakta dan keadaan beserta alat-pembuktian yang diperoleh dari pemeriksaan di sidang yang menjadi dasar penentuan kesalahan terdakwa. Berdasarkan hasil keputusan banding, menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa dengan pidana penjara lima tahun dan denda sebesar 500,000,000 (lima ratus juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 5 (lima) bulan.”
Tubuhku seketika lemas, aku tidak mampu membayangkan bagaimana kehidupanku tanpa mas Alex selama lima tahun.
Sekaligus aku lega, setidaknya hukuman sudah berkurang sepuluh tahun.
Hakim Agung mengetuk palunya. Semua terdiam, air mata ku tak mampu terbendung bagaimana pun ini sudah keputusan akhirnya.
Satu persatu orang di dalam ruangan itu meninggalkan ruangan, tapi aku masih duduk diam di tempatku. Rasanya ingin sekali memeluk suamiku dan mengatakan semua baik-baik saja, tapi ternyata air mataku malah menunjukkan hal lain.
Mas Alex mulai meninggalkan tempatnya, aku tahu dia pasti akan menghampiriku. Buru-buru aku hapus air mataku sebelum mas Alex melihatnya.
"Assalamualaikum, Ay!"
__ADS_1
Aku bahkan tidak sadar jika mas Alex sudah berada di depanku, aku segera mendongakkan kepalaku, ku raih tangan yang di dalamnya terdapat ridho Allah.
Tidak boleh manusia bersujud kepada manusia lainnya. Seandainya manusia diperbolehkan bersujud kepada manusia lainnya niscaya aku akan memerintahkan wanita untuk bersujud kepada suaminya dikarenakan besarnya hak suami pada istri”. (HR Ahmad : 12614 dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Shahihul Jami’ : 7725).
"Waalaikum salam, mas!"
Mas Alex segera duduk di sampingku, seperti rutinitasnya setiap kali bertemu dengan ku dia selalu mengusap kepalaku dan mengecup keningku.
"Bagaimana kabar Baby Kia?" tanya mas Alex.
Aku tahu mas Alex pasti sangat merindukan baby Kia. "Baby Kia sehat mas, dia sudah bisa berceloteh sekarang!"
"Nanti ajari dia memanggil papa ya, Ay!"
"Iya mas ..., pasti!"
Mas Alex menarik tanganku, meletakkannya di atas pangkuannya.
"Lima tahu bukan waktu yang singkat untukku melalui semuanya tanpa kamu dan Kia, tapi percayalah aku akan baik-baik saja saat kamu dan Kia juga baik-baik saja, jadi berjanjilah ...., nanti kalian akan baik-baik saia tanpa aku!"
"Kenapa mas Alex bicara Seperti itu, Aisyah akan menjenguk mas Alex setiap minggu, nanti Kia kalau sudah bisa merangkak, Aisyah akan mengajaknya ke sini!"
"Jangan!"
"Mas_!"
"Mas_!"
"Dengarkan aku Ay ....! Berjanjilah demi aku, bawa Kia pergi jauh dari sini hingga siapapun tidak mengenali identitas kalian!"
"Mas_!" rasanya dadaku begitu sesak saat mas Alex mengatakan hal itu, tidak mungkin. Tidak mungkin aku pergi menjauh dari mas Alex, wanita seperti apa aku ini yang meninggalkan suaminya sendiri di penjara. Aku tidak mau.
"Ay ...., berjanjilah! Atau aku akan sangat marah, aku tidak akan menemui mu saat kau datang ke sini! Dengarkan aku, pergilah bersama ibu dan Nino juga! Nanti aku janji, saat keluar dari sini aku akan mencari mu, tapi jangan pernah mencari ku sebelum aku yang mencari mu!"
"Tapi mas ...., Aisyah nggak mungkin sanggup mas! Bagaimana bisa mas?"
"Kamu bisa, aku tahu kamu wanita yang kuat, Leon yang akan mengurus semuanya! Semua keperluan kalian. Demi baby Kia, Ay ....! Kamu pasti bisa!"
...***...
__ADS_1
Langkahku begitu berat meninggalkan ruangan itu, aku tidak menyangka jika di hari sidang ini adalah pertemuan terakhir kami sampai mas Alex keluar dari tempat ini.
"Nona ...., apa nona baik-baik saja?"
Leon terus saja menungguku, ia terlihat begitu khawatir melihat bagaimana caraku berjalan.
"Mas Leon ...., kenapa mas Alex bisa memikirkan hal itu mas ....?" tanyaku pada pria yang sudah menjadi orang kepercayaan suamiku itu, mas Leon seperti bayangan bagi suamiku.
"Ini mutlak keputusan dari tuan Alex, nona! Beliau mengkhawatirkan masa depan nona Kia nantinya, jadi saya berharap nona Aisyah bisa menerimanya dan melakukan seperti apa yang di minta oleh tuan Alex!"
Aku tidak tahu jika keputusan suamiku sejauh itu, mencintai dari jauh, aku begitu takut membayangkan saja.
PoV Aisyah berakhir
Aisyah sudah meninggalkan pengadilan, ia segera pulang. Bu Santi sudah menunggunya di rumah, ia juga tidak kalah penasaran dengan keputusan sidangnya.
"Bagaimana nak?" tanya bu Santi.
"Lima tahun penjara bu!"
"Yang sabar ya nduk ....!"
"Bu ...., mbak Dini pernah bilang kalau ada saudara suaminya yang tinggal di jawa tengah, bisa nggak bu kita minta alamatnya?"
"Kenapa kita ke jawa tengah nduk ...?"
Aisyah pun menceritakan semuanya tentang percakapannya dengan suaminya. Bu Santi bisa mengerti tentang pemikiran suami putrinya itu karena bu Santi sudah mengalaminya sendiri. Banyak orang yang membicarakan dan mencibir mereka karena salah satu dari keluarganya adalah seorang narapidana.
"Ibu akan memintanya!"
"Matur nuwun nggeh bu ...!"
Bersambung
...Cinta memang butuh pengorbanan, agar nanti saat kita hendak melepasnya kita ingat bagaimana cara kita untuk mendapatkannya...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰