
Ba'dha ashar mereka pun benar-benar pindah, setelah sebelumnya karyawannya mengantarkan mobil milik Gus Raka yang kemarin di bawa pulang oleh rombongan.
"Sudah sampai!" Gus Raka menepikan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana dengan cat tembok berwarna putih.
Asna menurunkan kaca mobilnya, menatap ke luar dan memperhatikan rumah itu. Terlihat masih baru.
"Benar ini rumah ka_, mas Raka?" Asna sengaja meralat panggilannya, sedikit merasa tidak adil dengan pria yang ada di depannya itu karena ia selalu memanggil dengan panggilan yang kurang layak, tapi apa daya hatinya belum bisa di ajak kompromi dengan baik. Kadang kala saat kebenciannya kembali hinggap bahkan ia merasa dirinya sendiri tidak mampu untuk mengendalikannya.
"Iya, ayo turunlah!" pria itu ternyata sudah bersiap-siap untuk turun Ia sudah membukakan pintu mobil dan mengambil barang-barang milik Asna yang ada di tempat duduk belakang, satu koper dan dua tas besar. Cukup sedikit bagi seorang wanita yang dulunya begitu ribet dengan penampilan.
Asna pun turun dan mengikuti langkah Gus Raka di belakang, tidak berniat untuk membantu Gus Raka yang terlihat kerepotan membawa barang-barang nya.
"Dek, tolong ambilkan kuncinya dong!" ucap Gus Raka saat berhenti di depan pintu, ia lupa mengambil dulu kuncinya sebelum membawa barang-barang itu, atau bisa jadi Gus Raka sengaja melakukannya untuk menggoda istrinya. Walaupun pernikahan awalnya tanpa cinta, tapi sejak ikrar suci yang di ucapkan oleh Gus Raka memberi tekat besar untuk membina rumah tangga yang baik dengan Asna, hingga mereka menua bersama.
Asna yang sedang asik mengamati sekitar itu sedikit terganggu. Ia menoleh dengan tatapan jengah pada suaminya.
"Di mana?" terlihat sekali suaranya begitu malas.
"Kayaknya di saku kemeja aku deh!" mata Gus Raka menunjuk pada saku kemeja warna putihnya.
Dia sengaja ya? Asna mudah sekali curiga. Sebenarnya memang jiwa detektifnya sudah ada sejak dulu, tapi trauma itu semakin membuatnya sering berprasangka berlebihan pada orang-orang terdekatnya.
Walaupun begitu, tetap saja Asna menuruti permintaan suaminya. Ia pun mendekat ke arah Gus Raka, dan merogoh saku kemeja suaminya itu.
Ini ya yang rasanya jatuh cinta, jantungku kayaknya tidak begitu aman, Gus Raka terus menatap Asna yang sibuk merogoh sakunya, tangan Asna yang menyentuh dadanya serasa seperti benar-benar menyentuh isi dari dada itu. Hingga ia penasaran dengan apa yang di rasakan Asna saat kontak fisik seperti ini dengannya.
"Gimana rasanya?" Asna menghentikan tangannya dan menatap Gus Raka. Ia tidak mengerti maksud pria itu saat menanyainya seperti itu.
"Maksudnya?"
"Kamu bisa nggak merasakan detak jantungku?" Gus Raka benar-benar ingin tahu apakah Asna juga merasakan hal yang sama, jika dulu Asna pernah menaruh hati padanya, apa mungkin rasa itu bisa hilang begitu saja. Pasti ada sisa rasa yang masih tertinggal walaupun hanya sedikit dan tugas Gus Raka adalah membuat sisa rasa itu kembali mekar di hati Asna dan menutup rasa traumanya.
"Apaan sih!" Asna segera menarik kembali tangannya setelah menemukan benda kecil itu.
"Aku serius dek, jantungku itu suka berdebar saat di dekat kamu!"
kenapa dia jadi suka sekali gombal seperti ini sih ...
Asna seolah tidak mempedulikan perkataan suaminya, walaupun ia juga merasa hal yang sama, tidak banyak karena tetap saja saat berada dekat dengan seorang pria bayangan kelam sering tiba-tiba muncul membuatnya enggan untuk mencoba dekat dengan siapapun termasuk papa atau adik-adiknya, sekarang tambah lagi satu pria dalam hidupnya, kenyataan itu sering kali membuat dadanya sesak,
Terserah lah ..., ia pun segera membuka pintu dengan kunci yang sudah ia dapat tanpa mempedulikan perkataan pria yang sudah sah menjadi suaminya itu dan memberi jalan agar Gus Raka masuk.
Hehhhh
Gus Raka hanya bisa menghela nafas dan masuk, ia tidak mau terlalu memaksakan kehendaknya pada Asna. Mungkin memang butuh waktu banyak untuk bisa mengembalikan Asna seperti yang dulu.
__ADS_1
"Aku tidur di mana?" tanya Asna lagi setelah mereka sudah masuk ke dalam rumah dan melihat ada dua kamar yang saling berhadapan. Rumah itu tidak terlalu besar, ada dua kamar, satu kamar mandi, dapur yang langsung terhubung dengan ruang keluarga. Walaupun tidak begitu besar tapi terlihat luas, selain karena belum terlalu banyak barang juga penataan ruangnya yang tidak terlalu banyak sekat pembatas, antara ruangan satu dengan ruangan lainnya saling terhubung dengan ruang keluarga.
"Di kamar kita! Yang ini kamarnya!" Gus Raka menunjuk ke salam satu kamar.
"Katanya tadi ada dua kamar, aku mau tidur di kamar lain! Aku tidak mau tidur dalam satu kamar sama mas Raka!"
"Baiklah terserah kamu, dek! Suka-suka kamu!" Gus Raka pun meletakkan koper milik Asna dan dua tas lainnya. "Aku mau ganti baju dulu!"
Gus Raka pun segera masuk ke kamar yang sebenarnya sudah di siapkan untuk mereka.
Sedangkan Asna memilih untuk pergi ke kamar yang ada di depannya. Ia begitu terkejut saat melihat kamar itu, kamar itu tidak ada tempat tidurnya, lebih tepatnya bukan lagi kamar tapi ruang kerja. Di beberapa sisi dindingnya ada rak buku yang belum terisi buku tapi ia yakin itu pasti akan menjadi tempat buku karena di bawahnya ada beberapa kardus berisi tumpukan buku dan hanya ada satu meja yang masih kosong juga beberapa kursi.
"Dia bilang ini kamar!?" Asna menatap kamar itu tidak percaya, bahkan tidak ada sesuatu yang bisa ia jadikan tempat tidur. Ia sudah lama tidak bekerja, ia juga tidak pernah menabung jadi walaupun sekarang ia ingin membeli sesuatu untuk kamar itu, jelas dia tidak bisa. Kalaupun ada tabungan tapi uangnya tidak cukup untuk membeli satu buah tempat tidur.
"Hahhhhh ...., apa boleh buat!" wajahnya tampak frustasi sekarang. Ia begitu kesal dan kembali keluar untuk menyusul Gus Raka.
"Kamu bilang kamarnya ada dua tapi_!" ucap Asna dengan suara keras.
Gus Raka yang baru saja mandi dan mengganti bajunya hanya meletakkan jarinya di depan bibirnya sendiri,
"Husttttt! Kalau masuk itu salam dulu dek!"
"Keburu kesal tadi!" Asna yang begitu kesal langsung duduk di atas tempat tidur yang begitu nyaman karena masih baru, Gus Raka baru membelinya kemarin, bahkan sepreinya pun juga masih baru.
"Assalamualaikum, dek!" akhirnya Gus Raka yang mengalah dan mengucapkan salam lebih dulu.
"Bagaimana tempat tidurnya? Nyaman nggak?"
"Kenapa di sebelah tidak ada tempat tidurnya?" bukanya menjawab pertanyaan Gus Raka, Asna malah tertarik untuk balik bertanya.
"Kan kita nggak perlu tempat tidur dua! Nanti kalau kita sudah punya anak baru deh kita beli tempat tidur baru buat anak-anak kita!"
"Siapa juga yang mau punya anak!?" Asna memejamkan matanya karena merasa kesal.
"Nanti kalau sudah waktunya kamu pasti juga mau!"
"Memang mas Raka yakin pernikahan kita akan bertahan lama? Aku sih enggak!"
Gus Raka tampak begitu tidak suka dengan ucapan Asna yang ini, ia pun segera berjalan mendekati Asna dan duduk di sampinya duduk.
"Dek, aku tahu pernikahan ini bukan atas dasar cinta adek sama mas! Tapi insyaallah mas akan jaga pernikahan ini sampai maut memisahkan, ikrar yang mas ucapkan saat ijab Qabul adalah ikrar suci, janji mas sama Allah dan bapak Asna. Jadi insyaallah hanya ada sekali seumur hidup!"
Asna tidak punya sanggahan atas apa yang di ucapkan oleh Gus Raka, ia tidak menyangka pria yang sudah menikahinya itu akan mengatakan hal itu. Dia jauh dari kata sempurna sedangkan pria itu begitu sempurna di matanya, tampan, pintar, baik, Sholeh, idaman bagi semua wanita.
Karena tidak mendapat balasan dari Asna, Gus Raka pun menoleh pada wanita itu dan ternyata Asna sudah memejamkan matanya.
__ADS_1
"Kenapa jam segini tidur?" gumamnya, bukan bermaksud bertanya pada Asna tapi ternyata wanita itu merespon ucapannya.
"Capek!"
Gus Raka tersenyum dan mengusap kepala Asna yang tertutup hijab, "Sudah mau gelap loh, tidurnya nanti aja ya setelah sholat!"
"Aku nggak sholat!"
"Tadi masih sholat?"
"Ribet banget sih, baru tadi nggak sholatnya!" Asna kesal karena terus di ajak bicara oleh suaminya.
"Ya sudah, tidurlah! Aku mau ke dapur dulu buat makanan!"
"Hmmm!"
Gus Raka hanya bisa menghela nafas, ia segera meninggalkan kamar dan mengecek persediaan bahan makanan yang ada di dalam lemari pendingin.
Karena persiapannya terlalu dadakan, ia tidak sempat belanja dulu, ia hanya meminta karyawannya untuk membeli semua isi rumah itu seadanya tapi lupa untuk meminta mengisi lemari pendingin dengan bahan makanan, jadi wajar jika rumah itu masih terlihat senggang dan tidak terlalu banyak perabotan, hanya ada perabotan inti saja, begitu juga dengan dapurnya.
"Hehhhh, hanya ada mie instan sama telur!" gumamnya, ia pun terpaksa membuat mie instan dan telur.
Hanya butuh waktu sepuluh menit, hingga ia bisa menyelesaikan memasaknya.
Saat ia kembali ke kamar, ia melihat Asna masih terlelap tidur.
"Dia masih tidur ternyata!"
Gus Raka pun memilih untuk mendekat dan mengusap kepala Asna dengan begitu lembut,
"Dek, bangun makan dulu yuk!"
Asna yang baru saja terlelap begitu malas untuk bangun, tapi perutnya juga bersuara minta di isi.
"Bentar, aku kumpulkan nyawa dulu!" Asna masih begitu malas untuk membuka matanya.
"Baiklah, aku tunggu di dapur ya!" Gus Raka pun meninggalkan Asna dan kembali lagi ke dapur, ia pun menyiapkan piring di atas meja sebelum Asna datang.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...