
Setelah pulang dari masjid, Raka langsung mencari benda pipih miliknya. Ia kembali ke kamar yang semalam ia tiduri.
"Di mana ya?" Raka langsung menuju ke meja kerjanya, ia mengambil benda pipih yang ternyata ia tinggalkan begitu saja di sana.
Ia menghubungi salah satu karyawannya,
"Assalamualaikum, Ridwan!"
"Waalaikum salam mas, apa ada masalah mas?" sangat jarang atau mungkin hampir tidak pernah Raka menghubungi karyawannya di pagi-pagi buta atau di luar jam kerja.
"Tidak ada apa apa, hanya saja kamu bisa kan ke sini pagi ini?"
"Bisa mas, nanti Ridwan akan datang!"
"Terimakasih ya!"
"Sama-sama mas!"
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Raka segera mengakhiri sambungan telponnya,
Melihat baterai ponselnya tinggal beberapa persen saja, Raka pun segera mencari charger dan melakukan pengisian baterai. Kali ini ia tidak berniat untuk membuat sarapan terlebih dahulu, ia segera bersiap dengan mengganti bajunya dengan outfit yang tampak lebih santai.
Tampak pria itu sudah mondar mandir di depan rumah padahal saat ini jarum jam masih menunjukkan angka enam, seharusnya masih dua jam lagi berangkat kerja.
Raka bahkan sudah melakukan panggilan ke dua kalinya pada Ridwan.
"Kenapa tidak juga datang?" terlihat Raka mulai resah. Ia bahkan tidak menunggu hingga ponselnya terisi penuh, ada hal yang membuatnya tidak sabar.
Hingga mobil yang ia tunggu akhirnya datang juga, dengan sedikit tertatih karena kakinya yang belum sembuh membuatnya kesulitan berjalan. Walaupun begitu dia sudah tidak memakai tongkat lagi, ia lebih suka terlihat baik-baik saja dari pada berdiri dengan tongkat dan mendapatkan tatapan iba dari orang-orang terdekatnya.
"Ya Allah mas Raka, biar saya saja yang menghampiri mas Raka!" Ridwan yang melihat Raka berjalan tertatih segera menghampirinya.
"Tidak pa pa, saya hanya ingin segera berangkat saja!"
__ADS_1
"Tapi mas, sepertinya toko belum buka. Hari ini kunci yang bawa Deni mas, katanya akan mampir dulu di percetakan!"
"Siapa bilang saya mau ke toko!?"
"Lalu?"
"Kita ke rumah orang tua Asna, kamu tahu kan rumahnya?"
Ridwan seketika tersenyum, ia merasa ada kemajuan pada atasannya itu.
"Iya mas, saya tahu!" Ridwan dengan cepat membukakan pintu untuk Raka. Ia benar-benar ikut senang melihat kemajuan yang di alami Raka.
Mobil pun segera melaju memecah sepinya jalanan di pagi hari, hanya ada beberapa mobil dan sepeda motor yang lalu lalang bersama mobilnya tidak seperti di jam-jam merangkak kerja. Jika di jam-jam berangkat kerja, jalanan akan padat dengan kendaraan.
Walaupun saat ini perutnya sudah terasa lapar karena semalam dia bahkan tidak makan malam, tapi ia enggan meminta Ridwan untuk menghentikan mobilnya sekedar mengisi perut di warung-warung kecil yang ada di pinggir jalan, walaupun tampak warung-warung itu menawarkan berbagai menu sarapan yang cukup menggoda tapi tidak bisa mengalahkan rasa ingin segera sampainya.
Tapi kemudian ia teringat pada pria yang saat ini duduk di sampingnya, tepat di bawah lampu lalu lintas yang menyala merah itu, Raka menoleh pada pria yang sibuk membuka botol minum yang sepertinya sengaja di bawa dari rumah,
"Mas Raka mau minum? Tapi maaf tadi terburu-buru jadi hanya sempat membawa satu botol saja!"
Raka tersenyum, ia tahu kenapa pria itu bisa sampai terburu-buru. Itu semua gara-gara dirinya,
Ridwan menghentikan minumnya, "Tidak pa pa mas, saya senang karena mas Raka mau menjemput mbak Asna!"
"Begitu ya? Aku pasti sangat terlihat buruk?"
"Tidak mas, selama saya mengenal mas Raka, saya bahkan tidak pernah melihat satupun keburukan yang mas Raka lakukan! Hanya saja saat ini keadaan mas Raka yang membuat mas Raka kadang melakukan sesuatu yang bahkan mas Raka tidak tahu itu benar atau salah!"
Raka tersenyum, ia merasa beruntung karena di kelilingi orang-orang baik di sekitarnya, "Terimakasih ya!"
Ridwan hanya tersenyum dan kembali melajukan mobilnya saat lampu lalu lintas berubah hijau.
"Apa kamu tidak lapar?"
Ridwan yang di tanya hanya kembali menoleh sebentar dan tersenyum.
"Kalau kamu lapar, sebaiknya kita sarapan dulu!"
__ADS_1
Ridwan tahu jika Raka terlihat sekali tidak sabar untuk sampai di rumah mertuanya,
"Nanti saja mas, kalau sampai di rumah mbak Asna pasti di kasih sarapan!" Ridwan bicara sambil tertawa, ia sengaja membubuhkan tawa agar terlihat seperti candaan walaupun memang ia begitu berharap sesampai di sana nanti ada sarapan yang menyambutnya.
"Apa aku tidak perlu membawa apa-apa?"
"Saya rasa kedatangan mas Raka saja sudah hal terbaik untuk mbak Asna!"
"Menurutmu begitu?"
"Iya, setahu saya mbak Asna begitu mencintai mas Raka!"
Raka tersenyum dan kembali fokus ke depan, walaupun ia tidak mengerti dengan perasaan dan hubungannya dengan Asna tapi ia merasakan hal yang membuatnya begitu senang saat membayangkan akan bertemu dengan Asna dan lagi dengan Shahia. Bayangan bayi mungil itu terus saja menari-nari di pelupuk matanya, senyum dan tawanya seakan tidak bisa hilang dari pandangannya.
Hingga akhirnya setelah menempuh perjalanan setengah jam mobil mereka sampai juga di depan rumah yang terlihat sederhana dengan halaman yang cukup luas. Rumah yang cukup jauh dari jalan raya membuatnya begitu nyaman dan tenang, jauh dari kebisingan mobil yang lalu lalang, hanya ada beberapa mobil pribadi yang lewat di jalan yang ada di depan rumah orang tua Asna itu pun bisa di hitung jari.
Abizar yang baru saja keluar dari rumah hendak berangkat sekolah segera berbalik dan berlari kembali ke dalam rumah, remaja itu begitu girang melihat kedatangan kakak iparnya.
"Ma .....!"
"Kak Asna .....!"
Wanita yang masih memakai celemek di dadanya itu segera keluar dari dapur saat putra bungsunya berlarian sambil teriak-teriak,
"Ada apa sih Bizar?"
"Iya, di dalam rumah teriak-teriak, ada apa?" Asna yang baru saja memandikan Shahia ikut keluar dan melihat adiknya itu. Aslan yang juga baru saja masuk ke kamar untuk mengambil tas buru-buru keluar kembali.
"Itu ma, mbak! Di depan ada mas Raka!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya ya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...