
Pagi ini terlihat lebih cerah dari pada biasanya, jika biasanya pagi mendung dan bahkan biasanya turun hujan, hari ini matahari bersinar cerah walaupun jalanan masih terlihat basah karena hujan semalam.
Aisyah sudah berdiri di dekat jendela sambil menikmati mentari yang mulai terbit ketika fajar menghilang berganti mentari pagi setelah selesai melaksanakan sholat subuh,
"Sayang ....., mas ke ruang kerja sebentar untuk mengecek berkas setelah itu kita jalan pagi ya!" ucap Alex yang baru saja melepas sarung dan baju kokonya.
"Iya mas, mataharinya cerah sekali, udaranya juga sedikit hangat!"
"Baiklah tunggu sebentar ya!" ucap Alex sambil mengusap perut Aisyah yang terlihat begitu menonjol dengan tubuh kecil Aisyah.
Alex pun segera pergi meninggalkan Aisyah, Aisyah kembali menikmati mentari pagi yang masih terlihat cahaya orange di ufuk timur, tapi rasa hangatnya sudah menyapu permukaan kulitnya.
"Aduh pengen buang air kecil!" gumam Aisyah sambil memegangi perutnya yang kadang memang berkontraksi, tapi kata dokter itu biasa jika sudah mendekati persalinan.
Aisyah pun segera berjalan ke kamar mandi karena seperti merasakan mau buang air kecil.
Memang semenjak usia kehamilannya delapan bulan, Aisyah kadar ke kamar mandinya semakin sering saja, bahkan di malam hari ia bisa sampai lima kali bolak balik ke kamar mandi hanya untuk buang air kecil. Untung saja ia punya suami yang siaga, jadi setiap ia bangun, suaminya selalu menemaninya.
Bahkan suaminya menunggunya hingga Aisyah tertidur kembali baru Alex akan tidur.
Pria arrogant itu sekarang sudah menjelma menjadi pria yang sangat siaga dan menyayangi keluarga.
Banyak hal yang sering kali membuat Aisyah merasa terkejut melihat perubahan suaminya itu, apalagi keinginannya untuk belajar agama juga sangat besar, yang awalnya ia sama sekali tidak mengenal huruf Hijaiyah sekarang bahkan bacaannya sudah lumayan bagi seorang pemula.
Ia hanya mau menjadi suami dan imam yang baik untuk keluarganya, itu adalah cita-cita terbesarnya, ia tidak mau kelak putra putrinya akan malu karena memiliki ayah seperti dirinya.
Ia tidak mau anak-anaknya akan mengalami hal yang sama seperti apa yang ia alami dulu di waktu kecil, ia ingin anaknya penuh dengan kebahagiaan dan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya.
Aisyah segera keluar kembali setelah menyelesaikan hajatnya.
Langkah Aisyah kembali terhenti di depan pintu kamar mandi, ia merasakan kontraksi perutnya semakin sering saja, bicaranya sehari hanya beberapa kali saja tapi sepagi ini ia merasakan perutnya berkontraksi sudah tiga kali semenjak bangun tidur.
“Duh kenapa berkontraksi nya semakin sering saja ya?!” gumam Aisyah sambil memegangi perutnya dan juga menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakitnya.
Setelah kontraksinya kembali hilang, Aisyah pun kembali ke luar kamar. Ia menghampiri suaminya sudah selesai dengan pekerjaannya.
“Mas …, sudah siap belum jalan-jalannya?" tanya Aisyah.
"kenapa buru-buru sekali sayang?
Kamu pengen banget ya jalan-jalannya?” tanya Alex sambil mengusap perut istrinya itu dan Aisyah pun menganggukkan kelapanya.
__ADS_1
"Baiklah ayo sayang ....!" ucap Alex sambil menggandeng tangan Aisyah melewati ruang tamu, terlihat nenek Widya baru saja dari luar dengan membawa sekantong plastik berisi berbagai macam sayur-sayuran.
"Nek dari mana?" tanya Alex.
"Itu nenek habis dari depan beli sayur!" ucap nenek Widya sambil mengangkat kantong plastiknya.
"Kenapa nggak nyuruh bibi sih nek?" tanya Alex begitu khawatir karena baru beberapa hari lalu nenek Widya harus di larikan ke rumah sakit karena jantungnya kambuh.
"Nggak pa pa, nenek kan juga pengen jalan-jalan, bosan di rumah terus!" ucap nenek Widya yang masih tidak mau kalah.
"Tapi kan nenek belum begitu sehat ...!" ucap Aisyah yang juga ikut khawatir.
"Kalau nenek di dalam rumah terus nenek malah nggak sehat-sehat! Trus kalian mau ke mana?" tanya nenek Widya.
"Aisyah ngajak jalan-jalan nek, pumpung cerah hari ini!" ucap Alex sambil terus mengusap perut Aisyah.
"Iya benar kalau sudah mendekati melahirkan harus sering-sering di ajak jalan-jalan kata tetangga di depan!"
"Emang nenek dulu nggak punya pengalaman hamil?! Nenek ini ada-ada aja!"
"Nenek kan hamilnya cuma satu kali dan lagi juga sudah sangat lama ...! Sudah sana kalian pergi keburu panas!"
"Iya nek ...., kami jalan-jalan dulu ya, assalamualaikum!"
Akhirnya Alex mengajaknya jalan-jalan keliling kompleks sambil sesekali menyapa tetangga yang juga sedang melakukan aktifitas paginya.
Sebenarnya beberapa kali Aisyah
merasakan perutnya berkontraksi tapi cuma sebentar sebentar, ia tidak mau membuat suaminya itu merasa khawatir. Ia hanya memegangi perut nya saat kontraksi itu datang lagi.
Kenapa semakin sering aja sih ...., batin Aisyah.
Kemarin-kemarin memang ia juga merasakan hal itu tapi tidak sesering ini.
Alex yang menyadari jika istrinya itu beberapa kali memegangi perutnya pun segera berhenti.
“Kenapa sayang, capek ya? Kita istirahat dulu ya!” ucap Alex dan Aisyah pun mengangguk.
“Iya mas ..!”
Mereka pun duduk di salah satu bangku yang ada di tepi jalan. Aisyah tampak kembali mengelus perutnya beberapa kali. Alex segera membukakan air minum yang sudah ia bawa dari rumah.
__ADS_1
"Minum dulu sayang ....!"
"Nggak usah mas, takut nanti kebelet kalau minum terus, mas aja yang minum!" ucap Aisya menolak botol minum itu.
"Baiklah ....!" Alex kembali menutup botolnya. Ia kemudian menatap istrinya lagi, tampak Aisyah mengusap punggungnya dan menghembuskan nafasnya beberapa kali.
“Kenapa sayang? Apa dia menendang?” tanya Alex sambil mengusap perut Aisyah.
“Nggak mas, cuma kontraksinya semakin sering aja ya mas, tapi mas Alex nggak usah khawatir, kata dokter ini wajar saat sudah mendekati
saat-saat melahirkan seperti ini!” ucap Aisyah agar suaminya itu tidak khawatir berlebihan, suaminya suka panik kalau khawatirnya berlebihan.
“Benar nggak pa pa? kamu sampek berkeringat seperti itu loh ..! Sakit banget ya ....?” tanya Alex lagi memastikan semuanya baik-baik saja.
“Nggak pa pa mas, ini juga sudah nggak kerasa lagi! Kontraksinya cuma sebentar sebentar dan tiba-tiba ngilang gitu aja!” ucap Aisyah mencoba membuat suasana sedikit santai.
"Nanti kalau ada apa-apa bilang ya!" ucap Alex lagi sambil terus mengelus perut besar Aisyah,
"Sayang putri nya ayah, jangan buat mama kamu kesakitan ya ...!" ucapnya sambil mengecup perut itu. Aisyah hanya tersenyum melihat bagaimana perlakuan suaminya itu padanya dan juga kandungannya.
Dulu ia sama sekali tidak pernah berpikir jika suaminya akan se sabar dan se pengertian ini, padahal kalau di lihat bagaimana sikapnya dulu pada Aisyah, pasti tidak ada yang mengira jika rumah tangga mereka akan sesempurna ini.
"Kenapa menangis sayang?" tanya Alex saat melihat air mata Aisyah sudah mulai menetes dan membasahi pipi istrinya itu.
"Terimakasih kasih ya mas, sudah mencintai Aisyah dengan begitu sempurna!"
"Tidak sayang, cintaku ini begitu sederhana tapi kasih sayang Allah yang begitu sempurna!" ucap Alex sambil mengusap air mata Aisyah, Aisyah pun segera memeluk istrinya itu.
"Kelak anak kita akan merasa bangga dengan ayahnya yang begitu hebat ini!"
"Semoga....!" ucap Alex dengan suara tertahan, ada beban berat yang saat ini memang sedang di pendamnya.
Bersambung
...Bukan cintaku yang sempurna, tapi kasih sayang-Nya yang menjadikan hubungan kita menjadi begitu sempurna dalam kesederhanaan...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰