Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part ( Mencari pelaku)


__ADS_3

Kedatangan Gus Raka disambut baik oleh Papa Nisa tapi penyambutan itu berbeda sekali dengan saat dulu sebelum Nisa menikah dengan leon. Hanya sebatas penyambutan terhadap tamu atau orang lain, mungkin karena papa Nisa mau menghormati perasaan putrinya saat ini.


Nisa dan mamanya sudah berada di dapur saat ini, setelah mengantarkan minuman dan camilan untuk Gus Raka dan sang papa.


Nisa sengaja mengajak mamanya untuk membuatkan masakan kesukaannya, memang salah satu alasan Nisa ke rumah orang tuanya ingin memakan semur jamur buatan sang mama.


"Raka baik kan sama kamu?" tanya mama di sela memasaknya.


"Baik ma!"


"Tapi raut wajah kamu mengatakan hal yang lainnya, ada apa? Cerita sama mama!"


Nisa nggak mungkin menceritakan semuanya sama mama, biarkan ini menjadi rahasia Nisa saja, sampai Nisa benar-benar yakin barulah Nisa akan cerita.


"Nggak pa pa ma, itu cuma perasaan Mama saja, mungkin Nisa sedang capek kan abis kerja trus periksa kehamilan lanjut ke sini!"


"Beneran kan? Mama benar-benar khawatir sama kamu!"


"Benar ma!" Nisa tersenyum agar semuanya baik-baik saja.


Di ruang tamu, Gus Raka dan papanya sedang membicarakan mengenai beberapa hal yang sering di bahas saat dulu mereka bertemu tapi sepertinya Gus Raka lebih banyak diam kali ini hal itu membuat papa Nisa prnaraasan alasan Gus Raka berhenti mengajar bahkan di pesantren tempatnya tumbuh.


"Kata Abi kamu, kamu melepaskan tanggung jawab kamu untuk mengajar di pesantren ya? Kenapa apa karena Nisa?"


"Sungguh bukan karena Nisa, tapi saya merasa belum siap saja menerima amanah itu, paman!"


"Lohhhh kok bisa, kamu itu mengajar bukan hanya satu atau dua tahun loh, kata Abi kamu, kamu itu sudah mulai mengajar semenjak lulus MAN loh. Kok baru berpikiran belum siap sekarang?" papa Nisa menatap curiga pad Gus Raka.


"Ada beberapa hal yang tidak bisa saya jelaskan pada saat ini, biarkan waktu yang akan menjawab semuanya dan pada saat itu tiba, insyaallah semua orang akan bisa memakluminya!"


"Baiklah! Saya akan menunggu saat itu tiba dan semoga apa yang kamu katakan ini benar adanya!"


"Insyaallah!"


"Ya sudah, minumlah!"


"Terimakasih, paman!"


Gus Raka pun mengambil gelas yang sudah berisi minuman dingin, udara panas di luar membuatnya kehausan. akhirnya ia menghabiskan minumannya dalam beberapa teguk saja, ia mengembalikan gelas kosong itu di atas meja.


"Apakah nak Raka juga mau menginap di sini?" pertanyaan dari papa Nisa membuat Gus Raka tersadar Ia segera menggelengkan kepalanya


"Tidak Paman! Raka akan pulang dan menjaga rumah Nisa di sana, lagi pula di sini sudah ada Papa dan Mama Nisa, insyaallah aman! Tapi maafkan jika Raka meminta orang untuk menjaga rumah ini!"


"Menjaga_, maksudnya?"


"Sungguh Raka masih trauma karena Raka juga tahu ada bahaya yang masih mengintai!"

__ADS_1


"Bahaya?"


"Iya paman, maaf jika membuat paman tidak nyaman, saya juga titip Nisa untuk beberapa hari di sini jangan perbolehkan Nisa pergi dari rumah untuk bekerja atau atau pulang nanti saya yang akan meminta izin pada atasannya!"


"Baiklah, sepertinya situasinya sedang tidak baik-baik saja!" papa Nisa tampak begitu khawatir. Ia tahu orang yang ada di depannya pasti mengetahui segala sesuatunya,


"Apakah hal ini begitu bahaya?"


"Cukup berbahaya ya karena orang yang sedang mengintai adalah orang-orang yang tidak pernah menggunakan kan cara yang benar untuk menjatuhkan lawannya!"


"Baiklah aku akan menurutimu untuk kali ini!"


"Terima kasih atas pengertian paman!"


Setelah mengatakan hal itu Gus Raka pun segera berpamitan, selama tiga hari ini dia akan memanfaatkan waktunya sebaik mungkin.


Ia harus mengintai orang rumah yang yang terlibat dalam konspirasi atas penyerangan nya pada dirinya dan dan saudara nya.


Saat mendengar suara mobil, Nisa pun segera ke ruang tamu. Ia tidak lagi mendapati Gus Raka di sana, terlihat saat ini wajahnya kecewa.


"Mas Raka _!"


"Dia sudah pulang!" jawab papanya saat hendak masuk.


"Kok nggak pamit sama Nisa?"


'Kok gitu? Jadi mas Raka nggak ikut nginep di sini?"


Papa Nisa mengerutkan keningnya, "Kamu kok aneh?!"


"Aneh?"


"Iya, kamu dulu anti banget sama Raka, sekarang baru aja di tinggal sebentar sudah bingung nyariin!"


"Apaan sih pa!" Nisa segera berlalu meninggalkan sang papa, ia mau papanya sampai curiga.


Papa Nisa hanya menggelengkan kepalanya, walaupun dia juga merasakan ada yang aneh pada pria kembaran menantunya itu.


***


Setelah kembali dari rumah orang tua Nisa, Gus Raka langsung pulang ke rumah.


Ia harus menyapa satu per satu orang yang ada dalam rumah itu. Ia harus mencari kesamaan suara dalam rekaman yang ia dapat dengan orang yang ada di rumahnya.


Di rumah itu tidak banyak orang hanya ada beberapa asisten ramah tangah, satu sopir, seharusnya ada dua tapi Adi sudah tidak pernah kembali semenjak kejadian itu. Ada satpam dua, bergantian sifat dan beberapa penjaga.


Setelah mandi dan berganti baju, Gus Raka sengaja menghabiskan waktunya di ruang keluarga. Sambil mengerjakan sesuatu, ia sesekali memanggil asisten rumah tangga untuk membuatkan sesuatu atau mengambilkan sesuatu, sedikit mengajaknya ngobrol.

__ADS_1


Lalu saat sudah menemui asisten rumah tangga yang hanya berjumlah tiga, Gus Raka keluar. Sengaja ingin mengobrol dengan para penjaga, menanyakan ini itu, menanyakan keluarga, sudah berapa lama bekerja dengan Leon dan juga rumah.


Tanpa di panggil ternyata satpam yang sedang berjaga pun ikut nimbrung, obrolan mereka semakin asik hingga tanpa terasa sudah waktunya sholat magrib.


"Ya sudah, saya sholat dulu ya, kalian yang muslim juga segeralah sholat!"


"Baik mas Raka!"


Gus Raka pun segera masuk ke dalam rumah, ia menuju ke tempat persembunyiannya.


Rumah bawah, yang tidak sembarang orang tahu seluk belum tempat itu. Ia bahkan melarang siapapun membersihkan tempat itu kalau dia tidak ada. Ia juga selalu mengunci tempat yang selama ini di jadikan tempat Gus Raka.


Memang benar Gus Raka melaksanakan sholat magrib dan di lanjut dengan membaca Al Qur'an. Setelah tiba waktu sholat isya' Gus Raka pun segera mengakhiri bacanya Al Qur'an nya dan lanjut sholat isya'.


Seperti tidak mau membuang waktu.. Setelah selesai berdoa, tanpa melepas sarung dan pecinya Gus Raka segera duduk di depan laptop, mengambil card yang berisi rekaman percakapannya dengan orang-orang yang berada di rumah itu. Ia mencocokkan suara-suara itu dengan suara yang ia dapat dari ruangan big bos extensio.


"Aku dapat!" senyumnya mengembang, setia dapat menemukan suara laki-laki yang sam persis dengan suara rekaman sebelumnya.


"Tapi yang perempuan, kenapa tidak ada?"


Ternyata orang yang menjadi mata-mata adalah tukang bersih-bersih kolam yang ada di rumah itu, dia juga merangkap mencuci mobil.


Bahkan Gus Raka sudah mengantongi namanya, Nanang.


Tiba-tiba ponselnya berdering membuat aktifitasnya terhenti. Ia segera meraih benda pipih yang ada di samping laptopnya itu. Setelah tahu siapa yang melakukan panggilan, Gus Raka dengan cepat menempelkan benda pipih itu ke daun telinganya.


"Bagaimana? Kenapa lama sekali?" suara wanita di seberang sana.


"Saya sudah menemukannya, tinggal satu lagi! Yang perempuan saya masih belum menemukannya, mungkin hari ini ada yang ijin!"


"Baiklah, aku tunggu kabar baiknya! Bukti-bukti yang kamu kirim sudah aku terima, tinggal selangkah lagi!"


"Baiklah saya mengerti!"


Gus Raka mematikan sambungan telponnya, ia meletakkan benda pipih nya di atas meja dan menyandarkan. punggungnya pada sofa yang ada di belakangnya karena posisi Gus Raka saat ini sedang duduk di lantai Anatar sofa dan meja yang menjadi tempat Gus Raka meletakkan laptop nya.


Ia mengusap rambutnya hingga kopyah yang melekat di kepalanya terlepas.


"Tinggal selangkah lagi, kuatkan aku ya Allah!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2