Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part ( PoV Nisa 1)


__ADS_3

...Jangan berlebihan dalam mencintai sehingga menjadi keterikatan, jangan pula berlebihan dalam membenci sehingga membawa kebinasaan. – Umar bin Khattab...


...🌺Selamat membaca🌺...


Kami sudah sampai di bandar udara Surabaya, seorang sopir sudah menunggu kami di tempat tunggu. mungkin itu salah satu anak buah mas Leon, memang tidak bisa di pungkiri, mas Leon cukup keren menurutku di beberapa hal. Tapi dia juga bisa terbilang lucu di beberapa hal.


"Kita ke rumah kamu atau ke rumah aku?" pertanyaan mas Leon menyadarkan aku. Aku menoleh dan tersenyum, sejatinya aku masih bingung. Sekarang jelas kita punya dua tujuan, tapi akan lebih baik kalau aku memilih mengikuti langkah suamiku selagi itu baik untuk hubungan kami.


"Terserah mas Leon saja!" aku juga penasaran dengan rumah mas Leon, sejauh ini aku belum pernah melihat rumahnya, aku hanya pernah datang ke rumah pak Alex saja dan pasti itu bukan rumah mas Leon.


"Sebenarnya, aku butuh ganti baju, kalau kamu tidak keberatan bagaimana kalau kita ke rumahku dulu!"


"Nisa nggak mungkin keberatan mas, asal sama mas Leon!"


"Baiklah, kalau begitu biar aku yang bilang sama papa!"


Aku menunggunya saat mas Leon sedang menghubungi seseorang, aku tahu itu pasti papa yang sedang di hubungi, tutur kata mas Leon begitu hormat. Entah ada stoknya lagi nggak ya pria yang seperti ini. Aku bisa melihat sikap yang berbeda pada orang yang berbeda, baru saja ia bersikap begitu tegas dengan anak buahnya dan saat bersamaku dia begitu lembut, saat bicara dengan papa terlihat betapa dia menghormati pria yang sudah membesarkan aku itu.


"Sudah beres, papa ngijinin kita, papa juga bilang akan ngomong sama mama!" aku kembali tersadar dari lamunanku, mas Leon sudah selesai bicara sama papa,


"Masuklah!" mas Leon membukakan pintu mobil untukku.


"Terimakasih mas!" aku segera masuk dan menggeser dudukku agar mas Leon bisa duduk di sampingku.


Setelah memastikan kami masuk, sopir pun segera melajukan mobil yang kami tumpangi.


Arahnya berlawanan dengan rumah papa dan mama, aku jarang melewati daerah ini, walaupun sebenarnya tidak terlalu jauh karena antara rumah sakit dan rumah hanya satu arah dan aku jarang pergi ke tempat-tempat lain kalau tidak bersama kakak-kakak ku.


Hingga kami sampai juga di sebuah rumah yang cukup jauh dari rumah lainnya, rumah minimalis dan tidak terlalu besar, hanya halamannya saja yang cukup luas.


"Ini rumah mas Leon?" tanyaku, aku sudah penasaran.


"Iya, maaf kecil, nanti insyaallah akan aku perbesar jika kita tinggal di sini!"


"Nggak perlu mas, segini aja juga sudah bagus!"


"Kamu yakin?"


"Hmm!" aku mengangyukkan kepalaku dengan pasti, sopir sudah turun dan membukakan pintu dari luar.


Mas leon turun lebih dulu, tangannya tiba-tiba terulur membantuku untuk keluar, aku tersenyum. Rasanya sepeti ratu saat bersama dengan mas Leon.


"Kamu masuklah, aku akan bicara sebentar dengan dia!" mas Leon menunjuk pria berjas yang menjadi sopir kami, mungkin memangsa sebenarnya tugasnya bukan sopir kalau di lihat dari penampilannya yang begitu rapi pasti dia salah satu anak buah mas Leon.

__ADS_1


"Ini kuncinya!" mas Leon mengeluarkan sebuah kartu kunci untuk rumahnya, rumah itu memang kecil tapi kuncinya bahkan digital, sepertinya memang mas Leon sengaja mendesain rumah itu kecil karena hanya di huni satu orang saja.


Aku pun mengambil kartu itu dan berlalu meninggalkan mereka, ternyata koper kami sudah sampai lebih dulu di depan pintu, pria berjas itu lebih cekatan dari yang aku pikir, kalau bosnya saja seperti mas Leon, pasti anak buahnya juga bukan orang yang sembarangan.


Aku tidak segera masuk, netra ini begitu tertarik untuk melihat apa yang di lakukan mas Leon dengan orang itu, mereka terlihat sedang mengobrol begitu serius. Sepertinya ada yang penting yang sedang mereka bicarakan.


Setelah pria itu kembali masuk ke dalam mobil, aku segera berbalik dan memasukkan kartu ke lubang kunci.


"Bisa?"


Pertanyaan mas Leon berhasil membuatku menghentikan kegiatanku, bukan karena tidak bisa, tapi entah apa karena aku gugup hingga memasukkan saja begitu susahnya.


"Biar aku saja!" mas Leon mengambil kartu itu dan memasukkannya.


Tit


Suara itu menandakan kalau pintu sudah bisa di buka, tangan kekar mas Leon segera di mendorong pintu yang ada di depanku,


"Masuklah!" ucapnya saat pintu sudah terbuka.


"Assalamualaikum!" salam pertamaku saat memasuki rumah itu, mas Leon mengikutiku dari belakang dengan menarik dua koper di tangannya, dia melarangku untuk membantunya.


Wah, aku benar-benar di beri suguhan interior rumah yang menly. Rumah yang di dominasi dengan warna abu-abu muda dan putih, sofa dan gorden berwarna abu-abu di padukan dengan tembok berwarna putih, tidak ada warna lainnya. Bahkan saat aku mengintip dapur, hanya ada warna abu-abu, putih dan hitam, peralatan makannya pun demikian. Sepertinya mas Leon begitu memperhatikan rumahnya, bahkan hal kecil pun di fikirkan olehnya. Begitu detail setiap sudutnya.


"Iya, kalau kamu tidak suka, kamu boleh merubahnya sesukamu!" ucapnya sambil menyodorkan satu gelas air untukku. Aku pun segera duduk di kursi berbetuk lingkaran seperti kursi yang ada di kafe berwarna abu-abu pada bagian atasnya dan kaki kursinya berwarna putih.


Aku menggelengkan kepalaku cepat, "Enggak mas, aku suka ini! Mungkin nanti saat kita sudah punya anak kita bisa merubahnya!"


Mas Leon terlihat terkejut saat aku membahas soal anak,


"Anak ya?"


"Hmmm! Kalau anak kita laki-laki, kita tidak perlu merubahnya, tapi kalau kita punya anak perempuan mungkin butuh sentuhan warna cerah di beberapa bagian!" ahhh, aku rasa kali ini khayalanku terlalu tinggi. Untuk membuat mas Leon tidak kabur-kaburan saat menyentuhku saja masih jadi pr, aku sudah membicarakan soal anak.


"Minumlah!" mas Leon seperti sengaja mengalihkan pembicaraan. "Aku akan memasukkan kopernya ke dalam kamar!"


Benarkan! mas Leon meninggalkan aku dan berjalan menuju ke sebuah kamar yang ada di lantai dua, sepetinya lantai dua hanya ada satu ruangan yaitu kamar utama.


Aku segera meneguk habis minumanku dan mengikuti mas Leon dengan sedikit berlari, tapi tiba-tiba mas Leon menghentikan langkahnya, aku yang tidak siap dengan hal itu akhirnya menabraknya.


"Aughhh!" keningku membentur punggungnya yang keras.


Mas Leon sudah pasti langsung membalik badannya, dia meraih tanganku yang menutupi kening, walaupun tertutup hijab tetap saja sakit.

__ADS_1


"Mana yang sakit?"


"Nggak pa pa mas, cuma kebentur dikit!"


"Sudah ku bilang, jangan suka lari-larian! Kamu seperti anak kecil saja!" mas Leon mengusap keningku,


"Sekarang sudah tidak pa pa?"


"Tidak pa pa, sudah lebih baik!"


Mas Leon kembali berbalik dan berjalan menaiki tangga yang tinggal dua anak tangga lagi, ada sofa, tv dan meja kecil di depan sebuah kamar. Walaupun di bawah aku sudah melihat tv, mungkin di sini sengaja di buat untuk jaga-jaga jika malas untuk turun. Dan warnanya masih sama, sofa abu-abu dengan beberapa interior berwarna putih dan abu-abu.


Mas Leon membuka pintu kamar itu, aku dengan cepat menerobos tangannya, rasanya tidak sabar ingin melihat isi kamar itu.


Sebuah tempat tidur king size menjadi benda utama di kamar itu, walaupun tadi di luar aku sudah melihat tv, ternyata di dalam kamar ini juga ada tv yang ukurannya lebih besar di banding yang ada di luar tadi. Kaca besar ada di salah satu di dinding kamar itu, kaca itu langsung menghadap keluar, aku langsung tertarik untuk melihatnya. Selain berfungsi sebagai jendela, ternyata kaca ini juga berfungsi sebagai pintu yang bisa di geser, saat keluar ada balkon yang di lengkapi dengan kursi berbahan rotan berwarna putih.


Kebetulan matahari senja menghiasi langit, jadi aku bisa menikmatinya dari tempat ini. di bawah ada hamparan kota Surabaya.


"Cantik banget mas di sini!"


Mas Leon sudah berdiri dengan menyandarkan salah satu bahunya di pintu kaca yang aku geser tadi, entah sejak kapan dia menatapku.


Mas Leon tersenyum, "Masih cantik yang aku tatap saat ini!"


Entah sadar atau tidak, mas Leon baru saja memujiku. Tapi aku benar-benar suka.


Mas Leon berjalan mendekatiku dan berdiri di sampingku, sepertinya aku harus berinisiatif lebih dulu.


Aku mendekatkan tubuhku agar lebih dekat dengan mas Leon, saat tubu. kami sudah menempel, segera ku lingkarkan tangan ini di pinggang mas Leon. Aku tahu mas Leon sedang terkejut, sebenarnya aku pun demikian. Jangan di tanya bagaimana jantungku saat ini, rasanya seperti melompat-lompat hendak keluar.


...Wanita akan menjadi ratu jika berada di samping pria yang tepat....


Wanita bukanlah pakaian yang bisa kamu kenakan dan kamu tanggalkan sesuka hati. Wanita itu terhormat dan memiliki haknya. – Umar bin Khattab


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2