
Satu hari menjelang hari pernikahan
Aisyah begitu sibuk menyiapkan banyak hal untuk pernikahan Leon, ia seperti sedang mengurus pernikahan adiknya sendiri. Ibu dan adiknya juga sudah datang ke surabaya untuk menghadiri pernikahan Leon dan Nisa.
Aisyah duduk di karpet bulu yang ada di ruang keluarga dan di depannya begitu banyak barang yang akan di jadikan barang hantaran pas acara pernikahan.
"Sibuk sekali sayang?" tanya pria dengan kumis tipis yang menghiasi wajahnya, ia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
"Mas ...., jangan ganggu dong!"
"Kamu kembali ke Surabaya langsung sibuk aja, jadi nggak kepikiran buat bikin adik baru kan untuk Arsy!"
Yang benar saja mas Alex ini, Aisyah membalik badan dan menatap suaminya. Dan pria itu tersenyum dengan penuh kemenangan karena telah berhasil mengalihkan perhatian istrinya dari benda-benda yang ada di depannya.
"Mas Alex sengaja ya?"
"Memang pernah aku memelukmu tanpa sengaja?" tetap dengan tersenyum.
"Bukan itu!?" Aisyah kali ini benar-benar gemas dengan suaminya.
"Kamu cantik kalau seperti itu!"
Perkataan macam apa itu, mau buat aku terbang saat ini, Aisyah menghela nafas. Ia harus cari cara agar suaminya tidak terus menggodanya. Masih terlalu banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan dan dia tidak percaya untuk menyerahkan semua pekerjaannya pada orang lagi.
Kalau ngomong jujur percuma,
"Mas, mas Leon pasti sangat membutuhkan bantuan kamu sekarang, mungkin jasnya juga belum di siapkan, atau bajunya seperti kemarin!"
"Ada banyak orang sayang di sini!"
Tuhhh tahu di sini banyak orang, bisa-bisanya main peluk, Aisyah tersenyum dan kembali mencoba mencari alasan yang masuk akal.
"Mas, bukannya hari ini Arsy minta ketemu sama mas Leon, kasihan mas kalau nggak ketemu! Besok pasti mas Leon akan sangat sibuk!"
"Baiklah, hari ini aku menyerah!" tapi tiba-tiba Alex kembali mendekatkan bibirnya ke arah daun telinga Aisyah yang tertutup jilbab instan berwarna abu-abu muda, "Tapi setelah acara ini berakhir, aku akan memakanmu!" bisiknya.
Apa? Di makan?
Aisyah hanya bisa tersenyum dan Alex pun segera meninggalkan istrinya itu. Setelah berada dalam radiasi lima meter dari sang istri ia akan kembali cool dengan gayanya itu. Berbeda sekali saat dekat dengan istrinya, saat berada di dekat istrinya ia akan menjadi pria yang manja dan sangat hangat.
...🌺🌺🌺...
Alex bersama Arsy sudah berada di rumah leon untuk melihat persiapan Leon.
"Om Lee!" sapa Arsy saat sudah melihat pria itu sedang sibuk untuk menyiapkan baju yang akan di kenakan malam ini.
Di depannya sudah ada beberapa baju adat Jawa.
Leon menghentikan kegiatannya saat mendengar panggilan dari Arsy. Ia tersenyum dan menyambut kedatangan keponakannya itu.
"Arsy datang sendiri?" Leon tidak menemukan siapapun bersama Arsy.
Arsy menggelengkan kepalanya cepat lalu kembali menoleh ke belakang.
"Tadi Arsy sama papa!"
"Ohh!" Leon mengusap kepala Arsy dengan lembut, "Oh iya Arsy, om Leon punya baju yang bisa Arsy kenakan untuk malam ini!"
Mendengar ucapan Leon, Arsy pun tersenyum lebar dan langsung menatap baju-baju yang baru saja di tata rapi oleh Leon. "Arsy mau lihat!"
"Baiklah, ayo!" Leon menarik tangan Arsy agar sedikit mendekat dan memang benar sudah begitu banyak baju.
"Ini punya siapa saja, om?"
"Buat Arsy, nenek, mama, papa, kak Kia, om Nino!"
"Yeeee, semua pakek baju bagus!" Arsy begitu menggemaskan saat sedang tersenyum senang seperti itu. Tidak lama, terlihat Alex mendekati mereka.
"Mas!" Leon sudah berdiri tegak menatap Alex, ia masih kaku jika harus bersikap biasa. Ia seperti bersiap untuk mendapatkan perintah dari Alex.
"Bagaimana persiapannya?"
"Insyaallah sudah semua! Apa mbak Aisyah nggak ikut sekalian, mas?"
__ADS_1
"Nanti menyusul dengan yang lainnya!"
...🌺🌺🌺...
Di kediaman Nisa sedang berlangsung acara paes atau ngerik dan di lanjut dengan dodol dawet.
Kini Nisa sudah berada di dalam kamarnya, seorang perias sudah siap untuk menghilangkan rambut halus yang ada wajah Nisa. Hal ini di lakukan juga oleh mama Nisa dan beberapa kerabat lainnya.
"Jangan banyak-banyak ya buk, ngeriknya! Nisa suka yang alami saja!"
"Iya nduk, cuma buat syarat saja!"
Di rumah Nisa sudah sibuk semenjak satu Minggu yang lalu, banyak sekali tetangga yang berdatangan untuk membantu.
Acara ini di maksudkan agar wajah calon mempelai perempuan nampak bersih dan wajahnya jadi bercahaya.
Setelahnya, ada acara dodol dawet atau menjual dawet. Nisa sudah di persilahkan untuk kembali keluar dari kamarnya dan menyaksikan acara selanjutnya.
Mama Nisa sudah siap dengan kebaya dan juga gerobak dawetnya, papa Nisa juga sudah siap dengan payung untuk memayungi sang istri.
Di rumah Nisa sudah begitu banyak tamu yang datang, tapi saat ini kebanyakan masih kerabat dekat saja dan tetangga-tetangga dekat rumah.
Untuk para rekan kerja baik rekan kerja papa dan Nisa mereka akan datang pada saat resepsi.
Para kerabat terlihat mulai membeli dawet mama Nisa dengan menggunakan pecahan genting sebagai uangnya.
Prosesi ini melambangkan agar dalam upacara pernikahan yang akan dilangsungkan, dikunjungi banyak tamu dan dawet pun laris terjual.
Kali ini Nisa hanya menyaksikannya saja dan duduk diam,
"Yang bentar lagi nikah, udah nggak sabar banget ya!" dokter Reza tiba-tiba datang dan menggoda Nisa.
"Kak Reza! Sejak kapan kakak di sini? Nggak di rumah sakit?" Nisa memberondongnya dengan begitu banyak pertanyaan.
"Sebenarnya mau, tapi tadi tiba-tiba ada yang meminta kakak untuk memanggilkan Nisa, trus gimana dong!?" dokter Reza bergaya cuek seperti biasa.
"Siapa kak, mas Leon!"
"Sayangnya bukan, ada yang lain!"
"Gus Raka!"
Nisa mengerutkan keningnya, "Ada masalah apa?"
"Nggak tahu, temui gih!"
"Di mana?"
"Sebenarnya tadi mau menemui papa, tapi karena papa sibuk jadi ya kamu yang di panggil!"
"Kak, aku nanyanya apa, jawabnya apa sih kak!"
Dokter Reza tersenyum, mungkin saking semangatnya hingga ia tidak fokus dengan pertanyaan Nisa, "Di depan!"
"Nggak pa pa Nisa temui mas Raka?"
"Kan ada kakak!"
Setelah mendengarkan ucapan kakaknya, Nisa jadi lega. Mereka pun keluar dari keramaian orang-orang dan tepat di depan pagar rumahnya Gus Raka sudah berdiri di sana. Bukannya benar-benar sepi tapi setidaknya percakapan mereka tidak akan terganggu dengan pengeras suara.
Saat melihat kedatangan Nisa, Gus Raka langsung berdiri dari duduknya. Ia tersenyum, "Assalamualaikum dek Nisa!"
"Waalaikum salam mas Raka!"
"Maaf jika saya menggangu dek Nisa!"
"Insyaallah tidak!"
"Sebenarnya saya ke sini lebih awal karena saya mungkin tidak bisa hadir di acara resepsi pernikahan dek Nisa sama mas Leon!"
"Ada apa mas?" walaupun Nisa maklum mungkin memang berat berada di acara pernikahan mereka, tetap saja Nisa ingin tahu alasan jelasnya. Setidaknya saat di tanya oleh Leon nanti ia bisa menjawabnya.
"Saya harus pergi ke luar kota karena adiknya mas sedang mengalami musibah!"
__ADS_1
"Innalilahi wa innailaihi roji'un, ada apa mas?"
"Adiknya mas baru saja mengalami kecelakaan dan harus di rawat di rumah sakit!"
"Nisa doakan semoga adiknya mas Raka di beri kesembuhan ya mas, salam untuk adiknya mas Raka!"
Gus Raka menganggukkan kepalanya, lalu ia teringat dengan sesuatu yang ia bawa. Sebuah kotak besar berbungkus yang ia letakkan di kursi plastik yang ada di sampingnya. Ia pun segera mengambilnya dan mengulurkannya pada Nisa.
"Ini sedikit ucapan selamat untuk pernikahan kalian, semoga bermanfaat!"
"Mas Raka nggak perlu repot seperti ini seharusnya!"
"Tidak ada yang di repotkan, sampaikan maaf saya sama mas Leon juga ya, insyaallah jika ada kesempatan lagi saya dan masa Leon akan di pertemukan kembali!"
"Pasti!"
"Saya harus pergi sekarang, terimakasih atas waktu yang dek Nisa berikan, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Gus Raka pun benar-benar pergi, ia juga terlebih dulu bersalaman dengan dokter Reza sebelum menaiki motornya dan segera pergi meninggalkan mereka.
"Kasihan sekali Gus Raka!" dokter Reza menggelengkan kepalanya pelan sambil terus menatap kepergian Gus Raka.
"Kakak, ih nggak gitu!" protes Nisa karena tidak terlalu suka dengan ungkapan sang kakak.
"Iya Bu nyai!"
"Nisa serius!" Nisa pun langsung meninggalkan sang kakak karena terlalu kesal.
"Kok marah sih!"
...🌺🌺🌺...
Matahari pun sudah menenggelamkan diri di ufuk barat, kini berganti dengan dinginnya malam. Rangkaian acara selanjutnya sudah akan di mulai. persis ba'dha isya' keluarga Leon bersiap-siap untuk menuju ke kediaman Nisa.
Malam ini adalah malam Midodareni sebelum besok menggelar acara ijab Qabul.
Nisa juga sudah begitu cantik dengan busana polosnya tanpa motif, sepertinya sinar bulan juga sedang mendukung acara malam ini. Tapi sayangnya di acara ini Leon tidak bisa melihat Nisa karena Nisa hanya akan ada di dalam kamarnya dan di dampingi oleh kerabatnya.
"Mbak, mas Leon nya sudah datang ya?" Di dalam kamar itu saat ini hanya ada Nisa dan kakak perempuannya.
"Sudah katanya! Mau lihat?"
"Nggak ah mbak, besok saja!"
Nisa tahu jika besok adalah hari ijab Qabul mereka, sudah pasti mereka akan bertemu.
Memang benar, di luar Leon dan keluarganya datang dengan membawa seserahan yang sudah di siapkan oleh Aisyah tadi siang.
Pada malam midodareni ini, keluarga besar calon pengantin laki-laki berkunjung ke rumah calon pengantin perempuan untuk mempererat tali silaturahmi.
Kedatangan mereka langsung di sambut oleh keluarga Nisa. kini Leon sudah memakai pakaian adat Jawa lengkap persis seperti kesatria yaitu baju surjan dan blangkon.
( Surjan ; busana atas resmi adat Jawa untuk pria.
Blangkon ; tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa)
Sumber ; https://www.google.com/amp/s/www.popbela.com/relationship/married/amp/windari-subangkit/pengertian-dan-susunan-acara-midodareni
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...