
Mereka pun berjalan meninggalkan taman, dengan masih sama. Asna lebih nyaman berjalan di belakang Gus Raka dari pada berjalan di sampingnya, tangannya sesekali menutupi wajahnya saat melihat orang menatapnya, tatapan mereka seperti sedang mengulitinya.
"Kita makan dulu?" Gus Raka yang tiba-tiba berhenti berhasil membuat Asna terkejut di buatnya.
"Aku tidak mau!"
"Baiklah, tapi jangan menolakku, karena aku akan mengantarmu sekarang!"
"Kenapa?" pertanyaan sengit seketika muncul dari bibir Asna.
"Kamu lupa!" Gus Raka menghentikan ucapannya dan berbalik menatap Asna, "Kita besok akan menikah, menurutmu baik jika aku tiba-tiba datang membawa penghulu tanpa meminta persetujuan orang tua kamu!"
Jadi dia benar-benar serius ...., Asna menceburkan bibirnya lalu berjalan mendahului Gus Raka karena ia merasa tidak nyaman dengan tatapan orang-orang yang ada di sekitar.
Ia segera membuka pintu mobil dan duduk di kursi yang ada di samping kemudi.
Gus Raka tersenyum dan menggelengkan kepalanya hingga menunjukkan lesung pipinya lalu segera berjalan menyusul Asna.
Seperti sebelumnya, walaupun mereka sudah membicarakan banyak hal tadi tapi tetap saja sekarang mereka seperti dua orang yang saling tidak kenal. Tidak ada pembicaraan antara mereka selama di dalam mobil hingga mobil itu akhirnya berhenti di depan rumah Asna.
"Tunggu!" tangan Gus Raka yang sudah mulai menarik handle pintu mobil segera ia urungkan saat Asna menahannya.
"Ada apa?"
"Biarkan aku dulu ya masuk, aku tidak mau mereka menatap kita aneh!"
"Mereka siapa?"
Asna pun menunjuk ke arah tetangga yang sedang berkumpul di depan rumah salah satu tetangga dengan mengangkat dagunya. "Jangan sampai nama kamu tercoreng gara-gara aku!"
"Kamu calon istriku, memang siapa yang berani berkata seperti itu!?"
"Karena aku kotor, jangan sampai kamu ikut kotor karena bergaul atau berhubungan denganku!" kali ini mata Asna nanar seperti sedang menahan air mata, hidungnya juga terlihat memerah.
"Na_!"
"Please!!!!" Asna mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Baiklah!" Gus Raka menurut bukan karena dia membenarkan ucapan Asna, tapi ia tidak mau membuat Asna merasa tidak nyaman dengan keberadaannya. Butuh proses untuk membuat Asna kembali seperti dulu, Asna yang ceria.
Gus Raka menunggu hingga Asna benar-benar masuk, membuatkan orang-orang itu membicarakan Asna di belakangnya. Sudah menjadi kebiasaan ibu-ibu jika berkumpul, tidak pernah membicarakan diri sendiri tapi selalu membicarakan orang lain.
Setelah satu per satu ibu-ibu itu pergi, barulah Gus Raka keluar dari dalam mobil, seperti apa yang di minta Asna. Tapi nanti saat ia sudah berstatus sebagai suami Asna, ia tidak akan membiarkan Asna berjalan sendiri.
__ADS_1
Tepat saat ia keluar, Aslan dan Abizar sepertinya baru saja bermain bola. Tampak bola yang di pegang oleh Abizar.
"Kak, kakak kesini?" Aslan sepertinya sudah mulai tahu maksud kedatangan Gus Raka ke rumahnya berbeda dengan Abizar yang belum tahu apa-apa.
"Assalamualaikum, Bizar, Aslan!" sapa Gus Raka.
Mereka tersenyum, sepertinya mereka lupa jika yang di sapa saat ini adalah penghuni pesantren,
"Waalaikum salam, kak!"
"Habis main bola ya? Lain kali Kakak boleh nggak ikut?"
"Wahhhh seneng banget kalau ada personil baru, tapi emang kakak nggak ngaji ya, kan kakak dari pesantren?" Abizar bertanya dengan polosnya, pemuda berusia lima belas tahun itu tahunya pria yang ada di depannya adalah putra teman papanya yang tinggal di pesantren.
"Kan ada waktunya ngaji, ada juga waktunya buat main, kayak kalian! Ada waktu buat main tapi tetap harus belajar, iya kan?!"
"Bizar, masuk dulu sana! Bawa bolanya, kakak mau ngobrol sama kak Raka!" Aslan sengaja mengusir adiknya, ia ingin bicara berdua saja dengan calon kakak iparnya itu.
"Ya aku baru ingat nama kakak, kak Raka! Maaf ya tadi lupa!" ucap Bizar tapi segera mendapat pelototan dari sang kakak.
"Santai aja kali kak, iya aku masuk!?"
Abizar bergantian menatap Gus Raka, "Lain beneran main bola sama Bizar ya kak!"
Abizar pun segera berlalu meninggalkan kakak dan calon kakak iparnya itu.
"Bagaimana kalau kita bicara di dalam saja?" Gus Raka menawarkan diri, ia tahu Aslan pun tidak nyaman dengan keadaan ini.
"Iya kak, kita bicara di halaman depan!" Aslan menunjuk bangku kayu yang ada di kebun rumah mereka.
Mereka berjalan beriringan dan berhenti di sana, duduk berdampingan menatap pohon mangga yang rindang.
"Kak Raka beneran mau nikah sama kak Asna?"
"Kemarin kita sudah membicarakan ini kan?" Gus Raka masih balik bertanya, walaupun ia tahu bagaimana perasaan Aslan saat ini saat ia harus melepas saudara perempuannya saat menikah.
"Kak, kak Asna adalah kakak Aslan satu-satunya, dia sudah bukan wanita yang sempurna seperti yang di bangga-banggakan sebagai seorang wanita, jika kakak tidak bisa mencintainya, biarlah cinta Aslan cukup untuk kak Asna!"
Gus Raka mengusap rambut Aslan, sama seperti yang biasa ia lakukan pada Leon. Sungguh rasanya ia seperti mendapatkan adik baru.
"Kamu jangan lebih dewasa dari usiamu!"
"Apa sih kak, aku memang sudah dewasa!"
__ADS_1
"Aku tahu! Bahkan saat aku seusia kamu aku tidak lebih dewasa dari kamu, sungguh!"
"Kak, aku boleh memelukmu?"
"Kamu bukan mahram ku!" Gus Raka mencandai Aslan membuat pemuda itu mengerucutkan bibirnya.
"Kak_!"
"Tentu saja boleh!" Gus Raka meregangkan tangannya dan dengan cepat Aslan memeluk pria yang masih asing baginya tapi di tangannya ia akan menyerahkan tanggung jawab untuk menjaga kakak perempuannya
Tanpa mereka sadari, ternyata Asna melihat mereka dari jendela kamarnya. Ia mengusap sudut matanya, walaupun belum yakin dengan Gus Raka tapi ia sedikit lega setidaknya Aslan akan melepasnya dengan penuh keikhlasan.
Walaupun sebelumnya ia tidak merasa dekat dengan Aslan, tapi akhir-akhir ini adiknya itu begitu menjaganya.
Terkadang ia menyesali keputusannya untuk tinggal di kos-kosan dari pada di rumahnya karena alasan tidak mau di ganggu oleh adik-adiknya. Padahal di saat seperti ini, adiknya lah yang berdiri paling kokoh menguatkannya.
Asna segera menutup kembali gordennya saat melihat Aslan dan Gus Raka berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Kedatangan Gus Raka di sambut hangat oleh kedua orang tua Asna.
"Aslan mandi dulu ya kak!" pamit Aslan dan Gus Raka pun mengangukkan kepalanya.
Walaupun baru mengenal keluarga itu, Gus Raka bisa merasakan kehangatan di dalam keluarga itu.
"Bagaimana kabar Abi kamu?" tanya papa Asna untuk berbasa-basi saat mereka sudah duduk di ruang tamu.
"Alhamdulillah baik, pak!"
Tidak berapa lama mama Ayu datang dengan membawa nampan yang berisi dua cangkir kopi dan satu toples keripik singkong.
"Diminum nak kopinya, itu keripik bikinan ibu loh, ayo di coba!"
"Iya Bu, terimakasih!" Gus Raka pun segera mengambil cangkirnya dan meneguk kopi yang masih mengeluarkan kepulan asap. Kopi memang paling nikmat kalau di minum pas masih panas.
...Assalamualaikum, para reader yang setia membaca karya recehku dari awal hingga saat ini, walaupun sedikit terlambat, aku ingin mengucapkan Marhaban ya Ramadhan, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya, salam cinta dariku yang selalu menanti komentar-komentar kalian, love you full ❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...