Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part ( Leon 2)


__ADS_3

..."**Jika kamu menunggu untuk melakukan segalanya sampai kamu yakin itu benar, kamu mungkin tidak akan pernah melakukan banyak hal."...


...- Win Borden**...


...Kesuksesan itu tidak di tunggu tapi di cari dan di perjuangkan...


Dorrrr


Sebuah ledakan hebat terdengar dari mobil yang terbalik tadi, dan benar saja mobil itu sudah meledak dan api membesar.


Mata Nisa masih tidak percaya menyaksikan kejadian yang benar-benar tidak pernah terpikirkan dalam mimpinya sekalipun.


"Astaghfirullah, apa aku sedang bermimpi?"


Bahkan mata Nisa terus mengarah pada api yang begitu besar mengepul dan seperti hendak menyambar benda-benda yang ada di sekitarnya.


"Ini bukan mimpi, sekarang bisa kan menyingkir dari tubuhku!?"


Perkataan seseorang menyadarkan Nisa, ia baru sadar jika sekarang tubuhnya sedang berada di atas tubuh seseorang.


Nisa sampai melebarkan matanya menatap pria yang berada tepat di bawah tubuhnya dengan darah yang berlumuran di seluruh wajahnya.


"Astaghfirullah!" pekik Nisa dan langsung berdiri dari atas tubuh pria itu.


Nisa menutup mulutnya yang menganga lebar dengan kedua telapak tangannya. Kemeja putih pria itu sudah tidak berwarna putih lagi, bahkan air hujan yang mengguyur mereka sekarang sama sekali tidak mengurangi darah yang ada di baju dan wajahnya. Sepertinya darah itu bukan hanya dari kecelakaan mobil saja, ada luka sobekan di lengan dan perutnya. Semacam luka sabetan senjata tajam.


Pria itu terlihat merintih kesakitan, rasa perih menjalar ke seluruh tubuhnya saat titik-titik air hujan itu mengenai lukanya.


Karena darah yang memenuhi wajah, membuat wajah pria itu tidak terlihat jelas.


"Mas, gimana inih?"


Nisa jelas bingung, karena dia baru saja magang sebagai perawat dua bulan ini dan itu pun masih beberapa saja yang ia pelajari.


"Bawa saya ke rumah sakit!"


"Ah iya, kenapa aku bisa bodoh begini sih!" keluh Nisa sambil memukul kepalanya.


Nisa di kejutkan dengan kedatangan orang lain di antara mereka. Kini seragam perawatnya juga sudah tidak berwarna putih lagi, darah pria itu juga memenuhi baju dan jilbab lebarnya.


"Neng, gimana ini?"


Nisa hampir melupakan pak sopir taksi,


"Allah ..., Alhamdulillah pak, bapak masih di sini? Bapak tidak pa pa kan? Bapak nggak terkena ledakan kan?"


Nisa malah heboh mencemaskan pak sopir taksi,


"Nggak pa pa neng, mas nya masih hidup kan?" tanya pak sopir taksi.


"Masih gerak begitu pak, gimana pak ambulannya datang?"

__ADS_1


"Sebentar lagi neng!"


Dan benar saja, hanya lima menit dan ambulan pun datang bersamaan dengan mobil polisi. Polisi meminta nomor Nisa untuk menjadi saksi kunci begitu juga dengan pak sopir taksi.


"Maaf pak polisi, saya ikut pria itu ke rumah sakit dulu saja ya!" ijinnya pada polisi dan polisi itu pun mengiyakan. Beberapa juga ikut Nisa ke rumah sakit dan beberapa lagi sedang melakukan olah TKP dengan pak sopir taksi.


Sebelum naik ke mobil ambulan, Nisa lebih dulu menghampiri pak sopir,


"Pak ini upahnya ya pak!" ucapnya sambil menyerahkan selembar uang seratus ribu sedangkan berdasarkan argo nya hanya lima puluh ribu.


"Kembaliannya neng!"


"Nggak usah pak, anggap uang kaget saja ya pak, terimakasih atas bantuannya!"


"Sama-sama neng!"


Setelah menyelesaikan pembayaran, Nisa pun segera masuk ke dalam ambulan, ia duduk di samping pria yang berlumuran darah itu, tampak beberapa perawat sedang memberikan oksigen pada pria itu.


Nisa terus mengamati wajah pria itu, pria asing yang baru saja dia temui dan langsung memberi kesan yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.


Dia ini siapa ya? Kenapa ada yang ingin mencelakainya? Apa dia orang jahat? Atau ada orang jahat yang sedang mengejarnya? Kalau di lihat dari bentukan mobilnya tadi seharusnya tidak sampai meledak, apalagi ada air hujan yang mencegah gesekan api ...


Nisa terus mencari jawaban atas semua pertanyaannya. Para perawat yang ada di dalam mobil itu adalah seniornya, memang rumah sakit terdekat dari kejadian adalah rumah sakit tempatnya magang.


Para perawat itu jelas tidak mengenali Nisa karena memang Nisa masih sangat baru.


Segala pertanyaan di benaknya belum juga terjawab hingga mereka sampai di rumah sakit. Kedatangan ambulan langsung di sambut beberapa dokter dan perawat dan salah satu dokter itu adalah dokter Ardan, kakak Nisa.


Dokter Ardan menarik tubuh Nisa dan mengajaknya menyingkir dari hiruk pikuk kesibukan menyambut pasien,


"Nisa, kamu kenapa? Ada apa? Nama yang sakit?"


Dokter Ardan langsung memeriksa tubuh Nisa,


"Tidak pa pa dokter, saya tidak pa pa! Hanya luka kecil, lecet di siku!"


"Langsung ke ruangan saya, biar saya periksa setelah ini!"


"Baik dokter!"


Walaupun khawatir tapi dokter Ardan harus profesional, hari ini jadwalnya piket, dia harus menangani pasien yang benar-benar gawat.


Walaupun kakak adik, tapi Nisa tidak mau teman-temannya menganggapnya mendapat kesempatan magang di rumah sakit itu karena kakak-kakaknya. Makan dari itu sebelum masuk ke rumah sakit ini, dia sudah membuat kesepakatan pada kedua kakaknya untuk tidak menunjukkan hubungan mereka pada rekan kerja mereka.


Dokter Ardan membawa pria itu ke ruang IGD, Nisa sebenarnya ingin tahu dengan apa yang terjadi di dalam, tapi hari ini bukan jadwalnya. Ia memilih duduk di depan ruang IGD dengan masih basah kuyup dan baju yang berlumuran darah.


Pikirannya masih belum bisa tenang, dia ingin tahu siapa sebenarnya pria itu hingga ada yang ingin mencelakainya.


"Nona Nisa ya?"


Pertanyaan seseorang akhirnya menyadarkannya. Ia pun mendongak dan dia polisi sudah berdiri di depannya saat ini.

__ADS_1


Nisa pun segera berdiri,


"Iya pak!"


"Ada beberapa pertanyaan yang mungkin bisa nona jawab sekarang juga!"


"Insyaallah kalau bisa, saya akan menjawabnya!"


"Apa nona mengenal pria itu?"


"Tidak pak!"


"Bagaimana kronologi kejadiannya?"


Nisa pun menceritakan semua kejadiannya. Mulai dari ia pulang dari rumah sakit, karena begitu banyak pasien hari ini Nisa mengambil lembur hingga jam tujuh malam.


Saat akan pulang, ia sengaja untuk melaksanakan sholat isya' dulu di musholla rumah sakit agar pulangnya tidak terlalu terburu-buru apalagi di luar keadaannya hujan lebat.


Setelah menunggu hingga satu jam, hujan masih tetap tidak mau reda. Ibunya sudah menelponnya beberapa kali agar tidak pulang malam-malam.


Akhirnya ia pun memutuskan untuk memesan taksi online. Ia sengaja tidak mengganti bajunya. Ia pikir besok akan mengambil cuti dan berencana untuk mencuci bajunya di rumah saja.


Hingga jam setengah sembilan taksi pesanannya datang.


Karena jalanan cukup macet, pak sopir taksi pun mengajak Nisa untuk melewati jalan alternatif. Memang sepi tapi jarang ada rumah di sana, kiri dan kanan jalan hanya ada sawah dan beberapa semak. Hingga mereka menemukan mobil yang dengan terguling di tepi jalan, sepertinya baru saja menabrak pembatas jalan yang sudah rusak hingga kejadian itu terjadi.


Nisa begitu detail memberi keterangan pada polisi, ia juga ikut penasaran dengan yang terjadi sebenarnya.


"Terimakasih atas keterangannya, nona Nisa!"


"Sama-sama pak!"


Pak polisi kemudian meninggalkan Nisa, ia sepertinya juga sedang menunggu keterangan dari dokter yang sedang menangani. Itu artinya dokter Ardan pasti juga tahu apa yang terjadi pada pria itu.


Nisa pun memutuskan untuk mandi di rumah sakit dan Menganti pakaiannya dengan pakaian yang bersih yang sengaja ia tinggalkan di lokernya untuk jaga-jaga kalau ada kejadian seperti ini.


Setelah mandi dan mengganti baju, ia pun menitipkan baju kotornya di tempat cuci baju rumah sakit.


Nisa memutuskan untuk masuk ke ruangan dokter Ardan dan menunggunya hingga selesai.


Bersambung


...Jadilah orang yang ikhlas bukan orang yang baik, karena baik belum tentu ikhlas, mungkin ada pamrih di sana. Tapi keikhlasan pasti ada kebaikan di dalamnya...


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2