Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (Leon & Nisa 2)


__ADS_3

...Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, karena hasil akhir dari semua urusan di dunia ini sudah ditetapkan oleh Allah. Jika sesuatu ditakdirkan untuk menjauh darimu, maka ia tak akan pernah mendatangimu. Namun jika ia ditakdirkan bersamamu, maka kau tak akan bisa lari darinya.”...


... - Umar bin Khattab...


...🌺Selamat membaca🌺...


Tiga hari sebelum hari pernikahan


Leon sudah terlihat rapi dengan jas dan kemejanya. Bukan kemeja yang biasa ia kenakan karena hari ini adalah hari pertunangan Leon dan Nisa.


Bukan tanpa alasan mereka mengadakan acara ini, ini adalah permintaan Alex. Alex sengaja mengadakan acara ini tujuannya untuk memperkenalkan dirinya sebagai keluar Leon pada keluar Nisa.


Selain itu, ini semacam acara siraman yang di lanjutkan dengan syukuran sebelum di lanjutan untuk acara pernikahan.


Leon beberapa kali terlihat menarik nafas dan menghembuskannya. Setelah merasa siap, Leon pun segera turun. Acara syukuran ini akan di hadiri beberapa kerabat dekat Nisa dan juga Leon.


Leon kini sudah berdiri di depan pintu masuk, menunggu seseorang agar segera datang.


Bibirnya melengkung ke atas saat melihat seseorang yang sedari tadi ia tunggu akhirnya datang juga, gadis cantik dengan hijab panjang yang di iringi oleh kakak-kakaknya.


"Assalamualaikum, Leon!" sapa dokter Ardan.


"Waalaikum salam, selamat datang!" sambut Leon dan matanya terus fokus pada gadis cantik itu.


"Jangan di lihatin terus, masih ada tiga hari lagi sampai hari H, sabar ya!" ucap dokter Reza sambil menepuk bahu Leon dan Leon pun tersenyum.


"Silahkan masuk!"


Beberapa tamu undangan sudah mulai berdatangan. Keluarga Nisa juga sudah terlihat lengkap.


Kini Leon tinggal menunggu kedatangan seseorang lagi agar acaranya bisa segera di mulai.


"Bagaimana nak Leon, sudah bisa di mulai?" tanya papa Nisa.


"Tunggu sebentar ya pak, lima belas menit lagi, mas saya belum datang!"


Walaupun di sana sudah ada Gus Fahmi dan Bianka juga tapi tetap saja jika Alex dan Aisyah belum datang rasanya tidak lengkap. Acara sengaja di adakan malam hari suapaya semua keluarga bisa hadir.


"Baiklah, saya tunggu di dalam ya!"


"Iya pak, terimakasih atas pengertiannya!"


Papa Nisa hanya tersenyum lalu menepuk bahu Leon seperti mengatakan tidak pa pa dan berlalu meninggalkan Leon sendiri menunggu di pintu masuk.


Senyum Leon mengenang saat dari kejauhan ia bisa melihat kedatangan Alex dan Aisyah. Walaupun Alex yang menyusun acaranya tetap saja Alex tidak bisa terjun langsung.


Kedatangan mereka langsung di sambut bahagia oleh Leon, bagi Leon hanya Alex dan Aisyah lah keluarga terdekatnya saat ini.


"Assalamualaikum!" sapa Alex dan Aisyah setelah melewati red karpet yang membentang dari depan hingga pintu masuk.


"Waalaikum salam! Terimakasih karena kak Alex mau datang!"


Masih terasa kaku dengan panggilan baru itu, tapi Alex akan marah jika Leon memanggilnya seperti panggilannya dulu.


"Kami pasti datang!" ucap Aisyah.


Alex mengedarkan pandangannya dan di dalam begitu penuh dengan tamu undangan,


"Apa sudah mulai acaranya?"

__ADS_1


"Kami menunggu kedatangan mas Alex dan kakak ipar!"


"Baiklah, kita harus segera memulainya karena sudah malam!"


"Baik mas!"


Leon mengajak Alex dan Aisyah ke dalam menghampiri beberapa tamu dan terutama keluarga calon istrinya. Walaupun keluarga Nisa sudah sangat mengenal Alex.


"Kenalkan pak, saya Dimas!"


"Salam kenal pak, saya Alex dan ini istri saya Aisyah!"


"Saya sudah banyak mendengar kisah tentang pak Alex ini, sepak terjang pak Alex sungguh luar biasa!" puji papa Nisa.


"Anda terlalu memuji pak, saya hanya pria yang beruntung karena menikah dengan wanita seperti istri saya ini dan saya berharap Leon adik saya juga akan merasakan keberuntungan yang sama karena menikahi wanita shalihah seperti putri bapak!"


Mereka pun membicarakan banyak hal dan jamuan makan malam dan syukuran.


...🌺🌺🌺...


Hari ini Leon sengaja datang lagi ke toko buku milik Gus Raka. Bukan tanpa alasan, Leon datang karena mengantarkan undangan pernikahan mereka.


Cukup lama Leon hanya berdiri di samping mobilnya dengan tangan yang terus memegangi undangan itu, ada rasa yang begitu berat yang sedang ia tanggung saat ini.


Hehhh....


Entah ini sudah helaan nafas yang ke berapa hingga rasanya dadanya begitu penuh.


Leon mulai berjalan masuk dan berharap dengan segera menemukan orang yang akan ia temui lalu segera pergi dari tempat itu.


Ia membayangkan dirinya yang berada di posisi Gus Raka saat itu, pasti sangat berat.


"Maaf, mas Raka sedang pergi!"


"Apa lama?"


"Katanya hanya sebentar, mungkin setengah jam lagi kembali, mas!"


Leon mengedarkan pandangannya, ia melihat buku-buku yang begitu banyak di sana. Sepertinya menunggu sambil memilih beberapa buku cukup menyenangkan, pikirnya.


"Baiklah, saya akan menunggu sambil memilih beberapa buku!"


"Silahkan mas!"


Leon pun berjalan menuju ke deretan rak buku yang berjejer begitu panjang. Ia seperti berada di surganya ilmu, banyak sekali buku-buku yang menurutnya begitu menarik.


Hingga setengah jam terlewati dengan sangat singkat.


Leon sudah berada di rak paling belakang hingga ia tidak melihat kedatangan seseorang.


Dari pintu masuk, orang yang sebenarnya sangat ia tunggu akhirnya datang juga.


"Mas Raka, ada yang sedang mencari mas Raka!" ucap pelayang yang tadi menyambut kedatangan Leon.


"Siapa?" tanyanya karena ia merasa tidak memiliki janji dengan siapapun.


"Saya lupa tanya namanya mas, tapi sepertinya orang yang sama dengan yang melakukan kerja sama beberapa waktu lalu!"


Gus Raka mengerutkan keningnya, ia mencoba mengingat kembali siapa yang di maksud oleh karyawannya itu.

__ADS_1


"Mana orangnya?"


"Itu!" karyawan itu menunjuk ke arah Leon yang masih sibuk memilih beberapa buku.


"Mas Leon!" gumamnya lirih, "Ya sudah terimakasih, kamu boleh kerja lagi!"


Gus Raka pun berjalan menghampiri Leon yang sedang sibuk mengamati buku dan berhenti tepat di belakang Leon.


Sepertinya saking asiknya, Leon sampai tidak menyadari kedatangan Gus Raka.


"Assalamualaikum!" sapa Gus Raka membuat Leon dengan cepat berbalik padanya.


"Waalaikum salam!" ucapnya saat sudah melihat siapa yang menyapanya, "Gus Raka sudah lama di sini?"


"Satu menitan!"


"Maaf, saking asiknya saya sampai tidak menyadari kedatangan Gus Raka!"


"Tidak pa pa, tawaran buku gratis masih berlaku loh!"


"Janganlah Gus, masak setiap ke sini di beri buku gratis!?"


"Asal tidak satu toko saja di bawa semua, saya ikhlas!" ucap Gus Raka lagi, "Bagaimana kalau saya carikan lagi buku yang bagus?"


Gus Raka pun memilih dua buah buku, satu buku berjudul 'Senyum bidadari syurga' dan 'Indahnya rumahku'.


"Buku ini mengisahkan tentang rumah tangga, sangat cocok untuk calon pengantin seperti mas Leon! Insyaallah banyak pembelajarannya!"


Leon terdiam, mendengar ucapan Gus Raka ia jadi tidak bisa berkata apa-apa lagi. Baru juga mau bicara tapi sudah langsung di dahului oleh Gus Raka.


"Bagaimana kalau kita ngobrolnya sambil duduk?!" ucap Gus Raka saat Leon hanya diam.


"Ayo!"


Mereka pun duduk di kursi yang sama, kursi yang menjadi tempat favoritnya waktu itu.


"Tujuan utama saya ke sini bukan untuk mencari buku, saya sebenarnya mau menyerahkan ini sama Gus Raka!" ucap Leon sambil menggeser undangan itu ke depan meja Gus Raka.


Gus Raka pun perlahan mengambilnya dan membaca nama yang tertera di halaman depan.


Nisa & Leon


Sejurus kemudian Gus Raka pun tersenyum,


"Saya ikut bahagia dengan pernikahan mas Leon, insyaallah saya pasti datang!"


"Maafkan saya!"


Gus Raka mengerutkan keningnya, ia tidak tahu apa yang sedang di pikirkan oleh pria di depannya itu,


"Kenapa meminta maaf, mas Leon sama sekali tidak punya salah sama saya!"


"Secara sengaja atau tidak, saya ataupun Nisa pasti membuat Gus Raka sakit hati! Saya mewakili Nisa juga meminta maaf!"


Gus Raka lagi-lagi tersenyum, "Tidak ada yang perlu di maafkan, apapun yang terjadi pada kita merupakan skenario dari Allah kita hanya menjalaninya saja. Tidak usah meminta maaf.


"Terimakasih, semua yang Gus Raka lakukan selalu berhasil membuat saya semakin iri dengan ilmu yang Gus Raka miliki!"


bersambung

__ADS_1


...Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-sebaik kamu adalah orang yang paling baik kepada istrinya.” - HR. Abu Hurairah...


__ADS_2