Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (18)


__ADS_3

Ternyata papa Asna melihat hal itu, ia berdiri di balik pintu. Pria itu selalu cengeng jika menyangkut putrinya. Ingin rasanya menghabisi pria-pria itu.


Pak Tedi pun menuruni tangga dengan cepat, ia melewati dua putranya begitu saja. Hari ini memang bukan hari libur tapi sengaja pak Tedi meminta ijin pada guru mereka untuk ijin dalam satu hari ini untuk membantu persiapan kedua orang tuanya.


"Papa mau ke mana?" tanya Abizar yang penasaran melihat papanya pergi dengan terburu-buru.


"Bilang sama mama, papa pergi sebentar ya!"


"Perginya ke mana?"


"Ada urusan sebentar!"


Pak Tedi menyambar helm yaang berada di atas nakas samping tv begitu juga dengan kunci sepeda motor.


Ia menghampiri motornya yang baru saja di pakai oleh Aslan itu, ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


Ternyata tujuannya adalah sebuah lapas, sepertinya ingin menemui seseorang.


"Saya mau bertemu dengan orang-orang yang melecehkan putri saya!" ucapnya pada polisi yang berjaga.


"Tenang dulu pak!"


"Mana bisa saya tenang, sedangkan putri saya terus menangis setiap kali mengingat perlakuan bejat mereka!"


"Baiklah, tapi jangan buat keributan ya pak!"


"Nggak janji!"


Walaupun dengan perasaan khawatir, polisi itu tetap menuntun pak Tedi menemui para tersangka. Mereka di pastikan akan mendekam di penjara seumur hidup karena mendapatkan pasal yang berlapis.


"Silahkan pak!" pak polisi membukakan jeruji besi itu, tapi dia tidak membuatkan pak Tedi untuk masuk sendiri, polisi itu tetap menemaninya.


Di dalam ada sekitar empat orang dengan perawakan besar dan bertato.


Plakkk


Plakkkk


Plakkk


Plakkkk


Pak Tedi memukul mereka bergantian tanpa perlawanan,


"Pukulan ini tidak lebih sakit dari pada pukulan yang sudah kalian lontarkan pada saya!"


"Di mana hati nurani kalian, hahhh?"


"Apa kalian di rumah tidak punya anak istri? Tidak punya putri?"


"Bagaimana perasaan kalian nanti jika suatu saat putri kalian di perlakukan seperti apa yang telah kalian lakukan pada putri saya?"


"Bahkan jika aku membunuh kalian, hukuman itu masih tidak lebih baik dari apa yang kalian lakukan!"


Plakkk


Plakkk


Plakkkk


Plakkkk


Dan lagi untuk kedua kalinya pak Tedi kembali memukul mereka, tetap tidak ada yang melawan. Sepertinya mereka sudah sangat pasrah dengan apa yang akan mereka terima.

__ADS_1


"Ingat, saya adalah pria yang hatinya hancur karena kalian, jangan sampai kita bertemu lagi suatu hari nanti, karena jika saat itu tiba saya tidak yakin akan menghilangkan nyawa kalian!"


"Bahkan penjara pun tidak akan membuat saya takut, karena air mata putriku telah membangkitkan jiwa jahatku!"


Pak Tedi pun meninggalkan mereka begitu saja, dan di ikuti oleh polisi itu setelah mengunci kembali ruangan itu.


Saat pak Tedi di depan, langkahnya terhenti karena bertemu dengan seseorang yang begitu ia kenal.


"Pak Tedi! Anda di sini?"


Pak Tedi tersenyum, "Sedang memberi pelajar yang tidak seberapa pada orang-orang yang sudah menyakiti putriku! Nak Leon?"


"Saya harus melanjutkan kasus ini, biarkan mereka menerima semua hukumannya!"


"Baiklah, kalau begitu saya permisi!" pak Tedi pun berjalan meninggalkan Leon tapi saat baru beberapa langkah di belakang Leon, Leon kembali berbalik dan memanggil pak Tedi.


"Tunggu pak!"


Pak Tedi pun berhenti dan kembali membalik badannya, Leon berjalan menghampirinya.


"Ada apa?"


"Asna akan menikah dengan saudara saya, bolehkan Nisa datang? Sekali ini saja, tidak pa pa jika tidak mendekat pada Asna tapi biarkan Nisa ikut merasakan kebahagiaan yang Asna rasakan!"


"Maaf nak Leon, nak Leon tahu, pasti nak Nisa pun juga tahu. Asna bukan membenci Nisa, tapi ia hanya sedang mencoba menghilangkan traumanya dengan tidak bertemu dengan orang-orang yang saat itu berada di sana! Saya hanya khawatir kalau sampai nanti malah Asna histeris saat melihat Nisa!"


"Pagi ini saja dia kembali histeris karena mendapat bingkisan kebaya dari nak Raka, ia masih merasa tidak pantas mendapatkan semua itu!"


"Baiklah, saya mengerti pak! Kalau begitu saya juga akan memberi pengertian pada Nisa soal ini!"


"Terimakasih ya nak Leon!"


"Sama-sama pak!"


Sedangkan Leon_ ia sudah punya janji dengan pengacara untuk melanjutkan perkaran yang yang akan menjerat para penjahat itu.


...***...


Siang ini Leon langsung pulang ke rumah mertuanya, karena semenjak kejadian itu Leon tidak berencana membawa Nisa pulang ke rumahnya sendiri. Ia masih merasa takut jika istrinya juga merasa trauma dengan kejadian kurang menyenangkan waktu itu.


Nisa kebetulan sedang menyiapkan kado untuk Asna. Leon segera menghampiri sang istri yang sedang sibuk itu dan mencium keningnya.


"Mau minum mas, biar aku ambilkan!"


"Nggak usah, nanti kalau aku haus! Aku akan ambil sendiri!"


"Dari mana mas?"


Leon pun segera duduk di karpet di samping Nisa, mereka saat ini sedang berada di ruang keluarga dengan karpet bulu tebal yang berada di depan tv, di lantai begitu banyak kado yang akan Nisa kirim ke rumah Asna.


"Tadi dari rutan, tadi mas ketemu sama pak Tedi!"


Mendengar ucapan Leon, Nisa pun segera menghentikan kegiatannya,


"Kata om Tedi, bagaimana mas, Asna nya?"


"Asna sedikit terguncang saat Raka mengirimkan kebaya untuknya!"


"Kasihan Asna!" rasa bersalah selalu muncul di benak Nisa setiap kali mendengar penderitaan yang di alami Asna, sahabatnya itu.


"Pak Tedi minta kita untuk tidak datang ke acara mereka!"


"Kenapa mas?"

__ADS_1


"Seperti yang Raka katakan semalam, bisa jadi kedatangan kita akan memicu traumanya lagi! Jadi di tahan dulu ya ketemunya Asna!"


"Tapi kado ini?"


"Kita bisa mengirimnya ke rumah baru mereka, tapi nggak usah pakek nama nggak pa pa kan?"


"Iya mas, tapi Nisa boleh nggak minta sesuatu sama mas Leon?"


"Apa?"


"Mas Leon datang yang ke sana!"


"Tapi kan_!"


"Mas Leon bisa pakek topeng wajah seperti waktu itu, nyamar jadi siapa gitu mas, asal jangan wajah mas Leon atau mas Raka!"


"Buat apa?"


"Aku ingin mas Leon aktifkan video call nya, biar aku bisa liat pernikahan mereka!"


"Baiklah, apa boleh buat!"


Leon pun segera menghubungi seseorang untuk membuatkan topeng wajah seseorang.


"Saya tunggu sampai nanti jam empat sore!"


"Kamu memerasku ya? Mana bisa seperti itu, memang aku pesulap!"


"Ayolah, ini darurat, wajah siapa saja deh!"


"Jangan mentang-mentang kamu temenku bisa seenaknya nyuruh ya!"


"Ayolah, hanya kamu yang bisa aku andalkan untuk saat ini!"


"Apa boleh buat, nanti sore kurir akan mengantarnya ke rumah kamu!"


"Jangan ke rumahku, tapi ke rumah mertuaku! Aku serlok deh kalau gitu!"


"Terserah!"


Sambungan telpon terputus secara sepihak, sepertinya yang berada di seberang sana begitu kesal pada Leon.


"Gimana mas?" Nisa begitu penasaran dengan hasilnya.


"Beres!"


"Alhamdulillah!" Nisa dengan senyum manisnya segera memeluk suaminya.


"Jangan erat-erat meluknya, kasihan dedeknya!" Leon begitu takut menyakiti kedua anak dalam kandungan istrinya.


Nisa malam tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya,


"Astaghfirullah, Nisa!" wajah frustasi Leon akhirnya muncul juga saat melihat perut besar Nisa yang terhimpit antara tubuhnya dan tubuh. Nisa.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2