
Tiga hari sudah Nisa di rumah sakit, sebenarnya Nisa sudah boleh pulang sedari kemarin tapi Leon sengaja meminta Nisa lebih lama di rumah sakit agar sang istri benar-benar sembuh.
Hari ini sengaja Asna dan Leon menyambut mereka di rumah orang tua Nisa, membantu penyambutan dua bayi kembar Leon dan Nisa.
Mobil yang membawa Nisa dan kedua bayinya kini sudah sampai di halaman depan rumah orang tuanya. Leon sengaja mengajak Nisa pulang ke rumah orang tuanya agar Nisa ada yang membantu merawat bayinya saat dia tidak di rumah.
Raka sudah siap membukakan pintu saat Nisa akan turun bersama bayinya, sedangkan Asna membantu membawakan bayi yang di gendong Nisa.
"Assalamualaikum!" sapa Nisa dan Leon.
"Waalaikum salam!"
"Asna, kalian di sini?" Nisa terlihat begitu bahagia, ia tidak menyangka di hari bahagianya ini sahabatnya sudah memaafkan dirinya.
"Iya, kami sengaja menyambut kalian di sini! Ayo masuk dulu, kasihan baby nya kelamaan di luar!"
Nisa menganggukkan kepalanya dan ibu Nisa segera membantu Nisa berjalan masuk ke dalam rumah. Mereka langsung menuju ke kamar bayi sekaligus bersebalahan dengan kamar Nisa.
Dua kamar tamu yang sengaja Leon modifikasi menjadi satu kamar yang tembus pandang ke kamar lainnya agar tetap bisa memantau bayi-bayi nya meskipun mereka tidur terpisah.
"Ya Allah, mereka lucu-lucu sekali, jadi pengen bawa!" Asna terlihat begitu gemas dengan kedua bayi sahabatnya itu.
"Nggak usah bawa, nanti kita buat sendiri!" celetup Gus Raka membuat seisi rumah tertawa di buatnya. Mereka baru tahu jika pria bersahaja itu juga ternyata suka bercanda.
Celetupan Raka itu seketika mendapat cubitan di dadanya oleh sang istri.
"Kebiasaan deh mas!"
"Hehhh, tadi kelepasan soalnya! Lupa tempat!" Raka baru menyadari kalau di sana juga ada kedua orang tua Nisa, membuatnya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sudah-sudah nggak pa pa, om sama Tante juga sudah faham kok, om sama Tante juga seneng kalau kalian juga cepetan dapat momongan!"
"Amiiiin!" Gus Raka begitu mengamini apa yang di ucapkan oleh mama Nisa. Dia benar-benar mendambakan sosok buah hati dalam pernikahan mereka. Hidupnya yang selama ini terpisah dari keluarganya membuatnya berkeinginan memiliki keluarga yang utuh.
"Oh iya, si kembar siapa namanya?" setelah saling terdiam akhirnya Asna punya topik pembicaraan baru. Asna sebelumnya memang sosok yang banyak sekali bahan untuk di bicarakan, jika Nisa cerewet salah satu penyebabnya karena dia punya sahabat yang lebih cerewet. Kini kepercayaan diri Asan sedikit demi sedikit sudah mulai tumbuh, ia jadi bicara lebih banyak dari pada sebelum-sebelumnya.
Walaupun kadar bicaranya belum sebanyak dulu, atau mungkin kejadian-kejadian yang telah menimpanya telah mendewasakan dirinya tanpa di sadari. Keegoisannya mulai terkikis dan hilang berganti dengan rasa simpati dan rasa sabar.
Setiap kejadian yang menimpa seseorang di dunia itu, pastilah ada nilai positif di baliknya, asal memiliki sikap sabar.
Nisa dan Leon akhirnya saling bertatapan, meskipun mereka sudah mempersiapkan namanya tapi mereka belum mencapai kesepakatan. Leon yang keras kepala sedikit sulit di ajak berdiskusi.
"Jadi kalian belum ada nama untuk mereka?" tanya Raka memastikan pada saudara kembarnya itu.
"Ada, siapa bilang belum! Nisa sudah mempersiapkan nama yang bagus untuk mereka!" Leon tetap saja tidak mau kalah, tapi tetap saja keras kepalanya bisa kalah dengan rasa cintanya kepada sang istri.
"Siapa? Siapa?" Asna kembali menoleh pada sahabatnya yang sedang duduk berselonjor di atas tempat tidur itu.
"Namanya Ark dan Azl!"
"Kok Azl dan Ark, panjangnya siapa?" Asna mengerutkan keningnya saat tahu nama bayi Sabahat nya itu begitu singkat.
"Arkan dan Azlan! Supaya nanti panggilnya agak enakan, nggak ribet!"
"Bagus sih, Ar dan As!"
Setelah membahas mengenai nama, kini semua meninggalkan bisa dan bayinya kecuali Asna. Nisa sengaja menahan Asna agar tetap tinggal karena ia masih sangat rindu untuk bicara berdua lagi dengan Asna seperti dulu.
Leon, Raka dan papa Nisa memilih duduk bersantai di ruang keluarga sedangkan mama Nisa membantu asisten rumah tangga untuk menyiapkan makan siang.
Asna saat ini sedang duduk di samping Nisa sambil terus memandangi bayi-bayi mungil itu,
__ADS_1
"Dia tampan seperti ayahnya!"
"Iya!"
"Tapi juga cantik kok seperti ibunya!"
"Iya!" Nisa hanya terus mengiyakan ucapan Asna. Ia begitu menikmati kebersamaan mereka saat ini.
Asna yang menyadari telah di perhatikan oleh sahabatnya itu segera menoleh,
"Nisa, kenapa menatapku seperti itu?"
"Pasti berat banget ya selama ini? Maafkan aku ya!" lagi-lagi rasa bersalah itu kembali muncul.
"Enggak Nisa, ini bukan salah kamu!"
"Seandainya saja waktu itu aku tidak nekat pulang, pasti semuanya terjadi Na!"
"Jika sudah di takdirkan oleh Allah, kita tidak bisa menolaknya Nisa, hanya saja aku kurang bisa bersyukur! Beruntung waktu itu mereka tidak membunuhku hingga aku masih bisa meminta pengampunan terhadap-Nya atas semua dosaku dan mendapatkan pria sebaik mas Raka!"
"Tapi tetap saja aku penyebabnya, kamu menghidariku begitu lama, kamu membenciku, kamu pasti sangat marah padaku!"
"Tidak, aku hanya sedang di fase belum bisa menerima keadaan ku saja, aku tidka bisa bertemu denganmu karena memang aku belum siap, sungguh!"
"Kamu begitu baik Na!"
"Kamu juga!"
Setelah saling mengeluarkan air mata, mereka pun saling berpelukan, seakan semua beban selama ini hilang sudah berganti dengan bahagia.
...****...
Akhirnya tiba juga saat yang di tunggu, Asna begitu cantik dengan dress warna Salem. Hari ini adalah hari tasyakuran kelahiran baby As dan Ar.
"Buat apa?"
"Kita belum punya kado mas!"
"Baiklah! Pegangan ya!"
Kini mereka sudah naik motor menuju ke rumah Leon dan Nisa, setelah perdebatan panjang akhirnya Leon bersedia membawa Nisa kembali ke rumahnya.
Di sana sudah cukup ramai dengan tamu, termasuk Alex dan Aisyah beserta anak-anaknya, baru satu hari yang lalu mereka di beritahu tentang kelahiran Nisa dan segera meluncur kembali ke surabaya.
Kini Asna dan Raka sudah sampai di toko perlengkapan bayi,
"Mas, nanti bisa bantu milihin kan? Soalnya aku suka bingung kalau banyak pilihannya!"
"Untung milih aku nggak bingung!"
"Mas_, kamu bukan pilihan ya! Tapi kamu tuh takdir tuhan buat aku!"
"Cie, sudah bisa gombal nih, belajar dari siapa?"
"Suami aku yang ganteng dong!"
Percakapan mereka terhenti saat sudah memasuki toko,
"Mbak, mas, mau cari apa? Ada yang bisa kami bantu?" sapa karyawan toko dengan begitu ramah.
"Saya mau cari kado bayi untuk bayi kembar!"
__ADS_1
"Cowok cewek, atau _?"
"Cowok semua!" Asna segera memotong ucapan karyawan toko agar tidak terlalu lama.
"Baiklah, mari saya antar!"
Mereka pun di antar ke bagian kado yang sudah di bungkus dengan rapi.
"Tapi kalau mbak sama mas nya kurang puas dengan yang sudah di bungkus, nanti bisa milih sendiri dan kami bungkuskan!"
Asna pun terlihat begitu sibuk memilih, hingga berbagai pilihan tapi tidak juga selesai hampir satu jam di sana.
"Dek, belum ya?"
"Bentar mas, ini masih bingung, semuanya kayaknya bagus mas!"
"Acaranya sudah mulai loh, kita sudah satu jam lebih loh di sini!"
Asna yang sibuk memilih segera menoleh menatap suaminya, "Benarkah seperti itu mas?"
"Iya, lihat mbaknya sampai ngilang gara-gara kamu kelamaan!"
"Maaf, maaf mas, kelepasan soalnya! Baiklah kalau gitu kita pilih ini aja ya mas, bagus!"
"Iya!"
"Apa ini aja ya mas, kayaknya lebih bagus!"
"Hmmm!"
"Nggak deh, yang ini aja deh!"
"Jadinya mau pilih yang mana? Yang ini apa ini apa yang itu?" terlihat Raka mulai kehilangan kesabarannya.
Asna menatap suaminya, "Mas, kamu marah ya?"
Astaghfirullah hal azim ..., Raka segera beristigfar dalam hati saat melihat wajah sedih sang istri, ia pun segera mengusap pipi istrinya dengan begitu lembut.
"Enggak sayang! Ya udah deh kamu mau pilih ya mana?"
"Maaf ya mas!" Asna masih tampak begitu sedih.
"Mas nggak marah dek, nggak pa pa deh kalau adek mau di sini dua jam lagi, mas temenin!"
"Tuh kan marah!"
"Enggak, sungguh!"
"Ya udah deh Asna pilih yang ini aja!" akhirnya pilihan jatuh pada pilihan pertama, akhirnya setelah sekian banyak yang di pilih tetap saja kembali yang pertama.
"Benar, mau yang ini?" Asna menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, mas bawa ke kasir ya!"
Siapa nih yang pernah belanja kayak Asna? Ayo ngaku?☝️☝️☝️☝️
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...