
Malam ini Aisyah mengajak baby El tidur bersamanya, ia sudah begitu luwes mengurus
bayi,. Hari ini Aisyah di bebas tugaskan oleh ibunya, ia tidak menyuruh Aisyah
untuk membantunya sampai baby El kembali pada ibunya.
Aisyah juga tidak jadi pergi ke pesantren, ia harus menjaga baby El yang sudah mulai
aktif. Saat baby El sudah tertidur Aisyah pun berencana untuk mengantarkannya
pada Nadin. Ia pun menggendong baby El keluar kamar, ibu Santi yang masih di
depan tv, kembali bertanya pada Aisyah.
“Mau di bawa ke mana Sya, El-nya?”
“Mau Ais anter ke rumah kan nadin bu, sudah malam. Nanti kak Nadin cemas lagi kalau
El di sini!”
“Ya sudah, sana! Langsung pulang aja jangan ganggu Nadin lagi!”
“Iya bu, assalamualaikum!”
“Waalaikum salam!”
Aisyah mengendong baby El menuju ke rumah Nadin, saat ia hendak membuka pagar, tapi
segera di hentikan oleh pria muda yang selalu bersama suami Nadin dengan
menahan tangannya, membuat Aisyah segera terhenyak dan mengibaskan tangan pria
itu.
“Maaf!” sepertinya pria itu tahu telah melakukan kesalahan dengan memegang tangan wanita di depannya. Ia pun dengan cepat melepaskan tangannya dari tangan Aisyah.
“Kamu siapa?” Tanya Aisyah dengan menyelidik.
“Aku anak buah pak Rendi!” pria itu berusaha
memperkenalkan diri, barulah Aisyah yakin jika dia memang benar-benar anak buah
Rendi.
“kalau begitu ijinkan kami masuk!”
“Maaf, tapi akan lebih baik jika mereka berdua dulu!”
Aisyah menjadi sangat bingung, bukankah baik jika mereka bertemu dalam satu keluarga
yang utuh, kenapa harus di tahan?
“Lalu?”
“Mereka sedang menyelesaikan masalah mereka di dalam, jadi saya mohon anda tidak akan mengganggunya!”
“Tapi baby El sudah tidur, kak Nadin pasti bingung jika baby El tidak pulang!”
“Itu tidak akan terjadi, baiklah …, bagaimana kalau baby El bersama saya saja!”
Aisyah memperhatikan pria yang ada di depannya itu, memeng tidak terlihat jahat, tapi
membiarkan baby El dengan pria asing ini bukanlah keputusan yang benar.
“Tidak …, biar baby El bersama ku saja, tapi aku minta tolong satu hal!”
“katakan!”
“Tolong katakan kepada kak nadin kalau baby El baik-baik saja bersamaku!”
“baiklah ....!’
“Assalamualaikum!”
“waalaikum salam!”
Aisyah pun kembali ke rumahnya dengan membawa baby El kembali, dari pada meninggalkan baby El dengan orang asing pasti tidak akan baik, apalagi seorang pria dengan bayi bukan kah sebuah masalah baru.
Sepanjang malam Aisyah beberapa kali terjaga ketika melihat El sesekali mengigo dan
__ADS_1
meminta susu, untuk Aisyah sempat membelikan susu formula untuk baby El, susu
itu ia gunakan untuk jaga-jaga jika sewaktu-waktu ia membawa baby El bermain ke rumahnya. Aisyah begitu menyayangi baby El, sama seperti alex menyayangi baby
El.
Pagi-pagi sekali Rendi sudah ke rumah Aisyah untuk mengambil baby El dan membawanya
pulang sehingga Aisyah bisa menyusul ibunya dan membantu menjual rujak cingur.
Ia sudah duduk di samping tenda dagangannya, ibunya sudah kembali pulang untuk menyiapkan persiapan sekolah Nino dan mengantarnya, jika Nino sekolah makan
ibunya tidak akan kembali ke kedai karena bu Santi akan menunggu Nino di
sekolah sampai Nino pulang sekolah.
Kemudian mata Aisyah menangkap sebuah mobil yang sedang masuk ke gang tempat tinggalnya, ia tahu betul itu mobil siapa.
“Tuan Alex, masih saja …, heh … memang tidak ada apa perempuan lain selain istri
orang, dasar pria aneh …!” gumam Aisyah sambil terus memperhatikan mobil itu.
Alex sepanjang malam tidak bisa tidur dengan nyenyak, ia memikirkan bagaimana nasib
Nadin di tangan Rendi, sepertinya pria dingin itu sangat marah. Ia takut jika
Rendi sampai menyakiti Nadin.
Pagi ini alex pun memutuskan untuk berkunjung ke rumah Nadin, tidak peduli bagaimana respon pria dingin itu padanya, ia harus memastikan jika nadin baik-baik saja.
Mobil Alex berhenti tepat di depan rumah Nadin, ia bisa melihat nadin sedang menjemur
pakaian di samping rumah, alex pun segera turun dan menghampiri nadin, ia tidak
mau mengejutkan nadin, ia memilih diam dan mengamati Nadin yang menjemur
pakaian.
Rupanya Nadin menyadari jika ada seseorang yang sedang berdiri di belakangnya, ia
mengira jika itu pasti suaminya. Tapi jika suaminya pasti tidak akan hanya
“Alex!” pekik Nadin, wajahnya jadi berubah panik.
“Pagi.Nad ….! Mana baby El?” Tanya Alex sambil celingukan, mengedarkan pandangannya.
“Baby.El sama ayahnya!’ ucap Rendi yang tiba-tiba nongol dari dalam membuat hati Alex
mencelus.
Rendi segera berdiri di belakang nadin dan mengaitkan tangannya di pinggang Nadin. “Suruh masuk sayang temannya!” ucap Rendi dengan senyum yang sungguh terlihat begitu
aneh membuat Nadin tak mampu mengelak.
“Ma-masuk Lex!” ucap Nadin dengan suara yang terbata.
Saat hendak menjawab permintaan nadin, Alex kembali di kejutkan dengan beberapa
tanda kepemilikan yang menghiasi leher jenjang Nadin. Hati Alex seketika patah
saat itu juga.
“Tidak perlu, sepertinya saya sudah tidak ada urusan lagi di sini, kalau begitu saya
permisi!”
Alex berbicara begitu formal tidak seperti biasanya lalu pergi begitu saja membuat
Nadin merasa tidak enak, Nadin hendak mengejar Alex tapi segera di tahan oleh
Rendi.
“Lex.…, Alex …, tunggu!”
“Biarkan dia pergi! Aku tak butuh orang ke tiga atau ke empat atau ke lima untuk
keluarga kita!” ucap Rendi tegas sambil menahan tangan nadin agar tidak
menyusul Alex.
__ADS_1
Alex meninggalkan rumah Nadin dengan luka yang besar, dengan luka yang tidak pernah
ia bayangkan sebelumnya. Berharap memiliki milik orang lain adalah sebuah
kesalahan besar.
Alex kembali masuk ke dalam mobil, ia melihat mereka seperti keluarga yang utuh.
“Apa begitu jahat jika aku terlalu menginginkan mereka, aku hanya ingin menjadi
bagian dari hidup mereka, itu saja!”
Alex memilih segera menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Nadin, pelang sekali
hingga ia bisa melihat sekeliling, ia seakan tidak rela meninggalkan tempat
itu, banyak kenangan di tempat itu.
Hingga matanya berhenti pada sosok lembut yangs edang duduk di samping kedai rujak
cingur itu, gadis berhijab itu sedang duduk dan membaca buku, entah kenapa ia
tertarik untuk menghentikan mobilnya dan menghampiri gadis itu.
Alex pun turun dari mobil dan segera menuju gadis itu, ia ikut duduk di kursi plastik
kosong tak jauh dari gadis itu, sepertinya gadis itu menyadari kedatangannya.
Gadis itu adalah Aisyah, ia mengerutkan keningnya tak percaya jika pria itu berada di
depannya saat ini, baru lima belas menit berlalu dan pria arrogant itu sekarang
sudah duduk di hadapannya dnegan menatap ramainya jalanan.
“Tuan Alex! Apa yang anda lakukan di sini?”
Alex tidak beralih dari menatap jalan,
sepertinya pikirannya sedang terhambur seperti merak yang saling mendahului dan
berlalu berganti dnegan yang lainnya.
“hehhh …!” Alex menghela nafas, ia berbalik menatap Aisyah. aisyah pun segera
menundukkan pandangannya.
“Jika apa yang kamu inginkan tidak bisa kamu miliki apa yang akan kamu lakukan?”
tanya Alex, dan hanya kali ini ia mendengar pria arrogant itu mengeluh,
ternyata ia bisa mengeluh juga.
Aisyah mencoba mencerna maksud ucapan Alex. Aisyah pun kembali menatap jalan yang ada di depannya. Untung saj sedang tidak ada pembeli, ia bisa tenang mengartikan
ucapan pria arrogant itu.
“Jika.tidak bisa memiliki, berarti Allah mau kita lebih bersabar lagi. Merasa kehilangan tanpa sempat memiliki, yang hilang dari kita bukan orangnya namun harapan kita untuk bersamanya. Bersabar adalah kunci terbaik untuk kita kembali menatap hidup, Allah pasti punya rencana yang indah kedepannya!”
Alex tampak tercengang mendengar penuturan gadis di sampingnya itu, usianya masih
sangat muda, dua belas tahun lebih muda darinya, tapi pemikirannya yang luar
biasa membuatnya tidak percaya jika gadis itu masih berusia Sembilan belas
tahun.
Alex pun segera meninggalkan kursinya plastiknya, ia kembali berdiri dan memasukkan
kedua tangannya di saku celana.
“terimakasih, aku pergi!” ucap alex lalu pergi begitu saja.
Aisyah hanya bisa menghembuskan nafasnya saat melihat pria arrogant itu berlalu begitu
saja, “Waalaikum salam!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰😘