Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Dia lebih dewasa


__ADS_3

Malam ini Aisyah mengajak baby El tidur bersamanya, ia sudah begitu luwes mengurus


bayi,. Hari ini Aisyah di bebas tugaskan oleh ibunya, ia tidak menyuruh Aisyah


untuk membantunya sampai baby El kembali pada ibunya.


Aisyah juga tidak jadi pergi ke pesantren, ia harus menjaga baby El yang sudah mulai


aktif. Saat baby El sudah tertidur Aisyah pun berencana untuk mengantarkannya


pada Nadin. Ia pun menggendong baby El keluar kamar, ibu Santi yang masih di


depan tv, kembali bertanya pada Aisyah.


“Mau di bawa ke mana Sya, El-nya?”


“Mau Ais anter ke rumah kan nadin bu, sudah malam. Nanti kak Nadin cemas lagi kalau


El di sini!”


“Ya sudah, sana! Langsung pulang aja jangan ganggu Nadin lagi!”


“Iya bu, assalamualaikum!”


“Waalaikum salam!”


Aisyah mengendong baby El menuju ke rumah Nadin, saat ia hendak membuka pagar, tapi


segera di hentikan oleh pria muda yang selalu bersama suami Nadin dengan


menahan tangannya, membuat Aisyah segera terhenyak dan mengibaskan tangan pria


itu.


“Maaf!” sepertinya pria itu tahu telah melakukan kesalahan dengan memegang tangan wanita di depannya. Ia pun dengan cepat melepaskan tangannya dari tangan Aisyah.


“Kamu siapa?” Tanya Aisyah dengan menyelidik.


“Aku anak buah pak Rendi!”  pria itu berusaha


memperkenalkan diri, barulah Aisyah yakin jika dia memang benar-benar anak buah


Rendi.


“kalau begitu ijinkan kami masuk!”


“Maaf, tapi akan lebih baik jika mereka berdua dulu!”


Aisyah menjadi sangat bingung, bukankah baik jika mereka bertemu dalam satu keluarga


yang utuh, kenapa harus di tahan?


“Lalu?”


“Mereka sedang menyelesaikan masalah mereka di dalam, jadi saya mohon anda tidak akan mengganggunya!”


“Tapi baby El sudah tidur, kak Nadin pasti bingung jika baby El tidak pulang!”


“Itu tidak akan terjadi, baiklah …, bagaimana kalau baby El bersama saya saja!”


Aisyah memperhatikan pria yang ada di depannya itu, memeng tidak terlihat jahat, tapi


membiarkan baby El dengan pria asing ini bukanlah keputusan yang benar.


“Tidak …, biar baby El bersama ku saja, tapi aku minta tolong satu hal!”


“katakan!”


“Tolong katakan kepada kak nadin kalau baby El baik-baik saja bersamaku!”


“baiklah ....!’


“Assalamualaikum!”


“waalaikum salam!”


Aisyah pun kembali ke rumahnya dengan membawa baby El kembali, dari pada meninggalkan baby El dengan orang asing pasti tidak akan baik, apalagi seorang pria dengan bayi bukan kah sebuah masalah baru.


Sepanjang malam Aisyah beberapa kali terjaga ketika melihat El sesekali mengigo dan

__ADS_1


meminta susu, untuk Aisyah sempat membelikan susu formula untuk baby El, susu


itu ia gunakan untuk jaga-jaga jika sewaktu-waktu ia membawa baby El bermain ke rumahnya. Aisyah begitu menyayangi baby El, sama seperti alex menyayangi baby


El.


Pagi-pagi sekali Rendi sudah ke rumah Aisyah untuk mengambil baby El dan membawanya


pulang sehingga Aisyah bisa menyusul ibunya dan membantu menjual rujak cingur.


Ia sudah duduk di samping tenda dagangannya, ibunya sudah kembali pulang untuk menyiapkan persiapan sekolah Nino dan mengantarnya, jika Nino sekolah makan


ibunya tidak akan kembali ke kedai karena bu Santi akan menunggu Nino di


sekolah sampai Nino pulang sekolah.


Kemudian mata Aisyah menangkap sebuah mobil yang sedang masuk ke gang tempat tinggalnya, ia tahu betul itu mobil siapa.


“Tuan Alex, masih saja …, heh … memang tidak ada apa perempuan lain selain istri


orang, dasar pria aneh …!” gumam Aisyah sambil terus memperhatikan mobil itu.


Alex sepanjang malam tidak bisa tidur dengan nyenyak, ia memikirkan bagaimana nasib


Nadin di tangan Rendi, sepertinya pria dingin itu sangat marah. Ia takut jika


Rendi sampai menyakiti Nadin.


Pagi ini alex pun memutuskan untuk berkunjung ke rumah Nadin, tidak peduli bagaimana respon pria dingin itu padanya, ia harus memastikan jika nadin baik-baik saja.


Mobil Alex berhenti tepat di depan rumah Nadin, ia bisa melihat nadin sedang menjemur


pakaian di samping rumah, alex pun segera turun dan menghampiri nadin, ia tidak


mau mengejutkan nadin, ia memilih diam dan mengamati Nadin yang menjemur


pakaian.


Rupanya Nadin menyadari jika ada seseorang yang sedang berdiri di belakangnya, ia


mengira jika itu pasti suaminya. Tapi jika suaminya pasti tidak akan hanya


“Alex!” pekik Nadin, wajahnya jadi berubah panik.


“Pagi.Nad ….! Mana baby El?” Tanya Alex sambil celingukan, mengedarkan pandangannya.


“Baby.El sama ayahnya!’ ucap Rendi yang tiba-tiba nongol dari dalam membuat hati Alex


mencelus.


Rendi segera berdiri di belakang nadin dan mengaitkan tangannya di pinggang Nadin. “Suruh masuk sayang temannya!” ucap Rendi dengan senyum yang sungguh terlihat begitu


aneh membuat Nadin tak mampu mengelak.


“Ma-masuk Lex!” ucap Nadin dengan suara yang terbata.


Saat hendak menjawab permintaan nadin, Alex kembali di kejutkan dengan beberapa


tanda kepemilikan yang menghiasi leher jenjang Nadin. Hati Alex seketika patah


saat itu juga.


“Tidak perlu, sepertinya saya sudah tidak ada urusan lagi di sini, kalau begitu saya


permisi!”


Alex berbicara begitu formal tidak seperti biasanya lalu pergi begitu saja membuat


Nadin merasa tidak enak, Nadin hendak mengejar Alex tapi segera di tahan oleh


Rendi.


“Lex.…, Alex …, tunggu!”


“Biarkan dia pergi! Aku tak butuh orang ke tiga atau ke empat atau ke lima untuk


keluarga kita!” ucap Rendi tegas sambil menahan tangan nadin agar tidak


menyusul Alex.

__ADS_1


Alex meninggalkan rumah Nadin dengan luka yang besar, dengan luka yang tidak pernah


ia bayangkan sebelumnya. Berharap memiliki milik orang lain adalah sebuah


kesalahan besar.


Alex kembali masuk ke dalam mobil, ia melihat mereka seperti keluarga yang utuh.


“Apa begitu jahat jika aku terlalu menginginkan mereka, aku hanya ingin menjadi


bagian dari hidup mereka, itu saja!”


Alex memilih segera menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Nadin, pelang sekali


hingga ia bisa melihat sekeliling, ia seakan tidak rela meninggalkan tempat


itu, banyak kenangan di tempat itu.


Hingga matanya berhenti pada sosok lembut yangs edang duduk di samping kedai rujak


cingur itu, gadis berhijab itu sedang duduk dan membaca buku, entah kenapa ia


tertarik untuk menghentikan mobilnya dan menghampiri gadis itu.


Alex pun turun dari mobil dan segera menuju gadis itu, ia ikut duduk di kursi plastik


kosong tak jauh dari gadis itu, sepertinya gadis itu menyadari kedatangannya.


Gadis itu adalah Aisyah, ia mengerutkan keningnya tak percaya jika pria itu berada di


depannya saat ini, baru lima belas menit berlalu dan pria arrogant itu sekarang


sudah duduk di hadapannya dnegan menatap ramainya jalanan.


“Tuan Alex! Apa yang anda lakukan di sini?”


 Alex tidak beralih dari menatap jalan,


sepertinya pikirannya sedang terhambur seperti merak yang saling mendahului dan


berlalu berganti dnegan yang lainnya.


“hehhh …!” Alex menghela nafas, ia berbalik menatap Aisyah. aisyah pun segera


menundukkan pandangannya.


“Jika apa yang kamu inginkan tidak bisa kamu miliki apa yang akan kamu lakukan?”


tanya Alex, dan hanya kali ini ia mendengar pria arrogant itu mengeluh,


ternyata ia bisa mengeluh juga.


Aisyah mencoba mencerna maksud ucapan Alex. Aisyah pun kembali menatap jalan yang ada di depannya. Untung saj sedang tidak ada pembeli, ia bisa tenang mengartikan


ucapan pria arrogant itu.


“Jika.tidak bisa memiliki, berarti Allah mau kita lebih bersabar lagi. Merasa kehilangan tanpa sempat memiliki, yang hilang dari kita bukan orangnya namun harapan kita untuk bersamanya. Bersabar adalah kunci terbaik untuk kita kembali menatap hidup, Allah pasti punya rencana yang indah kedepannya!”


Alex tampak tercengang mendengar penuturan gadis di sampingnya itu, usianya masih


sangat muda, dua belas tahun lebih muda darinya, tapi pemikirannya yang luar


biasa membuatnya tidak percaya jika gadis itu masih berusia Sembilan belas


tahun.


Alex pun segera meninggalkan kursinya plastiknya, ia kembali berdiri dan memasukkan


kedua tangannya di saku celana.


“terimakasih, aku pergi!” ucap alex lalu pergi begitu saja.


Aisyah hanya bisa menghembuskan nafasnya saat melihat pria arrogant itu berlalu begitu


saja, “Waalaikum salam!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰😘


__ADS_2