
Kini Leon sudah melajukan mobilnya menuju ke tempat yang di tunjukkan oleh seseorang, ia harus melakukan tugasnya. Bisa jadi setelah ini, tinggal selangkah lagi dan semuanya akan terungkap.
Leon menghentikan mobilnya di bahu jalan, melihat jalanan yang masih tampak sepi. Langit juga sudah gelap semenjak satu jam yang lalu. Sedikit gerimis membuat udara terasa semakin dingin.
Ia berjalan cepat setengah berlari menuju halaman tanpa pagar, sesampai di depan pintu tangannya tampak sibuk mengusap rambut dan bajunya yang terkena air.
Sebelum ia sempat mengetuk, pintu itu sudah lebih dulu terbuka.
"Cepat sekali bos, aku kira baru datang besok!" sapa pria yang masih memegang gagang pintu itu.
"Semakin cepat semakin baik! Dia mana gadis itu?"
"Di dalam bos! Yakin bos tidak ada yang mengikuti?"
Leon menatap kesal pada pria di depannya itu,
"Maaf, maaf ..., percaya deh!"
Leon menerobos masuk begitu saja saat pria itu tidak juga bergeser dari tempatnya hingga bahu mereka saling beradu.
Langkahnya langsung di ikuti oleh pria itu, ia menunjukan di mana gadis itu berada.
Saat ia membuka pintu, ia melihat gadis yang sedang di ikat tangannya ke belakang dan tubuhnya juga di ikat dengan kursi,
"Dia sudah solat?"
"Memang dia muslim Bos?"
"Mungkin saja!"
Pria itu pun segera mendekati gadis itu yang terlihat begitu terkejut melihat kedatangan Leon yang menyamar menjadi Gus Raka itu.
"Mas Raka, tolong saya! Saya sungguh tidak bersalah!"
"Bos tanya, kamu mau sholat nggak?" saat pria itu bertanya, gadis itu menggelengkan kepalanya.
Pria itu segera menoleh pada Leon, "Tuh kan bos, berarti aku nggak dosa! Dia sendiri yang nggak mau!"
"Ya sudah, ambilkan aku kursi dan temani aku di sini!"
Pria itu segera keluar dan kembali lagi dengan membawa kursi yang sama dengan yang di pakai untuk mengikat gadis itu.
Leon pun duduk berhadapan dengan gadis yang tampak lesu itu, di belakangnya masih ada pria itu.
Ia mengaktifkan mode rekam untuk menyimpan pengakuan yang mungkin mereka butuhkan.
"Mas Raka, kenapa mas Raka melakukan ini sama saya, apa salah saya?"
"Yang pertama, karena kamu berani meminta salinan kunci kamar saya, itu benar kan?"
"I_iya, benar! Tapi sungguh saya cuma tidak enak kalau mau membersihkan kamar itu ada mas Raka!"
"Benarkah? Saya rasa saya tidak pernah menyuruh kamu untuk membersihkan kamar saya!"
"Ya itu karena senior kadang sibuk makanya meminta saya!"
"Tapi saya selalu di kamar itu saat mereka membersihkan kamar itu, mereka tidak pernah mengeluh sibuk!"
Gadis itu diam, sepertinya tidak punya pembelaan lagi untuk menyanggah ucapan Gus Raka.
__ADS_1
"Mau dengan yang ke dua?"
Gadis itu masih dia, sepertinya ia Sudja mengerti kenapa dia berada di tempat itu,
"Baiklah, saya akan katakan yang ke dua tanpa kamu bicara! Jadi yang kedua saya tahu kamu adalah mata-mata dari seseorang! Jadi sekarang apa kamu mau bebas dari sini?"
Gadis itu mengangguk dengan yakin.
"Ada syaratnya! Katakan semua yang kamu ketahui tentang mereka!"
"Sungguh mas Raka, saya Tidka tahu apa-apa, saya hanya menjalankan apa yang di perintahkan oleh mereka itu saja!"
"Keras kepala ya kamu!" kini Leon melipat kedua tangannya di span dada dan menyilang kan kakinya dengan wajah serius dan mulai ada rasa kesalnya.
"Sungguh mas Raka, saya tidak tahu apa-apa!" gadis itu mulai menangis. Sepertinya gadis itu memang berada di bawah tekanan sehingga melakukan hal itu.
"Baiklah, bagaimana kalau dengan ini?" Leon menunjukkan layar ponselnya dan di sana ada gambar seorang pria yang tengah berjuang di rumah sakit. Berdasarkan penyelidikan Leon, pria yang dulunya berprofesi sebagai salah satu karyawan di sebuah perusahaan kecil itu sedang mengalami sakit akibat penyumbatan pada paru-paru nya dan membutuhkan biaya yang cukup besar untuk pengobatannya.
"Mas Raka, mas Raka tahu dari mana? Jangan macam-macam sama ayah saya!"
"Saya tidak akan melakukan apapun pada ayah kamu asal kamu bersedia mengatakan semuanya!"
Mas Raka tidak mungkin berbuat jahat sama ayah, tapi orang-orang itu pasti ....
Gadis itu tampak mempertimbangkannya,
"Saya tidak akan mengatakan apa-apa, memang apa yang bisa mas Raka lakukan pada ayah saya, mas Raka akan dosa karena sudah melakukan penganiayaan pada ayah saya!"
"Benarkah seperti itu, sepertinya kamu salah mengerti tentang saya!"
"Mas Raka bukan orang yang bisa melakukan perbuatan jahat, jadi jangan menakuti saya, itu tidak akan mempan!"
Leon terdiam, lalu tersenyum.
Gadis itu tampak terkejut, seketika wajahnya berubah pucat. Ia seperti sedang melihat setan saat ini.
"Tuan Leon!"
"Bagaimana? Kamu masih mau meragukan kemampuanku?" Leon tersenyum smirt, hingga membuat orang yang melihatnya akan ketakutan.
Butuh waktu lama, tapi akhirnya gadis itu mau bercerita juga. Hingga hampir tengah malam barulah Leon keluar dari ruangan itu.
Ia kembali memakai topeng wajahnya, ia belum bisa menunjukkan pada orang-orang tentang jati dirinya karena masih begitu banyak orang yang nyawanya dalam bahaya.
"Tetap awasi dia, jangan sampai kabur sebelum semuanya terungkap!"
"Siap bos!"
"Aku pergi dulu!"
...***...
Pagi-pagi sekali Leon yang menyamar sebagai Gus Raka sudah sampai di rumah mertuanya, ia menepati janjinya pada Nisa. Ia juga membawakan baju ganti untuk Nisa.
"Itu apa nak Raka?" tanya mama Nisa saat melihat paper bag yang berada di tangan Leon.
"Ini baju ganti Nisa, bi! Tolong sampaikan padanya ya bi, saya menunggu di bawah!"
"Baiklah!" mama Nisa mengambil paper bag itu, "Ikutlah sarapan, aku sudah memasak banyak tadi!"
__ADS_1
Leon hanya tersenyum dan wanita yang telah melahirkan istrinya ke dunia itu segera meninggalkannya dan menuju ke kamar Nisa.
Nisa baru saja selesai mandi saat sang mama masuk ke dalam kamar,
"Ada apa ma?"
"Ini, Raka bawakan baju ganti buat kamu!"
"Memang mas Raka tahu baju aku?"
Mama nisa tampak mengangkat kedua bahunya tanda tidak mengerti.
"Ya sudah cepetan ganti baju, kasihan Raka nungguin kamu! Sekalian kita sarapan bareng!"
"Baik ma!"
Mama Nisa segar keluar, meninggalkan Nisa bersama paper bag nya. Ia tidak yakin baju yang di bawa Gus Raka itu baju yang benar, tampak sekali dari sikapnya yang tidak antusias.
Hingga saat ia mengeluarkan baju itu, ia tampak tercengang.
"Mas Raka tahu baju yang biasa aku kenakan?" ia bertanya pada dirinya sendiri sambil melihat baju itu.
"Mungkin bibi yang mencarikan untuknya!" Nisa berusaha berpikir logis. Ia pun segera mengganti baju rumahannya dengan baju yang akan di pakai ke rumah sakit.
Setelah selesai berganti baju dan memoles wajahnya dengan bedak dan lipstik, ia segera turun dan sudah mendapat Leon yang menyamar menjadi Gus Raka bergabung dengan kedua orang tuanya di meja makan. Mereka tampak asik mengobrol sambil menunggu Nisa.
"Itu Nisa!" mama Nisa langsung menunjuk Nisa saat melihat Nisa menuruni tangga.
Nisa yang awalnya berhenti hanya untuk melihat keakraban mereka pun akhirnya memilih melanjutkan langkahnya dan bergabung bersama mereka.
Menikmati sarapan bersama-sama layaknya sebuah keluarga.
Setelah selesai sarapan, mereka pun berpamitan untuk berangkat.
"Mas Raka bisa tahu baju Nisa?" tanya Nisa saat mereka sudah berada di dalam mobil,
Leon menoleh dan tersenyum, "Itu tadi aku minta bantuan bibi!"
Ahhh sudah ku duga, tapi kanapa aku malah kecewa ya? Seharusnya aku senang karena memang bukan mas Raka sendiri yang mencarikan bajuku, batin Nisa.
Maaf karena aku tidak bisa mengatakan semuanya padamu sekarang, batin Leon. Ia bisa melihat wajah sedih dari istrinya itu, walaupun hanya sekilas.
Mereka pun akhirnya memilih untuk saling diam hingga sampai di rumah sakit.
"Sudah sampai!" Leon memperingatkan Nisa yang sepertinya belum sadar kalau sudah sampai.
Nisa segera menatap ke laut dan benar saja mobil sudah berada di span rumah sakit, ia juga bisa melihat mobil kakaknya yang juga baru saja berhenti di depannya.
"Aku turun dulu!" Nisa segera membuka pintunya, sebelum benar turun, ia kembali menoleh pada Leon, "Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Setelah benar-benar turun, sang kakak segera menghampiri Nisa dan melambaikan tangannya pada Leon yang memang selalu melakukan hal yang sama, ia tidak pernah turun dari mobilnya saat mengantar Nisa. Itu permintaan Nisa, tapi ia selalu menelpon kakak Nisa agar saat Nisa turun langsung di sambut sang kakak.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...