
...Jangan bersedih atas apa yang telah berlalu, kecuali kalau itu bisa membuatmu bekerja lebih keras untuk apa yang akan datang. – Umar bin Khattab...
Aku hanya pemuda yang beruntung karena di besarkan di keluarga yang sangat faham dengan agama. Abi dan umi yang aku anggap sebagai orang tuaku sendiri itu ternyata bukanlah orang tua kandungku.
Aku mengetahuinya saat seorang gadis datang menemui ku dan dia mengatakan kalau adik kandungku. Abi dan umi pun mengiyakan.
Kalimat Istighfar terus saja aku lantungkan dari bibirku agar tidak terbawa emosi, aku yang sudah begitu nyaman dengan keluargaku tiba-tiba ada orang lain mengaku dirinya adalah keluargaku.
Cukup lama Abi dan umi meyakinkanku, mereka menceritakan bagaimana hingga aku bisa berada di keluarga ini. Ternyata hidupku begitu berat di masa kecil, orang tuaku meninggal dan kakek menyerahkan ku pada Abi dan umi.
Setiap hari aku termenung, mencoba meresapi apa yang terjadi. Abi dan umi tidak punya anak selain aku, itu pasti sangat sulit bagi mereka. Dan lagi kedua orang tua kandungku juga sudah tidak ada di dunia ini, seharusnya memang tidak ada yang berubah.
"Biarlah semua orang tetap menganggap kamu sebagai anak Abi dan umi, sampai kapanpun juga akan tetap seperti itu Raka!" Abi berkata begitu bijaksana padaku, seluruh penghuni pesantren tahu akulah anak Abi, aku mendapat panggilan Gus karena memang aku anak Abi dan umi.
"Tapi Raka bukan putra kandung abi dan umi, Raka punya keluarga lain!"
"Memang apa masalahnya, keluargamu adalah keluarga kami juga. Abi dan umi yang meminta kamu langsung dari kakek kamu!" lagi-lagi Abi berkata dengan begitu bijak.
"Raka mengerti Abi, terimakasih karena Abi dan umi sudah mau menerima Raka, merawat Raka dan mengajarkan Raka banyak hal!"
"Itu sudah kewajiban Abi dan umi!"
Semenjak saat itu aku jadi tahu jika aku punya keluarga lain yang juga harus aku perhatikan. Ada kakek dan adik Perempuanku, mereka punya keyakinan yang berbeda dariku tapi Abi dan umi tetap mengatakan tidak mempermasalahkan hal itu.
Aku kembali fokus dengan pendidikan ku, aku mendapat beasiswa ke Mesir, menempuh pendidikan s1 dan s2 di sana.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan pendidikannya, aku kembali ke pesantren Abi, membantu Abi mengajar di sana. Hingga tawaran untuk mengajar di salah satu universitas pun juga aku dapatkan. Karena begitu sukanya aku dengan ilmu, aku mulai membuka sebuah toko buku. Lambat laun tokoku mulai berkembang bukan hanya menjadi toko yang menyediakan buku jadi, aku pun membuat tempat percetakan juga dengan karyawan-karyawan yang berpengalaman dalam percetakan buku, aku membuat tim sendiri mulai dari editor dan sebagainya.
Abi memintaku untuk melanjutkan kembali kuliah S3, aku mendapatkan gelarku lebih cepat, aku menjadi sarjana termuda saat itu. Usiaku masih dua puluh empat tahun saat menyelesaikan pendidikan S3 ku. Hal itu aku dapat tidak mudah, aku hanya anak angkat yang menanggung beban pesantren di kedua bahuku. Aku tidak boleh mengecewakan orang-orang yang sudah begitu sayang padaku.
Hingga kini usiaku dua puluh tujuh tahun, Abi dan umi merasa kalau aku sudah pantas untuk mencari pendamping hidup. Atas usul salah satu teman yang juga murid Abi, memintaku untuk mengajukan khitbah pada adik iparnya yang juga sedang di rekomendasikan orang tuanya untuk segera menikah.
Temanku memberikan foto seorang gadis berhijab, hanya dengan menatap fotonya saja aku sudah merasa tertarik pada gadis yang ada di foto itu, namanya Nisa.
Aku pun meminta persetujuan Abi dan umi tentang gadis yang akan aku khitbah dan mereka menyambut dengan antusias. Sebelumnya memang sudah aku selidiki, aku tanyakan pada teman-teman dekatnya, kebiasaanya, pekerjaannya dan semua tentangnya.
Hingga aku tahu ternyata Nisa juga seorang penulis, aku jadi punya hobi baru setiap yaitu mengoleksi buku Nisa.
Aku sudah sempat bertemu dengan papa Nisa, keluarga Nisa sangat baik dan humble.
Hingga di buku cetakan terakhir Nisa sebelum hari di mana papa Nisa meminta aku untuk ke rumahnya membicarakan suatu hal, aku menemukan sesuatu.
Aku ke rumah gadis yang sudah berhasil membuat hati ini berdebar, gadis yang aku sebut namanya dalam setiap doa yang aku panjatkan, semoga Allah menjadikan kami jodoh dunia akhirat, itu yang selalu terlantun dalam setiap doaku.
Hingga seorang pemuda datang di antara kami, aku melihat pemuda itu seolah menemukan tokoh yang Nisa tulis dalam bukunya, sebelumnya tidak begitu yakin. Tapi beberapa kali bertemu dengannya tanpa sengaja membuatku semakin yakin bahwa pria ini yang di tuliskan Nisa dalam bukunya.
Hingga di mana Nisa memberi keputusan, aku sudah tahu apa yang akan menjadi keputusan Nisa. Aku pasrah, aku pasrahkan semuanya pada Allah. Jika memang dia bukan jodohku makan aku hanya bisa berdoa semoga Allah mengantikan ya dengan yang lebih baik.
Leon, pria itu memang jauh berbeda dariku. Aku tahu dia baru saja berhijrah, tapi tekatnya untuk bisa menjadi lebih baik membuatku salut.
Nisa datang ke toko bukuku, dia menyampaikan keputusannya. Dia gadis yang sangat menghargai perasaan orang lain. Aku pikir sebuah surat yang akan datang tapi ternyata gadis itu sendiri, butuh keberanian untuk melakukan hal ini. Aku sangat menghargai keberaniannya.
__ADS_1
Beberapa hari setelah hari itu, pria yang menjadi sainganku juga datang ke toko, kami juga terlibat kerja sama hal ini membuat kami sering bertemu. Entah kebetulan yang bagaimana, tanpa sadar sedari dulu kita memang sudah di pertemukan.
Sepertinya karena terlalu asik melihat-lihat buku pria itu tidak menyadari kedatanganku. Aku menyempatkan diri untuk memperhatikan pria itu, entah kenapa tiba-tiba hati ini berdesis. Dia sama seperti pria-pria di luaran sana tapi aku merasa dia memiliki tempat yang istimewa. Saat bersama pria ini aku merasa dia bukan orang asing bagiku, kamu seperti sudah kenal sangat lama bahkan jauh sebelum hari ini.
Cukup lama aku berdiri hingga ia menyadarinya, barulah aku menyapanya. Aku pun memilihkan beberapa buku untuknya, dia sangat suka membaca.
Sebuah undangan pernikahan dia serahkan padaku 'Nisa & Leon' aku baca sekilas nama yang tertera di undangan itu.
Berkali-kali dia meminta maaf padaku, dia bukan pria yang suka meminta maaf tapi kali ini aku melihat ketidak enakan di dalam matanya mana kali menatap ke arahku.
, "Tidak ada yang perlu di maafkan, apapun yang terjadi pada kita merupakan skenario dari Allah kita hanya menjalaninya saja. Tidak usah meminta maaf." hanya itu yang mampu ku ucapkan untuk pria itu.
Kemudian sebelum dia pergi, aku teringat sesuatu. Aku menahannya sebentar lalu pergi ke dalam ruangan ku. Ku ambil beberapa buku yang tertumpuk di atas mejaku dan segera berlalu kembali menghampiri Leon yang masih berdiri di tempat yang sama.
"Bawalah ini bersamamu, jika ada waktu bacalah dan kamu akan menemukan kepastian di dalamnya!"
Ada sebuah kelegaan saat menyerahkan buku itu, semoga dia terus merasa bersalah padaku. Mungkin aku yang datang di awal tapi dia yang menjadi pilihan di akhir.
...Orang yang mau menunjukkan di mana letak kesalahanmu, itulah temanmu yang sesungguhnya. Sedangkan mereka yang hanya menyebar omong kosong dengan selalu memujimu, mereka sebenarnya adalah para algojo yang justru akan membinasakanmu. – Umar bin Khattab...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...