
"Assalamualaikum dek, siapa yang telpon?" pria yang baru turun dari motornya itu segera menghampiri sang istri.
"Waalaikum salam, mas! Ini mas Leon telpon, nanyain mas Raka!" ucap Asna sambil menunjukkan benda pipih di tangannya.
"Yah kok di matiin, nggak pakek salam lagi!" gumamnya sambil menatap layar ponsel yang menunjukkan panggilan telah berakhir.
Asna pun segera mencium tangan sang suami, "Mas kok bawa motor sendiri sih?"
Srekkkkk
Bukannya menjawab pertanyaan sang istri, Raka malah memeluk istrinya itu dengan begitu erat membuat sang istri sampai kesusahan untuk bernafas. Tapi ia tidak berniat protes karena ini untuk pertama kalinya sang suami mempunyai inisiatif untuk memeluknya.
"Ada apa mas?"
"Maafkan aku ya!"
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya, mas sudah membuatmu berjuang sendirian! Mulai hari ini mas akan lebih giat berjuang agar kamu tidak lebih banyak menderita!"
"Tidak ada mas, siapa yang bilang aku menderita?"
"Hatiku!"
"Hmmm?" Asna sampai mendongakkan kepalanya mendengar ucapan suaminya, memastikan apa yang dia dengar itu benar.
"Mungkin aku kehilangan sebagian ingatanku, tapi hatiku tidak. Dia tahu kemana harus berlabuh!"
"Mas, bisa di lepaskan sebentar nggak pelukannya. Aku susah bernafas!" akhirnya Asna menyerah juga.
Raka pun segera melepaskan pelukannya,
"Maafkan aku ya!"
"Asna suka, masuk mas!" Asna pun langsung menarik tangan sang suami masuk ke dalam rumah.
"Leon kenapa menelpon?"
"Nggak tahu mas, tapi dari nada suaranya sepertinya panik, dia nanyain mas Raka!"
Raka hanya diam, ia baru saja bertemu dengan saudranya itu tidak mungkin terjadi sesuatu.
"Aku lapar!"
"Kebetulan mas, Asna sudah masak buat makan malam!"
"Mbak Rumi nggak datang?"
__ADS_1
"Katanya ada kondangan ke rumah sepupunya, mbak Rumi ijin satu Minggu."
"Memang sepupunya di mana?"
"Katanya di malang, sekalian berlibur!" Asna sudah menyiapkan makanan untuk sang suami di atas meja.
"Biar aku ambil sendiri!"
"Tidak pa pa mas, Asna seneng kok!" Asna menuangkan nasi, sayur dan lauk untuk sang suami.
"Asna juga sekalian mau makan, rasanya sudah lama sekali nggak makan berdua kayak gini!"
Semenjak Raka hilang ingatan, pria itu seperti sengaja menghindari makan bersama dalam suasana yang tenang seperti ini, selalu saja ada yang di ributkan dari pria itu.
"Makan mas!"
"Shahia di mana?" Raka baru ingat dia tidak melihat Shahia sedari dia masuk ke dalam rumah.
"Oh iya, Asna lupa kasih tahu. Tadi umi datang, katanya kangen sama Shahia. Pas umi mau pulang, Shahia malah merengek minta ikut!"
"Kita sudah lama ya tidak ke rumah umi, berdua!"
"Iya!"
Semenjak iia sadar dari koma, Raka tidak pernah mengajak Asna datang ke pesantren. Ia merasa tidak suka dengan tatapan orang-orang di sana. Ia merasa melakukan sebuah kesalahan hingga ia cukup malu untuk membawa istrinya ke tempat orang tuanya.
"Makan mas, kenapa di lihatin aja makanannya, nggak enak ya?" Asna sampai mencicipi berkali-kali makanannya.
Raka segera menggelengkan kepalanya, "Enggak, bukan itu!"
"Lalu?"
"Terimakasih ya!"
"Untuk apa mas, mas Raka sudah sering bilang terimakasih sama Asna!"
"Karena kamu sudah mau menungguku, Karena kamu percaya aku bisa menjadi imanmu yang baik, karena akhirnya kamu menerima lamaran aku!"
Asna seketika meletakkan sendoknya, matanya tiba-tiba berair tanpa di perintah. Seakan peristiwa kelam itu kembali terbuka.
"Asna yang terimakasih mas, wanita tidak tahu diri ini masih saja mengharap cinta darimu mas, aku tidak tahu apa maksud Allah menghilangkan sebagian kecil dari memori kamu mas, aku hanya takut Allah ingin kamu menemukan wanita yang terbaik selain aku mas, Asna takut!"
Asna sampai mencakup wajahnya dengan kedua tangan. Raka yang melihat hal itu ia pun langsung berdiri dan memeluk sang istri, mengusap punggung istrinya yang bergetar.
"Enggak dek, njangan berfikir buruk seperti itu. Aku sudah yakin kalau kamulah yang terbaik yang di kirim Allah buat mas, jadi jangan berkecil hati!"
"Tapi Asna hanya wanita kotor yang harusnya di buang, Asna sering merasa tidak pantas berada di samping mas Raka!"
__ADS_1
"Bukan kamu yang kotor, bukan kamu yang hina, mereka lah yang tidak punya akhlak itu yang kotor, mereka bukan kamu!"
Setelah Asna lebih tenang, Raka pun melepaskan pelukannya, masih tersisa sesenggukan dari sang istri,
"Sudah ya kita makan, tidak ada lagi yang sedih-sedih, kita mulai dengan yang baru!"
Asna pun mengangukkan kepalanya, dan Raka kembali duduk di tempatnya lalu menyantap makanannya.
Raka tidak menyangka apa yang ia katakan akan membuka luka lama istrinya.
...***...
"Aku ke masjid dulu ya!"
"Asna ikut nggak pa pa ya mas sekalian jemput Shahia!"
"Nggak usah, besok saja ke sananya. Barusan umi telpon kalau Shahia nggak usah di jemput sekarang, katanya umi ngajak Shahia pengajian sampai malam ke Gresik!"
"Jadi nggak pulang ya?"
"Insyaallah pulangnya tengah malam, jadi katanya kasihan kalau di antar ke rumah, kamu di suruh istirahat saja sama umi!"
Walaupun tidak terbiasa tanpa Shahia, akhirnya Asna pun merelakannya.
"Tapi kamu nggak pa pa kan sendiri di rumah?"
Asna tersenyum, ia jadi ingat awal-awal mereka menikah,
"Berani mas, Asna sudah terbiasa sendiri!"
Hehhhhh .....
Entah ada yang perih yang di rasakan Raka saat Asna mengatakan itu, ia merasa dirinyalah yang berperan dalam membuat sang istri sendiri.
"Aku berangkat ya, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam, mas!"
Kali ini Raka ke masjid memakai sepeda motor, sudah lama sekali dan ia merindukan sepeda motornya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @ tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...