
...NB : ...
...Sebelum baca, akan lebih bijaknya sambil dengerin sholawat (Srokalan) atau asraqal dan di lanjut musik pengiring pengantin adat Jawa biar lebih menjiwai ya...
...🌺Selamat membaca🌺...
Setelah Leon pergi dari kamar, Nisa pun menjatuhkan tubuhnya di sofa kamarnya. Ia memegangi letak jantungnya.
"Ahhh kerasa kedatangan Eun Chae won di rumah!" Nisa tersenyum sendiri mambayangkan betapa konyolnya wajahnya tadi saat melihat ketampanan suaminya.
Nisa pun langsung menelungkupkan wajahnya ke sofa dengan posisi persis seperti orang sujud.
"Ihhhh ihhhh ihhhhh, malu kan jadinya!" Nisa terus mengutuki kebodohannya sendiri, ia tidak menyangka bisa sebodoh ini saat di depan suaminya. "Lagian siapa suruh tampan-tampan, aku kan jadi keder!"
Lagi-lagi Nisa kembali ke posisi semula setelah mendongakkan kepalanya sejenak lalu kembali menelungkupkan wajahnya.
"Mbak, mbak, mbak Nisa tidak pa pa!" suara seseorang membuatnya terdiam. Ia mungkin melupakan sesuatu. Atau mungkin Leon yang melupakan sesuatu saat keluar kamar tadi.
Apa aku lupa menutup pintu? Nisa seperti kembali mengingat sesuatu.
Nisa pun perlahan mengangkat kepalanya hingga posisi duduk dengan melipat kakinya ke belakang.
Dua perias pengantin dengan dua buah koper kecil di tangannya.
"Ibu_, mbak_!" Nisa mengabsen dua orang itu dengan bibir yang terlihat senyum di paksakan.
"Mbak Nisa nggak pa pa?" salah satu wanita yang lebih tua tampak kembali memperhatikan wajah Nisa.
"Nggak pa pa, sungguh!"
"Kami hampir saja terkejut melihat mbak Nisa kayak tadi, saya pikir mbak Nisa kenapa-kenapa!"
Maksudnya kerasukan gitu? Nisa hanya tersenyum menanggapi ucapan wanita itu.
"Sudah siap kan mbak, mari saya rias!"
Nisa jadi teringat tujuannya kembali masuk ke dalam kamarnya untuk sholat.
"Aku harus sholat dulu tidak pa pa ya buk!"
"Iya, silahkan mbak!"
Nisa pun berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu sholat.
Setelah menyelesaikan semuanya, Nisa pun siap untuk di rias.
Di tempat lain, setelah selesai sholat berjalan di masjid, Leon terlebih dulu menemani mertuanya untuk menyambut beberapa tamu. Jika berpenampilan seperti itu, tidak akan ada yang menduga kalau ternyata menantu dari pengacara Dimas Geraldi adalah seorang pengusaha sukses. Leon lebih mirip seperti aktor Korea yang sedang bermain peran di acara pernikahan adat Jawa. Wajahnya yang putih bersih di tambah baju Koko abu-abu muda dan sarung yang senada hanya lebih gelap dari atasannya itu membuatnya tampak menonjol di banding orang-orang di sekelilingnya.
Acara inti sebenarnya akan di mulai jam dua agar nanti pas jam empat sudah selesai semuanya.
Tapi dari pagi sudah begitu banyak tamu yang datang untuk memberi selamat. Bahkan teman-teman pengacara papa Nisa dan juga ibu-ibu arisan temannya mama Nisa sudah banyak yang datang.
"Pak Dimas pinter cari mantu, kayak nemu aktor Korea berpeci!"
Tidak hanya berkomentar saja, bahkan banyak yang dengan sengaja berfoto Selfi dengan Leon karena terkesima dengan wajah Leon.
"Nemu di mana ini Bu Dimas, menantu yang kayak gini! pengen banget cari kembarannya!"
"Kayak Lee min hoo Indonesia nih!"
"Hidungnya tinggi bener, kayak ukiran, kulitnya putih bersih!"
Beberapa komentar dari para tamu yang datang, dan Leon hanya bisa tersenyum menanggapinya. Dia bersyukur karena ternyata kedua orang tuanya meninggalkan wajah yang tampan untuknya walaupun tidak tahu bagaimana wajah mereka setidaknya ia bisa tahu dari bagaimana orang-orang memandangnya.
__ADS_1
"Mas Leon, mbak Nisa nya sudah selesai di paes, sekarang gantian mas Leon!" seseorang yang tadi menunjukkan kamar Nisa kini kembali menghampirinya. Sekarang bajunya pun sudah bukan baju yang di kenakan tadi. Entah berapa banyak baju yang memang sengaja di siapkan oleh papa Nisa untuk semua asisten rumah tangganya.
Sebenarnya kehidupan keluarga Nisa tidak begitu mewah, tapi sekali mengadakan hajatan mereka benar-benar tidak tanggung-tanggung.
"Baiklah, dia mana ya?" Leon takut salah tempat. Ia masih ragu jika sudah di perbolehkan ke kamar Nisa.
"Di kamarnya mbak Nisa, mas!"
"Baiklah, saya ke sana!"
Leon pun akhirnya meninggalkan tepatnya menyambut tamu, ia harus segera bertemu dengan Nisa kembali.
Dan benar saja saat masuk ke dalam kamar, Nisa sudah memakai pakaian adat Jawa kembali. Saat ini pakaian berwarna hitam lengkap dengan hiasan bunga. melati. Walaupun memakai hijab tidak mengurangi kecantikannya.
"Itu mas Leon nya!" suara seseorang menyadarkan Leon atas ketersimaannya dengan penampilan Nisa.
Leon pun tersenyum dan menghampiri Nisa dengan beberapa orang lainnya,
"Mas Leon cepat pakek baju ini ya!" Seseorang langsung menyodorkan sebuah baju yang senada dengan yang di pakai Nisa, bahkan Jarit yang sudah di bentuk itu pun motifnya juga sama lengkap depan stagen dan kerisnya juga. Ada blangkonnya juga.
Leon pun tanpa pikir panjang segera mengganti bajunya dengan baju yang Barus saja di sodorkan di dalam kamar mandi.
Setelah berhasil memakai pakaian inti, Leon kembali keluar dan di bantu seseorang untuk memakai atributnya.
"Sekarang semuanya sudah siap, kami tinggal dulu ya!"
Entah ide dari mana, semua orang yang mengelilingi Leon dan Nisa kini sudah pergi semua, hanya menyisakan Leon dan Nisa saja.
"Mas Leon nggak lapas?" pertanyaan Nisa membuyarkan lamunan Leon, dengan cepat Leon menatap ke arah Nisa.
Ia baru ingat jika sedari tadi pagi bahkan ia belum makan apapun.
"Lapar, apa ada makanan?"
"Itu!" Nisa menunjuk ke arah meja yang ada di sudut ruangan., "Syukurlah!"
"Kamu sudah makan?"
Nisa dengan cepat menggelengkan kepalanya dan Leon pun menyodorkan piring itu pada Nisa.
"Makanlah!"
Benar-benar nggak romantis, wajahnya aja yang romantis. Nisa mengerucutkan bibirnya.
"Ada apa?" Leon terlihat bingung.
"Ini!" Nisa menunjukkan tangannya yang sulit di gerakkan Karena ada beberapa kukunya yang di hias dengan hiasan kuku.
"Baiklah!" Leon pun segera menyediakan nasi dan lauk lalu menyuapkannya pada Nisa. "Makanlah!"
Nisa tersenyum dan membuka mulutnya, "Terimakasih ya mas!"
"Makan dulu, baru bicara!"
Lagi-lagi Nisa tersenyum mendengarkan ucapan Leon. Leon pun bergantian menyiapkan pada mulutnya sendiri hingga semua ini di piring itu habis. Rasanya menjadi sangat enak jika di makan berdua seperti itu.
Tepat setelah makanan itu habis, kini Leon dan Nisa di ajak keluar karena acara temu manten sudah akan di mulai, keluarga mempelai pria sudah datang.
Leon cukup terkejut karena salah satu dari empat pemuda pemudi yang membawa kembar Mayang adalah Nino yang memakai pakaian adat Jawa.
Kini Nisa dan Leon sudah di pisahkan di dua kubu yang berbeda, Leon kembali ke rombongannya. Ada Alex dan Nisa di sana dan beberapa kerabat lainnya.
Suara sholawat atas nabi sudah mulai mengiringi acara mereka.
__ADS_1
Seorang pemandu acara mulai mengarahkan ritual dengan menggunakan mikrofon.
"Acara yang pertama, Liron kembar mayang, yaitu para pembawa kembar mayang akan saling bertukar kembar mayang. Maknanya adalah untuk menyatukan cipta, rasa, dan karsa bersama dalam mewujudkan perdamaian, kebahagiaan, serta keselamatan!"
Terlihat para pemuda dan pemudi itu saling bertukar kembar Mayang dan kembali ke tempatnya.
Kini Nisa dan Leon sudah berdiri saling berhadapan dan seseorang sudah membawa dua buah nampan masing-masing berisi gulungan daun sirih yang di kita dengan tali.
"Mbak Nisa silahkan daun sirihnya di lemparkan ke mas Leon, begitu juga sebaliknya, harapannya supaya godaan-godaan yang ada akan hilang karena terkena lemparannya mbak Nisa sama mas Leon!"
Setelah acara gantal selesai di lanjut dengan acara menginjak telur atau Ngidak Endhog.
Nisa pun mengikuti arahan pemandu acara, ia meletakkan sebuah telur di depan kaki Leon.
"Monggo mas Leon, telurnya di injak! Harus sampai pecah ya mas Leon, sebagai simbol seksual kedua pengantin, berarti sudah pecah pamornya!"
"Alhamdulillah pecah!" beberapa orang tampak antusias untuk melihatnya, "Sekarang cuci kaki suaminya mbak!"
Nisa pun mencuci kaki Leon dengan air bunga setaman. Tradisi tersebut bermakna pada kebersihan, benih yang diturunkan terhindar dari segala perbuatan kotor.
Kini mereka pun sudah berjalan beriringan dan di sambut mama Nisa dengan membawa sebuah kendi berisi air, Nisa dan Leon pun langsung di beri minum tanpa menggunakan gelas. Makna dari prosesi ini adalah air yang hidup, suci, dan mani (manikam).
Kemudian Nisa dan Leon pun dikepyok bunga warna-warni
prosesi ini bertujuan supaya keluarga yang mereka bina pada masa mendatang dapat selalu berkembang dan bahagia secara lahir batin.
Dan mereka pun berjalan beriringan mengelilingi sebuah sapu lidi sebanyak tiga kali, prosesi ini memiliki makna kedua pihak yang tidak mengenal kata menyerah atau mundur.
Kini musik sudah berganti dengan musik khas temu manten Jawa.
Setelah semua prosesi ini selesai, Nisa dan Leon pun diantar menuju sasana riengga untuk melangsungkan kelanjutan acara.
Yang pertama adalah Timbangan, papa Nisa duduk di antara Nisa dan Leon. Kaki kiri disinggahi Leon sedangkan kaki kanan oleh Nisa.
Kemudian lanjut ke acara ke dua, yaitu Kacar-Kucur. Kini Leon dan Nisa pun sudah duduk berdua, Nisa memangku sebuah kain berwarna merah yang sudah di buka sedangkan Leon membawa kain yang berisi beras dan MC pun mulai membacakan panyandra kacar kucur.
"Kacariyos dupi wus ngancik ing titi laksono, penganten kakung daya daya jumeneng ngasto tilam lampus, ingkang isi wos kapuroto jowo kethos polowijo sekar ponco warno miwah arto receh, kasuntak ing pangkoning kang garwo, katadahan katampi mawi sindur ingkang awarni rekto Guno tompo koyo kyai ambarsejati nenggih risang pinanganten kakung paring guna koyo mring nyai ambarsejati nenggih risang pinanganten putri, guno tompo koyo pralambang tanggel jawabing priyo dumateng wanita. ..... ( untuk selengkapnya bisa di buka di sini; http://wawan-mc.blogspot.com/2015/04/tuladha-panyandra-kacar-kucur.html?m\=1)
Acara ini sebagai simbol penghasilannya kepada pengantin perempuan.
Setelah Kacar-Kucur selesai, di lanjut dengan Dulangan. Pengantin pria maupun wanita akan saling menyuapi. Hal tersebut merupakan kiasan, laku memandu kasih antara keduanya (simbol seksual).
Dan acara terakhir adalah sungkeman. Kedua mempelai memohon ijin pada kedua orang tua persis seperti waktu meminta restu kemarin.
Dan kini semua rangkaian acara sudah benar-benar berakhir, tinggal nanti malam acara walimatul urs.
Kini para keluarga pun bergantian naik ke atas pelaminan untuk berfoto dengan pengantin dan memberikan selamat.
Beberapa kali bahkan Kiandra dan Arsy tidak pernah absen berfoto dengan yang lainnya.
Kakak Nisa juga sudah memakai pakaian adat Jawa dan berfoto bersama pengantin.
Setelah semua keluarga berfoto, kini giliran Nisa dan Leon foto berdua dengan berbagai dosen berdasarkan arahan fotografer.
Terimakasih nisa dan Leon ucapkan untuk para tamu undangan yang mungkin tidak ikut di sebutkan ; @risya Erina purba, @ Aira alfathunisa, @☠️keceMY 💞sharie 🐊🐣NN, @Dian mustikarani , @Sri Wulan, @🌹!m€M3¥🌺, YaNni Trala la, @Boenda Ridwan, @Marlina, @Alaina Alkalifi, @Airin, @Nda Dha Thoel, @Laylatul Hanna, @💖Mey Eka F muneey💖, @Lutfi Arie, @D.Ika81, @Dede mia, @Sunarty narty, @Oky Ammar, @Sitimustaharoh
Dan yang lainnya yang mungkin datang dan nggak kesebut, maafin mas Leon ya, mas Leon khilaf
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...