
Setelah bermain sebentar dengan kedua putra saudara kembarnya itu, mereka pun akhirnya duduk di teras belakang, menikmati suasana sore di halaman Leon yang luas, anak-anak sedang asik bermain di halaman dengan pengasuhnya.
"Jadi kita bisa mulai besok?" Leon antusias membicarakan kerja sama mereka.
"Iya, beberapa buku sudah siap di antar ke toko cabang, jadi besok sudah bisa mulai pengerjaannya!"
"Baguslah kalau begitu, aku akan datang ke percetakan besok!"
Mereka terdiam setelah membicarakan pekerjaan hingga Raka kembali teringat dengan ucapan Ridwan tadi.
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tanyakan saja, apa?" Leon sesekali melempar senyum pada kedua putranya yang sedang bermain bola plastik. Mereka berdua tampak lincah mengejar bola dan melemparnya, sesederhana itu anak-anak bisa bahagia.
"Tentang penjagaan di rumah ini, sebenarnya apa yang terjadi sebelumnya? Hal apa yang menimpa Nisa?"
Leon menghela nafas, saat mengingat kejadian itu ia jadi teringat dengan luka dan trauma yang di alami Asna. Bahkan saat ini Nisa masih kerap menyalahkan dirinya sendiri saat mengingat kejadian itu.
Walaupun berat akhirnya Leon pun menceritakan semuanya, bahkan hal buruk yang menimpa Asna hingga Raka dan Asna menikah.
"Jadi karena itu!?"
__ADS_1
"Iya begitulah, awalnya aku kira kamu menikah dengan Asna hanya karena merasa kasihan pada Asna dan untuk menghilangkan beban yang di rasakan Nisa karena kamu masih memiliki perasaan pada Nisa, tapi semua itu terbantahkan sudah setelah melihat surat yang kamu kirimkan untuk Asna, aku jadi tahu cinta kalian sudah tumbuh jauh sebelum aku bertemu dengan Nisa!"
"Surat?"
"Iya, surat yang kamu tulis sebelum pergi ke Bali waktu itu, aku sempat membacanya saat tanpa sengaja surat itu terbawa Nisa!"
"Boleh aku melihatnya?"
"Aku tidak tahu apakah Nisa masih menyimpannya atau sudah mengembalikan pada Asna, biar nanti aku tanyakan pada Nisa kalau sudah pulang!"
"Aku menunggu kabar darimu!"
"Pasti!"
...***...
Raka sudah mondar mandir di ruang kerjanya. Ia menunggu saudaranya yang berjanji akan datang di jam makan siang.
"Dia benar-benar suka mengulur waktu!" Raka terus menggerutu, hingga suara pintu di ketuk dengan cepat ia berjalan menghampiri pintu tepat sebelum pintu di buka, pintu sudah terbuka dari luar.
"Ini sudah lewat jam makan siang, memang karyawanmu makan siang jam segini? Benar-benar bos nggak pekaan!" Raka memarahi saudara kembarnya.
__ADS_1
"Aku lama karena ini, bukan karena menyiksa anak buahku!" Leon menyerahkan sebuah surat yang masih terlipat dengan rapi lengkap dengan sebuah buku.
"Sekalian nanti serahkan sama Asna, bilang kebawa sama Nisa!"
Leon tidak mempedulikan tatapan kesal dari Raka, ia segera duduk di sofa yang ada di ruangan itu, membuatkan Raka membaca surat yang ia tulis sendiri untuk Asna.
Surat yang berisi permintaan Raka pada Asna untuk menanti jawabannya setelah kembali dari Bali.
Tapi sayang saat itu, saat ia kembali malah dalam keadaan luka parah, Asna mengalami pelecehan, semuanya tidak seperti yang di rencanakan.
Raka perlahan bisa menyatukan pecahan-pecahan kejadian dalam hidupnya dengan beberapa bukti kejadian di masa lalu walaupun tanpa mengingatnya.
Sekarang ia tahu jika ia memang sudah memiliki perasaan pada Asna semejak lama. Sekarang tinggal bagaimana otaknya bekerja, cepat atau lambat dia pasti bisa mengingat semuanya.
Bersambung
Jangan lupa, mulai hari ini kisah Zea dan rangga sudah hadir di tempatnya dokter tampan
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @ tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰