
"Dululah, aku akan menutup pintu dulu!" perintah gus Raka pada saudara kembarnya itu, ia sudah menyerahkan kunci cadangan rumah itu pada bu Murti, agar jika sewaktu-waktu ada yang mau menyewa tidak perlu menghubungi salah satu dari mereka, selain itu biar lebih memudahkan bu Murti untuk membersihkan rumah secara berkala, masalah upah mereka sepakat untuk menfransfernya setiap bulan seperti gaji pekerja rumah tangga pada umumnya.
Leon pun segera berjalan meninggalkan rumah yang menyimpan kenangan masa kecilnya itu, ia menghampiri pemuda dnegan mobilnya yang masih berdiri di tempatnya,
"Ehhh, ini bli Raka ya? nggak kalah gantengnya sama yang tadi!"
Leon hanya memilih menatap sebal pada pemuda yang sok akrab itu, "Aku yang tadi!" ucapnya kemudian lalu masuk ke dalam mobil.
Pemuda Bali itu tampak menggaruk kepalanya penampilannya jelas berbeda dengan yang tadi. Setelah gus Raka selesai mengunci pintu dan menghampiri mereka, sepertinya pemuda itu masih penasaran,
"Kenapa mas, menatap saya kayak gitu?" tanya gus Raka dengan senyum yang mengembang.
"Ini bli Leon kan?"
Lagi-lagi pertanyaan pemuda itu hanya di jawab dengan senyuman oleh gus Raka.
"Ayo mas, keburu malam!" ajak gus Raka setelah melewati tubuh pria itu.
Pemuda yang masih bingung itu pun akhirnya hanya bisa pasrah dan menyusul mereka yang sudah duduk di dalam mobil.
Leon dengan penampilan gus Raka memilih duduk di belakang sedangkan gus Raka duduk di depan bersama pemuda itu,
"Dari sini ke bandara ada jalan pintas atau tidak?" tanya leon yang sudah duduk di belakang sambil memainkan ponselnya, seperti pria itu sedang menerima telpon dari sang istri.
"Iya, ini sudah mau berangkat!"
"....."
"Tidak pa pa, kamu tenang aja ya, nanti pagi-pagi buta sudah sampai di sana!"
"...."
"Ya sudah, aku matikan ya, aku cinta kamu!"
"....."
"Waalaikum salam."
Dua orang yang duduk di depan hanya bisa mendengarkan pembicaraan romantis dari pria di belakangnya.
"Jadi bli Raka ya yang sudah menikah?" tanya anak muda yang sudah mulai melajukan mobilnya.
Gus Raka tersenyum dan menatap pria yang terlihat kesal dengan ucapan sang sopir.
Dia pasti sengaja, batin Leon kesal. Gus Raka benar-benar senang saat melihat wajah kesal sang adik kembar seperti itu, rasanya benar-benar menggemaskan.
Semoga Allah selalu melimpahkan kebahagiaan untuk mu dan keluarga.
Kini jalan yang mereka lewati sedikit asing, karena memang Gus Raka meminta jalan yang lebih cepat sampai di kota.
__ADS_1
"Ahhhh, ternyata kamu suka tantangan juga!" gumam Leon saat mengamati jalan yang cukup sepi. Tangannya hendak meraih pengait kaca agar kaca mobil turun,
"Jangan buka kacanya!" ucapan Gus Raka yang cepat dan menahan tangannya hingga membuat Leon benar-benar terkejut.
"Kenapa?"
"Kamu tidak lihat di luar sepi sekali, akan lebih baik jangan membuka kaca!"
"Kamu penakut sekali!" ujar Leon dan tidak mengindahkan ucapan dari gus Raka.
Leon yang begitu penasaran segera membuka kaca mobil yang ada di samping dan mengulurkan tangannya keluar.
Tiba-tiba sebuah timah panas melesat hampir saja mengenai tubuhnya, untung saja Leon masih bisa menghindar dengan cepat.
Leon pun segera menutup kembali kaca mobilnya, sopir yang tidak tahu-menahu terlihat panik,
"Beli apa itu tadi?"
"Kemudikan mobilnya dengan benar, jangan khawatirkan yang lain, kamu sudah punya SIM kan?" tanya Gus Raka sedikit khawatir dengan sopir yang masih terlihat muda itu.
"Saya bisa, tapi bli, bagaimana dengan peluru itu?" terlihat kaca bagian sisi kiri Leon membentuk lubangan peluru.
"Lakukan sebisa kamu, tetap tenang!"
Gus Raka melihat ke belakang dan saudaranya itu masih diam, mencoba mencerna semuanya,
"Sekarang jelaskan padaku!" ucap Leon setelah terdiam.
"Apa yang harus saya jelaskan?"
"Semuanya!"
Gus Raka terlihat menghela nafas, ia tidak tahu harus memulai dari mana. Ia merasa ini juga di luar rencana mereka.
"Beberapa hari lalu, saat kita sampai di sini. Bi Merry ternyata mengikuti kita!"
"Bi Merry?"
"Iya, dia melihat beberapa anak buah dari Extensio naik pesawat yang sama dengan yang kita naiki, aku tidak tahu siapa Extensio dan apa hubungannya denganku?"
"Bukan kamu, tapi aku!" Leon mengerti sekarang titip permasalahanya, yang tidak ia mengerti kenapa bi Merry malah memilih kembarannya untuk di beritahu, "Kenapa kamu?"
"Awalnya dia ingin menemuimu di rumah, saat itu kamu sedang pergi ke pasar mengantarkan Bu Murti, dia memaksa untuk menemuimu tapi aku yang melarangnya!"
"Kenapa?"
"Aku tidak mungkin menyerahkan nyawa kamu sama dia, apalagi saat ini anak buah mereka sangat banyak di sini, sulit bagi kita untuk lari dari sini!"
"Saya yang akan menghadapi!" Leon begitu keras kepala.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, bukan kamu tapi kita!"
Leon terkejut dengan ucapan saudara kembarnya itu, dia pria yang lemah yang tidak tahu caranya menyakiti orang, bisa-bisanya berpikir untuk melawan gerombolan orang yang begitu banyak.
"Sebaiklah kamu pergi bersama mobil ini dan aku yang akan melawan mereka!"
"Tidak, kita hanya tinggal menunggu bantuan, BI Merry akan segera datang membantu kita!"
"Dengan apa?"
"Dengan ini!" Gus Raka menunjukkan sebuah alat kecil yang biasa di gunakan untuk mendeteksi lokasi seseorang.
Saat mereka saling berdebat, dua buah mobil terlihat semakin mendekati mereka,
"Ini bagaimana bli?"
"Lakukan sebisa kamu, anggap ini jalanmu sendiri!" ucap Leon memberi komando.
Pemuda sopir pun menambah kecepatan mobilnya agar mobil di belakang dengan senapan panjang siap untuk menembus kaca mobil mereka, beberapa kali terdengar tembakan tapi sepertinya meleset.
"Jika nanti terjadi sesuatu dengan kami, kamu pergilah dengan mobil, minta bantuan siapa saja!" Leon kembali memberi komando pada sopir yang terlihat semakin tegang terlihat sekali dari keringat yang mengucur di pelipisnya walaupun udara begitu dingin. Sesekali tangannya ia gunakan untuk menyapu keringatnya dan sesekali Leon dengan sigap menghindarkan kepala sang sopir dari tembakan yang melesat asal.
Chhhiiiiittttttttttt
Sebuah rem berdecit, saat sang sopir menekan pedal rem dengan begitu kuat karena sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka.
Leon sudah bersiap untuk membuat pintu tapi lagi di tahan oleh Gus Raka.
"Mau ngapain?"
"Tidak ada cara lain selain melawan mereka!" Leon pun kembali menatap sopir yang hampir menangis ketakutan, "Setelah saya turun segera pergilah dari sini, mengerti?"
Sopir hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah begitu pucat karena ketakutan.
Leon pun dengan cepat turun dari mob tidak mengindahkan larangan sang kakak kembarnya.
Leon segera berdiri di depan mobil dan menantang,
"Siapa kalian, kalau berani turun dan kita berduel satu lawan satu!"
...Bila sikap lemah lembut hanya mengakibatkan timbulnya kekerasan maka kekerasan adalah suatu bentuk kelembutan hati. ...
...Ali bin Abi Thalib...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...