Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra part (PoV Nisa 6)


__ADS_3

Selepas mas Leon meninggalkan kamar, aku pun mulai beranjak untuk bangun tapi jelas saja rasanya sangat berat. Sakit di semua persendianku, pengen banget rasanya tetap malas-malasan di atas tempat tidur.


Aku duduk terdiam saat menyingkap selimutku dan ada noda darah di sepraiku.


Cukup lama aku terdiam hingga suara azan sudah berkumandang dari masjid yang ada di komplek perumahan tempat kami tinggal.


Aku pun menggeser tubuhku, melilitkan selimut tebal ke tubuhku yang tidak memakai apapun. Perlahan mulai berjalan dengan berpegangan apa saja yang ada di dekatku.


Hingga sampai di kamar mandi, aku sedikit terkejut karena ternyata mas Leon menyiapkan air hangat untukku mandi, bibir ini kembali tersenyum, menyamarkan rasa sakit yang sedang aku rasakan saat ini, aku pun segera mandi sebelum waktu subuhku habis.


Aku sudah menyelesaikan sholat ku saat pintu kamar kembali terbuka, pria yang menyandang gelar sebagai suamiku itu sudah terdiri di depan pintu, aku menoleh dan tersenyum mengakhiri dzikir ku.


Saat aku akan beranjak, mas Leon menahanku agar tidak bergerak dari tempatku, mungkin dia melihat bagaimana ekspresi wajahku saat akan berdiri.


Dia berjalan menghampiriku dan duduk di sampingku, menarik kepalaku yang masih berbalut mukena dan mengecup keningku, mengucapkan doa yang sama persis seperti yang biasa dia lakukan.


"Apa masih sakit?" tanyanya kemudian dan aku pun menganggukkan kepalaku, tapi kemudian ingatanku kembali pada seprei bernoda darah yang belum sempat aku ganti. Sepertinya mas Leon mengerti dengan arah tatapanku, dia ikut menoleh dan menatap ke arah tempat tidur.


"Ada apa di sana?" tanyanya, mas Leon memang selalu polos.


"Tidak pa pa mas, bantu aku bangun aja deh!" Aku pun mengulurkan tanganku agar mas Leon berdiri lebih dulu dan menarik tanganku, tapi bukan itu yang dia lakukan. Mas Leon malah mengakar tubuhku dalam gendongannya.


"Begini bagaimana?" tanyanya setelah tangan ini mengalung di lehernya.


"Mas, aku harus berjalan sendiri!"


"Kamu kesakitan."


"Tidak pa pa!"


Sekarang yang sedang aku pikirkan adalah seprei kotor itu, pasti kelihatan sekali sama mas Leon.


"Mas mas, jangan di tempat tidur, di sofa saja!" larangku saat mas Leon ingin membawaku ke tempat tidur.


"Kenapa?"


"Di sofa aja."


"Baiklah!"


Mas Leon benar membawaku ke sofa. Aku pun segera melepas mukenaku hendak berdiri kembali tapi mas Leon segera menahan kedua bahuku dengan kedua tangannya.


"Tetap di sini!"


Entah apa yang sedang di pikirkan, tapi dia berjalan mendekati tempat tidur, aku tidak bisa berdiri karena dia melarangku untuk berdiri. Aku hanya bisa menutupi wajahku, malu rasanya mengingat kegilaan apa yang semalam telah kami lakukan.

__ADS_1


Saat aku mengintip dari sela-sela jari yang sedikit terbuka, aku bisa melihat mas Leon berdiri di samping tempat tidur sambil berkacak pinggang, ia tersenyum berbalik menatapku.


"Mas, lebih baik mas Leon keluar deh, biar aku bersihkan tempatnya!" perintahku, rasanya malu sekali. Entah apa yang ia pikirkan dengan apa yang ia lihat.


"Kenapa? biar aku bersihkan ini. Tapi sebenarnya sayang banget di bersihkan!" ucap mas Leon membuatku mencerna ucapannya.


"Mas!"


"Aku adalah pria beruntung, sangat beruntung! Kata orang jika malam pertama dan ada darah, itu artinya_!" mas Leon menghentikan ucapannya.


"Aku tahu, tapi biar aku saja yang bersihkan!" ucapku tanpa berani menatapnya lagi, entah bagaimana tiba-tiba mas Leon sudah berada di depanku.


"Pasti sakit ya? maaf." wajahnya terlihat begitu menggemaskan saat aku mendongakkan kepalaku.


"Tidak pa pa mas, hanya sebentar sakitnya!"


"Lanjutnya?" tanyanya dengan senyum menggoda, ah kebiasaan mas Leon ini, suka sekali membuatku salah tingkah, dia kan sudah tahu apa maksudku, "Ya sudah, kamu duduk diam atau bantu mama di dapur biar aku yang membersihkannya."


"Kalau gitu seprei kotornya taruh di keranjang baju kotor aja mas."


"Baiklah!"


Mas Leon kembali menghampiri tempat tidur dan melepas sepreinya kemudian membawanya ke pojok ruangan, ada sebuh keranjang baju kotor berwarna putih, "Gantinya mana?" tanyanya kemudian.


"Gantinya, biar aku aja nanti mas kalau udah sedikit mendingan!"


"Bagaimana sekarang?" tanyanya membuyarkan lamunanku, dia benar-benar selalu berhasil membuatku terpana.


"Bagus mas!"


*


Kini mas Leon sudah siap dengan baju kebesarannya, kemeja dan jas rapi. Hari ini aku sudah ijin tidak masuk kerja, kalau aku nekat masuk kerja pasti di tertawakan teman-teman dengan jalan yang seperti ini.


"Sebenarnya malas sih pergi." ucap mas Leon sambil memeluk tubuhku dari belakang.


"Nanti pak Alex nyariin!" jawabku asal, sepertinya pria bernama Alex itu sangat berpengaruh dalam hidupnya hingga saat mengingat namanya mas Leon jadi melupakan malasnya untuk bekerja.


Setelah drama pagi hari di dalam kamar, kami pun turun untuk sarapan. Ku lihat mama dan papa sudah siap di meja makan. Entah perasaanku saja atau memang begitu, papa dan mama terlihat senyam senyum sendiri.


"Selamat pagi ma, pa!" sapaku dan kemudian duduk.


"Bagaimana malam kalian? Menyenangkan kan?" tanya mama setelah menjawab sapaanku sedangkan papa memilih fokus dengan makanannya.


"Mama jangan mulai deh pagi-pagi." aku melirik mas Leon yang hanya terdiam dan mulai mengambil nasi.

__ADS_1


"Biar aku ambilkan mas!"


"Nggak pa pa aku saja!" mas Leon menolaknya, Dia memang suka gitu.


"Oh iya, terimakasih coklat panasnya semalam ya, tau aja papa suka coklat panas!" ucap papa saat kami sudah mulai makan membuat aku dan mas Leon saling tatap dan tersenyum. Gara-gara minuman perangsang yang aku kira coklat panas itu membuat kami melakukan hal itu, ahhh rasanya masih malu saat mengingat apa yang terjadi semalam.


"Iya pa!"


"Bagaimana? Obatnya manjur kan?"


"Mama!!!" protesku saat mendapat pertanyaan itu, mama benar-benar seneng sekali membuatku kesal.


*


Kini aku sudah berdiri di samping mobil mas Leon, mengantarnya berangkat ke kantor.


"Boleh cium nggak di sini?" pertanyaan mas Leon berhasil membuatku memperhatikan sekitar, memang terlihat sepi tapi aku nggak yakin.


Cup


Belum sempat aku menjawab tiba-tiba mas Leon sudah menarik tubuhku dan mendaratkan kecupan di bibirku.


"Sungguh aku tidak rela pergi!" guna mas Leon saat sudah melepaskan ciumannya.


"Sabar mas, aku tunggu nanti sore!!"


"Nggak yakin aku bisa bertahan sampai nanti sore!" keluhnya lagi, beberapa hembusan nafas halus keluar dari bibirnya seperti benar-benar tidak ingin pergi hari ini.


"Boleh nggak nanti aku ke tempatnya mbak Aisyah?" pertanyaan ku berhasil membuat mas Leon terdiam dan menatap ke arahku.


"Kamu yakin? Mau ngapain?"


"Yakin mas, nanti kalau sudah nggak terlalu nyeri, aku akan mengantarkan oleh-oleh untuk mbak Aisyah dan pak Alex, boleh ya?"


"Nanti biar sopir yang menjemputmu, hubungi aku jika sudah mau pergi!"


"Aku pakek taksi saja mas!"


"Nggak usah ngeyel!" mas Leon mengusap kepalaku dan menciumnya lalu benar-benar masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya saat mobil mulai melaju.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2