Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (74)


__ADS_3

Asna terus menggerutu sampai di kamar Shahia, sebenarnya memang kamar itu Asna siapkan untuk Shahia saja tapi mengingat keadaan Raka yang masih seperti itu, tidak mungkin jika suaminya mau tidur berdua dengan dirinya.


Hehhhhhhh


Sebuah helaan nafas panjang lolos juga dari bibir Asna setelah ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, bibirnya langsung tersenyum saat melihat bayi mungil itu sudah merangkak naik dan berdiri di bok bayi.


"Ma ma ma ma ....!" celotehan Shahia selalu berhasil membuat Asna tersenyum, rasa lelahnya seketika. hilang.


"Iya sayang ini mama!" Asna berjalan cepat menghampiri bayinya, meraih butuh mungil itu dan membawanya ke tempat tidur, beberapa kali ciuman berhasil mendarat di wajah mungil itu, Asna merasa seperti melihat masa kecil suaminya.


"Shahia, Shahia senang ya papa pulang? Mama juga seneng!?"


"Ya ya ya ...!" celoteh Shahia seperti mengatakan kalau dia faham dengan apa yang di bicarakan oleh mamanya membuat Asna tertawa bahagia. Asna terus bercanda dengan putrinya itu hingga mereka kembali terlelap karena memang Shahia baru saja tidur dan harus terganggu dengan suara berisik dari papa nya.


Di kamar sebelah setelah mbak Rumi selesai membantu Raka, ia tidak langsung keluar karena memang Raka masih terlihat bingung dengan keadaannya.


"Mbak, maaf kalau saya terus menanyai mbak Rumi, karena memang saya merasa hanya kenal dengan mbak Rumi di rumah ini!"


"Tidak pa pa mas, kalau mas Raka butuh bantuan pasti akan saya bantu!"


"Siapa suami Asna mbak? Kenapa dia sampai tega meninggalkan istrinya yang sedang hamil?"


Mbak Rumi terdiam, lalu ia menjadi punya pemikiran untuk mengatakan sebenarnya pada Raka,


"Suaminya mas Raka!"


"Hahhhh, mbak Rumi jangan mengada-ada! Dari kemarin Leon pun mengatakan seperti itu, ini kegilaan macam apa coba!" Raka mulai memegangi kepalanya, ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh mbak Rumi.


"Mas Raka, kalau mas Raka belum ingat, jangan di paksakan mas! Nggak pa pa!"


"Maafkan saya mbak, saya benar-benar tidak merasa menikah!"


"Iya mas, saya mengerti! Biar waktu yang mengatakan semuanya nanti!"


Seluruh anggota keluarga bukannya tidak memberitahu statusnya dengan Asna, tapi karena ingatan Raka belum sampai di situ, ia terus menolaknya.


Tapi setiap kali ada yang membahas pernikahan mereka, Raka akan berpikir keras untuk mengingatnya walaupun hasilnya nol, untuk itu seluruh keluarga sengaja tidak memaksakan diri untuk menuntut Raka mengingat, mereka memilih cara lain untuk mengembalikan ingatan Raka dengan memancing memori satu persatu.


"Kalau begitu saya pulang dulu ya mas, hari ini saya ada acara di rumah! Maaf ya mas harus pulang lebih awal!" sebenarnya mbak Rumi sengaja ingin memberi waktu banyak untuk Asna dan Raka dan kebetulan memang benar tetangganya ada acara, ia akan membantu sebentar. Asna juga tidak kembali ke toko hari ini, jadi sudah ada yang menjaga Shahia.


"Jadi saya hanya berdua dengan Asna?"


"Enggak kok mas, ada Shahia juga!"

__ADS_1


"Dia kan masih bayi!"


"Nanti kalau mas Raka sudah ketemu sama Shahia pasti akan suka! Rumi pergi dulu ya mas, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Walaupun berat, tapi Raka juga tidak bisa menahan mbak Rumi jika dia ingin pergi.


Kakinya yang tidak begitu kuat untuk berdiri, cukup membuatnya kebingungan saat akan sholat. Ia harus sholat sambil duduk dan bertayamum.


...***...


Sore hari Asna terbangun karena merasa lapar, ia melihat Shahia masih tertidur pulas di sampingnya, perlahan Asna segera bangun dan menggantikan posisi dirinya dengan bantal agar putrinya tetap nyaman saat tidur.


Asna berjalan perlahan keluar kamar, saat baru saja keluar dari pintu kamar hidungnya langsung mencium aroma masakan,


"Mbak Rumi belum pulang ya?" Asna menoleh pada dinding yang ada di sebelah kiri, "Sudah jam lima!"


Kebetulan Asna sedang haids, jadi ia memilih bersantai.


Asna bergegas menghampiri dapur, ia ingat jika mbak Rumi ijin dengannya akan pulang cepat,


"Pasti karena aku ketiduran jadi mbak Rumi nggak jadi pulang!"


"Mas Raka!"


Pria yang sibuk memasak sambil duduk di kursi rodanya itu segera menoleh saat menyadari ada orang lain,


"Aku membangunkannya? Maaf, soalnya tadi aku ke dapur tidak ada makanan, kamu kan masih menyusui pasti mudah lapar, jadi aku berinisiatif untuk masak!"


Asna tersipu, Ya Allah, dia masih perhatian sama aku ....


"Kenapa diam dan senyum-senyum sendiri seperti itu?" Asna langsung tersadar dan menghampiri Raka.


"Nggak pa pa mas, biar aku bantu!"


"Sudah di situ saja, jangan mendekat!" Asna terkejut dan langsung menghentikan langkahnya.


"Ada apa mas?"


"Nggak usah dekat-dekat, nanti ada yang liat! Nggak enak!"


"Astagfirullah hal azim mas, emang aku kuman apa!?"

__ADS_1


"Bukan kuman, tapi bukan muhrim! Takut jadi fitnah!"


Asna hanya bisa menepuk keningnya, saat Asna menepuk keningnya Raka baru menyadari sesuatu.


"Ehhh tunggu, astaghfirullah hal azim!" Raka langsung memalingkan wajahnya membelakangi Asna.


"Ada apa lagi sih mas?"


"Di mana hijabmu?"


Asna langsung memegangi kepalanya yang tanpa hijab, "Oh ini, Asna nggak nyaman mas di rumah pakek hijab!"


"Pakek dulu, sudah tahu di rumah ada aku, bisa-bisanya nggak pakek hijab!" Raka terus menggerutu, ia benar-benar kesal dengan apa yang di lakukan oleh Asna.


Tidak seharusnya seorang wanita membuka hijabnya di depan laki-laki yang bukan muhrim, benar-benar perlu di didik.


"Tapi kan mas, kita suami istri!"


Ada-ada aja, jangan sampai aku khilaf karenanya, ya Allah kuatkan hambaMu ..., Raka sama sekali tidak berani menatap Asna.


"Suami istri dari mana, cepetan pakek hijab kamu atau aku nggak akan ngebolehin kamu keluar dari kamar kamu!"


"Ihhhh, suka banget ngancam!" Asna dengan kesal kembali mengambil hijabnya tapi langkahnya kembali terhenti dengan teriakan Raka.


"Ehhh kok kesitu, itu kamar saya!" Raka teriak karena melihat Asna akan masuk ke dalam kamar yang menurut Raka itu kamarnya.


"Hijab Asna di dalam sini, mas!"


"Kok bisa?"


"Ya bisa lah, ini kamar Asna juga!" Asna benar-benar masuk meninggalkan suaminya yang masih kebingungan.


"Tadi katanya nggak mau lihat Asna nggak pakek hijab, tapi ternyata di liatin juga! Buktinya tahu kalau aku mau belok ke mana, dasar otak mesum ya tetap saja otak mesum!" Asna terus menggerutu meskipun sudah masuk ke dalam kamar yang sudah di akui Raka sebagai kamar pribadinya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2