
Leon pun mendekati Nisa yang sudah berdiri, mereka hanya saling diam dengan jarak setengah meter. Tidak ada yang berniat untuk memulai bicara, saling menatap seperti sedang melakukan dialog di dalam hati.
Hingga cukup lama, hampir lima menit dan Leon mulai buka suara,
"Nisa, apa yang sudah kamu ketahui?"
"Semuanya, kenapa mas Leon lakukan semua ini sama Nisa? Mas Leon tidak tahu betapa menderitanya aku tanpa mas Leon, betapa aku tersiksa saat harus tidur sendiri, dan tidak nyaman dengan kehamilan ini, saat aku butuh pelukan hangat tidak ada yang memelukku, saat aku menangis tidak ada yang mengusap punggungku, saat aku harus terbangun tengah malam karena ingin buang air kecil, tidak ada yang menemaniku, saat aku tidur, aku tidak bisa tidur tanpa lengan kamu!"
Tanpa menjawab semua keluhan Nisa, Leon memilih untuk menarik tubuh Nisa ke dalam pelukannya. Punggung Nisa semakin bergetar dalam pelukan Leon.
Tapi lagi, Nisa mendorong tubuh Leon hingga menciptakan jarak di antara mereka,
"Aku merindukan suami aku, bukan mas Raka!"
Leon pun baru sadar jika saat ini dirinya masih memakai topeng wajah Raka. Ia pun segera melepaskan topeng itu hingga menampakkan wajah dirinya.
Nisa kembali menangis saat melihat wajah suaminya, wajah yang selalu ia rindukan kehadirannya, tiga bulan rasanya sudah cukup lama untuk mereka berpisah.
"Nisa, jangan menangis lagi!" Leon mendekap kembali tubuh Nisa, tapi Nisa memukul berkali-kali dada suaminya.
"Kenapa mas Leon lakukan ini padaku? Kenapa mas? Kenapa?" rancaunya dalam tangis.
"Maafkan aku!"
Akhirnya Nisa benar-benar jatuh ke dalam pelukan Leon saat ini, mereka hanya ingin menikmati kebersamaannya ini, saling memeluk dan menikmati aroma tubuh masing-masing.
Setelah cukup lama mereka berpelukan, Leon pun meminta Nisa untuk duduk di tempat tidur, Leon berjongkok di depan sang istri mengusap perut istrinya yang sudah sangat besar.
"Sayang, maafkan ayah ya! Ayah tidak bisa jaga kalian dengan baik, kemarin ayah benar-benar ingin melihat kalian tapi ibu nggak suka kalau ayah deket-deket!"
"Masss!" protes Nisa, seandainya ia tahu yang kemarin itu benar suaminya sudah pasti Nisa dengan senang hati mengijinkan suaminya mengantarnya periksa kehamilan.
Leon tersenyum dan mencubit hidung Nisa dengan gemas,
"Apa sekarang boleh ayah berkunjung?" tanyanya pada perut besar Nisa tapi matanya mengarah pada Nisa dengan mengerlingkan matanya menggoda.
"Mass, mereka nendang loh!" Nisa menunjukkan perutnya yang bergerak. Leon pun dengan antusias mengusap perut Nisa yang baru saja bergerak itu.
"Mereka sepertinya juga sudah merindukan ayahnya, bagaimana kalau aku menengoknya sekarang?"
Nisa hanya menahan senyum dengan wajah yang bersemu itu, Leon pun segera bangun dan duduk di samping Nisa, ia mendekatkan wajahnya pada sang istri menarik tubuh istrinya ke tempat tidur.
Mereka saat ini benar-benar meluapkan rasa rindu mereka, suasana di kamar itu seketika berubah menjadi panas dan syahdu. Kesedihan yang tadi kini berganti dengan rasa saling memiliki.
Hingga mereka menyelesaikan semuanya dan kini tidur di atas tempat tidur yang sama, Nisa kini bisa memeluk tubuh suaminya, merasakan aroma tubuhnya, bersandar di dada bidangnya lagi.
"Nisa benar-benar merindukan saat-saat yang seperti ini mas!"
"Aku juga, seandainya saja, ini cepat berlalu dan kita bisa hidup normal kembali!"
"Harus berapa lama lagi kita seperti ini mas?"
"Sampai semuanya terungkap! Tidak lama lagi!"
"Adi dan dua pekerja baru di rumah kita, mereka juga terlibat mas?"
__ADS_1
Leon menundukkan kepalanya mencoba menggapai wajah Nisa, "Kamu tahu?"
"Aku sudah membuka semuanya tadi!"
"Nanti kalau keluar dari kamar ini, usahakan tidak ada yang lihat ya, aku masih takut ada orang lain lagi yang terlibat dan kita tidak tahu!"
Nisa pun menganggukkan kepalanya, "Tapi janji ya mas, cerita sama aku!"
"Pasti, aku akan cerita semuanya nanti!"
Waktu ashar tiba, Nisa pun bergegas untuk kembali ke kamarnya, tapi sebelum itu Leon yang sudah memakai kembali topengnya lebih dulu keluar dan memastikan tidak ada yang melihat dia keluar dari kamarnya. Jika sampai ada yang melihat pasti mereka akan curiga dan semua rencananya akan berantakan.
Setelah memastikan semuanya aman, Nisa pun segera keluar. Ia menuju ke kamarnya sendiri dan segera membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah.
"Ya Allah, terimakasih karena engkau telah mengembalikan imam ku, aku tahu semua yang terjadi ini atas kehendakMu dan atas kehendakMu juga, mudahkanlah segala urusan mas Leon, agar kami bisa hidup dengan normal kembali, jauhkan kami dari orang-orang jahat itu, amiiin!"
Nisa mengakhiri doanya, saat ia.melepas mukenanya ia sudah mendapati suaminya berdiri di belakangnya lagi.
"Mas, kamu di sini?" Nisa mempercepat melipat mukenanya dan berdiri menghampiri suaminya, "Nanti kalau ada yang tahu gimana?"
Bukannya menjawab, Leon malah memeluk tubuh istrinya, memeluknya dari belakang dan mengusap perut besar sang istri,
"Aku benar-benar merindukanmu, kamu tahu aku begitu tersiksa saat berada di rumah yang sama tapi sama sekali tidak bisa memelukmu seperti ini!"
"Gombal ihhh, itu salah mas juga, siapa suruh lakuin itu!"
Leon menyusupkan wajahnya ke tengkuk Nisa, menciumi leher Nisa yang tertutup dengan rambutnya yang masih basah,
"Mas, nanti kalau ada yang lihat!"
"Sebentar saja! Biarkan seperti ini!"
Cukup lama hingga Leon melepaskan pelukannya,
"Sudah, aku keluar ya!"
"Mas, pakek dulu topengnya!" Nisa mengingatkan suaminya kerena ia tidak memakai topengnya saat akan keluar. Leon pun tersenyum dan merogoh saku celananya, mengambil benda lentur mirip kulit itu dan memakainya ke wajahnya dan seketika wajah itu berubah menjadi wajah Gus Raka.
Leon kembali tersenyum, ia memastikan terlebih dulu tidak ada yang berada di luar saat ia keluar, sebelum benar-benar pergi, leon kembali menatap Nisa,
"Nanti malam jangan di kunci pintunya ya! seketika wajah Nisa bersemu merah karenanya.
***
Seperti yang di janjikan setelah sholat isyak mereka benar-benar makan malam bersama, tapi sikap Nisa tetep dengan sikap Nisa biasanya, ia seolah sedang berhadapan dengan kakak iparnya, bukan suaminya.
"Nisa, biar aku buatkan susu untukmu ya! tawar Leon.
"Nggak usah mas Raka, biar bibi saja yang buatkan untuk Nisa!"
Bibi yang biasa melayani Nisa tempak menganggukkan kepalanya, setuju.
"Iya mas Raka, biar bibi saja!" bibi itu pun segera menuju ke dapur yang tidak ada penyekat tembok dengan ruang makan, sehingga mereka bisa melihat apa saja yang di lakukan oleh bibi, apapun yang di bicarakan oleh mereka sudah pasti terdengar juga oleh bibi.
"Oh iya mas, dari kemarin Erna tidak kembali loh ke sini, saya sudah meminta beberapa orang di depan untuk nyariin mereka, tapi tetap nggak ketemu!"
__ADS_1
Nisa tampak terkejut berbeda dengan Leon, ia hanya menganggukkan kepalanya,
"Ohhh, memang kemana bi?" tanya Leon dan Nisa langsung mengarahkan tatapannya pada Leon dan Leon pun segera memberi isyarat untuk tidak bertanya macam-macam padanya, apalagi saat melihat ke teras belakang, ia bisa melihat pria yang biasa membersihkan kolam itu sedang berdiri di balik jendela kaca lebar yang memisahkan ruang makan dan kolam belakang.
"Ngga tahu mas, katanya pamit mau beli sesuatu ke minimarket, nggak sampek satu jam sudah kembali, eh ini sudah dua hari nggak kembali-kembali!"
"Memang naik apa, bi?" Leon bertanya seolah-olah dia tidak tahu apa-apa.
"Naik ojek yang biasa mangkal di depan,pas di cari ternyata tukang ojek itu hanya mangkal sekali itu di depan, sekarang tukang ojeknya sudah nggak kelihatan lagi!"
Gimana mau kelihatan, wong tukang ojeknya orang suruhanku, nohhh dia sekarang sedang mengawasi rumah mas Alex ...., ada senyum samar yang keluar dari bibir Leon. Nisa cukup tahu apa arti senyum itu.
"Apa mungin di culik ya mas, sama tukang ojek itu?" tanya bibi lagi sambil mendekat meletakkan gelas yang berisis susu ibu hamil milik Nisa.
"Terimakasih ya bi!" ucap Nisa saat menerimanya tapi wanita paruh baya itu memilih memperhatikan tanggapan dari Leon yang sedang menyamar menjadi gus Raka.
"Mungkin saja Bi, nanti biar aku lapor sama polisi deh!"
Pria yang sedari tadi mengamati mereka dari luar segera pergi saat mendengar Leon membahas soal polisi, ia memilih duduk di taman yang ada di sisi lain kolam, wajahnya tampak cemas.
"Kalau benar mas Raka sampai lapor polisi, bisa-bisa malah akan jadi masalah nanti, aku harus lapor sama mas Adi kalau kayak gini!"
Pria itu pun segera merogoh ponsel yang ada di saku celananya.Ia segera menghubungi pria yang bernama Adi,
"Hallo mas gawat mas!"
"Gawat kenapa?"
"Raka mau lapor polisi atas hilangnya Erna!"
"Kalau begitu kamu harus segera menemukan gadis itu lebih dulu sebelum dia atau polisi!"
"Aku carinya di mana mas?"
"Ya mana aku tahu, jangan apa-apa tanya sama aku, kamu harus cari sendiri, aku tidak mau mendapat laporan lagi, segera temukan gadis itu hidup atau mati!"
"Baik mas!"
Sambungan telpon terputus, wajahnya terlihat semakin panik.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tampak pria itu sedang berpikir keras, kemudian sebuah ide muncul, "Rumah sakit, iya rumah sakit, mungkin Erna di sana!"
Pria itu kembali menyakukan ponselnya, meninggalkan jaring daun yang sedari tadi ia bawa kemana-mana.
...Jika kamu tidak bisa di percaya satu kali, maka kamu akan menghianati orang lain yang mencoba untuk percaya padamu lagi, dan itu akan terus berlangsung hingga tidak akan ada satu pun yang percaya padamu...
aku kasih yang ganteng-ganteng dulu deh kalau gitu
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...