
Gus Raka terlihat bersiap keluar untuk menemui saudaranya itu, ia tahu saudaranya itu tidak akan suka langsung masuk ke dalam ruangan meskipun ia pernah menguasainya, karena penguasa aslinya sudah datang.
Leon jika datang ke tempat Raka lebih suka menghabiskan waktunya bersama buku-buku itu, ia akan mencari buku yang terbaru yang belum pernah ia baca.
Seperti dugaan Gus Raka, pria beristri itu sekarang sedang berada di salah atau lorong di antara rak buku, sedang memandang buku-buku yang berjejeran.
"Rak yang paling sudut itu, adalah buku-buku terbaru, cetakan tahun ini dan baru akan di publikasikan bulan depan, aku sengaja menyetok terlebih dahulu karena peluang untuk best seller sangat besar!"
Leon tersenyum menatap buku yang di tunjukkan oleh saudaranya itu, ia segera menoleh ke sumber suara,
"Aku sudah menduganya!"
"Aku tahu, tanpa aku beritahu kami juga sudah tahu! Mungkin kamu yang mampu menamatkan semua buku ini meski hanya satu bulan, sedang aku belum mungkin!"
"Belum berarti masih proses!"
Mereka sama-sama tersenyum dan saling mendekat memberi pelukan layaknya saudara saat bertemu.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Leon saat mereka sudah duduk di tempat biasa mereka duduk, dua buah cangkir yang berisi kopi sudah terhidang di atas meja, "Sejak kapan suka sama kopi?"
"Alhamdulillah baik, sejak menjadi saudara kamu!"
"Kita bersaudara sejak kecil!" Raka tertawa lembut dan menyesap kopinya yang masih terlihat kepulan asap di atasnya.
"Kamu benar tidak mengeluhkan apapun?" Leon berhenti bertanya dan menatap saudaranya itu, "Luka mu?"
Leon teringat dengan luka lebar milik saudaranya.
"Lukaku sudah sembuh, pikirkan lukamu itu, itu juga menyakitiku!" Gus Raka gantian melihat luka di tangan Leon.
"Oh ini_!" Leon mengangkat tangannya yang masih terbalut perban berwarna putih, "Ini tidak pa pa, ini hanya luka kecil!"
"Ceritakan padaku yang aku tidak ketahui, aku akan mendengarkannya!" Gus Raka begitu ingin tahu perkembangan terakhir selama ia koma.
Leon pun segera menceritakan semuanya, semua yang sudah ia lakukan dan hingga berujung pada penculikan Asna dan Nisa.
"Nisa dan anak kamu baik-baik saja?"
"Tidak begitu baik!"
"Kenapa?"
Leon pun menceritakan apa yang terjadi pada Asna dan itu sungguh berpengaruh pada Nisa.
"Nisa begitu merasa bersalah, ia terus mencari tahu perkembangan Asna dari mama Asna karena ia tidak bisa menemui Asna secara langsung, keluarga Asna masih melarangnya!"
"Malang sekali gadis itu!"
"Begitulah, kamu juga tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa memberikan dukungan pada keluarganya, kami hanya siap menerima jika Asna marah dan membenci kami!"
__ADS_1
"Semoga Allah melapangkan hati gadis itu dan mendapatkan yang terbaik untuk hidupnya!"
"Aminnn!"
Dua saudara itu saling berbincang dan meluapkan kerinduannya dengan saling mengabarkan satu sama lain.
Cukup lama hingga akhirnya Leon berpamitan,
"Aku pergi dulu, jaga dirimu! Jangan menggunakan kendaraan sendiri atau aku akan mengirimkan sopir untukmu!"
"Aku sudah punya sopir sendiri!"
"Sopir satu saja bangga!"
Gus Raka hanya mencibirkan bibirnya dengan ucapan sombong dari sang adik kembarnya itu.
Setelah mengucapkan salam, Leon akhirnya benar-benar pergi.
...****...
Beberapa kali Nisa berusaha untuk menemui Asna tapi Asna belum siap bertemu dengan Nisa, bahkan Asna sengaja tidak mengangkat telponnya ataupun membalas pesannya hal itu membuat Nisa benar-benar tidak bisa tenang.
"Aku harus apa?" Nisa tampak begitu cemas, sesekali mengusap perutnya yang sudah besar. Ia hanya bisa menghubungi mama Asna dan memastikan keadaannya.
"Tante, maafkan Nisa! Tante pasti begitu marah ya sama Nisa, seperti Asna?"
"Terimakasih ya Tante!"
"Sama-sama!"
Setiap hari Nisa hanya bisa menghubungi mamanya Asna tanpa bisa melihat langsung keadaan Asna.
"Bagaimana sayang keadaan Asna?" Nisa menoleh ke sumber suara, ia tidak menyadari jika sedari tadi mamanya sudah berdiri di depan pintu menatapnya.
"Mama?"
Mama Nisa segera masuk dan duduk di samping Nisa, mama Nisa kenal dengan mamanya Asna tapi tidak begitu dekat, mereka bertemu setiap kali ada acara sekolah di sekolah Asna dan Nisa, dari SMA mereka memang sudah satu sekolah.
"Bagaimana?"
"Asna masih belum mau bicara sama Nisa, ma!"
"Kamu yang sabar ya, doakan Asna biar Allah membukakan pintu hati Asna dan mau menerima kamu kembali!"
Nisa menganggukkan kepalanya dan memeluk sang mama. Cukup lama hingga mereka saling melepas pelukannya.
"Leon kemana? Katanya setelah mengantar kamu periksa kehamilan dia nggak ke kantor, tapi mobilnya kok nggak ada?"
"Mas Leon ke tempatnya mas Raka, soalnya semenjak mas Raka pulang mas Leon belum jenguk dia, ada apa ma cariin mas Leon?"
__ADS_1
"Itu, ada tukang yang mau renovasi bangunan belakang, kata papa suruh tanya Leon saja soalnya papa pulangnya masih Minggu depan!"
"Lama sekali sih ma, papa pulangnya?"
"Katanya ada sedikit kendala dengan persidangannya, pihak lawan lagi ngajak banding!"
"Tapi papa di pihak yang benar kan ma?"
"Kayak kamu nggak kenal papa aja sih sayang, mana mau papa ambil pekerjaan jika di pihak yang salah!"
"Semoga deh!" Nisa sebenarnya ingin papanya segera pensiun saja dari pekerjaannya, ia begitu khawatir saat harus menangani kasus yang ada di luar kota atau luar daerah seperti ini, apalagi tanpa pengawasan yang ketat.
Hingga suara deru mobil memasuki halaman rumah mereka,
"Itu ma, kayaknya mas Leon!"
"Ya udah mama keluar dulu temui Leon, kamu istirahat saja! Jangan terlalu di pikirin, doakan saja yang terbaik untuk Asna!"
Nisa menganggukkan kepalany dan sang mama pun segera berdiri dan meninggalkan Nisa.
Ia segera menemui menantunya yang baru datang itu untuk urusan renovasi rumah, karena memang hanya Nisa dan Leon yang masih tinggal di rumah itu, semua saudara Nisa sudah memilih untuk tinggal sendiri di rumah mereka.
"Assalamualaikum ma, ada apa ya ma?" Leon tampak khawatir karena melihat mama mertuanya menyambutnya langsung ke depan pintu.
"Waalaikum salam!"
"Nisa nggak pa pa kan ma?"
"Enggak, mama cuma minta tolong sama Leon!"
"Minta tolong apa ma?"
"Itu di belakang ada tukang yang mau renovasi rumah belakang, kata papa suruh kamu saja yang mengaturnya!"
"Nanti kalau tidak sesuai dengan pemikiran papa bagaimana ma?"
"Kata papa kamu, dia percaya sama kamu, sudah sana temui tukangnya!"
"Baik ma, kalau begitu Leon ke belakang dulu!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1