Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Ekstra Part (Perjalan Ke bali)


__ADS_3

"Jalan lagi pak!" perintah Alex.


"Baik tuan!"


Alex memperingatkan Leon untuk membawa salah satu anak buahnya.


"Tidak perlu, aku ke sana kan bukan untuk perjalanan bisnis, rasanya tidak etis kalau menggunakan fasilitas hanya untuk urusan pribadi!"


"Tapi kamu kan tahu jika orang-orang Extensio masih menunggu saat kita lemah, bagaimana kemarin dia mencoba menjatuhkan kita didepan umum tapi kamu mampu membalikkan keadaan!"


"Insyaallah aman, ada Allah bersamaku!"


"Semoga!"


"Saya di sama hanya sebentar saja, perjalanan ini juga tidak akan di duga oleh mereka!"


Akhirnya mereka sampai juga di bandar udara internasional. Gus Raka sudah menunggunya di sana.


"Titip salam untuk kakek kalian ya!" Alex menepuk bahu kedua pria yang memang terlihat mirip itu. "Maaf karena tidak bisa ikut ke sana!"


"Kami sudah berterimakasih karena pak Alex sudah mengantar sampai ke sini!"


Kini pesawat yang akan mereka tumpangi akhirnya berangkat juga. Hanya mereka berdua yang pergi. Alex menunggui mereka sampai mereka masuk ke pintu pemberangkatan.


***


Sebuah bandar udara internasional bali menjadi tujuannya. Kedatangannya tidak ada yang menyambut karena memang gus Raka sudah memperingatkan pada saudara kembarnya untuk tidak menghubungi siapapun di sana, bahkan untuk masalah mobil.


Mereka memilih sebuah mobil travel untuk sampai di tujuan.


"Apa kita perlu makan dulu? Sebentar lagi juga waktu dhuhur!" ucap gus Raka memperingatkan pada saudaranya itu.


"Baiklah, itu sepertinya ide bagus. aku sekalian mau mumpang cah hp, hp ku mati!" ucap Leon sambil menunjukkan ponselnya yang mati karena sudah entah sejak kapan ia tidak mengecas ponselnya.


"Pakai hp aku saja, kasihan Nisa, pasti dia nunggu kabar dari kamu!"


Walaupun sedikit ragu, tapi akhirnya ia menerimanya. Untung ia begitu mengingat nomor sang istri.


Gus Raka tersenyum mendengarkan percapan antara suami istri itu, walaupun Nisa bukan jodohnya tapi saudaranya yang manjadi jodohnya.


Alhamdulillah, terimakasih ya Allah melalui jalan ini Engkau pertemuka aku dengan saudaraku, jika pun nyawaku Engkau ambil sekarang, hamba iklas ...


Melihat senyum bahagia dari saudaranya, membuat hatinya ikut bahagia.


"Aku turun dulu ya!" ucap gus Raka saat mereka sudah sampai di depan sebuah masjid besar. Leon yang masih berbicara dengan Nisa pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Setelah gus Raka pergi, Leon pun berpamitan pada sang istri untuk mengakhiri percakapan mereka.


"Aku turun dulu ya, mau sholat. nggak enak juga sama Raka, dia pasti mau menghubungi orang rumah!"


"Iya mas, hati-hati ya, kalau ponselnya udah nyala, hubungi aku lagi ya!"


"Pasti, baik-baik di sana ya! Aku mencintaimu!"


"Aku juga mas!"


"Katakan kamu juga mencintaiku!"


"Sudah tadi mas!"


"Katakan kalau kamu mencintaiku, bukan juga!" terdengar gelak tawa di seberang sana, "Kok malah ketawa sih?"


"Mas sih aneh, gitu aja suruh mengulang!"


"Ya udah ayo katakan!"


"Aku mencintaimu mas!"


Leon tersenyum dan mengucapkan salam, menutup sambungan telpon.


Langkahnya di percepat karena suara azan sudah berkumandang. Bibirnya kembali tersenyum saat melihat kembali saudaranya saat mengambil wudhu.

__ADS_1


Setelah melaksanakan sholat, mereka pun menuju ke tempat makan yang berada di samping masjid. Tidak lupa ia numpang mengisi baterai hp nya.


"Ini punya kamu! Terimakasih ya!"


Gus Raka hanya tersenyum, dan menunjukkan sebuah buku menu,


"Semua lalapan, bagaimana?" tanya gus Raka yang tahu jika saudaranya itu memiliki kesulitan saat makan lalapan tanpa sendok.


"Kan ada kamu, kak! kenapa harus khawatir!"


mendengarkan Leon memanggilnya 'kak' untuk pertama kalinya, gus Raka tidak bisa menutupi rasa harunya,


"Doakan semua baik-baik saja, dan kita bisa melalui semua!"


"Pasti!"


"Insyaallah! baiklah, bagaimana kalau kita pesan bebek goreng seperti kemarin?"


"Setuju!"


Benar saja tidak berapa lama pesanan mereka sampai juga.


Gus Raka segera mengambil piring Leon dan membantunya memisahkan daging dan tulangnya. leon hanya diam dan sibuk memperhatikan saudara kembarnya, mereka seumuran tapi pria di depannya mengerti banyak tentang kehidupan.


Bahkan jauh sebelum ia tahu mereka bersaudara, leon sudah menjadi penggemar pria bersahaja itu, bagaimana bodohnya dia dulu hingga tidak menyadari jika mereka saudara kembar, padahal jika di perhatikan dengan seksama wajah mereka sama.


"Sudah selesai!" gus Raka tersenyum dan menyodorkan piringnya.


"Terimakasih!"


"Jangan terus berterimakasih padaku, jangan membiarkan rasa berhutang itu menghalangi kebahagiaanmu! percayalah jika kamu bahagia aku yang lebih bahagia dari apa yang kamu rasakan!"


"Jangan bicara seolah-olah kamu akan mati besok!" ucap leon sambil memulai menyantap makanannya.


"Takdir Allah siapa yang tahu!"


Mendengarkan pernyataan yang singkat dari gus Raka tiba-tiba membuat nafsu makan Leon menghilang, soalah-olah orang yang ada di depannya ini sedang membicarakan sesuatu yang mendalam.


Masih butuh waktu sampai dua jam dari bandar udara untuk sampai ke rumah sang kakek.


Mata Leon terlihat mulai memerah, sepertinya dia sedang menahan kantuk saat ini, perjalanan panjang dan juga mungkin karena semalam ia juga kehujanan membuat tubuhnya tidak terlalu fit.


"Tidurlah, aku akan membangunkanmu nanti saat sampai!"


"Baiklah, aku memang mengantuk sekali!"


Leon pun segera menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, hanya dalam hitungan menit saja, leon sudah benar-benar tertidur.


Gus Raka tersenyum menatap wajah saudara kembarnya, menarik kepalanya perlahan dan menyandarkan di bahunya agar tidurnya lebih nyaman.


"Aku akan menjagamu sebisaku!" gumam gus Raka lirih. Entah bagaimana hingga titik bening itu tak mampu ia tahan. mungkin saat di lihat dari sopir yang sedang mengemudi, mereka lebih mirip seperti seperti sepasang pasangan sesama jenis, begitu mesra.


Dua jam sudah, akhirnya mereka sampai juga di depan rumah sang kakek. Gus Raka segera membangunkan saudaranya.


"Sudah sampai ya? aku tidurnya terlalu lama, dan ini kamu pasti capek, aku akan memijitmu nanti sebagai gantinya!" ucap leon saat sadar ia sudah tidur di bahu sang kakak kembar.


Gus Raka tersenyum sambil menyambar tas besarnya, "Itu tawaran yang bagus!" gus Raka pun berlalu meninggalkan sang adik kembar.


"Kenapa cuma tasmu sendiri yang di bawa!"


"Jangan ngunjak ya!" teriak gus Raka tanpa menoleh lagi padanya.


"Aku kan cuma tanya!" gerutu Leon sambil menatap punggung gus Raka dan menyambar tasnya sendiri.


Leon menyusul saudara kembarnya itu dengan sedikit berlari membuat sopir travel hanya bisa menggelengkan kepala heran melihat dua orang aneh itu.


Mereka mengetuk pintu saat sampai di depan pintu , tidak berapa lama pintu itu terbuka seorang wanita membukakan pintu.


"Kalian cucunya mbah ya?"


"Iya bu, kakek mana?"

__ADS_1


Kebetulan baru saja makan, ya sudah kalau kalian sudah datang, saya pulang dulu ya, nanti kemari lagi untuk menengok mbah!"


"Nggeh bu!"


Setelah wanita seumuran umi gus Raka itu pergi, gus Raka mengajak Leon untuk masuk.


Sang kakek sedang duduk di ruang tengah, melihat kedatangan mereka sang kakek pun tersenyum.


"Kalian datang juga akhirnya!"


Gus Raka mendekat lebih dulu, dan duduk bersimpuh di depan kaki tuanya, "Bagaimana keadaan kakek?"


"Seharusnya kalau kalian sibuk nggak usah ke sini, si Murti sudah jagain kakek, kan kalau begini jadi ngrepotin!"


"Nggak pa pa kek!"


Sang kakek pun menatap ke arah leon, mereka sudah pernah bertemu sebelumnya,


"Bukankah itu pemuda yang beberapa bulan lalu itu?"


"Iya kek, dia Dika, sekarang namanya Leon, bagus kan kek namanya, dia memang seperti singa bahkan semua musuh gentar mendengar namanya sungguh!"


Sang kakek tersenyum mendengar ucapan gus Raka apalagi dia berkelakar,


"Boleh aku memelukmu?" pertanyaan kakek kemudian membuat pria yang masih berdiri mematung membuatnya meneteskan air mata yang sedari tadi ia tahan di ambang matanya, tangannya menjatuhkan tas besar yang sedari tadi ia bawa dan berjalan menghampiri sang kakek, berada dalam posisi yang sama seperti gus Raka.


Mereka berpelukan, tepatnya tubuh gus Raka dan Leon berada dalam pelukan sang kakek.


"Kakek senang bisa bertemu kalian sekarang rasaya rasa berdosa kakek akhirnya berkurang sekarang! semoga kalian akan selalu menjadi saudara yang saling menguatkan satu sama lain, tidak peduli cobaan seperti apa, jika kalian tetap bersama, pastilah tidak akan ada yang bisa mengalahkan kalian!"


setelah pertemuan yang mengharukan itu, akhirnya mereka memilih kamar, bukan dua kamar tapi satu kamar. Mengenang masa kecil yang sama seperti waktu dulu.


"Keluarkan bajumu dari tas! perintah gus Raka.


"Hahhh?"


"Kamu bisa kak?"


Mana aku bisa, biasanya juga Nisa, ini yang masukkan juga nisa


Hehhhhh


Terdengar helaan nafas dari gus Raka, "aku sudah tahu jawabannya! sinikan tasnya!"


Leon tersenyum dan menyerahkan tasnya, dia memang pelayan di rumahAlex dulu, tapi bukan melayani yang seperti ini, bahkan untuk menyiapkan segala urusan sepele seperti itu dia hanya tinggal perintah..


Gus Raka mengambil tas Leon dan mengeluarkan semua isinya dan meletakkan di lemari yang berbeda dengan miliknya.


"Sudah beres, ini tempat bajumu dan ini tempat bajuku!"


Leon hanya bisa tersenyum,


Kenapa dia manis sekali, mana bisa marah kalau kayak gini


Hehhhh


Lagi-lagi gus Raka hanya bisa menghela nafas,


"Mandilah, setelahnya kita makan malam, bi Murti sudah menyiapkan sarapan untuk kita!"


"Baiklah kakak!" leon meletakkan telapak tangannya di pelipis.


...Dunia ini ibarat bayangan. Kalau kau berusaha menangkapnya, ia akan lari. Tapi kalau kau membelakanginya, ia tak punya pilihan selain mengikutimu. - Ibnu Qayyim Al Jauziyyah...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya ya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2