
Asna tidak mau terlalu lama di dalam mushola, ia tidak ingin ada yang mengenalinya. Ia segera melepas mukenanya dan melipatnya, kemudian menyimpannya di dalam melati kaca yang ada di pojok mushola. Hal ini yang selalu ia lakukan dulu saat masih bekerja di rumah sakit, melakukan ini lagi di tempat yang sama rasanya seperti Dejavu.
Sesekali Asna mengamati anak-anak magang yang sedang bercanda dengan teman-teman nya, hal itu kembali mengingatkannya pada masa-masa di mana ia dan Nisa juga pernah berada di tahap itu dan saat itu mereka begitu dekat.
Sudut bibir Asna tertarik ke atas saat melihat pantulan suaminya dari cermin yang ada di depannya.
"Mas Raka!"
Asna mempercepat merapikan jilbab segiempat ya, ia segera keluar sepertinya suaminya itu baru datang, pria yang telah membuat hatinya jatuh cinta itu terlihat mengedarkan pandangannya seperti sedang mencari-cari sesuatu.
Asna segera keluar dan melambaikan tangannya,
"Mas!"
Bibir Raka tersenyum saat melihat sang istri, perasaan lega itu menyelimuti.
Tanpa mereka berdua sadari pria yang sedari tadi duduk di serambi mushola bagian laki-laki itu ikut berdiri dan menahan langkahnya, ia memilih untuk mengamati siapa pria yang di panggil mas oleh wanita yang selama ini ia cintai.
Asna dengan cepat menuruni tangga dan menghampiri Raka,
"Assalamualaikum, mas!" Asna segera menyambut tangan Raka dan mencium punggung tangannya.
"Waalaikum salam!" Raka juga seperti biasa, ia mengecup kening Asna.
"Dek, jilbabnya yang nutup dada dong!" tangan Raka membetulkan letak jilbab segi empat yang di kenakan olah Asna, yang bagian depannya di lipat ke bahu.
"Nggak enak mas kalau gini!"
"Nggak pa pa nggak enak, asal Allah suka! Jangan di buka ya,!?" Asna hanya bisa menganggukkan kepalanya saat suaminya menjuntai kan ujung jilbabnya ke bawah dada dan menyematkan peniti di sana agar tidak terbuka.
"Mas naik apa ke sini?"
"Motor, mas khawatir tahu kamu tidak di rumah!"
"Asna nggak pa pa mas!"
"Sudah, kita kembali ke ruangan Nisa, paman sama bibi begitu khawatir karena kamu tidak juga kembali!"
__ADS_1
"Tapi mas, kita ke kantin dulu ya, beli cemilan dan minuman buat mereka! Oh iya, mas nggak sholat dulu?"
"Baiklah mas sholat dulu, kamu tunggu di sini ya! Mas cuma sebentar!" Asna lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya.
Raka segera berlari menuju ke tempat laki-laki, tapi langkahnya melambat bahkan berhenti sejenak saat berpapasan dengan seseorang yang sepertinya pernah ia lihat bersama istrinya.
Tatapan Raka begitu tajam menatap pria itu, tapi saat ia kembali teringat untuk cepat kembali, Raka memilih mengurungkan niatnya untuk berurusan dengan pria yang baru saja ia temui itu. Ia kembali berjalan menuju ke tempat wudhu dan melaksanakan sholat isya'.
Asna pun memilih untuk duduk di kursi panjang yang ada di depan mushola sambil menunggu sang suami. Tapi saat ia baru saja mencari posisi yang nyaman, tiba-tiba sosok yang tidak ingin ia temui saat ini sedang berdiri di hadapannya.
Asna kembali berdiri,
"Zaki!"
Pria yang di panggil Zaki itu pun tersenyum, "Hai Asna!"
"Kamu di sini?"
"Iya, aku tadi sengaja mencarimu saat beberapa rekan kita merasa bertemu denganmu!"
"Sebenarnya tadi saya cuma ingin mencari jawaban atas pertanyaanku beberapa kali kemarin dan sudah lama ini, dan baru tadi aku tahu jawabannya kenapa kamu selalu menolakku, kenapa kamu tidak pernah memberi kesempatan untuk memasuki hati dan hidup kamu!"
Asna terdiam, ia memang tidak pernah memberi jawaban yang jelas pada pria di depannya itu, mungkin itu salah satu alasannya. Perasaan bersalah begitu menguasai hatinya saat ini,
"Apa?" mata Asna sekarang sedang fokus pada pria yang sedang kusyuk beribadah di dalam sana, walaupun yang ia pikirkan tentang alasan zaki berbicara seperti itu adalah hubungannya dengan sang suami, ia tetap ingin tahu jawabannya.
"Pria tadi, dia siapa? Apa dia pacar kamu? Kenapa kamu memilih dia?"
"Karena aku suaminya!" suara Raka berhasil menarik perhatian mereka berdua, Raka sudah berjalan menghampiri Asna dan melingkarkan lengannya di pinggang sang istri.
"Jadi setelah ini, saya harap anda bisa menjaga diri saat bertemu dengan istri saya!"
Zaki masih terdiam, ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi atau bertanya apa lagi. Ini semua berhasil membuatnya terkejut.
"Ayo dek, kita ke kantin, katanya mau beli camilan!"
Asna hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan ajakan Raka, sedangkan matanya masih menatap lekat ke arah Zaki. Perasaan bersalahnya saat ini sedang berkuasa.
__ADS_1
Zaki masih terdiam di tempatnya meskipun kini Asna dan raka sudah berjalan meninggalkannya begitu jauh. Patah hati membuat bahkan kakinya seakan tidak bertenaga hanya untuk melangkah ke depan. Melihat wanita yang selama ini ia letakkan harapan besar padanya untuk bisa menua bersama dan nyatanya orang lain sekarang lebih berhak terhadapnya.
Kini Asna dan Raka sudah hampir memasuki area kantin rumah sakit tapi Asna masih saja terdiam.
"Dek, apa kamu menyesal?"
Asna yang sedang tidak fokus segera mendongakkan kepalanya menatap sang suami, "Hemmm?"
"Apa ada penyesalan karena menikah denganku?"
"Mas kok bicara seperti itu sih?"
"Mungkin pria itu lebih muda dariku, juga bisa dia lebih mapan, lebih tampan! Jadi aku hanya takut jika kamu menyesal karena menikah denganku!"
Asna menghentikan langkahnya dan merubah posisinya jadi saling berhadapan.
"Mas, kamu lihat mataku! Memang di dalam mataku ada penyesalan? Mas tahu kan sejak kapan aku menginginkan mas Raka jadi imamku, bahkan aku harus menekan perasaanku saat tahu jika mas Raka sedang mengkhitbah Nisa! Dan sekarang saat Allah benar-benar menempatkan Asna sebagai jodoh mas Raka, lalu apa yang harus Asna sesali?"
"Tapi kamu sedih!"
"Ini hanya perasaan bersalah mas! Menyesal, karena kenapa tidak sejak dulu aku memberi jawaban pada Zaki agar aku tidak terlalu memberi harapan padanya! Aku pernah berada di posisi Zaki mas, dan rasanya begitu sakit!"
"Maafkan aku karena pernah meletakkan mu pada posisi itu!" Raka sadar siapa yang sudah membuat Asna merasakan sakit yang sama seperti yang di rasakan oleh Zaki saat ini.
Seandainya saat itu dia bertemu dengan Asna lebih dulu pastilah dia akan mengkhitbah Asna lebih dulu di bandingkan dengan Nisa. Tapi dengan tanpa memikirkan perasaan Asna, Raka malah meminta informasi tentang Nisa kepada Asna. Pastilah itu membuat Asna semakin merasa sakit, walaupun hanya bisa Asna pendam.
"Sudah berlalu mas, dan Asna sekarang bahagia!" Asna memeluk sang suami dengan begitu erat hingga mereka jadi pusat perhatian karena berpelukan di depan umum.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1