
“Saya tidak tahu takdir apa yang sudah Allah berikan untuk saya hingga saya dipertemukan
dengan Kyai beberapa kali, menjodohkan saya dengan wanita salehah seperti
Aisyah! saya bukan orang baik yang pantas berkenalan dengan orang-orang
seperti pak Kyai, bu Nyai atau Aisyah!”
“Nak Alex …, bukan manusia yang bisa menentukan seseorang itu pantas atau tidak,
tapi Allah! Di hadapan Allah semua manusia itu sama, yang membedakan itu
ketakwaannya!”
Alex menghembuskan nafasnya kasar seperti mengeluarkan semua masalahnya yang menggantung di dalam hidupnya, matanya menerawang. Ia seperti kembali
mengumpulkan puing-puing kenangan masa lalunya yang ingin sekali ia buang jauh
dengan menceritakannya pada orang yang tepat.
Alex pun mulai bercerita tentang kehidupannya kelamnya, kehidupan yang penuh dengan
kegelapan tidak ada kasih sayang dan agama. Yang ia tahu sejak kecil hanya
bagaimana cara bertahan hidup, membunuh atau mati, menyakiti atau disakiti,
hatinya sangat hampa tidak ada yang memperlakukan nya selayaknya manusia.
Hingga kepulangannya ke Indonesia mempertemukannya kembali dengan neneknya yang mengantarnya pada orang-orang baik seperti Kyai Hamid dan juga pernikahannya
dengan Aisyah yang walaupun memang caranya salah.
“Tidak ada yang sia-sia di dunia ini, Allah menciptakan masalah lengkap dengan
penyelesaiannya!
Jangan khawatir, jika kita bisa duduk tenang di dalam pesawat sedangkan kita tidak tahu siapa pilotnya, kita bisa merasa berlayar di dalam
kapal walaupun kita tidak tahu nahkodanya, lalu kenapa kita khawatir dengan kehidupanmu, sedangkan engkau tahu jika Allah yang maha mengendalikan semuanya!”
Alex hanya bisa diam mencerna ucapan Kyai Hamid. Memang benar, ia mencemaskan
hal-hal tanpa alasan, ia takut jika ia bertobat dan berubah menjadi baik, Allah akan menolak taubatnya.
***
Kini Alex dan Kyai Hamid sudah berada di halaman depan, Alex sudah bersiap-siap
untuk pergi.
“Terimakasih ya atas nasehat pak Kyai!”
“Saya senang jika nak Alex mau belajar, ingat satu hal mas Alex jadikan masa lalu
yang kelam jadi pelajaran saja untuk tidak kembali ke masa itu, lepaskan dan
mulai dengan yang baru!”
“Insyaallah saya akan berusaha…, saya pergi dulu pak Kyai, assalamualaikum!”
“Waalaikum salam warahmatullah ..!”
Kyai Hamid terus tersenyum menatap kepergian mobil Alex, bahkan senyumnya itu tidak pudar sampai mobil Alex benar-benar hilang di telan jarak.
“Abi …, kenapa abi seneng banget?” tanya Nyai Sarah saat melihat suaminya masih saja
tersenyum sampai kembali masuk ke dalam rumah.
“Abi senang umi!”
“Iya .., umi tahu! Tapi senangnya kenapa?”
__ADS_1
“Abi seperti merasa jika sahabat abi itu kembali lagi dalam wujud nak Alex, lihat
wajahnya sekarang sudah lebih tenang, jauh sekali dengan pertama kali kita
bertemu! Semoga Allah menjaga taubatnya!”
“amin!”
***
Baru saja Aisyah keluar dari kampusnya tiba-tiba mobil Alex sudah berhenti saja di
depannya, padahal rencananya ia akan naik angkot untuk pulang karena masih
sangat siang dan tidak mungkin menyusahkan suaminya itu.
“Mas …!” ucap Aisyah saat Alex menurunkan kaca mobilnya.
“Masuk!” perintah Alex, Aisyah pun segera membuka pintu mobil dan duduk di samping
suaminya.
Alex segera menjalankan mobilnya kembali, tapi mobil itu berjalan berlawanan arah
untuk pulang ke rumah.
“Mas …, kita mau ke mana?”
Bukannya menjawab pertanyaan Aisyah, Alex malah mengambil sebuah undangan di dasbor
mobilnya dan menyerahkannya pada Aisyah.
“Ini undangan apa mas?”
‘Bisa baca kan?”
“Bisa …!”
“Undangan makan malam? Dalam rangka apa?”
“Kan bisa baca! Kalau gitu baca sampai selesai!”
Hehhhh …
Walaupun mendengus kesal, Aisyah pun melanjutkan membaca undangan itu, ternyata undangan peresmian sebuah restaurant yang di dalamnya ada ikut campur perusahaan Alex
dalam pembangunannya.
“Wahhh …, ini restaurant yang di gadang-gadang bakal jadi salah satu restaurant yang rekomended di Surabaya mas …!”
“Tahu …!”
“Gitu aja jawabnya!”
Aisyah hanya bisa mendengus, karena mau bagaimanapun itulah pria yang sudah ia nikahi,
tapi semenjak ia tahu bagaimana masa lalu suaminya itu, ia menjadi lebih
maklum. Tapi yang masih ada pertanyaan di benaknya sampai saat ini, apa benar
suaminya itu tidak bereaksi terhadap wanita, lalu wanita-wanita itu ngapain saja?
“Sudah sampai!” ucap Alex saat mobil mereka berhenti di depan sebuah butik, Alex
keluar dari mobil.
Dari dalam mobil, Aisyah memperhatikan pria yang menjadi suaminya itu berlari kecil
mengitari mobil dan berhenti di sebelahnya dan membuka pintu mobil untuknya.
Mas Alex bukain pintu buat aku …, beneran …?
__ADS_1
“Ayo …!”
“Tapi …!”
“Kenapa?”
“Kenapa ke sini?”
“Kita butuh baju buat kamu untuk nanti malam!”
Akhirnya Aisyah pun keluar dari dalam mobil,
mereka berjalan bersama menuju ke butik baju-baju muslimah. Alex memilihkan
baju untuk aisyah, ini untuk pertama kalinya Alex dan Aisyah pergi bersama
tanpa terpaksa.
“Gimana mas?” tanya Aisyah setelah keluar dari ruang ganti dnegan gaun yang sudah di
pilih oleh Alex.
“Itu bagus!”
Akhirnya Alex menjatuhkan pilihannya juga setelah sekian banyak baju yang sudah di coba
Aisyah.pilihannya jatuh pada dress warna merah maron yang senada dengan jas
yang akan dikenakan oleh Alex. Aisyah tampak lebih dewasa dari usianya.
***
Aisyah dan Alex sudah berada di depan restaurant dengan diantar Leon. Seorang bellboy sudah menyambut mereka di pintu lobby utama dan menunjukkan arah jalan
masuknya. Memang restaurant itu terbagi menjadi beberapa wilayah utama bukan
hanya menjadi tempat makan tapi juga bisa menghabiskan waktu dengan menikmati
pemandangan di taman yang begitu luas, selain itu juga di sediakan ballroom juga meeting room.
Aisyah merasa tidak percaya diri melihat tamu undangan yang terlihat seperti orang-orang penting semua.
“Kenapa banyak banget mas tamu undangannya, aku nggak kenal semua lagi!” bisik Aisyah dan semakin menyembunyikan dirinya di belakang Alex.
"Ya jelas banyak lah, ini restoran besar, emang mau kamu aja yang di undang!" ucap Alex dengan nada arrogant nya
"Kita pulang aja ya mas!"
Alex yang menyadari jika Aisyah sangat tidak nyaman, ia segera menghentikan
langkahnya dan berbalik menatap Aisyah, “jangan khawatir, ada aku!”
Alex segera melingkarkan lengannya di pinggang Aisyah membuat Aisyah begitu
terkejut,
“Mas …!”
“Sudah diam saja, begini lebih nyaman!” bisik Alex dan kembali tersenyum menyambut
sapaan orang-orang yang melintas di hadapan mereka.
Mereka langsung menuju ke hall tempat di laksanakan makan malam. Beberapa orang
menyambut kedatangan mereka, bahkan ada yang memberi selamat pada Alex dan
Aisyah atas pernikahannya mereka dan juga atas suksesnya pembangunan restaurant itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰