
“Tolong pak lepaskan Bianka!” ucap gus Fahmi, ia merasa tidak tega Bianka di perlakukan begitu kasar oleh ayahnya. Ia jadi ingat bagaimana orang-orang itu mengejar-ngejar Bianka waktu itu.
“Kamu siapa, beraninya melarang-larang saya!" ucap ayah Bianka begitu marah karena apa yang di lakukan di hentikan oleh orang lain.
“Kenalkan pak, nama saya Fahmi!" ucap Gus Fahmi.
"Nggak penting siapa kamu, yang penting sekarang saya harus bawa putri saya pergi dari sini lalu saya nikahkan!"
"Saya yang akan melamar anak bapak!” ucap gus Fahmi dengan begitu cepat membuat ayah Bianka terdiam.
"Iya pak, saya serius akan melamar putri bapak!" ucap gus Fahmi lagi.
Pernyataan gus Fahmi tentu membuat Bianka begitu terkejut. Begitupun dengan Kyai Hamid dan bu Nyai Sarah. Ia tidak pernah tahu jika putranya itu menyimpan perasaan pada Bianka.
“ha ha ha …!” ayah Bianka malah tertawa merendahkan,
“kamu anak pak Kyai mau melamar putri saya, punya apa kamu hah, punya apa? Pakek bergaya segala!”
"Saya punya tekat pak dan iman!" ucap gus Fahmi lagi, "Insyaallah dengan tekat ini saya bisa membahagiakan putri bapak!"
"Ha ha ha ...., saya nggak butuh tekat, yang saya butuhkan saat ini uang ...., uang ....!" ucap ayah Bianka sambil menunjukkan tangannya menyatukan jari telunjuk dengan jari jempol sebagai simbol uang sambil menyebut uang.
“Ayah …!” bentak Bianka karena begitu kesal.
“Jelas-jelas putranya pak Herman punya segala-galanya, mana mungkin aku pilih anak nya Kyai yang nggak punya apa-apa ini!”
“Ayah …, Bianka nggak butuh harta mereka!”
“tapi ayah butuh, memang kamu mau melihat ayahmu itu meringkuk di penjara gara-gara nggak bisa bayar hutang!”
“Tapi Bianka nggak mau jadi alat bayar hutang ayah, Bia mohon …, gini biar Bia yang bayar hutang ayah!”
“Kamu mau bayar pakek apa? Kalau kamu mau jual diri mungkin bisa! Bagaimana apa kamu mau jual diri?”
“Cukup ayah! Ayah sudah keterlaluan, ayah benar-benar keterlaluan, Bia benci ayah ....!” ucap Bianka dengan terus menangis, bahkan pergelangan tangan nya sudah memerah karena ayahnya terlalu kuat menggenggam pergelangannya.
“pak …, saya yang akan bayar hutang bapak!” ucap gus Fahmi dengan begitu yakin.
“mau pakek apa? Pakek doa …, anak pak Kyai aja mau gaya bayar hutang saya!”
“Saya akan membayarnya! Insyaallah atas ijin Allah saya bisa!”
“yakin sekali kamu!" ucap ayah Bianka sambil melecehkan.
__ADS_1
"Beri saya kesempatan pak, saya akan membuktikannya!" ucap gus Fahmi lagi.
"Baiklah …!hutangku seratus
juta, apa kamu punya uang sebanyak itu?”
Gus Fahmi terdiam, uang yang begitu banyak untuk gus fahmi. Dari mana ia bisa mendapatkannya, tapi hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk meminang Bianka. Mungkin memang butuh perjuangan, tapi setidaknya ia punya keberanian untuk mengatakan semua itu padanya.
“Diamkan …, nggak bisa kan?”
“Beri saya waktu dua minggu! Jika dalam waktu dua minggu saya tidak bisa mendapatkan uang seratus juta, terserah apa yang bapak ingin lakukan! Tapi kalau saya bisa,
maka restui saya menikah dengan putri bapak!”
"Mas …!” Bianka benar-benar tidak mengerti kenapa gus Fahmi mengatakan secepat itu, dalam dia minggu dari mana pria itu akan mendapatkan uang itu.
"Jangan lakukan itu, itu tidak benar mas Fahmi!" ucap Bianka.
"Kamu percaya kan sama Allah?" tanya gus Fahmi dan Bianka pun mengangguk.
"Insyaallah Allah yang akan kasih jalan, jika niatnya baik. Allah yang akan menuntun!" ucap gus Fahmi.
"Bagaimana pak? Cuma dua minggu dan insyaallah saya akan mendapatkannya!"
Akhirnya ayah Bianka pun pulang, kini Bianka hanya bisa diam dan menatap gus Fahmi. Ia benar-benar tidak tahu apa yang sudah pria itu lakukan. Ini sebuah lamaran atau
sebuah barter agar ia selamat.
***
Di saat Bianka sedang bimbang dengan nasibnya, Aisyah juga sedang bimbang dengan apa yang akan di lakukan suaminya malam ini.
Ia sudah duduk di tepi tepat tidur menunggu suaminya itu masuk ke dalam kamar.
Terlihat suaminya sedang sibuk menerima telpon di balkon kamar mereka, sepertinya sangat serius.
Rasanya pengen mendekat dan memeluknya dari belakang.
"Astagfirullah ...., apa sih yang aku pikirkan!" ucap Aisyah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
"Bagaimana aku bisa berpikir seperti itu.
Aisyah pun segera memegangi bibirnya yang sudah berapa kali di cium suaminya. Hanya suaminya yang berani menjamah bibirnya itu.
__ADS_1
"Ihhhhhh ....., jadi malu mikirin itu ....!" ucap Aisyah. sambil terus memegangi bibir bawahnya.
"Kenapa bibirnya di pegangi kayak gitu?" tanya Alex yang ternyata sudah kembali dari balkon, Aisyah tidak menyadari jika suaminya itu telah kembali sedari tadi.
"Ah ...., ini ...., bukan apa apa mas, tadi ada semut yang gigit bibirku, makanya aku pegangi!"
"Benarkah?"
"Benar mas ....!"
Alex pun berjalan mendekat dan duduk di samping Aisyah. Ia meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Lihat mana bibirnya?" ucap Alex sambil menyingkirkan tangan Aisyah dan memperhatikan bibir itu. Alex memegangi bibir bawah Aisyah membuat Aisyah terpaku. Tiba-tiba saja ia merasa kesulitan bernafas.
Ini begitu dekat ....., gimana ini ....?
"Tidak ada apa-apa! Juga tidak bengkak!"
"Soalnya ini beda mas semutnya!"
Alex tersenyum melihat kepolosan istrinya itu.
"Apa semutnya besar?"
"Semut?"
"A ..., iya ....!" ucap Aisyah yang terlihat begitu gugup.
"Apa seperti ini?" tanya Alex sambil mendekatkan wajahnya pada Aisyah.
Cup
Alex segera mendaratkan bibirnya di atas bibir Aisyah membuat Aisyah kembali terdiam dnegan mata yang melebar sempurna.
"Mas ... !" ucap Aisyah dengan masih mengenakan bajunya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰