Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (84)


__ADS_3

Setelah pria itu pergi meninggalkan rumahnya, Raka pun kembali masuk dengan membawa map berisi surat kepemilikan tanah atas nama Raka.


Tampak pria itu masih bingung, ia tidak tahu bagaimana semua itu bisa terjadi, dulu sekali ia pernah di tawari untuk mengkredit rumah, tapi ia tidak pernah tertarik hingga ia tidak tahu kenapa bisa tinggal di tempat itu bersama wanita yang mengaku sebagai istrinya dan bahkan mengkreditnya hingga lunas.


"Begitu banyak yang aku tidak ketahui, atau mungkin aku lupakan!?" sekali lagi Gus Raka menatap map yang ada di tangannya, ia bahkan melupakan kapan melakukan perjanjian itu. Dia tidak tahu bahkan namanya tertera di surat yang sudah sah menjadi miliknya itu.


"Astaghfirullah hal azim, ya Allah hamba ini hambaMu yang lemah, hamba mohon petunjukMu atas apa yang terjadi pada ku, agar hamba tidak melakukan banyak lagi kesalahan yang mungkin hamba sengaja atau tidak!" terlihat raut penyesalan, tapi ia tidak mengerti penyesalan seperti apa yang tengah melanda dirinya.


Di sisi lain ia tidak ingin terlalu dekat dengan Asna yang menurutnya bukan muhrim dan belum halal baginya, tapi di satu sisi, di hatinya yang paling dalam, ia begitu takut jika wanita itu tidak akan pernah kembali.


Hingga matanya menatap kamar yang semenjak dua hari yang lalu tidak pernah terbuka pintunya. Hatinya tertarik untuk mencoba masuk dan mungkin ia mendapatkan sesuatu yang akan membuat dirinya mengerti, tapi adab kesopanannya menolak.


"Apakah yang akan aku lakukan ini benar?"


"Tapi jika aku tidak melakukan ini, aku tidak akan tahu apa yang sebenarnya terjadi!"


Raka pun meletakkan begitu saja berkas di atas meja, ia perlahan melangkah menuju ke kamar Asna dan Shahia.


Hanya dengan sekali tarikan, pintu itu terbuka,


"Dia bahkan tidak mengunci pintunya, ceroboh sekali!" gumamnya lirih tapi ia tetap masuk ke dalam ruangan yang dulu menjadi ruang kerja yang kini di rombak menjadi kamar Shahia.


Ruangan itu terlihat di dominasi dengan warna merah jambu, banyak mainan berserakan di lantai, boneka mulai dari yang paling kecil hingga ya g paling besar ada di dalam kamar itu.


"Dia bahkan tidak merapikan terlebih dulu kamarnya sebelum pergi!" gumamnya lagi sambil mengambil satu per satu boneka yang berserakan dan meletakkannya di tempatnya hingga akhirnya kamar itu kembali rapi. Mbak Rumi memang sengaja tidak merapikan kamar Shahia karena memang permintaan Asna, selama Asna tidak di rumah, ia hanya di minta untuk membersihkan ruangan depan dan memasak untuk Raka.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan semuanya, Raka pun duduk di tepi ranjang yang ukurannya lumayan besar untuk anak kecil, Asna sengaja membeli yang ukurannya agar besar agar saat ia menemani Shahia tidak kesempitan, lagi pula Raka masih melarangnya tidur di kamarnya sendiri.


Hingga mata Raka menatap pada meja yang terlihat berbeda dari benda-benda lain di kamar itu, meja itu tampak seperti meja kerja. Karena memang meja itu meja kerja Raka dulu, Asna belum menemukan tempat yang tepat untuk memindahkannya. Selama ini ia masih harus fokus pada kesembuhan suaminya hingga untuk ruang kerja pun ia belum punya ide yang pas.


Raka pun kembali bangun dari duduknya, dengan langkah yang sedikit kesusahan Raka berjalan menghampiri meja itu. Ternyata ia juga menemukan kursi kerja juga di balik meja itu, ia segera duduk dan menatap meja yang menurutnya tidak asing.


"Ini bukan barang baru, bukankah ini meja yang ada di kamar ku di rumah Abi dan umi?" ia masih bisa mengenali meja itu meskipun terlihat catnya sudah baru.


Raka pun akhirnya merogoh saku baju kokonya, ia mengambil benda pipih yang entah sejak kapan ia masukkan ke dalam saku, mungkin setelah menelpon Asna tadi.


Ia menghubungi uminya, ia ingin tahu apakah benar itu meja lamanya. Jika ia besar kemungkinan barang-barang yang ada di dalamnya juga miliknya.


"Assalamualaikum umi!"


"Iya umi, semua baik-baik saja!"


"Shahia rewel ya? Umi sudah kangen pengen ketemu!"


"Enggak umi, semua baik-baik saja, nanti kalau ada waktu Raka bawa Shahia ke rumah, oh iya umi?"


"Iya ada apa?"


"Apa meja kerja Raka yang ada di kamar sudah Raka bawa ke sini ya umi?"


"Meja kerja yang dekat jendela?"

__ADS_1


"Iya umi!"


"Sudah, kalau tidak salah sebelum kamu pindah ke rumah itu sudah kamu bawa sama kursinya juga, kata kamu kalau harus beli yang baru belum tentu dapat yang senyaman kursi lama kamu!" mendengar ucapan uminya, Raka pun menatap kursi yang ia duduki, dan ia baru sadar jika kursinya juga masih sama. Ia hanya mengganti pembungkus sponnya.


"Ada apa nak?" umi kembali bertanya setelah Raka terdiam cukup lama.


"Eh nggak pa pa umi, terimakasih ya umi, selamat beristirahat, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Setelah mengakhiri sambungan telponnya, Raka segera meletakkan ponselnya di atas meja dan mengamati dua benda itu dan memastikan jika itu benar-benar meja dan kursi lamanya.


"Iya, ini milikmu!"


Raka pun memperhatikan benda-benda yang ada di atas meja, beberapa benda memang masih terlihat asing tapi beberapa buku memang miliknya. Di samping dindingnya juga ada rak buku besar, kebiasaannya membaca membuatnya suka mengoleksi beberapa buku.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2