
Hari telah berganti, Merry tidak memberikan kabar apapun pada Alex. Sudah lewat satu kali dua puluh empat jam, Alex pun memutuskan untuk melaporkannya ke polisi.
Tidak ada bukti yang mengarah pada seseorang walaupun Alex sudah tahu siapa pelakunya.
Ia segera menemui orang yang mungkin terlibat dalam hilangnya leon dan Gus Raka.
"Ada apa ini tuan Alex bisa sampai di sini?"
"Jangan banyak basa-basi, saya tau apa yang kalian lakukan!"
"Memang apa yang kami lakukan?" pria dengan kumis tebal itu hanya tersenyum menanggapi kemarahan Alex saat ini.
Alex segera berdiri dan menarik kerah baju pria angkuh itu, dengan keras ia menekan ke dinding yang ada di belakangnya hingga pria itu terhimpit antara tubuh dan dinding.
"Di mana kalian menyembunyikan Leon dan saudaranya?" tanya Alex dengan begitu geram, selama ini ia tidak mau bersikap Karas karena mereka tidak sampai melampaui batas, tapi sekarang Alex tidak bisa lagi bersikap tenang karena sudah menyangkut nyawa dua orang sekaligus.
"Ohhh, jadi adik kamu punya saudara lagi? Siapa tahu mereka memang sudah ada niatan untuk kabur dari kamu!?"
"Omong kosong, awas jika sampai terjadi sesuatu sama Leon, maka aku tidak akan pernah melepaskanmu!"
Alex menghempaskan tubuh pria itu secara kasar hingga terhuyung dan meninggalkannya begitu saja.
Setelah Alex pergi, pria pria itu segera bangun dan tersenyum,
"Bukan aku yang mati, tapi kamu Alex! jangan berani-berani melawanku dan kamu akan tau sendiri akibatnya!"
Pria dengan kumis tebal itu pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Cari sampai dapat, jangan sampai polisi dan orang-orang itu menemukan mereka lebih dulu, buat Alex semakin kalang kabut!"
***
Hari berganti hari dan terus berganti tapi tidak ada yang bisa menemukan mereka, bahkan Merry pun tidak pernah kembali ke Surabaya setelah ke jadian itu, entah apa yang mereka lakukan di Bali.
Nisa yang masih berduka, ia hanya bisa pasrah. Menerima semuanya walaupun setiap kali mengingat suaminya ia selalu menangis.
Ia menangis di setiap doanya di sepertiga malam, berharap suatu saat di pertemukan kembali dengan suaminya, jika pun suaminya meninggal ia ingin melihat kuburannya.
"Kamu yakin mau bekerja kembali?" tanya sang mama memastikan. Ia masih begitu khawatir dengan keadaan putrinya itu.
"Iya ma, hidup Nisa harus terus berjalan meskipun ada atau tanpa mas Leon!"
"Baiklah, tapi biarkan ada sopir yang menemani!"
Nisa hanya bisa mengangguk, ia tidak bisa memaksakan mamanya untuk biasa saja.
"Sekalian ma, hari ini Nisa mau pulang!"
"Pulang ke mana?"
"Ke rumah mas Leon!"
"Kenapa?"
"Nisa ingin merasakan kehadiran mas Leon di sana, jika mama tidak tega, pak Alex mengirim banyak orang untuk menemani Nisa di sana, sungguh!"
"Tapi sayang!"
"Nisa nggak pa pa ma, sungguh!"
"Baiklah, mama akan sering ke sana untuk menemanimu, kalau ada sesuatu segeralah hubungi mama ya!"
__ADS_1
"Iya ma!"
Ini adalah dua Minggu setelah kepergian Leon, Nisa tidak bisa terus menangis di kamar meratapi semua yang terjadi.
Ia juga harus memikirkan anak-anak yang masih dalam kandungannya, setidaknya nanti Leon tidak akan kecewa dengan dirinya karena mengabaikan anaknya.
***
Sepulang kerja ini, Nisa sudah mulai menjalani hidupnya di rumah sang suami, walaupun banyak orang tapi rasanya masih sepi tanpa pemilik rumah.
Nisa segera menuju ke kamar, tempat yang menyimpan banyak sekali kenangan mereka berdua, air mata Nisa tidak mampu terbendung kembali.
"Mas, aku kembali! Maaf aku tidak menunggumu sampai menjemput!"
Di tempat tidur itu, ia masih bisa mencium aroma tubuh sang suami, bantal milik suaminya kini basah oleh air matanya.
"Anak kita sekarang sudah besar!" Nisa terus mengelus perutnya yang semakin hari semakin bertambah.
Nisa kembali bangun dan mengusap air matanya,
"Mulai hari ini aku akan menunggumu di sini mas!"
***
Nisa menjalani hidupnya tanpa Leon, satu bulan sudah setelah Leon pergi.
Pagi ini Nisa ingin segera berangkat ke rumah sakit, ia sudah siap dengan tas dan sopir yang menunggu di depan.
Ponsel yang masih terhubung dengan charger tiba-tiba berdering.
"Ahhh, hampir saja ketinggalan, untung ada telpon!"
"Pak Alex!"
Entah kenapa tiba-tiba jantungnya seperti berdegup kencang kembali.
"Assalamualaikum Nisa!"
"Waalaikum salam, pak Alex! Apa ada kabar dari mas Leon?" walaupun satu bulan berlalu, rasanya masih ingin mendengarkan kabar baik dari mereka.
"Hari ini jangan pergi ke rumah sakit ya, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat!"
"Kemana?"
"Menemui seseorang!"
Entah rasanya begitu was-was, antara penasaran dan juga takut, rasanya campur aduk jadi satu.
"Baik!"
"Seseorang akan menjemputmu!"
Setelah mengucap salam, sambungan telpon terputus. Rasa semangat untuk bekerja tadi seketika hilang sekarang berganti dengan rasa gelisah yang tiba-tiba mendera.
Nisa kembali duduk di atas tempat tidurnya, melepas kembali tasnya. Ia tidak ingin pergi saat ini, rasanya campur aduk.
Tok tok tok
Hingga suara ketukan di pintu menyadarkannya.
"Bu, apa kita jadi pergi?" itu adalah sopirnya.
__ADS_1
Nisa pun segera mengusap air mata yang belum sempat terjatuh dan segera bangun dari duduuknya.
Nisa berjalan perlahan dan membuka pintu kamar,
"Maaf ya pak, kayaknya saya nggak jadi pergi sama bapak, orangnya pak Alex ada yang mau datang, dia mau jemput saya!"
"Iya Bu, kalau begitu saya permisi dulu!"
"Maaf ya pak, oh iya pak, nanti kalau orangnya pak Alex datang, tolong panggil saya ya!"
"Baik Bu!"
Setelah sopir pribadinya pergi, Nisa kembali duduk, rasanya begitu malas bahkan hanya untuk berjalan saja.
Ia memilih mengambil ponselnya dan berselancar dengan benda itu, tidak lupa ia juga menghubungi rekannya untuk menggantikannya berjaga hari ini karena tidak bisa masuk.
Tidak berapa lama yang di tunggu akhirnya datang juga. Nisa segera turun, ia begitu terkejut saat melihat yang datang ternyata Alex sendiri.
"Pak Alex!"
"Saya pikir akan lebih baik kalau saya sendiri yang datang, bagaimana apa kamu sudah siap?"
"Siap pak!"
Mereka pun berjalan menuju mobil milik Alex, seorang sopir sudah bersiap di samping mobil untuk membukakan pintu.
Nisa duduk di belakang sedangkan alex memilih duduk di samping sopir.
Mobil berjalan meninggalkan rumah Leon, Nisa membawa seribu harapan bisa bertemu dengan suaminya.
Hingga mereka sampai di sebuah pesantren yang Nisa sudah sangat hafal pesantren siap itu.
"Pak, kenapa kita ke sini?"
"Nanti kita bicara di dalam ya!" Alex tidak ingin memberitahu Nisa, ia memilih untuk mengatakan nanti saat semuanya sudah ada.
Mereka segera turun dari mobil, kedatangan mereka langsung di sambut oleh Bu nyai dan pak kyai.
Bu nyai segera memeluk Nisa dengan rasa sayang,
"Bagaimana keadaanmu nak?"
"Alhamdulillah baik, Bu nyai!"
"Alhamdulillah, ibu ikut seneng! Mari masuklah!"
Nisa dan Alex pun segera masuk, ia bisa melihat di dalam ruangan itu sudah ada seseorang yang duduk membelakangi mereka.
Deg
Degup jantung Nisa berjalan lebih cepat, ingin segera melihat pria yang sedang duduk sendiri di dalam itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...
__ADS_1