
"Kia? Apa aku tidak salah mendengar nya tadi?" gumam Alex.
Alex pun segera menoleh ke arah gadis kecil itu, saat ia hendak melangkah. Motor itu sudah lebih dulu membawanya pergi.
"Sepertinya dia, pria itu menyebut nama Kia? Tapi ayah?"
Alex mengenali motor itu, mengenali jaket yang di kenakan oleh pria yang sama.
"Nino!"
Alex pun dengan cepat berlari mengejar motor itu, tapi terlanjur pergi.
"Astagfirullah, kenapa nggak kepikiran!"
Alex segera mengedarkan pandangannya, ia menemukan beberapa tukang yang sedang mangkal di sana.
"Pak ojek!" teriak Alex dengan melambaikan tangannya pada tukang ojek yang baru mangkal itu.
Satu dari beberapa tukang ojek itu segera menghampiri Alex.
"Kemana mas?"
"Tolong kejar motor yang baru saja keluar tadi ya!"
"Baik mas, tapi pakai dulu helmnya mas!"
Alex pun dengan cepat naik ke atas motor sambil mengenakan helmnya.
"Cepetan mas!"
Ojek itu mulai melaju, menyusuri jalan raya mengejar motor yang baru saja melintas, tepat di dekat lampu rambu lalu lintas, Alex bisa melihat motor itu.
"Itu mas!" tunjuk Alex.
Tapi sayang sekali saat motor mereka sudah mulai mendekat, tiba-tiba lampu lalu lintas itu menyala merah memisahkan motor mereka lagi.
"Kenapa berhenti mas?"
"Lampunya merah, mas!"
Hehhhhh
Alex menghela nafas saat mendongakkan kepalanya dan melihat lampu lalu lintas yang menyala merah itu.
Jika dia sholat jama'ah di musholla yang sama, berarti rumah kami berdekatan ....
"Kita langsung ke alamat xx aja mas!" ucap Alex.
"Baik mas!"
Setelah rambu lalu lintas itu menyala hijau, motor pun kembali melaju.
Kia ...., ini papa nak ....
Mereka melupakan mengejar motor itu, mereka memilih untuk menuju kembali ke rumah Alex, ia berpikir mungkin tujuan mereka juga di sana.
"Di sini mas?"
"Iya mas, pelan saja jalannya, kita keliling-keliling kompleks ini saja!"
"Baik mas!"
Motor itu berjalan begitu lambat, mengelilingi jalan-jalan kecil di kompleks itu. Alex berharap bisa menemukan motor yang sama terparkir di depan rumah.
...**"**...
"Kenapa kita di sini sih?" tanya Kia sebal karena ia tidak langsung di ajak pulang.
"Maaf Kia, aku harus menyelesaikan pekerjaanku sebentar jadi duduk diam dan tunggu lima belas menit!"
Nino ternyata mampir dulu di bengkel, ia teringat jika jam sebelas motor langganannya itu harus selesai karena akan di bawa untuk menjemput anaknya.
Walaupun kesal, Kia pun akhirnya menurut saja. Nino juga sudah menyiapkan makan siang untuk Kia.
"Makan yang banyak ya! Aku kerja dulu!"
__ADS_1
"Iya!"
...***""***...
"Ibu dari mana?"
Aisyah yang barus saja pulang bersama Arsyi melihat ibunya yang juga dari luar.
"Kita masuk dulu ya!"
Aisyah pun menurunkan Arsyi dan membuka pintu itu. Mereka pun segera masuk dan kembali menutup pintunya.
"Jam segini kok sudah pulang?" tanya bu Santi melihat putri nya yang juga pulang cepat.
"Aisyah sudah tinggal dikit bu, sudah di handle semua sama mbak Laras! Kalau ibu dari mana?"
Bu Santi pun duduk di sofa, terlihat capek.
"Ibu sebenarnya habis kerja!"
Aisyah begitu terkejut saat mendengar jika ibunya bekerja.
"Arsyi bermain dulu ya sayang, mama mau bicara sama nenek dulu!"
"Iya ma!"
Setelah Arsyi meninggalkan mereka, Aisyah pun segera duduk di samping ibunya.
"Ibu kerja apa? Kenapa kerja?"
"Ibu bingung Ay, masak ibu cuma duduk-duduk saja di rumah, Arsyi juga kamu bawa! Ibu kan bosan,...!"
"Ibu kerja apa?"
"Sebenarnya kemarin ada tawaran menarik, kerjanya nggak lama! Hanya beberapa jam saja ketika orangnya pergi, tapi gajinya lumayan besar, satu harinya seratus ribu, nggak berat juga kerjanya!"
Hehhhhh
Aisyah menghela nafas, ia tidak tahu harus bagaimana. Tujuan membawa Arsyi bersamanya agar ibunya tidak terlalu capek, tapi malah ibunya cari pekerjaan.
"Ibu berhenti saja ya!"
"Begini saja deh bu, Aisyah saja yang kerja, ibu sama Arsyi di rumah!"
"Maksudnya?"
"Biar Aisyah yang gantiin ibu, mana kunci rumahnya! Ibu tinggal tunjukin mana rumahnya trus apa saja yang harus Aisyah kerjakan di sana!"
"Tapi nduk!"
"Nggak ada tapi-tapi bu!"
Bu Santi pun akhirnya menyerah, ia merogoh saku dasternya dan mengambil kunci itu dan menyerahkan kunci itu pada Aisyah.
"Aisyah harus apa saja?"
"Kamu harus menyapu, ngepel, memasak saat sore hari, jangan masuk ke dalam kamarnya!"
"Cuma itu?"
"Iya!"
...***""***...
Alex yang terus berputar-putar itu pun akhirnya menyerah. Ia masih punya cara lain.
Pria yang menjadi imam sholat di kantornya saat itu.
"Gimana nih mas, masih mau muter-muter lagi?"
"Kita kembali ke sekolah yang tadi saja mas!"
"Baik mas!"
Motor itu kembali ke sekolah Kia. Di depan gerbang sekolah itu mas Irwan sudah menunggunya.
__ADS_1
"Pak Alex dari mana saja?" tanya mas Irwan.
"Ada perlu sebentar tadi!"
Alex pun menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan kepada tukang ojek itu.
"Ini kebanyakan loh mas!"
"Nggak pa pa mas, anggap sebagai rejeki buat masnya!"
"Makasih ya mas!"
Mereka pun meninggalkan tukang ojek itu.
"Mas Irwan, saya ingin bertemu dengan guru yang mengajar paud di sini!"
"Ada apa ya pak?"
"Ada perlu sedikit!"
"Baiklah, biar saya cari dulu pak, bapak silahkan menunggu di ruang kamu saja!"
"Baik!"
Mas Irwan pun mencari keberadaan bu guru Kinan. Untung saja bu guru Kinan belum pulang jadi ia bisa bertemu.
"Bapak mencari saya?"
Alex segera berdiri menyambut kedatangan Bu guru Kinan.
"Assalamualaikum bu guru!"
"Waalaikum salam!"
"Silahkan duduk pak!"
"Terimakasih!"
Alex maupun bu guru Kinan pun duduk di sofa yang berbeda.
"Ada yang bisa saya bantu pak?"
"Saya papa nya Kia, Kiandra Alexandra!"
Bu Guru Kinan terlihat mengerutkan keningnya dan mengamati wajah Alex, memang terlihat mirip.
"Saya ingin bertemu dengannya, bisakah besok di jam sekolah anda mempertemukan kami?"
"Kebetulan sekali kalau seperti itu pak, besok hari mewarna ayah dan anak! Jadi anak-anak harus berpasangan dengan anaknya dalam mewarna, biasanya Kia tidak pernah mau di temani oleh mamanya!"
"Kenapa?"
"Itu bisa bapak tanyakan langsung alasan pada Kia besok!"
"Saya pasti datang besok bu, terimakasih atas kesempatan yang ibu berikan! Tapi apa bu guru tidak menanyakan alasan kemana saja selama ini saya berada?"
"Itu bukan ranah saya mempertanyakan pak, tapi nanti jika bapak sudah siap untuk mengatakannya, saya akan mendengarkannya!"
"Terimakasih atas pengertian Bu guru!"
"Sama-sama pak!"
"Kalau begitu saya permisi, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Kia ...., sampai jumpa besok sayang ....
Bersambung
...Aku sempat takut jika nanti kau akan melupakan aku, tapi aku lupa satu hal ada satu pengikat yang tidak bisa kamu lepaskan dariku, doaku untukmu...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰