Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah

Mr. Arrogant Vs Mrs. Salihah
Season 3 (59)


__ADS_3

Setelah selesai bertelponan dengan saudara kembarnya yang tidak membuahkan hasil, Raka kembali menghampiri istrinya yang sudah siap di atas tempat tidur.


Melihat sang suami masuk kamar dengan wajah lesu membuat Asna penasaran,


"Ada masalah ya mas?"


Raka segera duduk di sisi lain tempat tidur dan meletakkan ponselnya di atas nakas di samping tempat tidurnya. Raka menaikkan kakinya dan menatap sang istri sejenak, tapi kembali lagi ia berbalik.


Hehhhhh


Hanya helaan nafas yang keluar dari mulutnya, seperti sedang menahan beban yang begitu berat.


"Mas_?" Asna menjadi khawatir dengan sang suami, "Ada masalah apa?"


Raka kembali menatap sang istri, "Mas bingung!"


"Bingung kenapa?"


"Mas pengen buka puasa tapi mas takut kalau menyakiti anak kita!"


Asna sekarang tersenyum mengetahui masalah apa yang sedang menimpa suaminya,


"Mas, sini!"


"Hahhh?"


"Kok hahh sih, mendekatlah!" Asna melambaikan tangannya agar sang suami mendekat.


Raka pun mendekatkan tubuhnya pada Asna dan Asna pun juga melakukan hal yang sama.


Asna tiba-tiba menempelkan bibirnya ke bibir Raka, ia juga mengalungkan tangannya di leher sang suami dengan tatapan yang mendamba.


"Aku sudah siap mas!" Asna berbisik dengan begitu lembut di daun telinga sang suami.


Hal itu berhasil membuat Raka tidak mampu menahan diri, ia pun segera mel*mat bibir mereka jambu milik sang istri. Dengan hati-hati ia memulainya, rasa sayangnya pada sang anak sesekali membuatnya berhenti sesaat dan memastikan jika istrinya tidak kesakitan.


...***...


Trimester pertama kehamilan Asna sudah mampu di lewati dengan baik, Asna sekarang sudah mulai boleh beraktifitas seperti biasanya. Ia melakukan hal-hal kecil yang bisa ia lakukan di rumah, selain itu ia juga berencana untuk membantu suaminya, ia meminta suaminya untuk membawa file yang harus edit ke rumah agar saat siang hari ia bisa membantu mengedit.


"Tapi jangan terlalu capek ya, dek!" Raka masih saja khawatir kalau Asna sampai kecapekan.


"Aku malah bisa stres mas kalau nggak punya pekerjaan apa-apa di rumah!"


"Baiklah, yang kecil-kecil saja ya!"


"Hemmm!"


Seperti yang di minta Asna, akhirnya Raka memberi sebagian kecil pekerjaannya untuk Asna dan esok harinya ia sudah bisa melakukan percetakan.


Alhamdulillah dalam waktu lima bulan semua target hampir terpenuhi, tinggal lima belas persen saja, ia bahkan sudah hampir bisa melunasi rumahnya juga.

__ADS_1


"Ini sudah tinggal dikit loh mas, mas nggak pengen santai dikit?" tanya Asna yang sedang menyiapkan makanan untuk suaminya. Terlihat sekarang perutnya sudah mulai mengembang.


"Nanti dulu ya sayang, mas harus mempersiapkan tempat persalinan terbaik untuk anak kita, tiga bulan lagi kamu kan lahiran sayang!"


"Istirahat sejenak tidak pa pa mas, Asna cuma takut nanti mas Raka malah jatuh sakit!"


"Insyaallah mas masih kuat buat kalian!"


...***...


"Mas berangkat dulu ya, kalian baik-baik di rumah!" Raka mengusap perut Asna dan mengecupnya.


"Mas juga hati-hati ya, kalau capek istirahat!" Asna mengecup punggung tangan suaminya dan langsung di sambut dengan kecupan di keningnya oleh sang suami.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Asna masih berdiri di depan pintu hingga motor sang suami melaju dan meninggalkan rumahnya, ia merasa hari ini perasaannya begitu cemas hingga tidak ia begitu berat melepas suaminya untuk bekerja.


"Ya Allah lindungi suami hamba!"


Semejak hari itu Raka sering absen mengajar di pesantren, ia masih harus lembur agar tidak punya hutang. Ia selalu pergi pagi pulang petang, bahkan ia masih sering membawa pekerjaannya ke rumah. Motor bebeknya menjadi saksi bagaimana perjuangan seorang suami untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Bahkan sesulit apapun ia selalu mentransfer jumlah uang yang sama untuk nafkah sang istri.


Sesampai di toko ia sudah langsung di sambut dengan tumpukan buku yang sudah siap untuk di kirim. Para karyawan terlihat sudah sangat sibuk semenjak pagi.


Terlihat Ridwan yang biasa membawa mobil kini sudah siap berangkat untuk mengirimkan buku itu ke tempat tujuan dengan beberapa karyawan yang lain dengan mobil box yang menjadi armada baru untuk mereka.


"Masukkan sekalian ke mobil satunya!" perintah Raka karena penerbit ingin buku sampai tepat waktu.


Setelah buku masuk semua ke dalam mobil pribadi, Raka terlihat celingukan mencari seseorang.


"Apa Alan tidak ada?"


"Alan ijin sedari kemarin mas, katanya ibunya sedang sakit!"


"Astaghfirullah, bagaimana aku bisa lupa!?" ia kembali menatap mobil yang sudah siap meluncur lagi, untuk menunggu rombongan Ridwan kembali, mereka pasti akan kembali petang nanti karena jaraknya cukup jauh berada di luar kota.


"Siapa di sini yang bisa nyetir?"


"Hanya Ridwan dan Alan kan mas yang bisa, sama mas Raka!"


Raka terdiam, ia seharusnya bisa menyelesaikan pekerjaannya hari ini juga dan besok berganti pekerjaan lain.


Akhirnya ia pun inisiatif untuk menghubungi saudara kembarnya,


"Siapa tahu dia tidak sedang sibuk!"


Setelah memencet tombol panggil, akhirnya sambungan telpon pun terhubung.


"Assalamualaikum!" sapa Raka.

__ADS_1


"Waalaikum salam!" terdengar bukan suara saudara kembarnya di seberang sana.


"Apa leon nya ada? Ini benar nomornya Leon kan?"


"Iya pak, tapi pak Leon nya sedang meeting. Apa perlu saya panggilkan beliau?"


"Tidak perlu, jangan!"


"Apa ada pesan yang bisa saya sampaikan!"


"Tidak usah, terimakasih! Bilang jaga diri saja!"


"Baik pak!"


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Raka kembali mematikan sambungan telponnya dan menggengam erat ponselnya,


"Dia sedang sibuk! Mungkin benar aku harus berani membawa mobil sendiri!"


Setelah benar-benar yakin, Raka pun kembali masuk ke dalam ruangannya untuk mengambil jaket dan dompetnya.


"Aku akan antar sendiri, tolong jaga toko ya!"


"Tapi mas, nggak nunggu Ridwan saya mas?"


"Nggak usah, insyaallah saya bisa!"


Raka segera memasuki mobil, ia menghela nafas dalam dan mengucapkan basmallah.


"Ya Allah, aku bergantung padaMu!"


Sebelum menghidupkan mobilnya, terlebih dulu ia mengirim pesan pada sang istri.


//Assalamualaikum sayang, mas kerja dulu ya, jangan capek-capek jaga diri kamu dengan baik dan anak kita, salam sayang dari suamimu yang selalu menyimpan cintanya dalam doa dan sujud ku, love you //


Setelah mengirim pesan itu, Raka segera menyimpan ponselnya, ia tidak mau konsentrasinya terganggu dengan pesan atau telpon.


Setelah kembali membaca doa, Raka benar-benar menghidupkan mesin mobilnya, melajukan ke jalanan dengan kecepatan sedang.


Semuanya berjalan lancar, Raka masih tetap tenang mengendarai mobilnya. Sesekali ia mengamati sekeliling saat jalanan sedikit sepi.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2